Terapi Sinar Biru untuk Bayi Kuning


By Cindy Wijaya

Pada bahasan sebelumnya kami sudah membahas mengenai penyebab bayi kuning. Maka dalam kesempatan kali ini kami akan mencoba mengulas mengenai terapi sinar biru, sejenis terapi yang biasa digunakan untuk mengatasi masalah bayi kuning.

Beberapa kali mungkin Anda pernah mendengar bayi dengan masalah kuning menjalani terapi sinar biru untuk mengatasi keluhan. Apa sebenarnya terapi sinar biru ini? Dan bagaimana cara kerjanya untuk mengatasi keluhan bayi kuning?

Secara medis terapi sinar biru dikenal dengan istilah fototerapi. Terapi ini menggunakan lampu jenis tertentu dengan spektrum cahaya biru dan memiliki panjang gelombang khusus sebesar 450 nanometer. Secara medis terbukti bahwa penggunaan terapi sinar biru ini memiliki kemampuan cukup efektif untuk membantu mengatasi keluhan kuning pada bayi.

Penanganan dengan Terapi Sinar Biru

Untuk menangani bayi kuning, Anda perlu melakukan dua tahapan pengobatan. Pertama dengan mengatasi kadar bilirubin yang tinggi dalam tubuh dan mengatasi penyebab peningkatan bilirubin. Langkah pertama harus didahulukan karena kadar bilirubin tinggi bisa menjadi racun yang merusak sistem syaraf pusat bahkan menyebabkan penyakit cerebral palsy.

Dan cara tercepat serta efektif untuk mengatasi endapan bilirubin adalah dengan terapi sinar biru. Terapi ini dilakukan terus menerus pada bayi dalam keadaan telanjang pada ruang inkubator untuk tetap menjaga suhu tubuh bayi. Mata bayi sengaja ditutup dengan kain dengan pori rapat untuk mencegah retina mata terkena sinar biru, karena dapat membakar retina dan menyebabkan kebutaan permanen.

Biasanya proses terapi sinar biru dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan. Pada bayi dengan kadar bilirubin kisaran 12 mg/dl sampai 14 mg/dl, terapi dijalankan selama 2 – 4 hari sesuai perkembangan bayi. Namun bila kondisi kadar bilirubin di atas 15 mg/dl, maka proses terapi sinar biru bisa berlangsung lebih lama, kadang sampai 1 minggu.

Selama masa terapi, bayi tetap disarankan mendapatkan asupan ASI. ASI akan membantu pembentukan sistem imunitas yang membantu menekan efek samping kerusakan dari endapan bilirubin. Selain juga karena bilirubin yang sudah diurai, baru bisa keluar melalui air seni dan feses. Dan bayi baru bisa memproduksi air seni dan feses bila mendapatkan asupan ASI.

Sinar biru dengan gelombang khusus ini akan menembus kulit bayi dan memberi efek radiasi ringan yang akan memecah senyawa bilirubin yang mengendap pada lapisan lemak bawah kulit. Sebenarnya efek sinar biru ini memiliki efek serupa dengan sinar matahari pagi.

Terapi sinar biru mengandung spektrum sinar biru. Sinar ini adalah bagian dari spektrum cahaya dengan kekuatan gelombang terbaik. Efek radiasinya cukup tajam namun bersifat lebih lembut dari spektrum cahaya merah dan kuning. Sehingga lebih efektif menembus lapisan kulit, efektif memecah sel-sel pengikat dari cairan bilirubin namun tidak membahayakan bagi bayi.

Sejauh ini dalam praktek penggunaan terapi sinar biru atau fototerapi ini, belum ada laporan efek samping yang perlu dikhawatirkan. Bahkan terapi sinar biru masih menjadi standar internasional untuk menangani keluhan bayi kuning.

Dalam terapi, biasanya bayi selama beberapa hari tidak bisa leluasa keluar-masuk ruang inkubator. Bila kondisi memungkinkan, bayi boleh disusui langsung tanpa menggunakan pipet, namun bayi tetap diselubungi dengan semacam selimut serat optik bernama biliblanket. Serat optik ini bekerja serupa dengan sinar biru namun dengan cara yang lemah.

Sebagaimana dijelaskan, terapi ini bekerja sebagai langkah pertama penanganan yakni menghilangkan bilirubin secepat mungkin. Tetapi terapi sinar biru tidak dapat mengatasi masalah yang menjadi penyebab terbentuknya endapan bilirubin. Pasien tetap harus menjalani terapi untuk pengobatan terhadap penyebab pengendapan bilirubin, seperti terapi untuk pengobatan hati, empedu, atau masalah dengan darah.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}