Masyakarat Indonesia perlu waspada dengan penyakit kelainan gula darah ini. Mengapa? Karena menurut data yang kami peroleh dari situs web International Diabetes Federation, terdapat 10 juta kasus diabetes sepanjang tahun 2015. Itu berarti ada sekitar 6.2% dari seluruh orang Indonesia yang menderita penyakit diabetes melitus.

Oleh karena itu, kami menganjurkan Anda untuk meningkatkan kewaspadaan dengan memahami diabetes ini. Dengan mengerti betul apa yang menyebabkan diabetes, risikonya, serta pengobatannya, kami berharap Anda bisa mengerti juga caranya menghindari dampak terburuk dari penyakit ini.

Apa Itu Diabetes Melitus?

Diabetes melitus adalah kondisi kronis yang diderita seumur hidup yang memengaruhi kemampuan tubuh Anda dalam menggunakan energi dari makanan. Setidaknya terdapat tiga tipe utama diabetes melitus (atau yang disingkat diabetes saja), yaitu: diabetes tipe 1, diabetes tipe 2, dan diabetes gestational.

Secara normal tubuh mestinya memecah gula dan karbohidrat yang Anda makan menjadi gula khusus yang disebut glukosa atau gula darah. Glukosa ini yang memberi makan sel-sel dalam tubuh Anda.

Namun sel-sel membutuhkan hormon insulin di dalam aliran darah agar dapat menerima glukosa dan menggunakannya sebagai energi. Nah, diabetes melitus adalah ketika tubuh Anda tidak dapat menciptakan cukup banyak insulin atau tidak dapat menggunakan insulin yang diciptakannya, atau kombinasi dari keduanya.

Karena sel-sel tidak dapat menerima glukosa, maka glukosa-glukosa yang tidak terpakai tersebut menumpuk di dalam darah. Sehingga kadar glukosa dalam darah yang tinggi tersebut akhirnya dapat merusak pembuluh darah kecil pada ginjal, jantung, mata, dan sistem saraf.

Itu mengapa diabetes—khususnya jika dibiarkan tidak diobati—bisa menyebabkan penyakit jantung, stroke, sakit ginjal, kebutaan, dan kerusakan pada saraf-saraf di kaki. Dampak yang cukup menakutkan, bukan? Karena itu kami akan mengajak Anda mengenali tiap-tiap tipe diabetes melitus agar bisa menghindari penyebab dan risikonya.

Berapa Kadar Gula Darah Normal?


Kadar gula darah normal yang perlu dicapai oleh penderita diabetes agak berbeda dengan kadar gula darah dari orang yang sehat. Berikut adalah daftar angka-angka normal untuk kadar glukosa:

  • Puasa

    Orang sehat: 70 – 99 mg/dl
    Penderita diabetes: 80 – 130 mg/dl

  • 2 Jam Setelah Makan

    Orang sehat: kurang dari 140 mg/dl
    Pasien diabetes: kurang dari 180 mg/dl

  • HbA1c

    Orang sehat: kurang dari 5.7 persen
    Pasien diabetes: 7.0 persen atau kurang

Diabetes Melitus Tipe 1

Diabetes tipe 1 juga disebut sebagai diabetes insulin dependent. Dulu sempat juga disebut sebagai diabetes pada anak, karena tipe ini sering terjadi pada usia anak-anak.

Diabetes tipe 1 merupakan kondisi kelainan autoimun. Karena tubuh secara keliru memerintahkan antibodinya untuk menyerang organ pankreas tubuh itu sendiri. Oleh sebab itu, penderita diabetes tipe 1 tubuhnya tidak dapat menciptakan insulin akibat pankreas yang dirusaknya sendiri.

Tipe diabetes melitus ini dapat disebabkan oleh kecenderungan genetik yang diturunkan orang-tua. Dan bisa juga akibat dari sel-sel beta yang rusak di pankreas yang biasanya memproduksi insulin.

Sejumlah masalah kesehatan juga dihubungkan dengan risiko diabetes tipe 1. Masalah kesehatan tersebut antara lain kerusakan pada pembuluh darah kecil di mata (disebut retinopati diabetik), di saraf (neuropati diabetik), dan di ginjal (nefropati diabetik). Bahkan lebih serius lagi masalah kesehatan tadi bisa memicu penyakit jantung dan stroke.

Tes Darah A1C

Sebuah tes berkala yang dinamakan tes darah A1C memperkirakan tingkat glukosa dalam darah Anda selama 3 bulan sebelumnya. Tes ini berguna untuk membantu mengidentifikasi tingkat kontrol glukosa secara keseluruhan dan risiko komplikasi akibat diabetes, termasuk risiko kerusakan organ. Tes A1C biasanya dilakukan beberapa kali dalam setahun.

Gejala Diabetes Tipe 1

Gejala diabetes tipe 1 haruslah ditangani sesegera mungkin, karena jika tidak ditangani maka penyakit ini bisa mengancam nyawa. Beberapa gejala yang mesti diwaspadai antara lain:

  • Rasa harus lebih daripada biasanya
  • Rasa lapar lebih daripada biasanya
  • Anak mengompol, padahal sebelumnya tidak pernah
  • Menjadi lebih sering pipis (beser)
  • Kelelahan
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Mudah tersinggun dan mood yang berubah-ubah
  • Penglihatan kabur

Diabetes tipe 1 cenderung lebih lamban perkembangannya pada orang-orang dewasa dibandingkan pada anak-anak. Dan sejumlah kasus diabetes tipe 1 pada orang dewasa bisa secara keliru didiagnosis sebagai diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 1 pada orang dewasa di atas 35 tahun kadang-kadang juga disebut sebagai Diabetes Autoimun Laten Dewasa atau Latent Autoimmune Diabetes of Adulthood (LADA).

Penyebab Diabetes Tipe 1

Penyebab diabetes tipe 1 adalah karena kesalahan pada respon sistem kekebalan tubuh, dimana sistem kekebalan secara keliru menyerang serta membunuh sel-sel beta. Sel-sel beta di pankreas adalah yang bertanggung jawab memproduksi insulin dalam tubuh.

Seraya semakin banyak sel-sel penghasil insulin di pankreas yang dibunuh, maka tubuh tidak lagi sanggup mengendalikan kadar gula darahnya sehingga gejala-gejala diabetes mulai bermunculan.

Apa yang menjadi penyebab dari kekeliruan sistem kekebalan masih terus dicari tahu oleh para ahli. Akan tetapi, hasil-hasil penelitian yang sudah ada menunjukkan bahwa kondisi ini diakibatkan oleh kombinasi predisposisi genetik yang dipicu oleh faktor lingkungan.

Apa yang memicu sistem kekebalan untuk bertindak secara salah seperti itu masih belum dapat diketahui dengan jelas. Hingga kini, bukti-bukti yang ada memperlihatkan bahwa virus-lah yang diduga kuat sebagai pemicunya.

Pengobatan Diabetes Tipe 1

Pengobatan untuk tipe 1 diabetes melitus adalah terdiri dari terapi insulin—yang perlu disuntikkan melalui kulit ke dalam jaringan lemak di bawah kulit. Beberapa metode terapi insulin yang digunakan antara lain:

  • Jarum suntik.
  • Insulin pena yang menggunakan kartrid pra-isi dan jarum halus.
  • Injektor jet yang menggunakan udara bertekanan tinggi untuk menyemprotkan insulin ke dalam kulit.
  • Pompa insulin yang mengeluarkan insulin melalui pipa fleksibel menuju kateter di bawah kulit perut.

Jika Anda menderita diabetes tipe 1, Anda harus mengubah gaya hidup, seringkali secara besar-besaran, antara lain:

  • Secara berkala mengecek kadar gula darah
  • Pola makan yang sangat teratur
  • Olahraga setiap hari
  • Rutin terapi insulin dan pengobatan lainnya

Kabar bagusnya, pengidap diabetes tipe 1 masih bisa menikmati kehidupan yang sehat dan menyenangkan apabila mereka berhati-hati mengendalikan kadar gula darah mereka, membuat perubahan gaya hidup, dan mematuhi rencana pengobatan mereka.

Diabetes Melitus Tipe 2

Sejauh ini jenis yang paling sering diidap dari diabetes melitus adalah tipe 2—meliputi sekitar 95% dari total pengidap diabetes dewasa.

Diabetes tipe 2 dulu sempat disebut sebagai diabetes pada dewasa, namun karena meningkatnya jumlah anak kegemukan dan obesitas, sekarang semakin banyak anak remaja pun sudah menderita diabetes tipe 2.

Diabetes tipe 2 biasanya tidak separah diabetes tipe 1. Meski begitu, diabetes tipe 2 masih dapat memicu berbagai masalah serius, terutama pada pembuluh darah terkecil di tubuh yang memberi makan ginjal, saraf-saraf, dan mata. Diabetes tipe 2 juga bisa memicu gangguan jantung serta stroke.

Penderita diabetes melitus tipe ini biasanya tubuhnya masih menciptakan sejumlah insulin. Namun tidak cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan tubuh, atau bisa juga sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin. Resistensi insulin, atau kurangnya sensitivitas terhadap insulin, utamanya terjadi pada sel-sel lemak, hati, dan otot.

Apabila Anda tergolong obesitas maka Anda khususnya sangat berisiko mengidap diabetes tipe 2 dan komplikasi penyakit akibatnya. Orang yang obesitas memiliki resistensi insulin dan karena itu organ pankreas mereka harus bekerja sangat keras untuk memproduksi insulin. Meskipun sudah bekerja keras, namun insulin yang diciptakan tetap tidak cukup untuk menjaga glukosa tetap normal.

Gejala Diabetes Tipe 2

Gejala diabetes tipe 2 biasanya berkembang secara perlahan. Sebenarnya, Anda bisa saja menderita diabetes tipe 2 selama bertahun-tahun tetapi tidak menyadarinya. Karena itu, perhatikanlah tanda-tanda berikut ini.

  • Rasa haus lebih daripada biasanya
  • Lebih sering buang air kecil (beser)
  • Rasa lapar lebih daripada biasanya
  • Berat badan turun tanpa sebab
  • Kelelahan
  • Penglihatan kabur
  • Luka lama sembuh atau infeksi kambuh-kambuhan
  • Ada area-area kulit yang menggelap

Segeralah periksakan ke dokter apabila Anda menyadari keberadaan dari gejala-gejala diabetes tipe 2 seperti di atas. Memang bisa jadi keluhan-keluhan seperti itu disebabkan oleh masalah kesehatan yang tidak seserius diabetes, tetapi ada baiknya untuk memastikannya dulu ke dokter.

Penyebab Diabetes Melitus Tipe 2

Penyebab diabetes tipe 2 bermula ketika hormon insulin tidak digunakan secara efektif oleh sel-sel di dalam tubuh. Insulin dibutuhkan oleh sel-sel untuk mengambil glukosa (gula darah) dari aliran darah lalu mengubahnya menjadi energi.

Ketidakefektivan penggunan insulin tersebut membuat tubuh menjadi kebal terhadap insulin—juga disebut kondisi resistensi insulin—yang pada akhirnya menyebabkan kadar gula darah meninggi (hiperglikemia).

Pada tahap yang lebih lanjut, diabetes tipe 2 mungkin dapat mengakibatkan kerusakan pada sel-sel penghasil insulin di pankreas, sehingga memicu keadaan produksi insulin yang tidak mencukupi untuk kebutuhan tubuh.

Pengobatan Diabetes Tipe 2

Obat medis untuk diabetes tipe 2 masih diselidiki. Tetapi kabar baiknya, Anda bisa menekannya dampaknya sekecil mungkin dengan menjaga berat badan senormal mungkin, nutrisi yang tepat, dan rajin olahraga.

Dan satu lagi berita bagus buat Anda, kini tersedia herbal yang terbukti bermanfaat sebagai obat diabetes alami—diabetes tipe 1 maupun tipe 2—yaitu Noni juice. Pengguna Noni juice yang rutin minum herbal ini mengakui bahwa kadar gula darahnya bisa tetap batas normal dan terus stabil selama konsumsi herbal ini.

Untuk membantu program rencana pengobatan Anda, dianjurkan untuk menjalani tes darah A1C secara berkala untuk melihat seberapa baik upaya diet, olahraga, dan pengobatan yang dilakukan untuk mengendalikan glukosa dan mencegah kerusakan organ.

Diabetes Gestational

Diabetes melitus adalah penyakit yang bisa terjadi di usia manapun—bahkan bisa dialami pada saat kehamilan! Ya, kehamilan bisa saja memicu resistensi insulin dan kondisi ini disebut sebagai diabetes gestational.

Diabetes tipe ini biasanya didiagnosis pada pertengahan dan akhir usia kehamilan. Karena kadar gula darah ibu hamil dialirkan kepada janin melalui plasenta, maka diabetes gestational harus ditekan seminimal mungkin agar tumbuh kembang janin tidak terganggu.

Menurut National Institues of Health, kasus diabetes gestational terjadi antara 2% sampai 10% dari total kehamilan. Bagi Anda yang sedang hamil perlu berhati-hati, karena diabetes pada saat kehamilan juga dapat membuat Anda mengidap diabetes tipe 2 di masa mendatang—bisa terjadi beberapa minggu sampai beberapa tahun setelah melahirkan. Belum lagi risiko Anda mengalami kerusakan jantung, ginjal, saraf, atau mata.

Dan ada risiko bagi janin juga, termasuk bobot bayi lahir yang terlalu besar, kesulitan bernapas saat lahir, dan risiko obesitas serta diabetes yang lebih besar di masa mendatang. Sebagai catatan terakhir, ibu hamil yang mengalami diabetes tipe ini biasanya menjalani operasi caesar karena bayi terlalu besar.

Untuk menekan risiko tersebut sekecil-kecilnya, perawatan diabetes gestational yang bisa dilakukan mencakup:

  • Program diet makanan yang direncanakan baik-baik untuk memastikan nutrisi yang cukup namun tanpa kelebihan lemak dan kalori.
  • Rajin olahraga setiap hari.
  • Mengontrol berat badan selama kehamilan.
  • Terapi insulin untuk menjaga kadar gula darah normal.

Gejala Diabetes Gestasional

Gejala diabetes gestasional sering kali tidak terlihat pada sebagian besar kasus penyakit ini. Oleh sebab itu, periksalah ke pihak medis seawal mungkin—saat Anda pertama kali merencanakan kehamilan—dokter bisa membantu mengevaluasi risiko Anda untuk menderita diabetes gestasional.

Begitu Anda hamil, dokter akan memeriksa apakah Anda memiliki kondisi diabetes gestasional sebagai bagian dari perawatan medis. Jika Anda menderita kondisi ini, kemungkinan akan lebih sering dilakukan pemeriksaan. Hal ini biasanya dilakukan pada 3 bulan terakhir kehamilan, dimana dokter akan memantau kadar gula darah serta kesehatan janin Anda.

Mungkin dokter juga akan merujuk Anda ke ahli kesehatan lain yang mengkhususkan diri untuk perawatan diabetes, misalnya ahli endokrinologi, ahli gizi, atau ahli diabetes lainnya. Mereka dapat membantu Anda belajar cara mengelola kadar gula darah selama masa kehamilan.

Untuk memastikan apakah kadar gula darah Anda telah kembali normal setelah kelahiran, tim perawatan kesehatan Anda akan memeriksanya tepat setelah Anda melahirkan dan kembali memeriksanya setelah 6 minggu.

Jika Anda menderita diabetes gestasional, ada baiknya Anda selalu memeriksa kadar gula darah secara teratur. Seberapa sering Anda harus mengecek kadar gula darah sebagian bergantung pada hasil tes Anda pada waktu setelah melahirkan.

Penyebab Diabetes Gestasional

Penyebab diabetes gestasional masih belum dapat secara pasti diketahui. Untuk memahami bagaimana kondisi ini bisa terjadi, Anda perlu mengerti bagaimana kehamilan memengaruhi caranya tubuh mengolah glukosa.

Tubuh mencerna makanan yang Anda konsumsi untuk menghasilkan gula (glukosa) yang memasuki aliran darah Anda. Sebagai tanggapan, pankreas—kelenjar besar di belakang lambung—akan memproduksi insulin. Insulin adalah hormon yang membantu glukosa berpindah dari aliran darah ke sel-sel tubuh, tempat dimana dia digunakan sebagai energi.

Selama kehamilan, plasenta—yang menghubungkan janin ke suplai darah Anda—akan menghasilkan berbagai hormon lain dalam kadar tinggi. Hampir semuanya mengganggu aksi dari insulin di sel-sel Anda, meningkatkan kadar gula darah. Sebab itu, kenaikan gula darah sampai taraf tertentu masih dianggap wajar selama kehamilan.

Seraya janin bertumbuh, plasenta menghasilkan lebih dan lebih banyak hormon penangkal insulin. Pada diabetes gestasional, hormon-hormon plasenta ini memicu kenaikan gula darah ke taraf yang dapat memengaruhi pertumbuhan dan kesehatan janin Anda. Diabetes gestasional biasanya berkembang selama paruh terakhir masa kehamilan—kadang-kadang di awal minggu ke-20—tetapi umumnya tidak seawal itu.

Pengobatan Diabetes Gestasional

Pengobatan diabetes gestasional berfokus pada upaya memantau dan mengontrol gula darah Anda untuk menjaga janin tetap sehat, juga mencegah komplikasi selama kehamilan dan melahirkan.

Anda juga dianjurkan untuk terus memantau kadar gula darah meski sudah melahirkan. Perawatan untuk diabetes gestasional diringkaskan sebagai berikut.

  • Memantau kadar gula darah selama masa kehamilan, segera setelah melahirkan, dan terus seumur hidup.
  • Pola makan sehat yang terdiri dari beragam buah, sayur, dan serealia utuh.
  • Olahraga untuk menurunkan kadar gula darah, meningkatkan sensitivitas sel-sel terhadap insulin, juga meringankan ketidaknyamanan selama kehamilan.
  • Obat-obatan berupa suntikan insulin atau obat yang diminum untuk mengendalikan kadar gula darah.
  • Memantau kondisi bayi dengan pemeriksaan ultrasound atau tes-tes medis lain.

Memang bisa bikin stres ketika menghadapi kondisi penyakit ini yang dapat memengaruhi kesehatan buah hati Anda. Tetapi Anda bisa mengupayakan sebisanya untuk menjaga kadar gula darah senormal mungkin agar janin berkembang sehat serta mencegah Anda menderita diabetes tipe 2 di masa depan.

Cara Mencegah Diabetes

Cara mencegah diabetes pada umumnya difokuskan pada pencegahan diabetes tipe 2, sebab tipe inilah yang paling sering diderita orang-orang. Mengingat penyebab utama diabetes tipe 2 adalah gaya hidup tidak sehat, maka pencegahannya pun dari segi mengupayakan gaya hidup sehat.

  • Kendalikan berat badan

    Kegemukan membuat orang lebih rentan terkena diabetes tipe 2, jadi cobalah turunkan berat badan Anda kira-kira 7 – 10 persen dari berat badan sekarang.

  • Jadi lebih aktif secara fisik

    Cobalah untuk lebih banyak bergerak dalam sehari. Tidak perlu sampai berkucuran keringat, karena olahraga jalan kaki cepat pun sudah bermanfaat untuk pencegahan diabetes.

  • Pola makan sehat

    Upayakan untuk memperolah asupan karbohidrat dari serealia utuh, hindari makanan/minuman yang manis, ganti sumber lemak jahat dengan sumber lemak baik, dan batasi asupan daging-dagingan.

  • Berhenti merokok

    Ternyata para perokok punya risiko 50 persen lebih besar untuk menderita diabetes dibandingkan dengan non-perokok.

  • Kurangi alkohol

    Bagi wanita, batasi konsumsi alkohol tak lebih dari 1 gelas takaran, dan bagi pria, tak lebih dari 2 gelas takaran.

Pencegahan diabetes ini terutama penting untuk diterapkan jika memiliki faktor-faktor risiko yang membuat Anda lebih rentan terkena penyakit ini. Misalnya apabila Anda punya anggota keluarga dekat yang mengidap diabetes.

Demikianlah ulasan mengenai penyakit diabetes tipe 1, tipe 2, dan diabetes gestasional. Bisa disimpulkan bahwa penyakit diabetes melitus adalah penyakit kronis yang disebabkan tubuh tidak mampu menciptakan insulin atau karena tubuh tidak bisa secara efektif menggunakan insulin yang diciptakannya.

Seperti yang sudah disinggung, sebagian besar penderita diabetes melitus adalah tipe 2. Itu tandanya gaya hidup yang tidak sehat merupakan pemicu utama dari kebanyakan kasus diabetes, tidak terkecuali di Indonesia. Bagi Anda yang masih gemar makan junk food, bermalas-malasan, nonton TV seharian, dan suka sekali makan banyak, sebaiknya segeralah berubah agar tidak menderita di kemudian hari.