Skrining Kanker Serviks, Cara Terbaik untuk Deteksi Dini

117
Ilustrasi Skrining Kanker Serviks
Credit Photo: dlerick / iStock

Diedit:

Menteri Kesehatan RI, Nila F. Moeloek menekankan pentingnya pemeriksaan skrining sebagai cara pencegahan dan pendeteksi dini kanker serviks. Beliau mengatakan, “Skrining kita perlukan untuk menemukan kanker sedini mungkin. Pada kanker serviks, skrining melalui tes IVA atau Pap smear.” Tapi Anda mungkin bertanya-tanya, apa sebenarnya skrining itu? Mengapa itu penting? Bagaimana metode skrining kanker serviks? Dan kapan harus melakukan skrining?

Artikel ini akan membahas tentang pertanyaan-pertanyaan tersebut serta pembahasan lain yang harus diketahui setiap wanita mengenai pemeriksaan skrining ini. Semoga informasi ini dapat membantu Anda untuk semakin waspada terhadap penyakit kanker yang sebenarnya bisa dicegah ini.

Apa Itu Skrining?

Skrining adalah bentuk pemeriksaan untuk mendeteksi dini cikal bakal penyakit yang berpotensi menimbulkan dampak serius. Pada kanker serviks, pemeriksaan dilakukan dengan cara mencari perubahan-perubahan pada sel-sel di serviks yang mengarah ke kanker.

Serviks adalah sebuah organ khusus milik wanita yang terletak di bagian bawah rahim, sehingga sering juga disebut “leher rahim” atau “mulut rahim”. Pemeriksaan skrining untuk kanker serviks biasanya terdiri dari tes sitologi serviks (disebut juga tes Pap atau Pap smear) dan kadang juga tes HPV (human papillomavirus).

Mengapa Skrining Kanker Serviks Penting?

Kanker serviks sering dijuluki sebagai pembunuh senyap kaum wanita. Cikal bakal dari kanker ini, yang disebut kondisi pra-kanker, butuh waktu 10 tahun atau lebih untuk akhirnya berubah menjadi kanker serviks seutuhnya. Tapi kadang perubahan itu bisa terjadi dalam jangka lebih pendek.

Kondisi pra-kanker biasanya tidak menimbulkan gejala yang kasatmata sehingga sering tidak disadari. Satu-satunya metode efektif untuk mendeteksi kondisi pra-kanker ialah dengan melakukan pemeriksaan skrining kanker serviks. Cikal bakal kanker ini jauh lebih mudah ditangani dan diobati daripada yang sudah menjadi kanker seutuhnya.

Bagaimana Cara Skrining Kanker Serviks?

Pemeriksaan skrining kanker serviks umumnya terdiri dari tes Pap (Pap smear) dan kadang tes HPV. Kedua tes ini dilakukan dengan mengambil sampel sel-sel dari organ serviks. Metode skrining kanker serviks ini sederhana dan cepat. Anda hanya perlu berbaring di sebuah meja khusus dan sebuah alat bernama spekulum akan digunakan untuk membuka vagina. Spekulum memungkinkan dokter untuk melihat dengan jelas area serviks dan vagina bagian atas.

Sel-sel di serviks kemudian diambil menggunakan semacam sikat atau peralatan pengambilan sampel lainnya. Sel-sel biasanya akan dimasukkan ke dalam cairan khusus dan dikirimkan ke laboratorium untuk diuji:

  • Pada tes Pap, sampel diuji untuk melihat apakah ada sel-sel abnormal.
  • Pada tes HPV, sampel diuji untuk melihat apakah ada keberadaan 13-14 jenis HPV yang paling umum memicu kanker serviks.
Baca juga:  Mengenal Lebih Jauh Vaksinasi Kanker Serviks

Selain tes Pap dan tes HPV, ada juga metode skrining kanker serviks lain yang lebih sederhana yaitu tes IVA. Tes IVA biasanya tersedia di puskesmas dan klinik sehingga mudah diakses oleh masyarakat yang tidak punya akses ke rumah sakit besar. Harganya juga lebih terjangkau daripada dua tes tersebut.

Metode dari skrining kanker serviks ini hampir sama dengan metode untuk tes Pap dan tes HPV, bedanya alat yang digunakan adalah kapas yang sudah dibasahi asam asetat dan hasil tes bisa langsung terlihat pada permukaan serviks tanpa perlu melalui uji laboratorium.

Kapan Skrining Kanker Serviks Dilakukan?

Semua wanita dianjurkan untuk mulai melakukan pemeriksaan skrining kanker serviks secara teratur sejak usia 21 tahun. Seberapa sering Anda perlu melakukan pemeriksaan skrining dan tes apa yang perlu dilakukan tergantung pada usia dan riwayat kesehatan Anda:

  • Wanita usia 21 – 29 tahun dianjurkan melakukan tes Pap setiap 3 tahun sekali. Tes HPV tidak dianjurkan untuk kelompok usia ini.
  • Wanita usia 30 – 65 tahun dianjurkan melakukan tes Pap dan tes HPV (sebagai tes pendamping) setiap 5 tahun sekali. Kelompok usia ini juga boleh melakukan tes Pap saja, tanpa tes HPV.

Kapan seseorang bisa berhenti melakukan pemeriksaan skrining? Anda tidak lagi dianjurkan untuk melakukan skrining setelah berusia 65 tahun, dengan catatan:

  • Anda tidak punya riwayat sel-sel serviks yang abnormal atau riwayat sel-sel kanker serviks, dan
  • Anda sudah pernah memiliki tiga hasil tes Pap yang negatif secara berturut-turut atau dua hasil tes HPV yang negatif secara berturut-turut.

Wanita yang punya riwayat mengidap kanker serviks, terinfeksi HIV (human immunodeficiency virus), punya kekebalan tubuh yang lemah, atau yang telah terpapar DES (diethylstilbestrol) selama masih dalam kandungan, harus lebih sering melakukan pemeriksaan skrining.

Mereka yang telah mendapat vaksin HPV juga tetap dianjurkan untuk melakukan skrining sesuai anjuran untuk kelompok usia mereka. Mendapat vaksin HPV bukan berarti Anda sudah 100% kebal terhadap penyakit kanker serviks.

Baca juga:  Kunyit Putih untuk Kanker Serviks

Bagaimana Jika Hasil Tes Skrining Adalah Positif?

Ada banyak wanita yang mendapat hasil tes positif, artinya terdeteksi keberadaan sel-sel abnormal pada serviks. Hasil tes yang positif bukan berarti Anda sudah pasti terkena kanker. Ingatlah bahwa sel-sel yang abnormal itu sering kali bisa kembali menjadi normal dengan sendirinya. Dan kalaupun tidak, biasanya butuh waktu bertahun-tahun bagi sel-sel tersebut untuk menjadi kanker seutuhnya.

Jika hasil tes skrining Anda menunjukkan adanya perubahan yang abnormal, Anda akan diminta dokter untuk melakukan tes lebih lanjut untuk memastikan apakah perubahan tersebut masih dalam tahap pra-kanker atau sudah menjadi kanker.

Kadang yang dibutuhkan hanyalah tes ulang. Tapi dalam beberapa kasus, tes kolposkopi dan biopsi serviks juga dapat direkomendasikan dokter untuk mencari tahu seberapa serius perubahan yang terjadi.

Apabila hasil tes lanjutan itu menunjukkan adanya perubahan yang serius, maka Anda akan diminta menjalani perawatan untuk menghilangkan sel-sel yang abnormal di serviks. Setelah perawatan selesai, Anda juga akan diminta melakukan tes skrining kanker serviks secara rutin.

Apakah Hasil Tes Skrining Akurat?

Sama seperti tes laboratorium lainnya, hasil tes skrining kanker serviks tidak selalu akurat. Kadang-kadang hasilnya memperlihatkan adanya sel-sel abnormal, padahal sebenarnya sel-sel itu masih tergolong normal. Ini disebut hasil “positif-palsu” (false-positive). Tes skrining juga kadang tidak berhasil mendeteksi sel-sel abnormal yang sudah terbentuk. Ini disebut hasil “negatif-palsu” (false-negative).

Untuk menghindari mendapatkan hasil tes positif-palsu atau negatif-palsu, Anda sebaiknya tidak melakukan douching (membersihkan vagina dengan cairan yang dicampur bahan kimia), berhubungan seksual, atau menggunakan obat-obatan atau produk pembersih untuk vagina selama 2 hari sebelum tes. Anda juga sebaiknya tidak melakukan tes skrining saat menstruasi.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang pertanyaan umum seputar skrining kanker serviks. Metode paling baik untuk mendeteksi dini cikal bakal penyakit kanker serviks adalah dengan cara melakukan pemeriksaan skrining, yang biasanya terdiri dari tes Pap dan kadang tes HPV. Konsultasikanlah dengan dokter mengenai cara terbaik bagi Anda untuk melakukan pemeriksaan skrining.


Sumber Referensi:

American College of Obstetricians and Gynecologists. Cervical Cancer Screening. Published: September 2017. URL: https://www.acog.org/Patients/FAQs/Cervical-Cancer-Screening. Accessed: 2019-10-16