Jangan Asal Percaya 5 Mitos seputar Cara Mengatasi Keracunan Ini!

486
Shutterstock

Diedit:

Keracunan bisa terjadi kapanpun. Anda bisa keracunan makanan atau obat bahkan mungkin susu. Kadang Anda tetap bisa keracunan sekalipun bila makanan itu tersimpan baik dalam kulkas atau sudah diolah menjadi makanan yang matang.

Makanan atau minuman bisa beracun bila di dalamnya terkandung kuman seperti bakteri, jamur atau virus yang menyebabkan reaksi pada tubuh kita. Atau bila dalam makanan atau minuman tersebut terkontaminasi zat yang bersifat toksin.

Terkait dengan keracunan, dalam masyarakat awam dikenal banyak cara yang lazim diterapkan dalam mengatasi keracunan. Hati-hati sejumlah cara tersebut rupanya tak lebih dari sekedar mitos yang perlu Anda waspadai.

Alih-alih masalah keracunan bisa teratasi, sejumlah cara awam tersebut bisa jadi malah membuat penanganan kasus menjadi terlambat dan kondisi pasien memburuk.

Untuk itu kami akan mencoba mengupas beberapa cara tradisional yang lazim diterapkan oleh masyarakat awam dalam mengatasi keracunan. Pahami mana yang masih mungkin Anda terapkan dan sesuai dengan penerapan medis modern dan mana yang sebenarnya tidak lebih dari mitos.

Mitos 1: Minum Air Kelapa

Cara yang paling lazim diterapkan dalam mengatasi keracunan adalah dengan meminumkan pasien air kelapa hijau. Bagaimana pandangan medis mengenai terapi tradisional ini?

Pada dasarnya air kelapa diketahui mengandung kadar kalium yang tinggi dan berimbang dibandingkan komponen kalium di dalamnya. Dengan sejumlah komponen ion yang tersimpan di dalamnya, bahkan dikatakan bahwa air kelapa memiliki kemampuan isotonik yang cukup baik.

Ketika seseorang keracunan dan mengalami efek muntah-muntah juga diare, mereka otomatis akan mengalami masalah kekurangan cairan. Kondisi ini membuat mereka membutuhkan lebih dari sekedar air, tetapi air dengan kandungan garam dan kalium yang seimbang untuk mengembalikan kondisi ion dalam tubuh.

Itu sebabnya, kemudian air kelapa termasuk menjadi minuman yang secara medis disarankan untuk pasien diare dan muntah-muntah. Terlepas dari apakah kasus muntah-muntah dan diare tersebut disebabkan oleh keracunan atau tidak.

Aspek lain yang kemudian dipercaya memberi manfaat untuk kasus keracunan adalah adanya kandungan tannin dalam air kelapa yang bermanfaat mematikan bakteri.

Pada dasarnya, tidak semua keracunan disebabkan oleh bakteri, tetapi bila memang bakteri adalah penyebab keracunan, mungkin air kelapa bisa menjadi pertolongan pertama. Dan bilapun tidak, setidaknya air kelapa bisa menjaga pasien tetap terhidrasi hingga mendapatkan penanganan medis.

Mitos 2: Minum Air Susu

Cara awam yang juga tak kalah kerap dilakukan sebagai cara mengatasi keracunan adalah dengan meminumkan pasien dengan segelas penuh air susu putih tawar.

Baca juga:  10 Racun yang Tersembunyi pada Makanan Cepat Saji

Dikatakan air susu putih tawar akan membantu mencuci perut dan mendorong pasien segera memuntahkan makanan yang menyebabkan keracunan. Pandangan lain mengatakan susu putih akan melapisi usus dan lambung supaya tidak terkontaminasi racun.

Dalam laman Virginia Poison Center, dijelaskan bahwa susu bukan penawar racun apapun dan tidak bisa bekerja sebagaimana dikatakan menyebabkan efek pelapisan pada lambung dan usus untuk melindungi efek racun.

Hanya susu diketahui mengandung kalsium tinggi yang akan membantu menurunkan daya serap tubuh terhadap komponen senyawa logam berat yang juga bisa menjadi toksin dalam tubuh. Tetapi perannya tidak akan banyak bekerja lagi terhadap unsur logam yang sudah terlanjur terserap tubuh.

Jikapun dikatakan minum susu putih tawar sebanyak satu gelas penuh mendorong efek muntah lebih karena susu memiliki rasa eneg yang kuat. Meminum air susu dalam jumlah demikian banyak memang memberi efek mual bahkan bila Anda tidak sedang keracunan.

Justru pada kasus pasien dengan kondisi lambung sudah terkontaminasi keberadaan susu bisa jadi memperburuk kondisi. Karena susu bisa menjadi makanan yang menyuburkan bakteri dalam perut.

Dan sebenarnya memang akan lebih baik bila pasien yang keracunan segera bisa memuntahkan makanan atau minuman beracun yang diasupnya segera setelah mereka menelannya. Ini meminimalisir efek kontaminasi racun dalam makanan pada tubuh.

Jadi susu sebenarnya bukan penawar racun dan tidak memberi manfaat apapun pada pasien. Susu hanya bekerja mendorong efek mual dan membuat pasien segera muntah, dan akan efektif hanya beberapa saat setelah pasien mengonsumsi makanan beracun. Hindari memberi susu pada pasien yang sudah beberapa jam keracunan karena bisa jadi memicu masalah lebih serius.

Mitos 3: Minum Air Cuka

Beberapa pandangan juga mengatakan mengonsumsi air cuka bisa membantu meredakan efek keracunan. Sulit mengatakan pandangan ini benar, mengingat belum ada riset memadai yang membuktikan manfaat cuka sebagai cara mengatasi keracunan.

Dan sebenarnya, yang lazim digunakan juga bukan jenis cuka biasa, melainkan jenis cuka apel yang memiliki kandungan anti toksin bernama pektin di dalamnya. Sebagaimana dijelaskan dalam laman LIVESTRONG.COM.

Menurut sumber The University of Maryland Medical Center , dijelaskan bahwa terapi dengan cuka apel akan membantu melawan bakteri penyebab keracunan dan membantu memperbaiki sejumlah anomali enzim yang tidak normal selama akibat keracunan. Sedang efek anti toksin dalam apel sendiri belum sepenuhnya dipastikan secara medis.

Baca juga:  Penting: Bersihkan Air Minum Anda dari 12 Macam Racun Ini!

Pemberian cuka apel juga bukan tanpa catatan. Karena pada dasarnya kandungan asam pada cuka bisa jadi bereaksi negatif pada lambung yang sedang mengalami gangguan. Dan bila kasus keracunan berkaitan dengan toksin, tidak ada jaminan bahwa reaksi yang dihasilkan akan cukup aman.

Mitos 4: Makan Roti yang Dibakar Hangus

Mungkin metode ini tidak terlalu dikenal di Indonesia, tetapi rupanya metode semacam ini banyak diaplikasikan oleh masyarakat barat awam. Dengan asumsi bahwa roti dikatakan memiliki kemampuan menyerap racun dan demikian pula dengan arang.

Untuk Anda ketahui bahwa sebenarnya bukan roti yang bisa membantu menyerap racun, melainkan gandum. Sejumlah pakar malah menyarankan pasien mengonsumsi bubur oatmeal selama masa penyembuhan. Bubur oatmeal cukup lembut untuk dikonsumsi penderita keracunan dan sejumlah komponen seratnya membantu menormalkan kadar bakteri baik dalam usus.

Di sisi lain, adalah benar bahwa arang aktif memiliki manfaat untuk menyerap racun. Komponen dominan dari arang yakni karbon memang merupakan antitoksin agresif. Kami pernah membahasnya di artikel ini, mengenai pemanfaatan arang aktif.

Hanya saja tentu arang aktif berbeda dengan arang biasa. Anda hanya disarankan mendapatkan arang aktif dalam bentuk tablet yang lazim dijual di apotek. Arang yang telah dipastikan higienitas dari proses pembentukan karbon di dalamnya, termasuk dari efek kontaminasi senyawa non karbon yang berbahaya.

Mitos 5: Mengonsumsi Jahe

Jahe juga dikenal memiliki manfaat untuk mengatasi keluhan keracunan. Dan secara medis diakui adanya kemampuan jahe tersebut, tetapi bukan sebagai terapi anti toksin, tetapi meredakan keluhan yang muncul.

Pada dasarnya tidak ada efek anti toksin dalam jahe. Hanya jahe memang efektif membantu meredakan efek mual, perih pada lambung, pusing dan keluhan-keluhan lain yang lazim terjadi pada orang keracunan. 

Dikatakan bahwa terapi ini tidak bisa menjadi pertolongan pertama, tetapi setidaknya bisa menjadi terapi untuk membantu pasien keracunan merasa lebih nyaman sampai efek racun hilang sepenuhnya dari dalam tubuh.

Ada sejumlah pendapat mengenai bagaimana cara mengatasi keracunan. Tetapi beberapa di antaranya rupanya bukan metode yang aman Anda jalankan. Dan beberapa lagi lebih efektif bekerja untuk perawatan pasien keracunan pada jangka panjang dan bukan untuk penanganan pertama, begitu pula sebaliknya.

Advertisement
Alinesia