Saat Anda Stress, 3 Hormon Inilah yang Pegang Kendali

608

Diedit:

Siapa yang tidak pernah merasakan stress. Stress adalah satu gejala psikologis yang tidak dapat dihindari, bahkan kadang mau tidak mau harus dihadapi setiap hari. Bermacetan di jalanan, berhadapan dengan pekerjaan yang setumpuk, boss yang marah-marah, cicilan bank yang belum terbayar sampai ulah nakal si kecil. Semua hal itu dan masih banyak lagi kondisi di luar sana yang siap menjadi penyebab stress.

Apa yang Anda alami ketika Anda stress? Ada beragam kondisi yang mungkin Anda alami, mulai dari jantung yang berdebar lebih kencang dari biasa, kecemasan, kegelisahan, kepala yang tegang, bahkan kadang keringat dingin, tidak suka makan atau malah menjadi sangat doyan makan. Setiap orang bisa mengalami gejala yang berbeda terkait dengan stress yang mereka alami, sesuai dengan dominasi hormon stress yang muncul ketika mereka mengalami stress.

Ya, ketika seseorang mengalami stress, secara langsung otak akan merespon dengan memproduksi beberapa hormon yang membangun reaksi fisik pada tubuh Anda. Dan bagaimana reaksi fisik ini muncul pada diri Anda akan bergantung pada jenis hormon yang dominan muncul ketika Anda mengalami stress. Adapun 3 jenis hormon stress tersebut antara lain :

Hormon Adrenalin

Hormon Adrenalin ini diproduksi oleh kelenjar Adrenal sebagai reaksi awal ketika stress muncul. Bisa dikatakan hormon ini adalah reaksi pertama secara kimiawi yang muncul dari tekanan.

Amit Sood, MD dari Mayoclinic menjelaskan fungsi adrenalin sebagai reaksi cepat tubuh ketika sebuah tekanan datang mendadak. Anda ingat bagaimana reaksi Anda ketika terkejut? Kurang lebih seperti inilah reaksi awal yang akan segera muncul ketika sebuah stres datang dengan cara mendadak.

Adrenalin akan bekerja untuk menstimulasi detak jantung menjadi beberapa kali lebih cepat, memberi rangsangan sistem saraf pusat untuk menjadi tegang sehingga menyebabkan Anda meningkatkan kewaspadaan dan fokus. Adrenalin juga bisa menyebabkan aliran darah menjadi lebih kuat dan mendorong ketegangan otot.

Anda akan mengalami ketegangan karena efek adrenalin ketika Anda mengendarai kendaraan dalam kecepatan tinggi, melakukan presentasi yang sangat penting atau ketika mendadak ada peristiwa mengejutkan terjadi di sekitar Anda, seperti melihat seseorang jatuh di depan Anda atau ketika atasan Anda menelpon mendadak.

Hormon Norepinephrine

Hormon satu ini kerap kali bekerja bersama adrenalin mempengaruhi reaksi tubuh terhadao stress. Hormon ini juga diproduksi oleh kelenjar adrenal, tetapi dengan fungsi yang berbeda dari adrenal.

Di sini Anda akan diarahkan untuk menjadi terlalu fokus, cemas, khawatir, panik, mengalami ketegangan otot dan beberapa gejala cemas lain seperti berkeringat, sulit tidur, selalu memikirkan masalah, gelisah dan lain sebagainya.

Anda mungkin mengalaminya ketika Anda akan menghadapi ujian atau test besar keesokan hari, maka sepanjang malam Anda seperti terus panik, sulit tidur dan khawatir. Anda juga biasa mengalami ini ketika sedang menghadapi persoalan yang pelik.

Kondisi kecemasan atau kekhawatiran ini sebenarnya merupakan efek dari stimulasi berlebihan yang dilakukan oleh hormon Norepinephrine terhadap otak dengan mendorong aliran darah lebih kuat menuju otak dan mendorong stimulasi terhadap sistem saraf pusat yang lebih kuat. Stimulasi ini menyebabkan otak bekerja lebih keras dan terfokus terhadap masalah yang memicu stress.

Hormon Kortisol

Hormon kortisol sendiri juga diproduksi oleh kelenjar Adrenal dan lagi-lagi menjadi pemicu beberapa reaksi fisik berbeda dari dua jenis hormon stress lain. Hormon ini memberikan beberapa reaksi tubuh dengan proses kerja yang lebih lambat dari jenis hormon stress lain.

Bila adrenalin dan Norepinephrine bekerja untuk menyebabkan tubuh bereaksi fisik dengan ketegangan, kewaspadaan dan kepanikan, maka kortisol akan bekerja dengan mestimulasi sistem fluida tubuh atau kondisi cairan dalam tubuh dan mempengaruhi tekanan darah.

Namun kortisol juga akan memicu Anda merasa sangat lapar, kehilangan konsentrasi pada apa yang di depan Anda karena terus berpikir pada masalah pemicu stress dan menyebabkan tubuh menjadi terasa malas.

Kortisol dan Norepinephrine kerap memicu reaksi hormonal lain, seperti mempengaruhi kerja sistem imunitas karena hormon tiroid yang terganggu, kerja pencernaan juga terganggu karena sistem hormonal dan enzim dalam pencernaan juga terimbas serta dapat menyebabkan reaksi jerawat dan keluhan haid yang datang terlalu cepat atau terlambat karena juga akan mempengaruhi kinerja produksi hormon seksual.

Baca juga:  Waspada Akibat Stres Berat bagi Kesehatan Anda!

Anda bisa mendapatkan gambaran bagaimana kerja hormon stress bukan? Bagaimana seseorang akan bereaksi terhadap stress, akankah mereka “fight or flight” atau yang bisa kita terjemahkan sebagai menghadapi atau justru menghindari.

Advertisement
Alinesia