• Home
  • Blog
  • Depresi
  • Gangguan Depresi Persisten: Jenis Depresi yang Gejalanya Menahun

Gangguan Depresi Persisten: Jenis Depresi yang Gejalanya Menahun


By Cindy Wijaya

Jika seseorang mengatakan bahwa ia menderita depresi, banyak orang sudah punya gambaran tentang apa itu maksudnya. Mereka mungkin membayangkan orang itu terus merasa lelah, murung, atau hampa. Bahkan mungkin sudah tahu gejala-gejala spesifik lainnya. Tapi tidak banyak yang tahu bahwa sebenarnya ada berbagai jenis depresi. Ada jenis yang berlangsung sementara, ada juga yang sampai bertahun-tahun, yaitu jenis yang disebut gangguan depresi persisten.

Semua jenis depresi punya gejala yang mirip: gangguan tidur, kurang bertenaga, kurang percaya diri, susah fokus, sulit membuat keputusan, dan merasa tak berdaya. Yang membedakan di antara jenis-jenis depresi itu adalah waktu kemunculan dan kestabilan gejala-gejalanya.

Gangguan depresi persisten adalah satu-satunya jenis depresi dimana gejala-gejalanya berlangsung hingga setidaknya 2 tahun, dan biasanya lebih lama dari itu. Jenis depresi ini juga dikenal dengan nama “distimia”.

Apa yang Dimaksud Gangguan Depresi Persisten?

Seseorang yang menderita gangguan depresi mayor (jenis depresi paling umum) biasanya akan mengalami gejala-gejala yang “berputar” antara episode depresi berat dan kemudian tanpa gejala untuk suatu jangka waktu.

Namun pada penderita gangguan depresi persisten (atau depresi distimia), biasanya gejala-gejala yang dialami akan menetap selama bertahun-tahun.

Sebuah episode depresi biasanya akan muncul di antara kehidupan normal seseorang, sementara episode dari distimia sering kali terus ada dalam kehidupan penderitanya. Karena itu seseorang umumnya baru didiagnosis menderita jenis depresi ini setelah mengalami depresi setidaknya 2 tahun (1 tahun untuk anak-anak dan remaja).

Depresi distimia biasanya punya permulaan yang tak kentara dan muncul di usia dini selama masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa awal. Namun, sulit untuk dideteksi karena sifatnya yang tidak terlalu parah dan bertahan lama dapat membuat kondisi itu tampak sebagai “normalnya” bagi orang itu.

Juga yang mempersulit untuk didiagnosis ialah fakta bahwa sekitar 75% orang dengan depresi distimia juga akan mengalami episode gangguan depresi mayor. Ini disebut sebagai “depresi ganda”. Setelah episode depresi mayor berakhir, kebanyakan penderitanya akan kembali ke gejala distimia seperti biasanya, sebaliknya daripada keadaan tanpa depresi.

Seperti Apa Gejala Gangguan Depresi Persisten?

Gejala gangguan depresi persisten sangat mirip dengan gejala depresi mayor. Akan tetapi gejala-gejalanya bersifat kronis, artinya penderitanya memiliki gejala tersebut hampir setiap hari untuk jangka waktu sedikitnya 2 tahun untuk orang dewasa dan 1 tahun untuk anak-anak dan remaja.

Berikut adalah sejumlah gejala gangguan depresi persisten yang dapat menyebabkan seseorang sulit untuk menjalani kehidupan yang memuaskan:

  • Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas sehari-hari
  • Merasa sedih, hampa, atau tidak bersemangat
  • Merasa putus asa
  • Kelelahan dan kekurangan energi
  • Merasa rendah diri, mengkritik diri sendiri, atau merasa tidak mampu
  • Susah konsentrasi dan sulit membuat keputusan
  • Mudah tersinggung atau marah secara berlebihan
  • Berkurang dalam hal aktivitas, efektivitas, dan produktivitas
  • Menghindari aktivitas sosial (interaksi dengan orang lain)
  • Merasa bersalah dan khawatir akan masa lalu
  • Tidak selera makan atau makan secara berlebihan
  • Gangguan tidur

Orang yang mengalami depresi distimia mengalami gejala-gejala tersebut hampir sepanjang waktu dan untuk waktu yang lama.

Kemunculan awal dari gejala depresi distimia ini mungkin di usia dini, bisa jadi di masa kanak-kanak, remaja, atau dewasa muda (usia 18 sampai awal 20-an).

Pada anak-anak, gejala utamanya adalah suasana hati (mood) yang murung dan perangai yang gampang marah.

Apa Sebenarnya Penyebab Gangguan Depresi Persisten?

Sama seperti jenis depresi lainnya, penyebab persis dari depresi distimia tidaklah diketahui. Tetapi para ahli telah memperkirakan ada beberapa faktor yang mungkin menjadi pemicu kemunculannya, yaitu:

  • Keadaan kimia di otak: Ketidakseimbangan neurotransmitter di otak dapat berperan dalam timbulnya depresi. Beberapa faktor keadaan, seperti stres berkepanjangan, dapat mengubah bahan kimia di otak ini.
  • Faktor keadaan: Situasi-situasi yang dapat berubah, misalnya stres, kehilangan, kesedihan, perubahan besar dalam hidup, dan trauma juga dapat menyebabkan depresi.
  • Genetik: Penelitian menunjukkan bahwa memiliki anggota keluarga dekat yang pernah menderita depresi akan menggandakan risiko seseorang untuk juga mengalami depresi.

Dalam banyak kasus, ketiga faktor itu saling berkaitan dan meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan depresi.

Bagaimana Cara Pengobatan untuk Depresi Distimia?

Pengobatan untuk gangguan depresi persisten mirip dengan pengobatan untuk jenis depresi lain. Secara umum itu diobati dengan kombinasi antara psikoterapi dan pengobatan medis.

Psikoterapi (Terapi Bicara)

Psikoterapi mungkin melibatkan berbagai teknik yang berbeda, tapi dua yang sering digunakan adalah terapi perilaku kognitif dan terapi interpersonal.

Terapi perilaku kognitif: Berfokus pada pembelajaran untuk mengenali dan mengubah pola pikir negatif yang mendasari yang sering memicu gejala dan perasaan depresi.

Terapi interpersonal: Mirip dengan terapi sebelumnya, tetapi fokusnya pada mengendali problem dalam hubungan dan komunikasi, lalu menemukan cara untuk melakukan perbaikan dalam cara berhubungan dan berinteraksi dengan orang lain.

Pengobatan Medis

Ada beberapa jenis obat antidepresan yang dapat diresepkan dokter untuk mengatasi gejala distimia, antara lain:

  • Obat SSRI (selective serotonin reuptake inhibitor): Bekerja dengan meningkatkan kadar neurotransmitter serotonin di otak, yang dapat membantu memperbaiki dan mengendalikan suasana hati.
  • Obat SNRI (serotonin and norepinephrine reuptake inhibitor: Bekerja dengan meningkatkan jumlah neurotransmitter serotonin dan norepinefrin di otak.

Konsumsi Antidepresan Alami

Berdasarkan penelitian ilmiah, salah satu jenis herbal yang bermanfaat sebagai antidepresan alami adalah Noni juice.

Berbagai kandungan di dalam Noni bekera secara sinergis untuk menghambat aktivitas enzim-enzim yang dapat mengurangi kadar neurotransmitter di otak, seperti serotonin dan norepinefrin.

Dengan demikian kadar neuransmitter tersebut tetap ada dalam jumlah yang cukup di otak, maka gejala-gejala depresi pun ikut dicegah atau dikurangi.

Selain itu, Noni juice aman untuk dikonsumsi setiap hari karena tidak menimbulkan dampak buruk pada tubuh. Sehingga herbal ini bisa selalu diandalkan untuk membantu mengendalikan gejala-gejala distimia.

Jika ingin mendapat keterangan lebih lengkap mengenai manfaat Noni juice untuk depresi, silakan kunjungi artikel berikut: Noni Juice sebagai Herbal Depresi.

Gangguan Depresi Persisten Bisa Dipulihkan!

Jika Anda mengira bahwa Anda memiliki gejala gangguan depresi persisten, ada baiknya konsultasikan dengan dokter kesehatan mental. Menemui seorang ahli kesehatan mental merupakan langkah penting untuk memulihkan diri.

Seseorang yang benar-benar memiliki gangguan depresi persisten tidak akan sembuh dengan sendirinya. Biasanya dibutuhkan perawatan gabungan antara psikoterapi dan pengobatan medis untuk memperoleh pemulihan yang terbaik.

Di samping itu, menurut sebuah penelitian yang diikuti para penderita distimia selama 9 tahun, salah satu faktor pemulihan paling penting adalah memercayai orang yang mengobati Anda. Ini mungkin berarti Anda perlu mencoba konsultasi dengan beberapa terapis dan psikiater atau ahli kesehatan mental lainnya, sampai menemukan yang paling sesuai dengan diri Anda.

Penelitian ini juga mencatat bahwa partisipan yang pulih merasa seperti mereka memperoleh “peralatan untuk menangani kehidupan”, termasuk kemampuan untuk memahami diri mereka sendiri dan kondisi mereka, bisa menerima diri apa adanya dan menyayangi diri sendiri, serta fokus pada solusi untuk problem yang dihadapi.

Mempelajari “peralatan” atau kemampuan-kemampuan itu butuh kesabaran. Mungkin sulit untuk percaya bahwa keadaan akan membaik di saat Anda sedang depresi. Tetapi sama seperti sakit fisik dapat dipulihkan atau dikendalikan gejala-gejalanya, begitu juga sakit secara mental dapat dipulihkan dan dikendalikan.

Demikianlah artikel ini yang mengupas tentang gangguan depresi persisten. Semoga informasi ini bermanfaat bagi Anda dan keluarga. Temukan juga ulasan-ulasan informatif lain seputar kesehatan hanya di Deherba.com.

Sumber

Sumber Referensi:

Verywell Mind. An Overview of Persistent Depressive Disorder (Dysthymia). URL: https://www.verywellmind.com/what-is-dysthymia-dysthymic-disorder-1066954

NAMI. Understanding Dysthymia. URL: https://www.nami.org/Blogs/NAMI-Blog/January-2018/Understanding-Dysthymia

Mayo Clinic. Persistent depressive disorder (dysthymia). URL: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/persistent-depressive-disorder/symptoms-causes/syc-20350929

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>