• Home
  • Blog
  • Flu
  • Ternyata Gejala Flu dan Alergi Mirip, Cari Tahu Apa Bedanya!

Ternyata Gejala Flu dan Alergi Mirip, Cari Tahu Apa Bedanya!


By Cindy Wijaya

Batuk dan bersin-bersin seringkali identik dengan gejala flu. Ini membuat banyak orang cepat-cepat mengatasinya dengan minum obat flu. Padahal beberapa dari munculnya gejala tersebut bisa saja bukan datang dari serangan flu, melainkan kondisi alergi. Begitu miripnya serangan flu dan alergi, hingga sulit untuk dibedakan.

Sebenarnya, dengan lebih memperhatikan gejala yang muncul, Anda bisa melihat dengan jelas perbedaan flu dan alergi. Meski sekilas tampak serupa, namun masing-masing flu dan alergi punya ciri khas sendiri. Itu sebabnya, pada kesempatan ini kami akan mengulas caranya melihat perbedaan flu dan alergi, meski keduanya memiliki beberapa gejala umum yang serupa.

Penting bagi Anda untuk memahami dengan baik apakah Anda atau keluarga Anda mengalami serangan flu atau justru serangan alergi. Ini memengaruhi perawatan yang perlu dilakukan terhadap kedua kondisi berbeda ini. Dan penanganan yang tidak tepat malah akan percuma karena salah sasaran.

Perbedaan Flu dan Alergi dari Penyebabnya

Perbedaan flu dan alergi pada dasarnya terletak pada penyebab serangan. Meski keduanya secara umum menunjukan gejala serupa, tetapi penyebabnya berbeda. Karena berbeda penyebab, maka perawatan yang perlu diberikan juga berbeda.

Pada flu, serangan batuk dan pilek disebabkan oleh serangan virus. Virus menginfeksi dan menyerang sistem pernapasan dan hidung, dan memicu sistem imunitas tubuh melakukan perlawanan. Batuk dan bersin disertai pilek, dan kadang juga pembengkakan tonsil yang memicu hidung tersumbat, merupakan reaksi khas dari sistem imunitas dalam mendorong virus keluar dari dalam tubuh.

Pada saat reaksi itu muncul, terjadi semacam pertarungan antara daya tahan tubuh dengan inkubasi virus, maka tubuh juga akan mengalami demam dan sakit kepala yang merupakan bagian dari reaksi tubuh atas kinerja imunitas tadi.

Hal yang berbeda terjadi ketika Anda mengalami serangan alergi. Pada dasarnya alergi merupakan kondisi autoimun atau penyimpangan imunitas yang salah mengidentifikasi sebuah objek biasa sebagai objek asing yang perlu dilawan.

Kadang ini terjadi ketika tubuh sedang kurang fit lalu terkena faktor penyebab alergi, akibatnya sistem imun bekerja terlalu keras dan melakukan perlawanan satu arah terhadap faktor penyebab alergi tadi.

Orang yang mengalami alergi bisa dipicu oleh beragam macam kondisi atau faktor penyebab alergi. Mulai dari udara dingin, udara kering, serbuk tanaman, bulu binatang, debu, minuman atau makanan dingin, cokelat, pemanis buatan, kacang, susu, dan lain sebagainya.

Dari perlawanan sistem daya tahan tubuh inilah tubuh memunculkan reaksi sama berupa rasa gatal pada tenggorokan yang kemudian memicu batuk dan dahak. Atau juga rasa gatal pada hidung yang memunculkan bersin dan cairan lendir sehingga pasien akan mengalami pilek. Kadang rasa gatal memunculkan pembengkakan pada area tonsil hidung dan memicu hidung tersumbat.

Gejala-gejala tersebut sering membuat Anda sulit membedakannya dengan gejala flu biasa. Karena ketika tubuh mengalami serangan virus flu atau mengalami paparan faktor penyebab alergi (alergen) maka tubuh juga sama-sama menghasilkan senyawa histamin yang memicu efek gatal dan pembengkakan pada hidung dan tenggorokan.

Namun, karena sistem daya tahan tubuh tidak melakukan pertarungan sebagaimana pada serangan flu, dimana virus sudah tentu akan melawan serangan dari imunitas, maka pada gejala alergi tidak terjadi demam sebagaimana pada gejala flu.

Perbedaan Flu dan Alergi dari Gejalanya

Bila sebelumnya kita sudah memahami apa sebenarnya flu dan alergi, kini kita lihat lebih mendalam bagaimana cara membedakan gejala dari kedua kondisi tersebut. Dan berikut adalah gambaran umum perbedaan flu dan alergi dari sisi gejala.

  • Lama serangan

    Pada flu batuk maupun pilek akan terjadi dalam tempo sekitar 4 – 15 hari saja. Ini karena pada dasarnya virus akan berhenti menyerang bersamaan dengan peningkatan sistem daya tahan tubuh dan masa hidup virus berakhir. Kadang flu terjadi bersamaan dengan perubahan cuaca dan iklim.

    Namun pada alergi, serangan akan sulit diprediksi, kadang muncul tanpa diduga dan naik turun. Naiknya gejala sebenarnya berkaitan dengan intensitas paparan alergen, dan ketika menurun maka artinya tubuh tidak lagi bereaksi terhadap alergen atau tubuh tidak lagi terpapar alergi. Ini sebabnya kondisi seperti naik dan turun tanpa teratasi dengan jelas dalam jangka yang bisa cukup panjang.

  • Munculnya demam

    Sebagaimana dijelaskan di atas, pada serangan flu akan muncul reaksi tubuh berupa demam, kenaikan suhu tubuh, rasa nyeri dan linu di sekujur tubuh dan reaksi sakit kepala yang menusuk. Tubuh juga kadang memunculkan reaksi bengkak pada sistem tiroid tepat di belakang telinga.

    Sedang pada alergi, reaksi demam dan nyeri linu sama sekali tidak muncul. Pada beberapa kasus kadang muncul sakit kepala sebagai reaksi sumbatan pada hidung yang berat. Tidak ada pembengkakan pada tiroid belakang telinga seberat apapun batuk atau bersin yang terjadi.

  • Proses kemunculan

    Pada kasus flu, tubuh menunjukkan proses inkubasi yang dimulai dengan tubuh yang melemah, demam, pusing, sakit kepala, hingga batuk dan pilek muncul. Ada penurunan kondisi yang terlihat jelas hingga pasien dinyatakan sembuh.

    Lain halnya pada alergi, batuk atau bersin bisa muncul mendadak lalu mereda dan hilang setelah beberapa waktu. Kemudian muncul kembali dan terus terjadi dalam jangka panjang tanpa ada tanda-tanda di awal.

  • Warna dahak dan lendir

    Pada kasus flu, sebenarnya terjadi infeksi virus terhadap hidung dan tenggorokan sehingga lendir akan menampakan warna yang merupakan tanda infeksi seperti warna hijau atau kekuningan. Apalagi bila pasien masih tetap mengalami batuk dan pilek hebat setelah lewat 10 hari.

    Namun, bila setelah masa 10 hari seseorang mengalami batuk dan pilek dan lendir yang muncul masih saja berwarna bening, walau kadang tampak kental, besar kemungkinan pasien terserang alergi. Warna bening menandakan tidak adanya infeksi di dalam tubuh.

Cermati gejala-gejala yang Anda alami untuk bisa menentukan cara penanganan yang terbaik. Berikut di bawah ini akan dibahas perbedaan penanganan antara flu dan alergi.

Perbedaan Penanganan Antara Flu dan Alergi

Karena berawal dari penyebab yang berbeda, jelas keduanya harus ditangani dengan cara berbeda. Dan di sinilah kadang masalah muncul, karena bahkan pihak medis sendiri melakukan kesalahan diagnosa hingga pengobatan jadi salah sasaran.

Pada kasus flu, mengingat pasien mengalami penurunan kondisi dan demam, maka disarankan untuk mengonsumsi analgesik dan antipiretik semacam parasetamol. Tambahkan beberapa obat untuk penanganan untuk lendir, gatal, dan anti inflamasi seperti bromhexin, dekstrometorfan, pseudoefedrin, dan lain sebagainya.

Sebenarnya serangan flu tidak membutuhkan antibiotik selama flu tidak memicu peradangan seperti radang tenggorokan, amandel, atau peradangan rongga hidung atau sinusitis. Karena virus akan mati cukup dengan serangan imunitas yang baik. Jadi penanganan cukup dengan memastikan pasien minum banyak air, mendapatkan asupan vitamin C dan B dengan optimal. Lebih bagus lagi jika ditambah konsumsi suplemen herbal Noni juice yang mengandung antioksidan flavonoid.

Sedangkan pada kasus alergi, penanganan biasanya untuk mengatasi gatal dan lendir, dan dioptimalkan dengan menambahkan obat anti-histamin yang bekerja menurunkan produksi histamin dan mengatasi autoimun. Kondisi pasien baru akan membaik bila histamin berlebih dalam tubuh dan sistem autoimun berhasil diatasi.

Kendalikan sistem imun dengan nutrisi yang seimbang namun hindari mengonsumsi obat khusus imun stimulan karena bisa meperburuk kondisi autoimun. Noni juice sebagai suplemen herbal alami juga bisa bekerja mengembalikan stabilitas imunitas dalam tubuh pasien, tanpa memperburuk kondisi autoimun.

Itulah tadi perbedaan flu dan alergi yang perlu Anda pahami. Ternyata penanganan batuk dan pilek tidak sesederhana yang selama ini kita kira. Pahami dulu gejala yang muncul untuk bisa menentukan terapi apa yang tepat untuk penanganan yang tuntas.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}