Apa Saja Masalah Kesehatan Mental Remaja dan Seperti Apa Ciri-Cirinya?


By Cindy Wijaya

“Ada saatnya saya malas melakukan apa pun, bahkan apa yang biasanya sangat saya sukai. Saya cuma mau tidur. Saya sering merasa tidak disayang, tidak berharga, dan jadi beban orang lain”. Itu adalah ungkapan hati dari seseorang yang mengalami masalah kesehatan mental remaja.

Situasi seperti itu sering terjadi, tak terkecuali di Indonesia. Survei kesehatan mental nasional menunjukkan bahwa di Indonesia 1 dari 3 remaja mengalami masalah kesehatan mental, dan 1 dari 20 remaja mengalami gangguan mental dalam 12 bulan terakhir. (Sumber: Liputan Berita Universitas Gadjah Mada)

Jika kamu masih remaja, apakah kamu juga pernah mengalami hal yang sama? Kita semua pasti pernah menghadapi masa-masa sulit yang buat kita merasa khawatir, bingung, atau sedih. Tapi jika di saat itu kita mulai merasa sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari, bisa jadi ada masalah dengan kesehatan mental kita.

Untuk membantumu mengerti tentang apa yang kamu alami, dan juga bagi orang tua agar bisa cepat tanggap membantu anak remaja mereka, artikel ini akan membahas apa saja masalah kesehatan mental remaja dan apa ciri-ciri gangguan mental pada remaja.

Apa Saja Masalah Kesehatan Mental Remaja?

Ada banyak remaja, bahkan anak-anak, yang mengalami masalah kesehatan mental sehingga mengganggu perkembangan mereka dan kegiatan sehari-hari. Beberapa masalah kesehatan mental bersifat ringan, tapi ada juga yang lebih parah. Beberapa berlangsung hanya singkat, sementara yang lainnya bisa bertahan seumur hidup.

Berikut adalah sejumlah jenis masalah kesehatan remaja yang umum dialami. (Sumber: Mental Health Disorders in Adolescents)

Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan umum: Kecemasan dan kekhawatiran berlebihan pada sejumlah peristiwa atau kegiatan. Kecemasan dan kekhawatirannya tidak sebanding dengan kemungkinan atau dampak sebenarnya dari kejadian yang diantisipasi. Kita jadi merasa sulit untuk mengendalikan rasa cemasnya dan menjaga agar pikiran-pikiran yang mengkhawatirkan tidak mengganggu perhatian pada tugas-tugas yang ada. Bahkan bisa sampai timbul gejala-gejala fisik seperti nyeri, lemas, atau sesak napas.

Gangguan kecemasan sosial: ketakutan yang nyata dan terus-menerus pada satu atau beberapa situasi sosial, memicu gejala kecemasan dan menyebabkan tekanan ekstrem atau penghindaran terhadap situasi tersebut.

Gangguan panik: Serangan panik yang tidak terduga dan berulang.

Serangan panik: Gelombang rasa takut yang hebat atau rasa tidak nyaman yang hebat secara tiba-tiba dan mencapai puncaknya dalam beberapa menit, dan selama waktu itu muncul 4 atau lebih dari 13 gejala fisik dan kognitif. Ini termasuk jantung berdebar, berkeringat, gemetar, sesak napas, perasaan tercekik, nyeri dada, mual, pusing, tidak stabil, pingsan, merasa panas atau dingin, mati rasa, merasa tidak nyata, takut hilang kendali, takut mati.

Gangguan obsesif kompulsif (OCD): Sejumlah gejala umum yang terjadi pada OCD termasuk aspek pembersihan (obsesi dengan kebersihan), simetri (obsesi dengan simetri, dorongan mengulang, mengatur, menghitung), pemikiran terlarang atau tabu (misalnya obsesi dan kompulsif agresif, seksual, dan keagamaan), dan bahaya (ketakuan akan bahaya pada diri sendiri atau orang lain dan dorongan untuk mengantisipasinya).

Gangguan pasca-trauma (PTSD): Perkembangan gejala-gejala khas (termasuk gejala emosional dan perilaku atau perubahan mood) setelah mengalami kejadian yang traumatis, misalnya hampir mati, melihat kematian orang lain, cedera serius, atau kekerasan seksual.

Gangguan Mood

Adjustment disorder dengan mood depresi: Perkembangan gejala atau perilaku emosional sebagai respons terhadap pemicu stres yang dapat diidentifikasi, terjadi dalam waktu 3 bulan sejak timbulnya stres. Didominasi oleh mood yang buruk, menangis, atau perasaan putus asa.

Gangguan depresi mayor: Selama setidaknya 2 minggu mengalami mood depresi atau hilangnya minat atau kesenangan pada hampir semua aktivitas. Pada anak-anak dan remaja, mood mereka mungkin menjadi mudah tersinggung atau marah, bukannya sedih.

Gangguan bipolar: Ada masa tertentu dimana mood meningkat secara tidak normal dan terus-menerus, secara luas, atau mood yang mudah tersinggung/marah serta peningkatan aktivitas atau energi yang tidak normal dan terus-menerus. Berlangsung setidaknya 4 hari berturut-turut dan terjadi hampir sepanjang hari, hampir setiap hari, atau membutuhkan rawat inap.

Gangguan disforik pra-menstruasi: Perubahan-perubahan yang cukup parah, kadang sampai melumpuhkan—seperti ketidakstabilan mood, mudah tersinggung, rasa tidak nyaman yang mendalam (disforia), dan kecemasan—yang terjadi sebelum menstruasi dan mereda setelah menstruasi dimulai. Gejala-gejala ini mungkin disertai gejala fisik dan perilaku yang sering disebut PMS.

Gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas (ADHD): Gejala-gejala kurangnya perhatian dan hiperaktif atau impulsif yang muncul setidaknya selama 6 bulan hingga membuat seorang remaja tidak bisa menyesuaikan diri dengan situasi sekitarnya dan tidak sesuai dengan tingkat perkembangannya.

Gangguan Perilaku Mengganggu

Gangguan perilaku: Pola perilaku berulang dan terus-menerus yang melanggar hak-hak dasar orang lain atau norma-norma sosial yang sesuai dengan usia, termasuk agresif terhadap manusia dan hewan, perusakan properti, penipuan atau pencurian, atau pelanggaran aturan yang serius.

Gangguan oppositional-defiant (ODD): Pola perilaku negatif, bermusuhan, dan menantang yang mencakup 4 atau lebih dari hal ini—sering kehilangan kesabaran, sering berdebat dengan orang dewasa, sering menolak mengikuti aturan, sering mengganggu orang lain, sering menyalahkan orang lain, sering marah atau kesal, sering mendendam.

Itulah beberapa masalah kesehatan mental remaja yang umum dialami. Di halaman berikutnya akan dijelaskan apa ciri-ciri gangguan mental pada remaja.

Tentang Penulis

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di Bogor “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan. Silakan klik di sini untuk kontak penulis via WhatsApp.

Anda mendapat manfaat dari artikel-artikel kami? Mohon berikan ulasan untuk terus menyemangati kami menulis > Google Review

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}