Mengenali dan Memahami Darah Tinggi

564

Diedit:

Tak ada satupun orang yang mau diserang penyakit, bahkan yang paling sepele sekalipun seperti flu atau sekadar pusing kepala ringan. Namun sayangnya, penyakit sering datang sendiri tanpa permisi, entah si empunya tubuh berkenan atau tidak.

Lebih parahnya, jika tak ada gejala apapun yang mengawali hadirnya penyakit tersebut. Salah satu yang paling berbahaya dari jenis ini adalah hipertensi atau darah tinggi.

Darah tinggi atau hipertensi datang tanpa gejala. Tanpa disadari, penderita sudah divonis darah tinggi karena hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan demikian.

Pada awalnya penderita mungkin bisa santai, tapi jika tak dirawat dan dinormalkan secara serius, darah tinggi dapat meningkatkan resiko datangnya beberapa penyakit lain yang lebih berakibat lebih fatal seperti stroke, aneurisma, gagal jantung bahkan kerusakan ginjal. Sangat mengerikan, bukan?

Pengobatan darah tinggi memang sudah mengalami kemajuan yang signifikan. Artinya, berbagai metode dan obat-obatan sudah diuji coba. Beberapa berhasil dan lainnya tidak.

Namun, kemajuan ini juga tak berarti banyak dalam menekan angka penderita darah tinggi karena darah tinggi ini bukan disebabkan oleh penyebaran virus, kuman, atau bakteri apapun. Darah tinggi umumnya terjadi karena faktor internal dalam tubuh manusia itu sendiri, termasuk gaya hidup.

Cara Mengetahui Tekanan Darah

Untuk mengukur tekanan darah diperlukan sebuah alat yang disebut sfigmomanometer. Ada dua angka yang wajib diperhatikan saat pengukuran berlangsung.

Angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi disebut sistolik, sedangkan angka yang lebih rendah diperoleh saat jantung relaksasi disebut diastolik.

Nah, seseorang dikatakan memiliki tekanan darah tinggi jika pada saat duduk, angka tekanan sistoliknya mencapai 140 mmHg atau lebih, dan tekanan diastoliknya mencapai 90 mmHg atau lebih. Intinya, baik tekanan sistolik maupun diastoliknya tinggi.

Baca juga:  Apa yang Harus Anda Ketahui tentang Obat Darah Tinggi

Jenis-Jenis Darah Tinggi

Sampai sekarang kita mengenal dua jenis darah tinggi, pertama darah tinggi sistolik terisolasi dan yang kedua darah tinggi maligna. Darah tinggi sistolik terisolasi terjadi saat tekanan sistolik mencapai angka 140 mmHg atau lebih, tetapi angka diastoliknya kurang dari 90 mmHg (tekanan diastolik normal).

Darah tinggi tipe ini sering dialami oleh para lanjut usia, tentu karena faktor usia. Semakin bertambah usia seseorang, tekanan sistolik akan semakin tinggi sampai usia 80 tahun.

Tekanan diastolik akan terus meningkat sampai usia 55-60 tahun, dan akan menurun perlahan atau bahkan menurun drastis. Kedua, darah tinggi Maligna.

Pada darah tinggi tipe ini, penderita harus ekstra waspada dan benar-benar menjaga kondisinya, karena bila tidak diatasi secara tepat dapat mengakibatkan kematian dalam waktu 3-6 bulan.

Darah tinggi tipe ini jarang terjadi, hanya 1 dari 200 penderita hipertensi yang mengidap darah tinggi maligna. Para ahli mengemukakan beberapa penyebab darah tinggi, diantaranya gaya hidup yang tidak sehat, stres, merokok, konsumsi alkohol, menu diet yang tidak seimbang, terlalu banyak mengonsumsi garam, obesitas, dan ada pula faktor genetis dan hormonal.

Walaupun tekanan darah masih dalam batas normal, tentunya penyebab-penyebab tersebut harus dihindari. Mengonsumsi makanan sehat dan bergaya hidup teratur dan menjauhi stres adalah keharusan, bukan lagi pilihan.

Memvonis seseorang mengidap darah tinggi tentu bukan hal yang mudah, apalagi gejala darah tinggi tak tampak secara nyata. Meskipun masyarakat sering menghubungkan gejala tertentu dengan hipertensi, seperti pusing, hidung berdarah, mudah lelah, dan wajah kemerahan, jangan lantas ini dijadikan patokan karena darah tinggi tak selalu menimbulkan gejala seperti yang telah disebutkan.

Pemeriksaan dokter akan menghasilkan diagnosa yang lebih akurat daripada menduga-duga yang tidak jelas. Masa depan Anda sangat berharga, maka jangan sepelekan darah tinggi!

Baca juga:  Memilih Pengobatan Tekanan darah Tinggi