Apakah Tubuh Anda Memang Butuh Suplemen Vitamin?

480

Diedit:

Suplemen vitamin biasanya cukup mahal, tapi kalau Anda rutin mengonsumsinya, Anda mungkin merasa seperti sudah berbuat banyak demi kesehatan. Apakah benar faktanya seperti itu?

Sayangnya, berbagai penelitian—termasuk penelitian panjang oleh Iowa Women’s Healthy Study—menunjukkan bahwa suplemen tidak selalu menguntungkan. Bahkan lebih buruk lagi, suplemen yang mengandung vitamin dan mineral tertentu justru bisa membahayakan kesehatan.

Bagi beberapa orang, vitamin memang dapat memberikan manfaat kesehatan. The Dietary Guidelines for Americans merekomendasikan jenis vitamin tertentu untuk orang-orang tertentu. Akan tetapi, Mayo Clinic melaporkan bahwa orang sehat yang terbiasa minum vitamin tambahan untuk menutupi kebiasaan makan yang buruk mungkin malah terancam risiko masalah kesehatan.

Jadi, bagaimana caranya tahu jenis vitamin mana yang tepat buat Anda? Cara terbaik ialah dengan konsultasi dengan dokter yang kompeten. Para ahli di Food and Nutrition Information Center di USDA menyarankan agar Anda bilang ke dokter jika ada konsumsi suplemen apapun, termasuk vitamin. Saran ini khususnya penting karena jenis suplemen tertentu bisa berinteraksi dengan obat resep, atau bahkan memicu masalah kesehatan lain.

Apabila Anda mempertimbangkan untuk mengonsumsi suplemen makanan, Anda harus yakin betul itu benar-benar bermanfaat dan tidak berbahaya bagi kesehatan.

Lebih Banyak Vitamin, Lebih Baik?

Banyak orang menduga kalau sedikit vitamin saja sudah bisa membawa manfaat, maka jika ditambah lebih banyak mungkin manfaatnya juga lebih banyak. Namun pemikiran tadi tidak selalu benar jika kasusnya adalah vitamin.

Iowa Women’s Healthy Study, yang dirilis pada Archives of Internal Medicine, meneliti lebih dari 38.000 wanita berusia 55 tahun atau lebih selama jangka waktu 20 tahun. Para peneliti menemukan bahwa mengonsumsi suplemen tidak serta-merta mengurangi risiko kematian.

Baca juga:  Macam-Macam Vitamin dan Fungsi Vitamin (Bagian Ke-2)

Hanya suplemen kalsium yang ditemukan bisa sedikit mengurangi risiko tersebut. Justru, para peneliti menunjukkan bahwa beberapa suplemen vitamin dan mineral—khususnya zat besi—yang biasa dikonsumsi kemungkinan ada kaitannya dengan peningkatan risiko kematian.

Temuan ini tidak berarti bahwa zat besi tidak boleh dikonsumsi. Anda harus memenuhi kebutuhan zat besi agar tubuh tetap sehat. Dan bagi orang-orang yang punya penyakit seperti anemia, zat besi sangatlah penting. Namun, Iowa Women’s Healthy Study menunjukkan bahwa bagi orang-orang yang sehat, asupan zat besi tambahan (melalui suplemen) justru bisa berakibat buruk.

Mayo Clinic melaporkan bahwa sejumlah penelitian juga menemukan hal-hal yang mengkhawatirkan tentang vitamin dan mineral lainnya. Sebuah tinjauan dari penelitian di tahun 2005 misalnya mengungkapkan bahwa asupan 400 IU Vitamin E setiap hari bisa meningkatkan risiko kesehatan, termasuk kematian dini.

Mayo Clinic juga mencatat bahwa dosis harian vitamin B-6 lebih dari 100 mg dalam jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan saraf. Dan menurut penelitian yang dilaporkan oleh New York Times, suplemen vitamin A mungkin berhubungan dengan peningkatan risiko osteoporosis.

Vitamin Bukanlah Solusi Ajaib!

Dari pembahasan mengenai beberapa penelitian diatas, apa pelajarannya bagi Anda? Sederhananya: Jika Anda masih tergolong sehat, suplemen vitamin dan mineral mungkin tidak dibutuhkan. Jika Anda rutin mengonsumsi suplemen setiap hari—atau mempertimbangkannya—sebaiknya Anda berhati-hati dan konsultasikan dulu dengan dokter.

Penting untuk diingat bahwa suplemen makanan tidak bisa menggantikan pola makan yang seimbang dan sehat. Menurut para ahli medis yang dikutip oleh New York Times, beberapa orang percaya bahwa minum multivitamin akan membantu mereka menutupi kebiasaan makan yang buruk. Sayangnya, vitamin tidak memberikan solusi ajaib untuk menutupi kekurangan nutrisi.

Baca juga:  Macam-Macam Vitamin dan Fungsi Vitamin (Bagian Ke-1)

Apabila Anda belum terbiasa dengan pola makan yang sehat, Anda harus mengalihkan fokus dari vitamin ke belajar untuk makan lebih baik. Menurut USDA, pola makan yang banyak buah-buahan dan sayuran dapat mengurangi risiko penyakit jantung, stroke, dan membantu pencegahan jenis kanker tertentu. Sejauh ini, suplemen vitamin belum terbukti mampu memberikan manfaat yang sama.

Apakah Anda Perlu Vitamin Tambahan?

Dalam keadaan tertentu, mungkin memang perlu untuk mempertimbangkan suplemen vitamin untuk melengkapi kebutuhan tubuh akan nutrisi tertentu. The Dietary Guidelines for Americans merekomendasikan jenis-jenis vitamin tertentu untuk berbagai kelompok orang atau usia, sebagai berikut:

  • Orang dewasa di atas 50 tahun disarankan untuk mengonsumsi suplemen vitamin B-12 atau menambahkan makanan yang diperkaya vitamin B-12 ke dalam menu sehari-hari.
  • Orang lanjut usia, orang berkulit gelap, dan orang yang setiap hari kurang mendapat sinar matahari harus mempertimbangkan suplemen vitamin D atau menambahkan makanan yang diperkaya vitamin D ke dalam menu sehari-hari.
  • Wanita yang berencana segera memiliki anak, atau yagn saat ini sedang hamil, disarankan untuk menambahkan suplemen asam folat, yang membantu mencegah bayi lahir cacat.

Apabila Anda termasuk dalam salah satu kelompok di atas, pertimbangkanlah untuk berkonsultasi dengan dokter tentang apakah Anda harus mengonsumsi suplemen vitamin tambahan.

Memang bagi beberapa orang mengonsumsi vitamin bisa jadi bermanfaat. Akan tetapi, jika Anda masih sehat, tidak banyak bukti yang menunjukkan bahwa vitamin tambahan ada gunanya bagi tubuh.

Faktanya, beberapa penelitian justru memperlihatkan bahwa mengonsumsi suplemen vitamin tertentu bisa berbahaya. Karena itu, dianjurkan untuk berkonsultasi dulu dengan dokter jika Anda berencana mengonsumsi vitamin.

Dan jika selama ini Anda bergantung pada vitamin ketimbang pada pola makan sehat, sekaranglah saatnya untuk memperbaiki diri. Ingatlah bahwa tidak ada yang sanggup menutupi kekurangan nutrisi akibat pola makan yang buruk.

Advertisement
Alinesia