Penyakit Gangguan Jiwa: Hapus Stigma & Pahami yang Sebenarnya


By Cindy Wijaya

Hingga sekarang orang dengan gangguan jiwa sering didiskriminasi dan diperlakukan dengan kurang layak. Sedikit-banyak itu karena stigma masyarakat terhadap penyakit gangguan jiwa sehingga banyak dari para penderitanya enggan untuk meminta bantuan. Untuk menghapus stigma tersebut, kita harus mengetahui yang sebenarnya mengenai gangguan jiwa, termasuk tentang penyebab, gejala, dan obat untuknya.

Apa stigma masyarakat terhadap orang dengan gangguan jiwa? Banyak orang beranggapan bahwa mereka adalah “orang gila”, dalam arti mereka sudah tidak punya akal sehat lagi dan perilakunya berbahaya sehingga harus dijauhi. Padahal sebenarnya mereka lah yang rentan diserang atau dilukai, mereka lah yang sering menjadi korban kekerasan.

Stigma dan diskriminasi juga dapat memperburuk masalah kesehatan mental seseorang, dan menghalanginya untuk mendapat bantuan dan perawatan yang dibutuhkan agar ia bisa pulih. Misalnya kita sering mendengar seorang dengan gangguan jiwa yang dipasung, dikurung, atau dibiarkan terlantar.

Situasi ini diperburuk oleh media. Media sering mengaitkan penyakit mental dengan kekerasan, atau menggambarkan orang-orang dengan masalah kesehatan mental sebagai orang yang berbahaya, kriminal, jahat, atau sangat cacat dan tidak mampu hidup normal. Apa yang kebanyakan digambarkan media selama ini jauh dari kenyataan.

Sebagai seorang manusia, kita tentu tidak ingin memperlakukan sesama manusia dengan cara yang tidak manusiawi, entah secara sadar atau tidak sadar. Oleh sebab itu kita perlu mengetahui yang sebenarnya mengenai penyakit gangguan jiwa. Artikel ini akan merangkum informasi akurat seputar penyebab, gejala, dan obat gangguan jiwa.

Apa Sebenarnya Penyebab Gangguan Jiwa?

Para peneliti masih terus menyelidiki apa sebenarnya yang menjadi penyebab penyakit gangguan jiwa. Namun yang pasti mereka telah menyimpulkan bahwa dalam hal gangguan jiwa tidak ada yang namanya satu penyebab.

Ya, masalah kesehatan mental sering kali terjadi akibat gabungan dari beberapa faktor yang berbeda, termasuk faktor genetik, cara kerja otak, caranya seseorang dibesarkan, lingkungan, sosial, kebudayaan, dan pengalaman hidup. Berikut adalah beberapa contoh dari faktor-faktor tersebut:

  • Faktor genetik: Seseorang lebih riskan mengalami masalah kesehatan mental jika ada anggota keluarga dekatnya yang juga punya masalah serupa. Tetapi hanya karena satu anggota keluarga menderita gangguan mental bukan berarti yang lain akan menderitanya juga.
  • Penyalahgunaan narkoba dan alkohol: Penggunaan obat-obatan terlarang dapat memicu episode manik (dari gangguan bipolar) atau episode psikosis. Narkoba seperti kokain, ganja, dan amfetamin dapat menyebabkan paranoia.
  • Faktor biologis lain: Beberapa masalah kesehatan atau perubahan hormon juga bisa memicu gejala-gejala gangguan mental.
  • Lingkungan di masa kecil: Pengalaman-pengalaman negatif atau buruk semasa kecil, misalnya ditelantarkan atau dianiaya/dilecehkan bisa membuat seseorang rentan mengalami gangguan kejiwaan.
  • Trauma dan stres: Di masa dewasa, pengalaman traumatis atau stres berkepanjangan, misalnya karena karena kekerasan dalam rumah tangga, rusaknya hubungan dengan orang yang disayangi, masalah keuangan, atau masalah dalam pekerjaan, bisa menjadi penyebab timbulnya gejala-gejala gangguan jiwa. Dan pengalaman traumatis seperti tinggal di zona perang dapat meningkatkan risiko mengidap gangguan stres pasca-trauma (PTSD).
  • Faktor kepribadian: Ada sifat atau watak tertentu, seperti perfeksionisme atau rendah diri, yang bisa membuat seseorang lebih mudah mengalami depresi atau gangguan kecemasan.

Penting untuk diingat bahwa gangguan jiwa adalah suatu jenis penyakit, sama seperti penyakit fisik. Penyakit kejiwaan sama seriusnya dengan penyakit fisik, sehingga harus mendapatkan obat atau penanganan yang sesuai supaya penderitanya bisa pulih.

Fakta tentang Penyakit Gangguan Jiwa di Indonesia


Penyakit gangguan jiwa adalah masalah umum di dunia. Di Indonesia sendiri, hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013 mengungkapkan bahwa kelaziman (prevalensi) terjadinya gangguan mental emosional adalah sebesar 6% pada usia 15 tahun ke atas, atau dialami oleh sekitar 14 jtua orang. Sedangkan kelaziman gangguan jiwa berat semacam skizofrenia ialah 1,7 untuk setiap 1.000 penduduk, atau dialami oleh sekitar 400 ribu orang.

Ilustrasi Penyakit Gangguan Jiwa
Photo by Jeremy Perkins on Unsplash

Bagaiman Gejala Penyakit Gangguan Jiwa?

Penyakit gangguan mental utama, seperti skizofrenia atau gangguan bipolar biasanya tidak muncul tiba-tiba. Sering kali anggota keluarga, teman, atau orang itu sendiri sudah mulai menyadari bahwa “ada yang tidak beres” dari cara berpikirnya, perasaannya, atau perilakunya sebelum penyakit itu sepenuhnya berkembang.

Agar bisa mengenali dan mengatasinya sebelum berkembang menjadi penyakit yang sulit ditangani, kita perlu tahu apa saja gejala-gejala awal dari gangguan jiwa. Perhatikanlah sejumlah gejala gangguan jiwa yang telah diakui oleh para pakar kesehatan mental berikut ini.

  • Perubahan pada pola tidur atau selera makan: Perubahan drastis pada pola tidur atau nafsu makan atau berkurangnya perawatan diri.
  • Perubahan suasana hati (mood): Perubahan yang cepat atau drastis pada emosi atau munculnya perasaan depresi.
  • Penarikan diri: Belakangan ini lebih sering menyendiri atau tidak lagi berminat untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang sebelumnya disukai.
  • Penurunan keaktifan: Berkurangnya keaktifan yang tidak normal, misalnya di sekolah, pekerjaan, atau kegiatan sosial, seperti berhenti dari kegiatan olahraga, nilai-nilai sekolah yang turun, atau kesulitan untuk melakukan tugas-tugas biasa.
  • Kesulitan berpikir: Kesulitan untuk konsentrasi, mengingat, atau untuk berpikir secara logis, dan punya cara bicara yang sulit untuk dimengerti.
  • Peningkatan sensitivitas: Sensitivitas tinggi terhadap suara, bau, sentuhan, atau cahaya; menghindari situasi yang terlalu menstimulasi panca indra.
  • Sikap apatis: Tidak lagi berinisiatif atau berkeinginan untuk berpartisipasi dalam kegiatan apa pun.
  • Merasa terasing: Merasa seperti terasing dari lingkungan sekitar atau bahkan merasa terpisah dari diri sendiri; perasaan seperti dunia sekitar tidak nyata.
  • Berpikir tidak logis: Rasa yakin yang berlebihan atau tidak normal bahwa dirinya memiliki kekuatan super; pemikiran tidak logis atau “ajaib” seperti yang dimiliki anak-anak.
  • Perasaan gugup: Ketakutan atau kecurigaan pada orang lain atau perasaan gugup yang berlebihan.
  • Perilaku yang tidak biasa: Perilaku yang aneh dan lain dari biasanya.

Hanya memiliki satu atau dua dari gejala di atas bukan berarti seseorang mengalami penyakit gangguan jiwa. Meski begitu orang tersebut mungkin perlu mendapat pemeriksaan lebih lanjut untuk memastikan kondisi kesehatan mentalnya.

Bila seseorang mengalami beberapa gejala sekaligus pada waktu yang bersamaan, dan gejalanya menyebabkan masalah serius dalam kemampuannya untuk belajar, bekerja, atau bersosialisasi, maka ia harus mendapat pemeriksaan ke dokter atau ahli kesehatan mental. Seseorang yang punya pikiran atau niat untuk bunuh diri, atau pikiran untuk melukai orang lain, perlu segera mendapat perhatian ekstra.

Diperkirakan sebanyak 50% dari gangguan kesehatan mental dimulai di usia 14 tahun, dan tiga perempatnya dimulai di usia 24 tahun.

Bagaimana Pengobatan untuk Penyakit Gangguan Jiwa?

Sama seperti penyakit fisik, penyakit gangguan jiwa juga bisa diobati. Ini artinya banyak orang dengan gangguan kesehatan jiwa bisa membaik keadaannya atau bahkan pulih sepenuhnya bila mendapat perawatan atau obat yang tepat.

Langkah pertama untuk mendapat perawatan atau obat yang tepat ialah dengan melakukan pemeriksaan ke dokter begitu mulai mengalami gejala-gejala gangguan kesehatan jiwa. Temuilah dokter atau ahli kesehatan mental lainnya untuk mendapat pemeriksaan secara menyeluruh.

Bila setelah itu dokter kemudian mendiagnosis gangguan kesehatan jiwa tertentu, beliau akan memberikan rekomendasi perawatan terbaik untuk gejala-gejala yang dialami dan disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya. Perawatan untuk penyakit gangguan jiwa biasanya terdiri dari terapi psikologis, konsumsi obat, dan saran untuk membuat perubahan gaya hidup.

  • Terapi psikologis: Seorang dokter, psikiater, atau ahli kesehatan mental lain akan berbicara empat mata dengan orang dengan gangguan jiwa mengenai gejala-gejala dan kekhawatirannya, dan membahas cara-cara baru untuk memikirkan atau mengendalikannya.
  • Konsumsi obat: Beberapa orang dengan gangguan jiwa akan diberikan obat untuk sementara waktu, sedangkan beberapa yang lain akan terus diberikan obat secara rutin. Dokter akan menjelaskan manfaat dan efek samping dari obat tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa penyakit gangguan jiwa ada kaitannya dengan perubahan pada senyawa kimia otak. Obat dapat membantu memperbaiki keseimbangan senyawa kimia otak, sehingga dapat mengurangi gejala-gejala gangguan jiwa.
  • Perubahan gaya hidup: Contohnya adalah olahraga, yang diketahui mampu meringankan atau mencegah gejala depresi atau kecemasan. Orang dengan gangguan jiwa juga harus menghindari obat-obatan terlarang atau alkohol. Mereka juga disarankan untuk mengonsumsi makanan-makanan yang sehat dan bergizi.

Apabila orang dengan gangguan jiwa punya kecenderungan untuk bunuh diri, maka dokter mungkin mengharuskannya untuk dirawat di rumah sakit supaya dokter dan perawat bisa mencegahnya untuk melakukan tindakan yang membahayakan nyawanya. Anggota keluarga harus cepat tanggap memberikan bantuan pada penderita gangguan kesehatan jiwa yang memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

Pencegahan Bunuh Diri


Jika Anda melihat adanya tanda-tanda bahwa seseorang punya keinginan untuk melakukan bunuh diri, segera lah dekati dan beri dia bantuan yang dibutuhkannya. Bacalah artikel ini untuk mengetahui cara yang tepat untuk membantu orang yang ingin mengakhiri hidupnya “Mencegah Bunuh Diri: Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Membantu Mereka?

Jika Anda sendiri yang punya pikiran untuk menyudahi hidup, ingatlah Anda tidak sendirian, tidak soal seberapa besar rasa putus asa yang Anda rasakan sekarang. Ada bantuan untuk Anda dan Anda bisa dibantu agar bisa tetap punya semangat menjalani hidup. Kami menganjurkan Anda untuk membaca artikel ini: “Bunuh Diri: Bagaimana Kalau Saya Merasa Ingin Mati Saja?

Ilustrasi Membantu Orang dengan Gangguan Jiwa
Credit: stcom / Adobe Stock

Kesimpulan tentang Penyakit Gangguan Jiwa

Apa penyebab seseorang mengalami penyakit gangguan jiwa? Sering kali masalah kesehatan mental terjad karena gabungan dari beberapa faktor yang berbeda, misalnya faktor sosial (cara dia diperlakukan oleh orang lain), faktor psikologis (proses mental dari orang tersebut), dan faktor biologis (proses alami dari tubuh orang tersebut).

Bagaimana gejala penyakit gangguan jiwa? Gangguan kesehatan jiwa tidak muncul tiba-tiba, biasanya ada tanda-tanda awal dari masalah ini. Beberapa gejala awal dari gangguan jiwa antara lain: perubahan pola tidur atau selera makan, perubahan mood, penarikan diri, kesulitan berpikir, pemikiran yang tidak logis, dan perilaku yang tidak biasa.

Bagaimana pengobatan untuk gangguan jiwa? Banyak orang dengan gangguan jiwa dapat kembali pulih setelah mendapat perawatan yang tepat. Langkah pertama untuk pulih adalah dengan melakukan pemeriksaan ke dokter atau ahli kesehatan mental. Kemudian dokter akan menentukan cara terbaik untuk menanganinya. Biasanya ia akan meminta pasien gangguan jiwa untuk menjalani terapi psikologis yang dibarengi dengan konsumsi obat untuk sementara waktu.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang penyakit gangguan jiwa. Semoga informasi ini dapat membantu Anda untuk memahami yang sesungguhnya tentang orang dengan gangguan kesehatan jiwa. Hapuslah stigma dan anggap mereka sebagai sesama manusia. Bila ada orang terdekat Anda yang mengalami masalah kejiwaan, berikanlah dukungan dan bantuan yang dia butuhkan.

Sumber

Referensi Penyakit Gangguan Jiwa:

Mayo Clinic. Mental health: Overcoming the stigma of mental illness. Published: 2017-03-24. URL: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mental-illness/in-depth/mental-health/art-20046477. Accessed: 2019-10-14

Healthdirect. Causes of mental illness. Reviewed: November 2018. URL: https://www.healthdirect.gov.au/causes-of-mental-illness. Accessed: 2019-10-14

Depkes.go.id. Stop Stigma dan Diskriminasi terhadap Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ). Published: 2014-10-10. URL: http://www.depkes.go.id/article/view/201410270011/stop-stigma-dan-diskriminasi-terhadap-orang-dengan-gangguan-jiwa-odgj.html. Accessed: 2019-10-14

American Psychiatric Association. Warning Signs of Mental Illness. Published: Juli 2018. URL: https://www.psychiatry.org/patients-families/warning-signs-of-mental-illness. Accessed: 2019-10-14

SANE Australia. Treatments for mental illness. Updated: 2019-03-30. URL: https://www.sane.org/information-stories/facts-and-guides/treatments-for-mental-illness. Accessed: 2019-10-14

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}