Keracunan Makanan: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya


By Cindy Wijaya

Keracunan makanan dicirikan dengan gejala mual, muntah, atau diare setelah mengonsumsi makanan tertentu. Meski seringnya terjadi saat mengonsumsi makanan di luar, tetapi kadang makanan yang diolah di rumah sendiri pun bisa menyebabkan keracunan. Apa yang harus dilakukan saat terjadi keracunan? Bagaimana cara mengatasi keracunan makanan?

Dalam artikel ini Anda akan mengetahui tentang ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasi keracunan makanan. Agar tidak memberikan informasi yang keliru, kami mengambil sumber dari situs web kesehatan yang dapat dipercaya. Silakan lihat sumber referensinya di akhir artikel.

Apa Saja Ciri-Ciri Keracunan Makanan?

Ciri-ciri keracunan makanan dapat berbeda-beda tergantung pada penyebab keracunan itu. Namun sering kali muncul sejumlah gejala umum seperti berikut ini:

  • Mual
  • Muntah
  • Diare (berair atau berdarah)
  • Sakit dan kram perut
  • Demam

Ciri-ciri keracunan makanan tersebut mungkin mulai muncul dalam waktu beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi, atau bisa juga baru muncul beberapa hari atau bahkan minggu kemudian. Jika sudah muncul, gejala tersebut biasanya berlangsung selama beberapa jam hingga beberapa hari.

Kapan Harus ke Dokter?

Segeralah periksa ke dokter apabila Anda mengalami ciri-ciri keracunan makanan seperti berikut ini:

  • Sering muntah
  • Muntah atau BAB berdarah
  • Diare lebih dari 3 hari
  • Sakit atau kram perut yang parah
  • Temperatur dalam mulut lebih tinggi dari 38 derajat C
  • Ada tanda-tanda dehidrasi (sangat haus, mulut kering, sedikit atau tidak ada BAB, sangat lemas, pusing)
  • Gejala-gejala neurologis (penglihatan kabur, lemah otot, kesemutan di tangan)

Apa Penyebab Keracunan Makanan?

Penyebab keracunan makanan adalah mengonsumi makanan yang sudah terkontaminasi. Ada banyak bakteri, virus, dan agen parasit lain dapat mengontaminasi makanan dan menyebabkan keracunan. Berikut adalah beberapa yang dapat menjadi penyebab keracunan makanan:

  • Campylobacter pada daging
  • Clostridium botulinum pada makanan kaleng
  • Clostridium perfringens pada daging, semur, dan kuah
  • Escherichia coli pada daging
  • Giardia lamblia pada makanan mentah yang siap makan dan air terkontaminasi
  • Hepatitis A pada makanan mentah yang siap makan dan kerang dari air terkontaminasi
  • Listeria pada hot dog, daging olahan, susu dan keju tidak dipasteurisasi, dan makanan mentah yang tidak dicuci
  • Norovirus pada makanan mentah yang siap makan, dan kerang dari air terkontaminasi
  • Rotavirus pada makanan mentah yang siap makan
  • Salmonella pada daging, susu, atau kuning telur yang mentah atau terkontaminasi
  • Shigella pada seafood dan makanan mentah yang siap makan
  • Staphylococcus aureus pada daging dan salad siap saji, saus krim, dan kue-kue isi krim
  • Vibrio vulnificus pada tiram mentah dan kerang mentah atau setengah matang

Keracunan dapat menjadi sangat serius dan bisa berakibat fatal pada anak kecil, ibu hamil dan janinya, lansia, serta orang yang punya kekebalan tubuh lemah. Karena itu mereka harus lebih berhati-hati untuk menghindari penyebab keracunan makanan. Mereka sebaiknya hanya mengonsumsi makanan atau minuman yang sudah dibersihkan dengan benar dan dimasak dengan baik.

Bagaimana Cara Mengatasi Keracunan Makanan?

Cara mengatasi keracunan makanan disesuaikan dengan penyebab keracunan tersebut (jika diketahui) dan seberapa parah gejala yang dialami. Bagi kebanyakan orang, mereka bisa sembuh sendiri meski tanpa perawatan dalam waktu beberapa hari, atau bisa juga lebih lama.

Jika Anda periksa ke dokter, biasanya akan diberikan cara mengatasi keracunan makanan seperti berikut:

  • Penggantian cairan yang hilang: Cairan dan elektrolit dapat hilang akibat diare dan harus diganti agar tidak dehidrasi atau agar dehidrasi bertambah parah. Anak kecil dan orang dewasa yang mengalami diare atau muntah terus-menerus mungkin dianjurkan dokter untuk dirawat inap di rumah sakit, supaya mereka dapat menerima pengganti cairan dan elektrolit melalui infus.
  • Antibiotik: Dokter mungkin akan meresepkan obat antibiotik jika Anda penyebab keracunan makanan adalah bakteri atau jika ciri-ciri keracunan makanan yang dialami tergolong parah.

Orang dewasa yang mengalami diare yang tidak berdarah dan yang tidak demam mungkin bisa mengonsumsi obat medication loperamide atau bismuth subsalicylate. Tapi lebih baik tanyakan pada dokter apakah cocok mengonsumsi obat tersebut.

Cara Mengatasi Keracunan Makanan di Rumah

Sering kali kasus keracunan yang tidak parah bisa sembuh sendiri tanpa perawatan dokter. Namun Anda perlu merawat diri dan mencegah dehidrasi agar cepat pulih. Cobalah terapkan tips-tips berikut:

  • Istirahatkan perut dengan tidak makan dan minum selama beberapa jam.
  • Coba menghisap es batu atau minum air sedikit-sedikit untuk mencegah dehidrasi.
  • Mengonsumsi probiotik.
  • Kembali makan secara perlahan, mulai dari makanan yang tawar, rendah lemak, mudah dicerna, misalnya biskuit crackers, roti panggang, agar-agar, pisang, dan nasi. Berhenti makan jika rasa mual kambuh lagi.
  • Hindari susu dan olahannya, kafein, alkohol, nikotin, dan makanan berlemak atau yang banyak berbumbu.
  • Istirahatlah lebih banyak.

Demikianlah artikel ini yang mengupas tentang keracunan makanan, mulai dari ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasinya. Semoga informasi ini dapat berguna. Nantikan juga ulasan-ulasan menarik lain seputar kesehatan hanya di Deherba.com.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>