Resep Herbal Kanker Hati yang Perlu Anda Gunakan

539
daun saga untuk resep herbal kanker hati
Daun Saga (Credit: J.M.Garg / License: CC BY 3 0)

Diedit:

Penelitian terhadap herbal-herbal anti-kanker semakin berkembang. Resep herbal kanker hati yang telah digunakan secara turun-temurun ternyata memang terbukti bermanfaat. Anda bisa menggunakannya untuk membantu meredam gejala-gejala kanker sekaligus meringankan efek samping dari pengobatan kanker Anda.

Dalam artikel ini Anda akan belajar caranya meracik ramuan herbal kanker hati dari 5 bahan anti-kanker: temulawak, temu putih, daun saga, meniran, dan sambiloto. Meski tidak dimaksudkan untuk menyembuhkan, namun perpaduan herbal ini mampu menambah keefektifan pengobatan yang sedang Anda jalani.

Resep Herbal Kanker Hati

Bahan:

Temulawak, seukuran ½ telapak tangan.
Temu putih yang sudah dikeringkan, 10 gram.
Daun saga yang sudah dikeringkan, 15 gram.
Herba meniran yang sudah dikeringkan, 30 gram.
Herba sambiloto yang sudah dikeringkan, 15 gram.

Cara Meramu Resep:

Cuci bersih semua bahan, potong tipis-tipis temulawak dan temu putih.
Masukkan semua bahan dalam panci berlapis email, rebus dengan 3 gelas air.
Rebus sampai airnya tersisa kira-kira 1 gelas.
Dinginkan, saring airnya, dan bagi menjadi 2 bagian sama banyak.

Aturan Minum:

Minum air ramuan herbal kanker hati ini di pagi dan sore hari, sebelum makan.

Herba = Seluruh bagian tanaman obat mulai dari akar, batang, daun, bunga, dan buahnya.

Mengapa Temulawak Bermanfaat untuk Ramuan Herbal Kanker Hati?

Rimpang temulawak (Curcuma xanthorrhiza) mengandung berlimpah xanthorrhizol (XNT) yang merupakan senyawa paling aktif yang dimilikinya. XNT memiliki beragam aktivitas biologis seperti anti-kanker, anti-mikroba, anti-inflamasi, antioksidan, anti-hiperglikemik, anti-hipertensif, anti-platelet, nefroprotektif, hepatoprotektif, estrogenik, dan anti-estrogenik.

XNT juga telah diteliti secara luas penggunaannya sebagai agen antiproliferatif dan anti-tumor. Sejumlah penelitian telah membuktikan bahwa XNT mampu menginduksi apoptosis melalui pengaktifan jalur mitokondria yang bergantung p53 pada kasus kanker hati HepG2. XNT juga didapati bisa mengaktifkan caspase-3 dan caspase-9 yang melibatkan tBid, serta menginduksi pembelahan protein PARP dan DFF45/ICAD.

XNT merupakan senyawa bioaktif alami yang sangat ampuh untuk memenuhi kebutuhan saat ini akan penemuan obat baru, terutama dalam terapi anti-kanker. Meski begitu, diperlukan penyelidikan lebih lanjut mengenai interaksi antara herbal dan obat, toksisitas, farmakokinetik dan farmakodinamik, serta studi klinis untuk menetapkan XNT sebagai obat standar.

Mengapa Temu Putih Bermanfaat untuk Resep Herbal Kanker Hati?

Rimpang temu putih (Curcuma zedoaria) mengandung tiga senyawa curcuminoid aktif, yaitu curcumin, demethoxycurcumin, dan bisdemethoxycurcumin. Senyawa-senyawa itu didapati memiliki aktivitas penghambatan terhadap pertumbuhan tumor dan bersifat sitotoksik terhadap sarkoma murin, mengubah sel-sel NIH 3T3 fibroblast, garis sel kanker usus besar (HCT-15 dan HT-29), garis sel ginjal embrionik (HEK293, karsinoma hepatoseluler (kanker hati) dan sel Hep-2.

Baca juga:  Resep Herbal TBC Paru-Paru dari Tanaman di Sekitar Kita

Terapi kanker dengan temu putih digunakan untuk menghambat pertumbuhan kanker serta merangsang sistem kekebalan tubuh untuk melawan sel-sel kanker. Senyawa curcumin dari temu putih memiliki kemampuan anti-inflamasi dan antioksidan, serta dapat menghambat produksi lipopolisakarida dan nitrit oksida atau nitrit yang diinduksi interferon dalam makrofagus.

Temu Putih

Curcumin adalah salah satu fitokimia bersifat kemopreventif yang paling banyak diselidiki dan telah terdefinisi dengan baik. Senyawa ini juga menghambat proliferasi dari sel-sel kanker dengan menahan mereka dalam berbagai fase siklus sel dan dengan menginduksi apoptosis. Curcumin juga dapat melindungi organ hati dari kerusakan yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia.

Kemopreventif = Memiliki aktivitas untuk menghambat perkembangan kanker dan dapat meningkatkan kemungkinan kesembuhan serta mengurangi rasa sakit yang dialami penderita kanker. (Sumber = CCRC Farmasi UGM)

Mengapa Daun Saga Bermanfaat untuk Ramuan Herbal Kanker Hati?

Daun saga (Abrus precatorius) mengandung berlimpah senyawa flavonoid, polifenol, beta-karoten, glutationa, alfa-tokoferol, dan asam askorbat. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak daun saga memperlihatkan kemampuan anti-radikal yang kuat, mampu untuk mengkelat Fe2+ dan memiliki kemampuan penghambatan peroksidasi lipid yang baik.

daun saga untuk resep herbal kanker hati
Daun Saga (Credit: J.M.Garg / License: CC BY 3 0)

Ekstrak daun saga juga telah dibuktikan mampu menghambat proliferasi pada empat jalur sel tumor/kanker yang berbeda, seperti sel adenokarsinoma usus besar (Colo-205), sel kanker retinoblastoma (Y79), sel karsinoma hepatoseluler atau kanker hati (HepG2), dan sel leukemia (SupT1). Hal itu menunjukkan bahwa daun saga dapat dimanfaatkan sebagai agen kemopreventif.

Ekstrak etanol dan ekstrak etil asetat daun saga juga terbukti memiliki kemampuan yang nyata untuk menghambat kelangsungan hidup garis sel-sel kanker pada manusia. Selain itu diamati bahwa ekstrak daun saga tidak menghambat pertumbuhan makrofagus peritnoeum, sehingga menegaskan bahwa pengaruh daun saga selektif hanya pada garis sel-sel kanker.

Mengapa Meniran Bermanfaat untuk Resep Herbal Kanker Hati?

Meniran (Phyllanthus urinaria) secara tradisional digunakan sebagai anti-inflamasi, anti-diare, dan hepatoprotektif. Hepatoprotektif artinya dapat melindungi sel hati sekaligus memperbaiki jaringan hati yang rusak akibat zat toksik. Meniran juga dikonsumsi untuk pengobatan tradisional atau perawatan pendamping bagi penderita kanker, termasuk kanker hati.

Penelitian telah dilakukan untuk menyelidiki efek sitotoksik dari ekstrak meniran terhadap sel-sel karsinoma hepatoselular (kanker hati) HepG2 pada manusia dan efeknya terhadap fosforilasi oksidatif oleh mitokondria dari hati tikus laboratorium yang terisolasi.

Sitotoksik = Dapat menjadi toksik (racun) bagi sel. Pada kasus kanker, sitotoksik berarti dapat bersifat toksik untuk menghambat dan menghentikan pertumbuhan dari sel kanker tersebut.

meniran untuk ramuan herbal kanker hati
Meniran (Credit: bancha_photo / Shutterstock)

Hasilnya didapati bahwa ekstrak meniran mampu menginduksi kematian pada sel-sel HepG2 bergantung pada dosis yang diberikan. Ekstrak meniran merusak metabolisme energi dengan bertindak sebagai penghambat fosfoilasi oksidatif dan melepas ikatan mitokondria yang lemah.

Baca juga:  Resep Herbal Sembelit Tuntaskan Masalah Susah BAB

Efek mitokondrial ini dapat berperan dalam aksi sitotoksik dari ekstrak meniran pada sel HepG2. Hasil ini menjadi bukti eksperimental yang mendukung penggunaan meniran terhadap kanker hati dan membuka kemungkinan untuk mempertimbangkannya sebagai herbal pendamping untuk pengobatan penyakit yang mematikan ini.

Mengapa Sambiloto Bermanfaat untuk Ramuan Herbal Kanker Hati?

Sambiloto (Andrographis paniculata) mengandung senyawa laktona diterpenoid bernama andrographolide dan merupakan fitokonstituen bioaktif utama yang dimilikinya. Andrographolide dikenal mempunyai efek kuat sebagai antioksidan, anti-inflamasi, antineoplastik, dan anti-virus.

Penelitian juga telah dilakukan untuk menyelidiki efek sitotoksik dari andrographolide terhadap sel-sel kanker hati pada manusia dan untuk menyelidiki mekanisme kematian sel yang diakibatkannya. Andrographolide menginduksi kematian sel yang berbeda dari apoptosis pada beberapa sel kanker hati.

Kematian itu ditandai oleh autophagy yang dibuktikan dengan akumulasi LC3 II dan autophagosome, serta pembentukan puncta GFP-LC3. Autophagy ini serta sitotoksisitas yang disebabkan oleh andrographolide dapat dicegah secara efektif dengan 3-methuladenine (suatu penghambat kimia autophagy).

sambiloto
Sambiloto (Credit: Joloei / Shutterstock)

Penelitian menunjukkan bahwa andrographolide menginduksi kematian sel autophagic dengan mengganggu potensi transmembran dan meningkatkan spesies oksigen reaktif, yang berkolerasi dengan pori transisi permeabilitas mitokondria.

Penghambatan cyclophilin D (komponen MPTP) oleh cyclosporin A atau pencabutan ekspresinya dengan RNA kecil yang mengganggu secara signifikan menekan sitotoksisitas andrographolide. Ini menunjukkan bahwa cyclophilin D kemungkinan berperan penting dalam memediasi sitotoksisitas yang diinduksi oleh andrographolide.

Hasil-hasil itu mengungkap mekanisme baru dari andrographolide dalam melawan sel-sel kanker hati dan menunjukkan bahwa andrographolide dapat menjadi agen baru yang potensial untuk pengobatan kanker hati.

Sarang Semut Papua: Herbal Alternatif untuk Kanker Hati

Sarang Semut (Myrmecodia pendans) adalah tumbuhan herbal yang asalnya dari pedalaman hutan Papua dan sudah digunakan sebagai obat secara turun-temurun oleh penduduk asli di sana. Kini hasil penelitian modern menunjukkan bahwa Sarang Semut mengandung senyawa aktif penting seperti flavonoid, polifenol, tokoferol, dan beragam mineral penting yang bermanfaat sebagai antioksidan dan anti-kanker.

Sarang Semut Papua

Contohnya, flavonoid yang dimilikinya dikenal sebagai senyawa yang memiliki sejumlah mekanisme khusus sebagai anti-kanker. Mekanisme tersebut antara lain: inaktivasi karsinogen, anti-proliferasi, penghambatan siklus sel, induksi apoptosis dan diferensiasi, serta inhibisi angiogenesis.

Manfaat dari herbal ini bukan hanya dikemukakan secara teori saja, ada bukti nyata dari penggunaan Sarang Semut dalam pengobatan kanker hati. Salah satu pengalaman diungkapkan oleh Sherly Herliana yang ayahnya didiagnosis mengidap kanker hati.

Sherly memesankan produk ekstrak Sarang Semut untuk dikonsumsi rutin oleh ayahnya. Hasilnya selama 1 bulan rutin mengonsumsinya, kesehatan ayahnya terus mengalami perbaikan yang terlihat jelas.

Bengkak-bengkak yang dialami akibat kanker hati sudah menghilang dan kondisi tubuh jadi fit sehingga bisa duduk dalam waktu lama. Masuk bulan kedua penggunaan, muntah-muntah menyiksa yang dulu dialami ayahnya juga menghilang.

Dan di bulan keempat penggunaan, kondisi ayah Sherly dikabarkan telah pulih sehingga dapat beraktivitas seperti sedia kala. Semoga pengalaman dari Sherly ini bisa memberikan semangat bagi siapa pun yang saat ini sedang berjuang menghadapi kanker hati. Kisah selengkapnya dapat Anda baca di artikel berjudul “Tumpas Kanker Hati dengan Herbal, Bukan Sekada Promosi!”

Selalu Konsultasikan dengan Dokter!

Perpaduan herbal-herbal anti-kanker di atas memang dapat membantu meredam kanker hati dan gejala-gejalanya. Meski begitu, penderita kanker hati harus mempertimbangkan dengan cermat sebelum memutuskan mengonsumsi herbal. Tanyakanlah terlebih dulu kepada dokter apakah mengonsumsi herbal-herbal di atas aman bagi Anda.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang resep herbal kanker hati. Semoga Anda memperoleh manfaat dari informasi-informasi herbal di sini. Nantikan juga info-info herbal khas Indonesia lainnya hanya di Deherba.com.


Dalimartha, Setiawan. (2008). 1001 Resep Herbal. Jakarta: Penebar Swadaya

Oon, Seok Fang. (2015). Xanthorrhizol: A Review of Its Pharmacological Activities and Anticancer Properties. Cancer Cell International. 15: 100. URL: https://doi.org/10.1186/s12935-015-0255-4

FR, Carvalho, dkk. (2010). Effect of Curcuma Zedoaria Crude Extract Against Tumor Progression and Immunomodulation. Journal of Venomous Animals and Toxins including Tropical Diseases. 16(2). URL: http://dx.doi.org/10.1590/S1678-91992010000200013

Gul, Mir Z, dkk. (2013). Antioxidant and Antiproliferative Activities of Abrus Precatorius Leaf Extracts – An In Vitro Study. BMC Complementary & Alternative Medicine. 13:53. URL: https://dx.doi.org/10.1186%2F1472-6882-13-53

Chudapongse, Nuannoi, dkk. (2010). Effects of Phyllanthus Urinaria Extract on HepG2 Cell Viability and Oxidative Phosphorylation by Isolated Rat Liver Mitochondria. Journal of Ethnopharmacology. 130(2): 315-319. URL: https://doi.org/10.1016/j.jep.2010.05.010

Chen, Wei, dkk. (2012). Andrographolide Induces Autophagic Cell Death in Human Liver Cancer Cells through Cyclophilin D-Mediated Mitochondrial Permeability Transition Pore. Carcinogenesis. 33(11): 2190-2198. URL: https://doi.org/10.1093/carcin/bgs264


Advertisement
Alinesia