Bagaimana Penanganan Step pada Anak yang Tepat?


By Cindy Wijaya

Pada beberapa anak tertentu dalam kondisi demam yang relatif tinggi, mereka akan mengalami serangan kejang yang juga sering disebut serangan step. Banyak orang tua yang khawatir serangan kejang ini bisa mendatangkan beberapa efek samping yang berbahaya bagi anak dalam jangka panjang. Karenanya perlu untuk orang tua memahami bagaimana seharusnya cara penanganan step pada anak.

Menurut catatan dalam WebMD, kasus step pada anak sebenarnya bukan kasus yang sering terjadi. Secara umum, hanya 4% kasus dari seluruh laporan demam pada anak. Biasanya hanya menyerang anak yang memiliki kecenderungan untuk mengalami kenaikan suhu tubuh hingga di atas 40 derajat C ketika demam.

Dalam catatan di laman WebMD dijelaskan pula apa sebenarnya serangan step pada anak ini dan bagaimana serangan ini bisa terjadi. Kejang terjadi sebagai efek dari cedera yang muncul pada otak dan menimbulkan masalah semacam badai elektrolik dalam otak serta memicu ketegangan saraf otak.

Peristiwa ini bisa kita umpamakan dengan peristiwa ledakan pada aliran listrik sebagai akibat serangan aliran atau tegangan mendadak. Dan ledakan ini biasanya diakibatkan reaksi otak terhadap kondisi suhu tubuh anak yang tinggi. Toleransi anak terhadap suhu memang berbeda. Beberapa anak sudah tidak kuat pada suhu 38 derajat C, sedangkan anak lain bisa toleransi sampai suhu yang jauh lebih tinggi.

Meski dalam beberapa kasus, step tidak muncul sebagai reaksi terhadap demam. Biasanya ini terjadi pada kasus bawaan dari ibu yang ketika hamil menderita diabetes. Bisa juga sebagai efek dari beberapa kondisi penyakit yang menyerang fungsi otak.

Sinyal kejutan listrik dari otak ini memberi perintah pada seluruh bagian otot tubuh untuk tegang. Biasanya sinyal ini hanya bersifat sementara sampai otak kembali bekerja normal dan memperbaiki sendiri sinyal kirimannya.

Respon dari sinyal itulah yang menyebabkan anak kejang, berguncang cepat, kaku, gigi terkatup, kehilangan kendali termasuk dalam pernapasannya. Dan biasanya disertai muntah atau air liur yang keluar deras, juga ada sedikit busa sebagai efek kejang pada area perut.

Baca Juga:  Jangan Khawatir Bila Bayi Anda Mengalami 5 Masalah Pencernaan Berikut!

Lalu bagaimana penanganan step pada anak yang tepat? Perlu diketahui step kadang bisa membuat anak tersedak, berhenti bernafas, tergigit, terantuk benda di sekitarnya, bahkan bisa membuatnya jatuh dan terluka. Maka berikut ini beberapa tips penanganan step agar anak tetap aman.

1. Pastikan area sekitar anak bebas dari benda berbahaya

Masalah terpenting yang harus Anda amati pertama kali adalah area sekitar anak yang terserang step. Kondisi kejang dan kaku bisa menyebabkannya terantuk benda di sekitarnya yang dapat melukainya. Jadi pastikan bersihkan lokasi sekitar anak dari benda apapun yang dapat melukai. Juga amankan posisinya dari pinggir tempat tidur atau dinding agar dia tidak jatuh atau terbentur.

2. Datarkan posisinya dengan kondisi miring

Baringkan anak dalam posisi datar tanpa bantal dan miringkan posisinya ke satu arah—caranya dengan mengganjalnya menggunakan guling atau bantal, upayakan dengan kemiringan sekitar 40 derajat C. Posisi ini membantunya lebih nyaman menghadapi ketegangan otot sekaligus mencegah anak tersedak oleh muntahan atau air liurnya sendiri.

Cara ini juga membantu menjatuhkan posisi lidah ke arah samping sehingga tidak menghalangi aliran pernapasan di mulut. Ini penting karena beberapa anak akan sementara bernapas menggunakan mulutnya selama serangan step.

3. Hindari memberi penahan mulut

Beberapa orang menyarankan Anda memasang penahan pada mulut untuk digigit anak supaya tidak melukai lidah, tetapi sebaiknya jangan dengarkan saran ini. Faktanya sebagian besar kasus step ditandai justru dengan mulut terbungkam rapat sehingga Anda terpaksa memaksa anak membuka mulutnya untuk memasang penahan mulut. Cara ini malah bisa melukai rahangnya yang sedang kaku.

4. Hindari untuk memeluknya

Sebaiknya untuk anak dengan usia di atas 3 tahun, hindari untuk memeluknya, karena pelukan justru akan membuatnya sesak dan bisa jadi malah melukai Anda karena gerakan refleksnya memang sedang tidak terkendali.

Baca Juga:  Bahaya Air Putih untuk Bayi Usia Dibawah 6 Bulan

5. Hangatkan kaki dan kepala

Upayakan untuk menghangatkan kakinya agar dia tetap sadar. Caranya: oleskan minyak kayu putih untuk membantu menjaga suhu kakinya tetap hangat. Beri kompres hangat di kepalanya untuk membantunya menurunkan suhu tubuh. Secara klinis terbukti bahwa kompres hangat akan memberi respon tubuh untuk menurunkan panas dengan lebih aman ketimbang kompres dingin.

6. Bawa ke dokter

Bila kondisi kejang mencapai lebih dari 5 menit, segera larikan anak ke UGD atau dokter terdekat untuk ditangani lebih lanjut. Karena bila kejang dibiarkan terlalu lama bisa menyebabkan kerusakan pada sistem impuls saraf otak yang dapat membahayakan fungsi otak ke depannya.

7. Hindari memberi makanan dan minuman

Selama anak kejang sampai anak berhenti kejang, diamkan anak selama 5 – 10 menit untuk memastikan seluruh ototnya sudah lemas. Setelahnya Anda boleh memberinya minum atau makan karena dikhawatirkan anak akan tersedak bila otot belum sepenuhnya pulih.

Untuk menjadi perhatian para orang tua, sekali anak Anda mengalami step maka terjadi kerusakan sel pada otak yang jumlahnya bisa mencapai ratusan hingga ribuan sel. Karenanya hindari terjadinya step ulang dengan membantunya menurunkan demam sesegera mungkin.

Biasanya di bawah perawatan dokter anak akan diterapi tidak hanya sebagai penanganan step pada anak belaka, tetapi juga supaya lebih toleran terhadap pemicu step demi mempertahankan anak tidak lagi mengulang step dalam 3 tahun ke depan. Karena beberapa kasus step yang terlalu sering akan menimbulkan risiko serius seperti epilepsi, kelumpuhan sampai masalah mental break down.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}