Bagikan Artikel Ini:

Terakhir Diedit:

Belakangan ini banyak dari kita dikejutkan dengan berita mengenai beberapa selebriti yang meninggal akibat bunuh diri. Setelah diselidiki, ternyata mereka telah mengalami depresi selama beberapa waktu sebelum akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hidupnya. Mengapa depresi dan bunuh diri saling berkaitan erat?

Dalam artikel ini Anda akan memperoleh informasi mengenai hal-hal yang berhubungan dengan depresi dan bunuh diri. Informasinya disajikan dalam bentuk tanya-jawab agar lebih mudah dibaca dan diikuti. Mari kita perhatikan ulasannya berikut ini.

• Ada Kaitan Apa Antara Depresi dan Bunuh Diri?

Penelitian terus-menerus memperlihatkan bahwa ada kaitan erat antara depresi dan bunuh diri, dimana 90% orang yang meninggal akibat bunuh diri diketahui memiliki gangguan mental (salah satunya depresi) atau menyalahgunakan zat-zat pada saat kematian mereka.

• Apa Itu Depresi dan Apa Itu Penyakit Depresi?

Depresi dan Penyakit Depresi secara medis digolongkan sebagai gangguan mental, dimana juga termasuk Gangguan Depresi Mayor hingga Distimia. Gangguan mental ini punya sejumlah gejala yang memengaruhi berbagai segi kehidupan, misalnya kehidupan sosial, pekerjaan, pendidikan, dan juga hubungan penderitanya dengan orang lain.

Bagaimana Seseorang Bisa Menjadi Depresi?


Berikut kutipan pernyataan dari WHO, “depresi terjadi karena gabungan dari berbagai faktor, seperti faktor sosial (berhubungan dengan cara dia diperlakukan), faktor psikologis (berkaitan dengan proses mental), atau faktor biologis (berhubungan dengan proses alami dari tubuh).”

Banyak penderita depresi mengaku bahwa mereka merasa tidak mampu lagi membayangkan sesuatu yang baik di masa depan, atau tidak sanggup mengingat kenangan-kenangan manis masa lalu. Mereka juga sering tidak sadar bahwa apa yang mereka alami sebenarnya bisa diatasi, dan mungkin belum pernah terpikirkan untuk mencari bantuan.

Rasa sakit emosi, bahkan mungkin fisik, yang dirasakan bisa menjadi tak tertahankan. Mereka tidak ingin mati, tapi bagi mereka kematian adalah satu-satunya jalan demi menghentikan rasa sakit. Bagi orang yang mentalnya sehat tentu itu tidak masuk akal.

Namun orang yang depresi tidak pernah memilih untuk menderita sakit mental, sama seperti tidak ada orang yang mau sakit kanker atau diabetes. Tapi gangguan mental ini bisa diatasi dengan bantuan dan perawatan yang cocok.

• Bagaimana Pengaruh Alkohol dan Narkoba Pada Depresi?

Alkohol adalah zat depresan, jadi itu bisa dan memang sering memperparah depresi. Narkoba, dikonsumsi sendiri atau bersama alkohol, juga bersifat mematikan bagi penderita depresi. Orang-orang sering salah kaprah dengan memanfaatkan narkoba atau alkohol untuk meringankan gejala-gejala depresi. Tapi justru kedua zat ini bisa memicu dorongan untuk bunuh diri karena penggunanya tidak dapat berpikir jenih.

• Bisakah Orang yang Ingin Bunuh Diri Menyembunyikan Depresi Mereka?

Ya, mereka bisa dan kadang memang tidak terlihat depresi. Tapi kita semua bisa menjadi lebih sadar dengan tanda dan gejala depresi untuk membantu orang-orang yang kita sayangi agar mendapat bantuan yang mereka butuhkan. Selain itu, mengingat banyak penderita depresi yang tidak sadar dengan gejala-gejalanya, kita perlu menjadi ‘mata’ dan ‘telinga’ bagi mereka untuk membantu menyelamatkan kehidupan mereka.

Banyak orang yang menderita depresi, dan bahkan ingin bunuh diri, yang menyembunyikan perasaan mereka dan terlihat bahagia sesaat sebelum percobaan bunuh diri mereka. Hal ini tentu membingungkan orang-orang di sekitar mereka karena mereka sudah lama mengalami dan terlihat tertekan, tetapi tiba-tiba saja tampak lebih baik.

Baca juga  Jangan Sering-Sering Bermain Sosial Media Jika Tak Ingin Depresi

Akan tetapi, kebanyakan orang yang ingin mengakhiri hidupnya akan menunjukkan tanda-tanda mengenai perasaan mereka. Jadi sangat penting bagi kita untuk mengenali gejala-gejala depresi serta tanda-tanda orang ingin bunuh diri. Dan jangan ragu untuk langsung tanyakan kepada mereka tentang perasaannya—ini bisa jadi langkah awal yang mengubah hidup mereka!

• Mengapa Orang-Orang Tidak Banyak Membahas tentang Gangguan Mental?

Stigma dan kurangnya pemahaman adalah alasan-alasan utama mengapa depresi dan bunuh diri tetap jadi topik bahasan yang dihindari. Orang yang depresi takut orang lain akan mengira dia sudah gila, lemah, atau bodoh.

Tetapi, norma-norma budaya pelan-pelan berubah, dan orang menjadi lebih sadar akan seriusnya penyakit depresi serta dampaknya pada kesehatan. Sosialisasi tentang depresi dan bunuh diri juga membantu menghapus stigma dan turut menyelamatkan kehidupan.

Contoh Topik Bahasan Lain yang Dulu Dihindari:


Alkoholisme, kecanduan obat, HIV dan AIDS, adalah contoh-contoh dari kondisi medis yang sebelumnya dikaitkan dengan kelemahan atau cacat kepribadian. Kini, mereka secara luas dikenali sebagai kondisi medis dan orang-orang bisa secara terbuka membahas dampak dari kondisi tersebut serta mencari bantuan melalui beragam pilihan pengobatan.

Bahaya dari alkohol dan narkoba telah menjadi topik utama dari kampanye kesehatan publik nasional di Amerika Serikat, sehingga masyarakat jadi lebih mengetahui pentingnya pencegahan. Kanker payudara adalah contoh penyakit medis lain yang juga selama bertahun-tahun tidak dibahas, tetapi kini telah mendapatkan perhatian besar dan ada begitu banyak penelitian dilakukan untuk memahaminya lebih baik.

Masalah-masalah penyakit medis pada otak, yang kita sebut gangguan mental, masih menghadapi banyak hambatan dalam hal pendanaan, dukungan, dan kesadaran, tetapi terus ada kemajuan dalam hal ini.

• Apakah “Menceritakannya” Akan Membantu Mengatasi Depresi?

Menceritakan tentang depresi yang dialami memang akan membantu mengatasinya. Namun, penelitian menunjukkan bahwa gabungan antara terapi bicara (psikoterapi) dan pengobatan antidepresan adalah metode paling efektif untuk mengatasi depresi.

Ada kasus-kasus dimana psikoterapi yang dirancang dengan baik, misalnya terapi perilaku kognitif atau terapi interpersonal, dapat meringankan gejala depresi. Tetapi, seorang dokter medis harus tetap mengawasi setiap perawatan yang diterima oleh pasien depresi.

• Apakah Depresi Sama dengan Kesedihan?

Tidak. Depresi adalah gangguan pada otak yang dapat didiagnosis serta diobati secara medis. Merasakan kesedihan akibat kehilangan seseorang yang dicintai atau mengalami peristiwa yang mengecewakan atau bikin trauma adalah sesuatu yang normal. Tetapi jika seseorang merasakan gejala-gejala depresi hingga lebih dari dua minggu, dalam keadaan normal, mungkin itu menandakan adanya gangguan medis pada otak.

• Mengapa Penyakit Depresi Kadang Memicu Keinginan Bunuh Diri?

Seraya depresi bertumbuh dan mengambil alih pikiran serta tubuh, penderitaan yang diakibatkannya sering menjadi tak tertahankan. Ketidakseimbangan senyawa otak dan rasa putus asa yang mendalam dapat memicu otak untuk mencari-cari cara demi menghentikan derita itu. Inilah saat pikiran bunuh diri muncul.

Penyakit depresi bisa menyimpangkan cara berpikir sehingga seseorang tidak mampu berpikir jernih atau sesuai akal sehat. Penyakit ini bisa menimbulkan pikiran-pikiran tak berdaya dan putus harapan, sehingga mengarah kepada pikiran-pikiran untuk mengakhiri hidup.

Baca juga  Depresi: Bantuan Bagi Anggota Keluarga untuk Mencegah dan Mengatasi Bunuh Diri!

Dengan sosialisasi tentang gejala-gejala depresi dan tanda-tanda seseorang ingin bunuh diri, orang-orang bisa dibantu lebih mengerti bahwa depresi dan bunuh diri sebenarnya dapat dicegah juga diatasi.

Salah Kaprah tentang Bunuh Diri


KATANYA: Membicarakan bunuh diri, atau bahkan menyebut kata itu saja, akan membuat orang ingin melakukannya.

FAKTANYA: Membicarakan tentang bunuh diri dengan terus terang sering membantu orang yang berkeinginan bunuh diri untuk memikirkan jalan keluar lain.

• Apa Penyebab Penyakit Depresi?

Penyakit depresi adalah penyakit biologis yang berkaitan dengan ketidakseimbangan atau gangguan pada senyawa dalam otak. Otak merupakan salah satu organ tubuh dan bisa menjadi sakit, sama seperti jantung, hati, atau ginjal. Gabungan antara faktor genetik, psikologis, dan lingkungan, berperan pada bagaimana dan kapan penyakit depresi mulai berkembang—sama halnya juga dengan pikiran bunuh diri.

Karena mereka adalah penyakit, maka penderitanya tidak selalu merasakan stres, tetapi stres bisa memicu atau memperparah depresi. Walaupun jarang, depresi bisa muncul begitu saja tanpa alasan yang jelas mengapa seseorang merasa tertekan. Namun pada umumnya depresi muncul setelah suatu jangka waktu tertentu dan dipicu oleh berbagai faktor yang sekaligus terjadi dalam kehidupan seseorang.

Apakah ‘Depresi’ Berbeda dengan ‘Penyakit Depresi’?


Tidak. Sebenarnya itu adalah dua istilah yang sama-sama merujuk ke penyakit yang sama—depresi. Memang, orang-orang sering keliru menganggap reaksi kesedihan yang wajar sebagai wujud dari depresi. Sebab itu, ada orang yang berupaya membedakan depresi semacam itu dengan jenis depresi lain yang diakibatkan oleh penyakit mental.

Tapi sebagaimana sudah dijelaskan, depresi berbeda dengan kesedihan. Jadi tidak ada perbedaan antara ‘depresi’ dengan ‘penyakit depresi’—keduanya sama-sama merupakan suatu jenis penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada kesehatan mental.

Agar lebih jelas mengenai perbedaan antara kesedihan dengan depresi, cobalah pahami penjelasan berikut ini dari seorang psikolog klinis berlisensi, Gregg Henriques, Ph.D. Beliau mengutarakan adanya tiga konsep jenis depresi yang berbeda

Reaksi Depresi:

Adalah ketika gejala-gejala depresi mempunyai penyebab yang masuk akal. Contohnya, orang tua yang kehilangan anaknya akibat kesalahannya sendiri mungkin tidak akan pernah memaafkan dirinya. Dia sangat mungkin untuk menjadi depresi.

Menjadi depresi akibat kehilangan seorang anak atau karena alasan lain yang dapat dipahami—dimana pada suatu jangka waktu, seseorang tidak terpenuhi kebutuhan mental dan emosinya. Misalnya, sewaktu seseorang terus-menerus dianiaya atau disiksa, dikurung, diasingkan sepenuhnya dan sendirian, merasa tidak dicintai dan tidak diinginkan, dan sebagainya.

Kita menganggap reaksi depresi atas situasi di atas sebagai sesuatu yang masuk akal karena sejak dari dulu kita hampir selalu menghubungkan depresi dengan kesedihan yang mendalam. Dalam mendiagnosis depresi juga dokter selalu meninjau apakah ada faktor rasa sedih yang dialami seorang pasien.

Gangguan Depresi:

Adalah istilah yang kita gunakan ketika reaksi depresi berkembang sampai menimbulkan masalah-masalah lain, dan hal ini pada akhirnya menciptakan lingkaran setan yang maladaptif (gagal menyesuaikan dengan situasi). Ini adalah sesuatu yang banyak terlihat pada mahasiswa.

Mereka datang ke universitas dengan harapan mendapatkan pengalaman-pengalaman istimewa. Dan ketika mereka sudah kuliah, mereka justru mendapati bahwa mereka tidak bisa menyesuaikan diri lalu kesulitan mengikuti pelajaran. Ini membuat mereka cemas, yang pada akhirnya membuat mereka kurang percaya diri dan kurang mampu untuk konsentrasi belajar, membuat rencana yang matang, dan menyelesaikan tugas-tugas mereka.

Ketidakmampuan tersebut menimbulkan lebih banyak masalah, lalu dalam beberapa minggu emosi mereka menjadi lelah dan mulai menjadi ‘aneh’. Gangguan pada fungsi emosional mereka di lingkungan kuliah justru menimbulkan lebih banyak gangguan-gangguan lagi, dan terbentuklah lingkaran setan. Tapi, perlu dicatat bahwa proses seperti di atas tidak selalu membutuhkan adanya faktor biologis.

Penyakit Depresi:

Adalah kategori untuk menggambarkan keadaan ketika ‘keanehan’ emosi dan mental menjadi jauh lebih besar daripada yang mungkin bisa dijelaskan secara masuk akal, dan ketika gejala-gejala depresi sangat sulit untuk membaik padahal sudah ada dukungan psikologis dan sosial untuk memperbaikinya. Banyak peneliti depresi yakin bahwa kondisi itu harus disebut ‘penyakit depresi melankolis’ dan harus dibedakan dengan gangguan depresi ‘neurotik’.

• Mengatasi Depresi Sesuai Jenisnya

Menurut Gregg Henriques, melabelkan depresi sebagai ‘penyakit yang dapat diobati’ tidak cukup untuk menjelaskan mengenai depresi yang sebenarnya. Beliau menganggap bahwa pelabelan itu justru terlalu “me-medis-kan” suatu proses-proses yang bersifat psikologis. Yang sebenarnya, menjadi depresi menunjukkan banyak hal tentang kondisi kesehatan serta fungsi psikologis pada diri seseorang.

Artinya, orang itu tidak sedang baik-baik saja, dan sedang menghadapi masalah-masalah mental dan emosi pada taraf yang sudah membutuhkan bantuan. Bantuan yang diberikan haruslah disesuaikan dengan pemahaman atas gejala-gejala depresi—yaitu apakah episode depresi yang dihadapinya adalah reaksi yang masuk akal, lingkaran setan yang maladaptif, atau suatu kondisi mood yang sangat sulit membaik sehingga diberi label ‘penyakit’.

Sumber: Psychology Today

Orang-orang dari usia berapa pun—termasuk anak-anak, remaja, dan orang muda lainnya—bisa menderita penyakit depresi. Karena penyakit ini mungkin diturunkan secara genetik, maka seseorang yang keluarganya punya riwayat depresi mungkin lebih rentan untuk menderitanya juga. Bukan berarti dia pasti mewarisi penyakit depresi. Hanya saja, dia mungkin punya kecenderungan lebih daripada orang lain untuk depresi.

• Bisakah Penyakit Depresi Diobati?

Bisa. Ada beragam cara untuk mengobati penyakit depresi, bergantung pada jenisnya, tingkat keparahannya, dan usia dari orang itu. Orang yang menderita penyakit depresi sebaiknya tidak mencoba menangani penyakitnya sendirian. Dengan mengetahui dan mengenali tanda-tanda penyakit depresi, seseorang dibantu untuk mengatasinya melalui pengobatan yang tersedia.

Penyakit depresi adalah penyakit seperti diabetes atau tekanan darah tinggi yang dapat dengan baik ditangani melalui bantuan ahli kesehatan—termasuk para dokter, perawat, psikolog, dan terapis yang berpengalaman.

Penelitian memperlihatkan bahwa gabungan antara pengobatan antidepresan dan psikoterapi adalah cara tercepat dan terampuh untuk mengatasinya. Seringnya, pengobatan antidepresan dibutuhkan untuk membantu seseorang berpikir lebih jernih sewaktu menjalani psikoterapi. Ada beberapa jenis psikoterapi, tapi ada dua yang telah terbukti bermanfaat mengatasi penyakit depresi:

Terapi Kognitif:

Berfokus pada mencoba mengubah pikiran-pikiran negatif dan persepsi tak akurat yang dimiliki pasien tentang dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pasien akan diajarkan untuk berpikir secara masuk akal, dan untuk menghindari dialog-dialog negatif dalam pikirannya.

Terapi Interpersonal:

Mengajari pasien bagaimana caranya untuk berhasil berinteraksi dengan orang-orang lain. Penyakit depresi membuat seseorang tidak mampu memperlakukan keluarga, teman, dan rekan kerja mereka secara normal, sehingga juga berdampak pada cara orang-orang lain memperlakukan dia. Terapi interpersonal berfokus pada kemampuan-kemampuan sosial.

• Apa Itu Gangguan Kecemasan?

Rasa cemas adalah perasaan normal yang kita alami setiap hari. Akan tetapi, gangguan kecemasan dicirikan dengan perasaan takut, gugup, atau khawatir yang berlebihan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi, meskipun tidak ada alasan spesifik atau masuk akal yang perlu dicemaskan. Sering kali penyakit depresi berkembang berbarengan dengan gangguan kecemasan.

Kesimpulan tentang Depresi dan Bunuh Diri

Depresi dan bunuh diri punya hubungan yang dekat. Orang yang depresi punya kemungkinan lebih besar untuk terpikir tentang bunuh diri. Dan orang yang ingin mengakhiri hidupnya sering kali telah mengalami depresi selama suatu jangka waktu.

Kita bisa mencegah bunuh diri apabila kita tahu caranya meringankan—atau lebih baik lagi—mencegah depresi. Dan depresi, yang berat sekalipun, dapat diatasi. Kuncinya adalah kita mesti mengerti bagaimana gejala-gejalanya dan bagaimana cara tepat untuk mengatasi depresi, sesuai dengan jenis depresi yang dialami.

Demikianlah ulasan tentang depresi dan bunuh diri. Bacalah informasi penting lain mengenai depresi di artikel “Depresi: Info Lengkap bagi Anda yang Peduli Kesehatan”. Nantikan juga artikel-artikel menarik lain seputar informasi kesehatan, tips kesehatan, dan pengobatan alternatif hanya di Deherba.com.

Cindy Wijaya

Cindy sudah menulis beragam artikel kesehatan sejak tahun 2014. Senang meriset serta berbagi tentang berbagai topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk Deherba.com. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.