Perlukah Anak Anda Mendapatkan Vaksin Serviks?

530

Diedit:

Dalam sejumlah pemberitaan di media dalam beberapa hari ini, beberapa kali diungkapkan mengenai program pemerintahan satu kota besar di Indonesia yang mencanangkan penyuntikan vaksin serviks untuk siswa SD. Terlepas dari kaitannya dengan urusan politik, pro dan kontra bermunculan berkaitan dengan program ini, salah satunya isu bahwa vaksin ini sebenarnya memiliki efek samping yang cukup serius pada anak-anak perempuan.

Bagaimana sebenarnya, fakta seputar vaksin kanker serviks yang secara medis lebih dikenal dengan sebutan vaksin HPV. Kesimpang siuran berita mengenai vaksin ini dan rumor yang beredar membuat kami tertarik untuk mengungkap kebenaran seputar vaksin HPV atau vaksinasi kanker serviks ini secara empiris.

Apa Itu Vaksin HPV?

Vaksin HPV adalah kanker yang bertujuan membangun sistem antibodi tubuh terhadap virus HPV atau Human Papilloma Virus. Virus ini termasuk jenis yang sangat mudah menginfeksi area genital terutama kawasan serviks. Dan bila keberadaanya diabaikan, virus ini bisa memicu terbentuknya sel-sel abnormal dalam area serviks. Sel-sel abnormal ini memiliki risiko cukup tinggi untuk berkembang lebih lanjut menjadi kanker serviks.

Pada informasi yang bersumber dari BulletinWHO 2007 diungkapkan bahwa setidaknya 91% kasus kanker serviks berawal dari infeksi Human Papilloma Virus yang diabaikan. Artinya pengaruh virus HPV terhadap kanker serviks sangat signifikan.

Vaksin serviks atau vaksin HPV ini terbukti memiliki keampuhan dalam mencegah terjadinya pembentukan kanker serviks, Sifat vaksin ini menonaktifkan virus ini sehingga tidak dapat menyebabkan oksidasi sel pada area serviks.

Sebenarnya, HPV sendiri terdiri dari 100 jenis lebih, dan setidaknya 40 di antaranya bisa menjadi penyebab kanker serviks. Beberapa diantara penyebab kanker serviks, tipe 16 dan 18 adalah yang paling banyak ditemukan. Sifat dari virus ini adalah membentuk lesi pada area terkontak, mendorong iritasi serius yang mengacu pada kerusakan jaringan. Pada tahap lanjut kerusakan menyebabkan sel-sel pada area terkontak mengalami regenerasi abnormal akibat oksidasi sel. Inilah yang kemudian memunculkan terjadinya kanker serviks. (www.cdc.gov)

Menurut sumber Alodokter, vaksin HPV akan diberikan dalam 3 tahap dengan jarak pemberian 6 bulan. Vaksin HPV sendiri terbagi dalam 3 macam. Adapun ketiga jenis tersebut adalah:

  • Cervarix
    Vaksin untuk jenis HPV tipe 16 dan 18, dua jenis HPV yang paling sering ditemukan.
  • Gardasil
    Selain juga ampuh untuk HPV tipe 16 dan 18 juga cocok untuk HPV tipe 6 dan 11 yang kerap memunculkan sejenis polip pada area genital.
  • Gardasil 9
    Pengembangan Gardasil konvensional yang memiliki daya lawan lebih luas, termasuk terhadap HPV tipe 16, 18, 6, 11, 31, 33, 45, 52 dan 58. Semua jenis HPV tadi masuk dalam golongan pemicu masalah pertumbuhan sel abnormal pada serviks.
Baca juga:  Tes IVA untuk Kanker Serviks, Terjangkau & Efektif!

Apakah Vaksin Serviks Aman bagi Anak-Anak?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita merujuk langsung pada salah satu review mengenai vaksin serviks terbitan dari WHO. Dalam Bulletin of World Health Organization tahun 2007, dalam salah satu ulasan bertajuk “Human papillomavirus and HPV vaccines: a review”, diungkapkan kapan waktu terbaik dalam memberikan vaksin Serviks .

Dalam ulasan WHO tersebut, dijelaskan bahwa media perantara penularan virus HPV terbanyak adalah aktivitas seksual. Artinya mereka yang telah menjalankan aktivitas seksual pada dasarnya memiliki risiko terhadap serangan virus ini.

Dan karenanya WHO memberikan pandangan bahwa waktu terbaik seorang wanita mendapatkan vaksin HPV justru sebelum mereka memulai aktivitas seksual sama sekali. Diakui bahwa faktor usia bisa menjadi sangat relatif mengingat adanya aspek kebudayaan yang berbeda dari satu area dengan area yang lain. Budaya aktivitas seksual satu daerah berbeda dengan daerah lainnya.

Namun secara umum, WHO dengan disepakati sejumlah pakar vaksin dunia memutuskan waktu terbaik untuk mendapatkan vaksin Serviks adalah pada usia 9 sampai 26 tahun. Pandangan ini jelas meruntuhkan pandangan bahwa vaksin serviks tidak sebaiknya diberikan sejak dini, karena bahkan dalam laman cancertutor, setidaknya lebih dari 20 juta anak wanita usia di bawah 16 tahun di Amerika Serikat Serikat sudah menjalankan suntikan vaksin serviks.

Salah satu profesor Ikatan Dokter Indonesia, Prof.Dr.Samsuridjal Djauzi, Sp.PD, merekomendasikan untuk memberikan vaksin Serviks pada usia anak 10 tahun. Alasannya karena pada usia ini anak masih jauh dari aktivitas seksual, pada umumnya serviks dan kandungan mereka belum menjalankan fungsi sebagaimana mestinya sehingga kondisi di dalam area serviksnya masih sangat murni.

Selain itu, anak pada usia 10 tahun biasanya sedang dalam kondisi imunitas terbaiknya, sehingga mampu dengan efektif mengembangkan sistem antibodi terhadao HPV yang mapan dalam jangka panjang.

Adakah Efek Samping Vaksin Serviks yang Perlu Diwaspadai?

Sejumlah sumber berhasil kami dapatkan untuk mengumpulkan fakta adakah bahaya dari vaksin serviks ini. Dan hasilnya cukup memuaskan, karena secara umum, vaksin ini aman, bahkan bila diberikan pada anak usia dini dibawah 12 tahun.

Pada laman Webmd.com , beberapa kasus seputar vaksin serviks sempat diungkapkan. Beberapa menemukan anak perempuan yang mendapatkan vaksin HPV pada usia awal menstruasi mengalami gangguan menstruasi yang tidak rutin. Keluhan disertai efek lesu dan rasa tidak nyaman berlebihan. Beberapa keluhan lain seperti efek gatal-gatal dan pening juga bermunculan dalam jumlah terbatas.

Menurut pandangan CDC (Center of Disease Control), vaksin HPV dalam satu tempo akan memberi pengaruh jangka pendek terhadap fungsi thiroid dan kinerja imunitas. Inilah yang dalam jangka pendek bisa mempengaruhi masalah menstruasi dan kondisi alergi gatal-gatal. Sifatnya sebenarnya hanya sementara juga terbilang jarang.

Baca juga:  Bagaimana Harapan Hidup Kanker Serviks?

Dari setidaknya 32 juta vaksin serviks yang sudah disebarkan di Amerika Serikat Serikat, ada 18 ribu keluhan yang muncul. Dan kesemuanya tidak berkembang dalam tahap lanjut, sebagai bukti bahwa keluhan memang sifatnya secara umum hanya sementara.

Sampai hari ini, pihak CDC, lembaga pengawasan khusus untuk vaksin di Amerika Serikat masih memandang keluhan yang dilaporkan tidak membuat vaksin Serviks perlu masuk dalam kasus dipertimbangkan. Persentase kemunculan masalah relatif sangat rendah dengan gejala yang tidak serius.

Selain kasus alergi, tidak ada efek samping atau risiko apapun yang bisa mengancam dari vaksin HPV ini. Termasuk terkait isu bahwa pemberian vaksin HPV pada usia dini memicu terjadinya keluhan menopause dini.

Pemerintah diwakili oleh Departemen Kesehatan mengatakan bahwa sampai saat ini tidak ada bukti yang menunjukkan adanya hubungan Premature Ovarian Failure (POF) dengan penggunaan vaksin HPV. POF sendiri adalah istilah medis untuk menopause dini, atau kondisi seorang wanita berhenti menstruasi dan kehilangan kondisi suburnya dalam usia di bawah 40 tahun. Penyakit ini merujuk pada kondisi hormonal. Jadi tidak bisa diarahkan masalahnya pada vaksin HPV.

Benarkah Vaksin Serviks Tidak Populer di Dunia Internasional?

Mari merujuk kembali pada sumber Bulletin WHO. Dalam data tahun 2010 diungkapkan setidaknya dari 500 ribu kasus kanker serviks di dunia, 80 % di antaranya berada di kawasan negara berkembang. Sedangkan dalam data tahun 2015 dari Departemen Kesehatan, terdapat kisaran 300 ribu pasien terdiagnosa mengidap kanker serviks.

Ada perbandingan antara pengidap kanker servis di negara berkembang dengan negara maju, sekitar rasio 20 : 80. Angka kematian dari kanker serviks di Indonesia sendiri berada pada posisi kedua dari jenis kanker wanita lain. Rasio ini menunjukan banyak hal, termasuk alasan kuat kenapa sejumlah pakar demikian merekomendasikan vaksin ini di negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara itu di Amerika Serikat sendiri pada tahun 2010 tercatat 32 juta obat vaksin HPV tersebar di seluruh negeri. Angka ini jelas membantah pandangan bahwa di negara Amerika vaksin serviks tidak populer, malah dari gambaran ini, kita bisa menarik kesimpulan bahwa rendahnya kasus kanker serviks di kawasan Amerika juga karena kesadaran mereka yang tinggi akan vaksin HPV.

Jadi, jangan dengan mudah terbawa rumor-rumor yang tidak bisa dipercaya kebenarannya. Pastikan untuk mendasarkan diri pada sumber-sumber terpercaya. Termasuk bila itu membahas soal vaksin serviks untuk buah hati Anda.