Kenali 7 Penyakit dengan Gejala Mirip Flu Ini!

437
gejala mirip flu
Credit: Shutterstock

Diedit:

Gejala mirip flu seperti sakit kepala, demam, hidung tersumbat, dan batuk semakin sering terlihat pada orang-orang. Musim pancaroba tampaknya belum segera berakhir. Justru cuaca dalam beberapa pekan ini semakin tidak menentu. Di saat-saat semacam ini, mudah sekali orang mengalami gejala-gejala seperti itu. Dan biasanya kita langsung menganggapnya sebagai flu biasa.

Tetapi sebenarnya, tidak semua gejala mirip flu semacam itu bisa dikategorikan sebagai flu. Kemiripan gejala memang kerap mengecoh, bahkan dokter sekalipun. Bahkan, beberapa penyakit dengan gejala serupa flu rupanya juga meningkat penularannya selama musim-musim pancaroba seperti sekarang.

Kaitan Cuaca dan Imunitas

Laporan IOP Conference Series: Earth and Environmental Science menjelaskan bahwa perubahan iklim dan cuaca berdampak pada imunitas. Tubuh kesulitan mengadaptasi suhu tubuh serta kesulitan mendapatkan suplai cahaya matahari yang cukup. Padahal tubuh membutuhkan cahaya matahari guna membuat vitamin D yang menunjang imunitas.

Di sisi lain, PBS.org mengungkap sejumlah kondisi biologis yang juga dapat melemahkan imunitas saat cuaca dingin. Pada saat suhu rendah, tubuh harus memproduksi panas untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil. Di saat itu, beberapa sel menjadi tidak optimal bekerjanya sehingga fungsinya menurun dan akhirnya orang itu mudah sakit.

Selain itu, beberapa pakar juga menyalahkan kebiasaan kebanyakan orang saat cuaca dingin. Termasuk kebiasaan berdiam dalam ruangan kecil bersama banyak orang sehingga memperbesar risiko mereka untuk tertular penyakit dari orang ke orang. Juga kebiasaan malas beraktivitas fisik saat udara dingin, padahal gerakan fisik membantu menghangatkan tubuh sehingga mempermudah kerja imunitas.

Penyakit dengan Gejala Mirip Flu

Terlepas dari pengaruh cuaca terhadap imunitas, apa saja penyakit-penyakit yang memiliki gejala mirip flu? Bagaimana kita bisa mengenali penyakit-penyakit itu? Berikut beberapa di antaranya./

Selesma

Kebanyakan orang menyebut gejala pilek disertai sakit kepala dan demam ringan sebagai gejala flu. Padahal meski kondisinya hampir serupa, namun beberapa bisa disebabkan oleh penyakit selesma. Biasanya gejala selesma lebih ringan dari flu. Selesma juga tidak disertai keluhan nyeri sendi.

Kalau flu disebabkan oleh virus influenza, selesma disebabkan oleh virus lain seperti rhinovirus, enterovirus, paraflu, dsb. Dan karena disebabkan oleh virus, selesma tidak efektif bila diobati dengan antibiotik.

Selesma umumnya menyerang selama 2 minggu. Namun kita bisa mempersingkatnya dengan mengonsumsi lebih banyak vitamin C dan zink, namun tetap dalam batas sewajarnya.

Radang Tenggorokan

Keluhan ini cukup mudah dikenali karena biasanya ditandai dengan rasa kering, nyeri, dan mengganjaln di tenggorokan, terutama saat menelan atau mungkin berbicara. Biasanya penderitanya juga tidak mengalami gangguan pernapasan seperti pilek atau hidung tersumbat.

Baca juga:  Apa Itu Flu Babi?

Penderitanya justru mengalami pembengkakan pada tonsil, kelenjar limpa di leher, atau rona kemerahan dalam mulut. Radang tenggorokan juga menunjukkan gejala mirip flu seperti demam dan nyeri sendi ringan.

Kebanyakan radang tenggorokan disebabkan oleh serangan bakteri. Untuk itu, banyak dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengobatinya. Mengonsumsi vitamin C juga membantu penyembuhan, namun tidak disarankan untuk makan makanan yang terlalu asam karena bisa memperparah iritasi di tenggorokan.

ISPA

ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) juga punya gejala mirip flu. ISPA biasanya berawal dari area hidung dan trakea. Penderitanya sering mengalami hidung tersumbat hingga nyeri dan gatal di area tenggorokan atas.

Umumnya ada banyak kesamaan antara ISPA dan flu, bahkan sekilas sangat sulit dibedakan. Penderitanya juga akan mengeluhkan gejala seperti bersin-bersin, gatal di pangkal tenggorokan atas, demam, nyeri sendi, hidung tersumbat, batuk kering maupun berdahak, kadang disertai sakit tenggorokan ringan.

Pada dasarnya ISPA adalah bentuk lain dari selesma yang sudah berkembang sampai taraf lebih berat. Kadang penderitanya juga mengalami gejala selemsa di awal-awal. Hanya saja, ISPA lebih kepada peradagan pada saluran pernapasan taraf ringan. Bisa disebabkan virus yang berkembang pesat atau karena benda asing yang mengiritasi seperti asap, debu, kotoran, dsb.

Karena itu, selain dengan obat anti-virus atau dengan memperbaiki imunitas, penderitanya juga biasanya dibantu dengan pengobatan anti-selemsa dan anti-inflamasi untuk meredakan peradangan.

Bronkitis

Bronkitis adalah infeksi pada bronkeolus, yakni saluran persimpangan di paru-paru. Bila infeksi ini diabaikan maka bisa mengganggu fungsi paru-paru secara permanen.

Gejala utamanya ialah batuk dan sesak. Kadang penderitanya mengalami sesak napas disertai batuk berdahak yang berkepanjangan dan terasa berat. Juga mungkin terasa sakit tenggorokan. Pusat masalahnya ada pada tenggorokan dan dada. Malah biasanya bronkitis hanya disertai gejala demam dan nyeri sendi ringan.

Infeksi ini kebanyakan disebabkan bakteri, jadi lebih sering diobati dengan antibiotik. Kadang hanya menyerang dalam tempo singkat 3 pekan tetapi dapat cukup kronis sampai 3 bulan dan kambuh kembali. Tetapi beberapa kasus bronkitis juga bisa disebakan oleh virus.

Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi pada kantung udara di paru-paru. Penyakit ini lebih dikenal dengan istilah paru-paru basah. Pneumonia punya beberapa gejala mirip flu seperti batuk kering atau berdahak dengan lendir berwarna kehijauan atau kuning kental. Penderitanya juga akan mengalami demam dan menggigil.

Pneumonia bisa terjadi berbarengan dengan flu biasa. Kadang muncul setelah flu yang tidak kunjung sembuh. Tetapi bisa juga pneumonia menyerang tanpa berkaitan dengan flu sama sekali.

Meski banyak kesamaan, namun gejala khas pneumonia adalah rasa sesak. Penderitanya biasanya mengeluhkan sesak saat bernapas. Juga kerap berkeringat dingin dengan suara batuk yang dalam.

Baca juga:  Ini Dia 10 Jenis Makanan Terbaik sebagai Pencegah Flu!

Pneumonia sendiri dapat disebabkan oleh virus, tanpa berkaitan dengan flu. Bisa juga diakibatkan bakteri dan merupakan komplikasi dari flu yang tidak sembuh-sembuh. Dapat juga disebabkan oleh jamur, meski jarang terjadi.

Meningitis

Meningitis sebenarnya adalah gejala infeksi pada selaput meninge, atau lapisan pelindung terluar pada otak. Peradangan pada selaput meninge akan menyebabkan selaput membengkak, menyerang saraf-saraf pada otak, dan menimbulkan tekanan dan rasa kaku pada leher.

Gejala utama meningitis adalah demam dan sakit kepala. Penderitanya juga dapat mengalami gejala mirip flu seperti pilek dan hidung tersumbat. Tetapi penderita meningitis akan sering mengeluhkan leher kaku dan keras. Kadang juga menjadi sensitif terhadap cahaya dan mengalami kejang.

Meningitis bisa disebabkan oleh virus dan bakteri. Tetapi biasanya penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang cukup parah dampaknya. Namun setiap jenis meningitis bisa cukup berbahaya dan merusak saraf bila terlambat ditangani.

Mononukleuosis

Penyakit ini memang cukup asing dan karenanya banyak penderitanya yang keliru mengenalinya sebagai penyakit flu biasa. Mononukleuosis disebabkan oleh virus yang berbeda, yaitu Epstein-Barr. Penularannya melalui lendir mulut dan umumnya menyerang kalangan remaja hingga dewasa muda.

Meski tidak berbahaya, namun penyakit ini menyebabkan gejala-gejala yang sangat mengganggu. Mononukleuosis ditandai dengan gejala demam dan nyeri sendi yang kuat. Juga timbul sakit tenggorokan yang sangat perih disertai pembengkakan kelenjar.

Kadang juga muncul keluhan pada mulut sepeti bintik-bintik merah di langit-langit mulut, gusi berdarah, dan sariawan. Penderitanya juga mengalami batuk akibat produksi dahak berlebihan.

Yang jadi masalah, beberapa penderita yang terinfeksi virus Epstein-Barr akan menyimpan virus ini dalam tubuh mereka dalam kondisi non-aktif. Bila virus berhasil menular ke orang lain, maka virus ini otomatis menjadi aktif dan cepat menginfeksi. Biasanya penularannya melalui kontak langsung dengan air liur, misalnya melalui ciuman, berbagi makanan, atau berbagi sikat gigi.

Kesimpulan

Ternyata ada cukup banyak penyakit yang punya gejala mirip flu. Beberapa sebenarnya tidak lebih berat daripada flu biasa dan bisa diatasi dengan cara yang sama seperti flu ringan. Tetapi ada juga yang bisa menjadi cukup serius dan memerlukan perawatan intensif.

Untuk itu, kita semua sebaiknya lebih waspada bila mengalami gejala mirip flu. Jangan langsung menganggapnya sebagai flu biasa, lebih baik periksakan diri ke dokter. Juga perbaiki imunitas tubuh kita supaya tubuh lebih mudah mengatasi infeksi penyakit apa pun yang menyerang.

Advertisement
Alinesia