Penyebab Depresi

484
penyebab depresi
Credit: Shutterstock

Diedit:

Ada yang bilang bahwa penyebab depresi adalah masalah ketidakseimbangan senyawa dalam otak. Tetapi penjelasan itu tidak cukup untuk menjelaskan penyebab dari gangguan mental yang rumit ini. Penelitian memperlihatkan bahwa depresi bukan cuman soal masalah senyawa otak yang terlalu banyak atau kurang cukup.

Memang kita masih belum bisa tahu secara pasti apa penyebab depresi, tetapi para ahli sudah menemukan beberapa hal yang sering berkaitan dengan perkembangan gangguan mental ini. Depresi biasanya akibat dari gabungan beberapa kejadian yang baru-baru ini terjadi serta faktor-faktor lain yang telah lama terjadi—bukan hanya karena satu masalah atau peristiwa saja.

Kejadian-Kejadian dalam Hidup

Penelitian menunjukkan bahwa tekanan-tekanan yang terus-menerus dialami—menganggur dalam waktu lama, hidup bersama keluarga yang kasar atau tidak peduli, terasing dari orang-orang lain atau kesepian, stres pekerjaan yang tidak ada habisnya—lebih mungkin menjadi penyebab depresi daripada tekanan akibat kejadian-kejadian yang baru terjadi.

Akan tetapi, kejadian-kejadian yang baru dialami (misalnya kehilangan pekerjaan) atau gabungan dari kejadian-kejadian seperti itu dapat menjadi ‘pemicu’ depresi. Terutama jika Anda sudah punya kecenderungan untuk depresi karena pernah ada pengalaman-pengalaman buruk atau memiliki faktor-faktor pribadi.

Faktor-Faktor Pribadi Penyebab Depresi

• Riwayat Keluarga

Depresi bisa menurun dalam keluarga dan beberapa orang punya risiko lebih besar karena faktor keturunan. Tetapi, memiliki orang tua atau saudara dekat yang menderita depresi tidak berarti Anda otomatis akan menderitanya juga. Biasanya ada keadaan-keadaan dan faktor pribadi lain yang turut memicu gangguan mental ini.

• Kepribadian

Beberapa orang lebih rentan depresi karena kepribadian mereka, khususnya jika mereka gampang khawatir, rendah diri, perfeksionis, tidak suka dikritik, atau terlalu keras pada diri sendiri dan cenderung berpikiran negatif.

Baca juga:  Depresi: Bantuan Bagi Anggota Keluarga untuk Mencegah dan Mengatasi Bunuh Diri!

• Penyakit Medis yang Serius

Stres dan kekhawatiran akibat menghadapi penyakit serius dapat memicu perkembangan depresi. Terutama kalau Anda mengalaminya dalam waktu cukup lama dan/atau menderita rasa sakit yang terus-menerus.

• Konsumsi Narkoba dan Alkohol

Menggunakan narkoba dan alkohol dapat memicu depresi. Banyak penderita depresi yang juga bermasalah dengan konsumsi narkoba dan alkohol. Misalnya di sebuah negeri, lebih dari 500.000 penduduknya diperkirakan akan mengalami depresi dan masalah konsumsi suatu zat (diantaranya narkoba dan alkohol) di waktu bersamaan, pada suatu titik dalam kehidupan mereka. (Sumber: Beyond Blue)

Bagaimana Stres Bisa Memicu Depresi?

Stres dapat digambarkan sebagai sebuah tanggapan fisik otomatis terhadap rangsangan apa pun yang mengharuskan Anda untuk menyesuaikan diri dengan perubahan. Setiap ancaman—yang benar-benar ada atau yang hanya dianggap ancaman oleh tubuh—akan memicu sejumlah hormon stres yang menghasilkan perubahan-perubahan fisiologis (berkaitan dengan fungsi dan kegiatan kehidupan).

Kita semua pernah mengalami ini: detak jantung berdegup kencang, napas jadi cepat, dan keringat mengucur. Itu adalah sebuah tanggapan stres.

Proses dari Tanggapan Stres

Tanggapan stres bermula dari sebuah sinyal dari bagian otak Anda yang bernama hipotalamus. Hipotalamus bekerja sama dengan kelenjar hipofisis dan kelenjar adrenal untuk membentuk sebuah trio yang disebut aksis ‘hipotalamus-hipofisis-adrenal’ (HHA)—yang mengatur beragam aktivitas hormonal dalam tubuh dan mungkin juga berperan dalam depresi.

Ketika muncul suatu ancaman fisik atau emosi, hipotalamus mengeluarkan hormon pelepas kortikotropin (HPK), yang punya tugas untuk ‘membangungkan’ tubuh Anda. Hormon adalah senyawa kompleks yang menyampaikan pesan-pesan ke organ-organ atau sekelompok sel di seluruh tubuh serta memicu tanggapan-tanggapan tertentu.

Menyebabkan Kenaikan Jumlah Kortisol

HPK mengikuti sebuah jalur menuju kelenjar hipofisis, lalu dia merangsang pelepasan hormon adrenokortikotropik (HAKT), yang kemudian masuk ke dalam aliran darah Anda. Sewaktu HAKT mencapai kelenjar adrenal, maka dia akan menyebabkan pelepasan kortisol.

Kenaikan jumlah kortisol dalam tubuh ini akan mempersiapkan tubuh Anda untuk menghadapi ancaman. Jantung jadi berdetak kencang—hingga 5 kali lebih cepat—dan tekanan darah Anda naik. Napas menjadi cepat seraya tubuh Anda memasukkan lebih banyak oksigen. Indera-indera jadi lebih sensitif, misalnya indera penglihatan dan pendengaran, sehingga Anda jadi lebih waspada.

HPK juga memengaruhi korteks serebral, sebagian dari amigdala, dan batang otak. Pengaruh itu dianggap punya peranan penting dalam mengatur pikiran dan perilaku, reaksi emosional, serta tanggapan spontan Anda. HPK bekerja pada berbagai jalur saraf, dan memengaruhi jumlah neurotransmitter di seluruh otak. Oleh sebab itu, gangguan pada sistem hormon dapat memengaruhi neurotransmitter, dan begitu juga sebaliknya.

Kelainan Jumlah dan Cara Kerja HPK Memicu Depresi

Normalnya, akan ada umpan balik yang memungkinkan tubuh untuk mematikan kewaspadaannya saat ancaman sudah berlalu. Tetapi ada kasus-kasus dimana hal itu tidak terjadi, dan jumlah kortisol terlalu sering naik atau tetap tinggi jumlahnya. Jika ini terjadi, akan menimbulkan problem-problem seperti tekanan darah tinggi, kekebalan tubuh yang lemah, asma, dan mungkin depresi.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang yang depresi biasanya memiliki jumlah HPK yang tinggi. Untuk mengurangi jumlahnya, para dokter menggunakan obat antidepresan dan terapi elektrokonvulsif. Seraya jumlah HPK kembali normal, gejala-gejala depresi akan berkurang. Penelitian juga mendapati bahwa trauma semasa kecil bisa berdampak buruk pada cara kerja HPK dan aksis HHA hingga seumur hidup.

Sumber: Harvard Health

Perubahan dalam Otak Penyebab Depresi

Meskipun sudah dilangsungkan banyak penelitian untuk memahami tentang pokok ini, namun masih banyak yang tidak kita ketahui. Depresi bukan sekadar akibat dari ‘ketidakseimbangan senyawa’—katakanlah karena terlalu banyak atau kurang cukup jumlah dari suatu jenis senyawa otak. Problemnya tidak sesederhana itu, dan ada banyak penyebab lain dari gangguan depresi mayor.

Baca juga:  Depresi: Bagaimana Membantu Remaja yang Depresi?

Faktor-faktor seperti kecenderungan genetik, tekanan-tekanan hidup yang berat, zat-zat yang dikonsumsi (obat-obat tertentu, narkoba, dan alkohol), serta penyakit medis juga dapat memengaruhi caranya otak Anda mengelola mood Anda.

Bagaimana Depresi Diobati?

Para dokter menggunakan antidepresan untuk mengobati depresi. Sebagian besar obat-obatan itu menghasilkan suatu efek pada senyawa neurotransmitter otak, yaitu serotonin dan norepinefrin. Kedua senyawa itu menyampaikan pesan-pesan di antara sel-sel otak—dan menargetkan kedua senyawa itu dianggap sebagai caranya obat-obatan dapat bekerja untuk mengobati depresi berat.

Selain dengan obat antidepresan, terapi psikologis juga dapat membantu Anda mengelola mood Anda. Perawatan dan terapi yang tepat bisa merangsang pertumbuhan sel-sel saraf baru pada jalur-jalur otak yang mengelola mood Anda. Hal ini dianggap sebagai yang sangat berpengaruh pada pemulihan dari kebanyakan orang dengan gejala-gejala depresi berat.

Ingatlah

Setiap orang itu berbeda, tidak ada yang sama, dan sering kali ada gabungan faktor-faktor yang dapat turut memicu perkembangan depresi. Jadi penting untuk ingat bahwa Anda tidak akan selalu bisa mengenali penyebab depresi, dan tidak selalu bisa mengubah keadaan-keadaan yang bikin tertekan. Yang paling penting adalah mengenali tanda dan gejala depresi, lalu berupayalah cari bantuan yang dibutuhkan.

Demikianlah informasi tentang penyebab depresi. Dapatkan informasi penting lain yang terkait, yaitu tentang: gejala depresi, pencegahan depresi, pengobatan depresi, dan cara mengatasi depresi. Nantikan juga artikel menarik lainnya seputar informasi kesehatan, tips kesehatan, dan pengobatan alternatif hanya di Deherba.com.

Advertisement
Alinesia