Ini Dia Keunggulan Stevia dari Pemanis Buatan Lain!

201
shutterstock

Diedit:

Anda yang menderita diabetes mungkin cukup familier dengan pemanis buatan. Demi mengurangi kadar glukosa dalam darah Anda mulai mengalihkan konsumsi gula pasir dan pemanis sejenis dengan jenis pemanis buatan yang diyakini akan mengurangi resiko hiperglikemia. Ini karena gula yang biasa kita kenal adalah salah satu penyebab utama naiknya kadar glukosa darah.

Masalahnya, kebanyakan pemanis buatan sebenarnya tidak sepenuhnya aman. Sejumlah pemanis buatan terbuat dari ekstraksi pemanis alami buah atau fruktosa. Sementara fruktosa dalam bentuk tunggal seperti ini justru bekerja dengan efek negatif terhadap tubuh, terutama pada ginjal dan liver. Sedang sebagian lain adalah jenis pemanis buatan kimiawi yang sama berbahayanya untuk ginjal dan liver. Tidak heran mereka dengan diabetes kemudian mengembangkan resiko kerusakan ginjal dan hati dalam jangka panjang.

Namun kemudian dunia mengenal stevia. Jenis pemanis buatan ini sebenarnya juga termasuk pemanis alami karena diperoleh dengan mengekstraksi jenis daun stevia yang memiliki kadar manis hingga 40 kali lebih tinggi dari kadar manis dalam gula tebu. Sebagaimana dijelaskan dalam organicfacts.net.

Apa Sebenarnya Stevia Itu?

Stevia adalah sejenis tanaman yang banyak tumbuh di kawasan Paraguay dan Brazil. Sebenarnya, Stevia adalah penyebutan ilmiah untuk setidaknya 240 spesies tanaman perdu yang berada dalam family Asteraceae. Dan di antara 240 spesies ini terdapat satu jenis tanaman bernama latin Stevia rebaudiana yang terbukti memiliki rasa manis yang sangat kuat dan diketahui memiliki sejumlah manfaat proteksi dan nutrisi terhadap tubuh. Inilah yang kemudian diolah dan diekstrasi sebagai pemanis buatan stevia.

Selama ini, stevia dikenal secara tradisional di kawasan benua Amerika sebagai pemanis alami untuk sejumlah produk makanan dan minuman lokal. Masyarakat setempat menjuluki daunnya sebagai sweetleaf karena rasanya yang sangat manis.

Dalam bentuk alaminya, daun stevia memiliki efek manis hingga 40 x dari jenis pemanis biasa sedang ekstrak dari daunnya bisa memiliki rasa manis hingga 200 x dari gula biasa. Beberapa produk pemanis buatan berbahan stevia dalam takaran 1 sendok teh akan memiliki rasa manis setingkat dengan 8 sendok makan gula pasir biasa.

Tingginya kadar manis dalam stevia berasal dari sejumlah komponen pemanis glikosida dalam stevia seperti steviosida, rebaudiosida A, C, D, E, and F, steviolbiosida, and dulkosida A. 8 jenis glikosida ini memiliki kadar kalori yang relatif sangat rendah bahkan mendekati 0%.

Sebagaimana dijelaskan dalam medicalnewstoday.com, selain stevia memiliki kadar kalori yang sangat rendah, Stevia juga dikenal tidak mempengaruhi kadar glikemik dan juga tidak mempengaruhi produksi insulin dalam tubuh.

Di pasaran sejumlah produk pemanis stevia dibuat dari proses ekstraksi daun stevia, atau dengan memproses komponen glikosida dalam stevia dan menghadirkannya dalam formula konsentrat. Sedang beberapa produk pemanis lain merupakan perpaduan produk stevia atau konsentrat komponen stevia dengan komponen pemanis lain di luar stevia.

Dikatakan pula dalam medicalnewstoday.com, bahwa stevia juga relatif sangat aman untuk dikonsumsi oleh anak-anak, ibu hamil dan menyusui serta rendah efek alergi. Review dari the European Food Safety Committee (EFSA) juga memberikan review yang sama mengenai stevia.

Apa Saja Manfaat Stevia?

Dalam sejumlah literatur dikatakan bahwa stevia adalah pemanis buatan yang dianggap paling sehat dibandingkan jenis pemanis lain. Bila beberapa jenis pemanis pengganti gula di pasaran memberi efek buruk pada kinerja liver dan ginjal, dan beberapa yang lain justru memperburuk kondisi diabetes, maka stevia justru berperan dalam membantu mengatasi hiperglikemia dengan aktif sekaligus membantu mengatasi sejumlah keluhan lain yang kadang menyertai pasien diabetes.

Baca juga:  Daun Stevia, Pengganti Gula yang Jauh Lebih Sehat

Bukan hanya itu, dalam laman organicfacts.net, stevia sendiri secara alami mengandung sejumlah nutrisi. Beberapa nutrisi seperti zat besi, kalium, magnesium, vitamin A, vitamin C dan sodium dapat Anda temukan dalam daun stevia segar dan produk keringnya. Beberapa nutrisi masih bisa Anda dapatkan dalam ekstraksi dan komponen konsentrat.

Dan untuk lebih jelasnya, berikut adalah sejumlah manfaat stevia untuk kesehatan tubuh Anda dan menjadi alasan kuat kenapa stevia adalah pemanis pengganti gula yang direkomendasikan.

Stevia membantu mengatasi hiperglikemia dan diabetes

Studi menjelaskan bahwa pasien diabetes yang rutin mengganti konsumsi gula mereka dengan 1 gram steviosida setiap harinya akan mengalami penurunan kadar glukosa darah dengan signifikan hingga 18%. Sebagaimana dijelaskan dalam sciencedirect.com, dengan jurnal bertajuk Antihyperglycemic effects of stevioside in type 2 diabetic subjects pada tahun 2003.

Bahkan kemampuan stevia terbukti lebih efektif daripada kemampuan aspartam dalam mengendalikan kenaikan kadar gula darah. Dalam sciencedirect.com dengan jurnal Effects of stevia, aspartame, and sucrose on food intake, satiety, and postprandial glucose and insulin levels tahun 2010, dikatakan bahwa stevia tidak berperan dalam meningkatkan kadar kalori dan karbohidrat dalam tubuh bahkan dalam level 0% atau mendekati 0%. Riset ini juga membuktikan bahwa stevia bekerja menstimulasi produksi insulin hingga turut berperan mendorong penurunan kadar glukosa.

Stevia membantu menjaga berat badan dan mendorong metabolisme

Untuk mencerna stevia, Glikosida dalam stevia akan dihancurkan dan dikonsumsi oleh bakteri dalam usus. Bisa dikatakan justru glikosida bekerja seperti probiotik dalam usus. Ini membuat glikosida tak sempat diserap dan masuk ke dalam aliran darah dan itu sebabnya glikosida tak mempengaruhi kadar glukosa dalam darah. Dan artinya juga tak akan mempengaruhi kadar kalori dalam tubuh.

Sementara gula atau sukrosa memiliki kadar kalori yang sangat tinggi, maka menggunakan stevia sebagai pengganti gula akan membuat sejumlah makanan manis yang selama ini dikenal kaya kalori menjadi lebih bersahabat bagi Anda yang sedang menjalankan diet rendah kalori dan penurunan berat badan.

Karena stevia tidak menambah kadar kalori dan gula dalam tubuh, maka secara alami tubuh akan menjalankan fungsi metabolisme cadangan dengan memproduksi energi dari cadangan lemak dan gula dalam tubuh. Dan kabar baiknya, justru glikosida diubah oleh tubuh menjadi steviol yang akan bekerja mendorong liver bekerja lebih dalam menjalankan metabolisme terhadap cadangan lemak di area perut.

Stevia membantu menjaga stabilitas tekanan darah

Dalam authoritynutrition.com, diungkap bahwa salah satu komponen glikosida yakni steviosida terbukti berperan dalam proses penurunan tekanan darah. Studi yang disampaikan membuktikan bagaimana sejumlah pasien yang mendapatkan terapi steviosida sebanyak 500 mg sebanyak 3 kali sehari akan menunjukan penurunan tekanan darah yang cukup efektif.

Sifat dari steviosida lebih sebagai membantu menjaga stabilitas tekanan darah dalam level aman dan bukan menurunkan dengan signifikan. Terapi selama 2 tahun dengan steviosida akan mendorong penurunan level tekanan darah dari 150/95 mmHg menjadi 140/89 mmHg. Dijelaskan pula bagaimana steviosida juga akan membantu menurunkan resiko Left Ventricular Hypertrophy atau kondisi pembengkakan jantung yang berkaitan dengan kasus tekanan darah tinggi.

Baca juga:  Daun Stevia, Pengganti Gula yang Jauh Lebih Sehat

Dalam penjelasan lain yang termuat pada organicfacts.net, sejumlah komponen glikosida dalam stevia memiliki manfaat terhadap penurunan tekanan pada saraf, relaksasi pada pembuluh darah,meningkatkan produksi urin dan membantu memaksimalkan aliran sodium keluar dari tubuh. Semua manfaat yang menjadi alasan bagaimana stevia baik untuk menurunkan dan menjaga stabilitas tekanan darah.

Stevia sebagai anti bakterial

Stevia memiliki kemampuan anti bakteri dan anti inflamasi. Sebagaimana dijelaskan dalam sciencedirect.com, pada jurnal Stevioside and related compounds: Therapeutic benefits beyond sweetness pada tahun 2008.

Kemampuan anti bakterial dan anti inflamasi dalam steviosida dan sejumlah komponen glikosida lain stevia membuatnya baik untuk pencegahan sariawan dan peradangan pada mulut serta baik untuk membantu mengatasi peradangan pada lambung dan usus. Bahkan terapi dengan stevia juga baik untuk keluhan peradangan pada kulit.

Stevia menguatkan tulang

Sebuah riset yang diberikan pada sejumlah sampel ayam membuktikan terapi dengan stevia akan membantu meningkatkan kualitas tulang dan cangkang telur pada ayam. Dikatakan ini karena kandungan kalsium dari stevia yang cukup tinggi dan mudah dicerna membantu meningkatkan densitas tulang pada ayam. Riset yang dijelaskan dalam organicfacts.net ini masih perlu diperdalam termasuk dengan pendalaman riset dengan melibatkan manusia.

Stevia untuk anti kanker

Anti kanker juga merupakan komponen lain dari stevia yang membuatnya memiliki nilai lebih dari jenis pemanis buatan lain. Sementara beberapa jenis pemanis pengganti gula justru meningkatkan resiko kanker dalam jangka panjang, justru dalam stevia ditemukan komponen antioksidan yang bisa membantu menurunkan resiko kanker. Hal ini juga dijelaskan dalam sciencedirect.com, pada jurnal Stevioside and related compounds: Therapeutic benefits beyond sweetness pada tahun 2008.

Apakah Stevia Aman Dikonsumsi?

Banyak orang memang ragu dengan keamanan dari pemanis pengganti gula. Kebanyakan orang menemukan informasi mengenai bagaimana sejumlah pemanis buatan yang beredar memiliki efek samping terhadap kinerja produksi insulin, mengganggu metabolisme, mengganggu kinerja liver dan ginjal bahkan mungkin bekerja sebagai karsinogen.

Bagaimana dengan stevia? Menurut review yang dirilis dalam International Journal of Foods Clinical and Nutrition tahun 2010 berjudul Stevia (Stevia rebaudiana) a bio-sweetener: a review, menunjukan bahwa stevia adalah jenis pemanis pengganti gula yang aman dan memiliki resiko yang relatif sangat rendah.

FDA yang menjadi regulator obat-obatan di Amerika Serikat memastikan sejauh ini Stevia adalah jenis pemanis buatan yang aman dan rendah resiko. Bahkan dikatakan baik untuk penderita diabetes dan hipertensi, namun juga aman untuk mereka dengan masalah tekanan darah rendah. FDA menentukan kadar aman untuk Stevia pada kisaran 4 mg untuk tiap kilogramnya.

Kekhawatiran terbesar yang sempat muncul terkait stevia adalah pengaruhnya terhadap fertilitas. Namun pandangan terkait pengaruh stevia dengan fertilitas hanya merujuk pada riset pemberian stevia dalam dosis besar pada sampel hewan sebagaimana dijelaskan dalam Journal of Ethnopharmacology tahun 1999 bertajuk Effects of chronic administration of Stevia rebaudiana on fertility in rats. Sejauh ini para pakar melihat dosis yang diberikan dianggap tidak realistis untuk dibandingkan dengan konsumsi stevia pada manusia.