10 Racun yang Tersembunyi pada Makanan Cepat Saji

520

Diedit:

Anda mungkin tidak satu atau dua kali mendengar mengenai bahaya makanan cepat saji untuk kesehatan. Tetapi tetap saja, makanan cepat saji masih menjadi penguasa di pasar bisnis kuliner dunia. Alasan kemudahan akses dan rasa yang terbilang universal sehingga mudah diterima oleh lidah berbagai budaya dan tradisi menjadi alasan kenapa sampai sekarang makanan cepat saji masih memiliki ruang luas di pasar bisnis kuliner dunia.

Mungkin kini saatnya Anda memahami lebih dalam apa sebenarnya bahaya makanan cepat saji. Apa sebenarnya racun yang mengancam Anda dibalik sekantung kentang goreng, sepotong ayam goreng krispi itu, atau pada sebongkah nugget ayam yang gurih dan menggugah selera. Berikut adalah sejumlah toksin yang biasa dijumpai pada makanan cepat saji.

1. Acrylamide

Salah satu yang menjadi ciri khas dari sajian pada sebuah gerai makanan cepat saji adalah, kebanyakan hidangan diolah dengan cara digoreng. Pemrosesan makanan dengan cara digoreng atau biasa disebut dengan deep fry dimana makanan digoreng dalam rendaman minyak panas yang berlimpah.

dari proses inilah, makanan cepat saji biasanya akan mengandung acrylamide, sejenis senyawa toksin yang berasal dari proses penggorengan dalam rendaman minyak dalam suhu panas. Semakin lama sebuah makanan digoreng semakin tinggi pula kadar acrylamide dalam makanan. Sedang minyak goreng baru mengandung kadar acrylamide yang lebih rendah dari minyak yang habis pakai.

Acrylamide merupakan salah satu elemen karsinogen yang cukup aktif. Memiliki efek oksidasi sel yang kuat terutama pada sistem pencernaan, sistem daya tahan tubuh termasuk tiroid, juga pada kesehatan sistem reproduksi.

2. Sodium acid pyrophosphate

Jenis bahan peragi yang biasa ditambahkan pada sejumlah jenis adonan ini biasanya disingkat dengan sebutan SAPP. Sejumlah makanan cepat saji menggunakan bahan SAPP sebagai bahan pengembang dan peragi, seperti pada pembuatan tortilla dan pancake.

Yang menjadi masalah, kandungan fosfor dalam SAPP akan memberi pengaruh negatif pada kesehatan tulang. Kadar fosfor yag berlebihan akan meningkatkan risiko seseorang mengalami osteoporosis. Sedang dalam sejumlah temuan diperoleh adanya kemungkinan SAPP dalam menyebabkan inflamasi.

3. Hard fructosa corn syrup

Pada sejumlah produk dari makanan cepat saji, terdapat sejumlah sajian manis. Namun ternyata alhih-alih meggunakan gula, beberapa jenis makanan dan minuman manis ini malah menggunakan Hard fructosa corn syrup atau lazim disebut dengan HFCS.

Jelas gula murni berbeda dengan produk HFCS, meski keduanya berasal dari sumber nabati dan memiliki efek manis yang cukup kuat. Namun ternyata HFCS tidak sepenuhnya bisa dikatakan alami, sebagian prosesnya bersifat kimiawi hingga kandungan di dalamnya bersifat non alami.

Baca juga:  Cara Mencegah dan Menangani Keracunan Timah Hitam!

Yang jelas, dengan sifat non alaminya terbukti, bahwa HFSC ini memiliki pengaruh buruk pada sistem produksi energi, memberi pengaruh resis tensi pada sinyal insulin dan

4. Azordicarbonamide

Bahan ini biasa ditambahkan pada adonan kue untuk bekerja sebagai pengembang adonan. Di beberapa negara seperti Inggris dan Australia, senyawa kimia ini sudah dilarang untuk digunakan pada makanan. Sifat karsinogennya relatif kuat dan memicu sejumlah keluhan seperti kerusakan liver, kanker dan keluhan dengan sistem sirkulasi darah.

Azordicarbonamide sendiri lebih banyak dikenal luas pada industri plastik. Biasanya fungsinya juga sebagai pengembang dalam penyiapan bahan baku plastik sebelum siap cetak. Selain pada plastik, sejumlah industri karet juga memanfaatkan senyawa ini dalam produksi.

5. Lemak jenuh

Lemak jenuh memang pembunuh jangka panjang yang sudah banyak dikenal orang. Lemak semacam ini berasal dari makanan berlemak seperti pada kulit ayam, daging ayam dan berbagai olahan makanan yang digoreng, termasuk pada makanan cepat saji. Bahkan juga bisa Anda temukan dalam krim yang biasa ditambahkan dalam minuman cepat saji.

Kadar lemak jenuh pada makanan cepat saji cukup tinggi, sehingga mereka yang rutin mengonsumsi makanan cepat saji biasanya akan berpostur perut besar sebagai reaksi terbentuknya lemak perut yang tebal akibat konsumsi lemak jenuh berlebihan.

Lemak jenuh sendiri bisa menjadi penyebab awal dari munculnya beragam keluhan kesehatan seperti kolesterol tinggi, masalah hipertensi, jantung, penurunan fungsi organ, liver, ginjal sampai stroke.

6. Dimethylpolysiloxane

Sebagaimana dijelaskan kebanyakan makanan cepat saji diproses dengan cara digoreng rendam atau deep frying. Metode ini menyebabkan makanan terkontak dengan minyak panas dalam jumlah besar dalam tempo relatif lama.

Proses ini menyebabkan sejumlah senyawa kimia yang dilepaskan oleh minyak sayur bersuhu tinggi mengkontaminasi makanan. Salah satunya adalah senyawa Dimethylpolysiloxane. Senyawa ini biasa ditambahkan pada minyak goreng untuk mencegah terjadinya proses pembentukan busa. Hanya saja sifat karsinogen di dalamnya cukup buruk untuk kesehatan. Mengonsumsi makanan yang sudah terpapar senyawa ini dalam jumlah besar secara rutin jelas bukan ide yang baik.

Selain kandungan senyawa di atas, minyak goreng juga kadang mengandung tertiary butylhydroquinone atau THBQ. Senyawa berbasis petrolium ini kadang ditambahkan untuk memberi efek pengawet pada minyak goreng

7. Sodium benzoate

Bahan kimia ini lazimnya Anda temukan dalam sejumlah saus pada makanan cepat saji. Dalam beberapa sumber, sifat senyawa ini membantu mengikat warna tambahan yang biasa diberikan pada makanan cair termasuk saus dan soft drink. Masalahnya dalam sebuah riset dari lembaga independen Inggris, diduga adanya kaitan antara anak yang hiperaktif dengan efek konsumsi sodium benzoat ini.

Baca juga:  Jangan Asal Percaya 5 Mitos seputar Cara Mengatasi Keracunan Ini!

8. Sodium aluminum phosphate

Senyawa satu ini lazim diberikan pada adonan daging dan tepung termasuk di antaranya adonan nugget, adonan daging untuk burger dan sejumlah adonan daging lain yang biasa disajikan pada makanan cepat saji.

Bahaya makanan cepat saji yang mengandung senyawa ini cukup berat, karena di dalamnya terdapat senyawa alumunium yang sifatnya tergolong metal berat. Liver akan bekerja ekstra 3 kali lebih berat untuk mengatasi senyaw metal berat yang masuk dalam tubuh. Sedang dalam sebuah riset di Kanada diduga adanya kaitan antara pola konsumsi makanan dengan kandungan Sodium aluminum phosphate dengan alzheimer dan demensia.

9. Disodium 5′-ribonucleotides

Senyawa ini dikenal pula sebagai salah satu bahan yang membantu mengempukan daging ayam. Itu sebabnya daging ayam pada olahan makanan cepat saji cenderung empuk dan mudah dikonsumsi.

Namun sifatnya cenderung korotif dalam tubuh manusia, terutama bila senyawa yang merupakan perpaduan antara disodium inosinate dan disodium guanylate ini Anda konsumsi dengan rutin dalam jumlah besar.

10. Sodium metabisulfite

Masalah pertama yang mengancam pada makanan dengan kandungan Sodium metabisulfite adalah sifat sulfitnya yang kadang membawa efek alergi pada beberapa orang. Efek mual sampai reaksi sesak dan gatal kadang muncul secara berbeda pada beberapa orang yang sensitif dengan sulfit.

Selain itu perpaduan dari beberapa elemen dalam Sodium metabisulfite ini menyebabkan beberapa efek pada tubuh, terutama memicu seseorang mengalami resistensi insulin yang akan mengacu pada diabetes tipe 2.

Meski diakui, tidak semua jenis toksin dan bahaya makanan cepat saji berada dalam kadar yang tinggi, tetapi mengonsumsinya dalam jumlah besar atau secara rutin jelas bukan ide yang tepat. Hindari memberikan anak Anda makanan cepat saji dan pastikan Anda mengonsumsinya dalam jumlah minimal bila menghindarinya sepenuhnya terasa mustahil.

Jika Anda benar-benar khawatir dengan bahaya makanan cepat saji, alangkah jauh lebih baik untuk selalu mengonsumsi makanan yang sehat. Pola makan yang sehat bahkan dapat berpengaruh besar untuk mencegah dan menyembuhkan penyakit berat, sekalipun itu kanker. Simak informasinya dalam artikel: Pola Makan Sehat Terbaik Untuk Kanker!

Advertisement
Alinesia