Operasi Usus Buntu: Apakah Aman Dilakukan?

533

Diedit:

Operasi usus buntu, apakah aman dilakukan? Usus buntu sebenarnya merupakan organ berbentuk tabung kecil dan tipis yang terhubung pada usus besar. Ukurannya kurang lebih hanya sebesar 5-10 cm. Belum diketahui secara pasti mengapa dalam tubuh terdapat usus buntu. Di samping itu pengangkatan usus buntu pun tidak begitu berdampak pada kesehatan secara umum. Akan tetapi, bila organ kecil ini mengalami peradangan dan pembengkakan cukup berisiko pada apendisitis atau penyakit usus buntu yang memicu komplikasi serius.

Penyakit usus buntu termasuk penyakit yang kerap menyerang kalangan usia 10-20 tahun. Meskipun demikian penyakit ini bisa menyerang siapa saja. Satu cara penanganan yang sering dipilih yaitu operasi usus buntu yang bertujuan untuk mengangkat usus buntu dari tubuh.

Gejala awal yang sering dirasakan para pasien usus buntu yaitu sakit pada area perut bagian tengah. Rasa sakit bisa muncul dan hilang begitu saja. Rasa sakit yang dirasakan bisa semakin parah lalu bergeser dan menetap di perut bagian kanan bawah yang merupakan lokasi usus buntu. Bila ditekan rasa sakit cenderung bertambah parah.

Bila Anda mendapati rasa sakit terasa semakin parah, segera konsultasikan kepada dokter yang handal. Rasa sakit tersebut bisa menjadi indikasi kemungkinan usus buntu telah pecah yang bisa jadi menyebabkan infeksi serius di sebelah dalam lapisan perut atau yang sering disebut peritonitis. Bila sudah demikian, maka mau tidak mau operasi usus buntu mesti dilakukan.

Apa Sajakah Gejala Usus Buntu?

Penyakit usus buntu tidak jarang didiagnosis sebagai kasus keracunan makanan, konstipasi biasa, sindrom iritasi usus, atau infeksi saluran kemih. Sementara kaum wanita sering mengira usus buntu sebagai gejala penyakit yang berkaitan dengan nyeri menstruasi atau kehamilan ektropik. Hal ini bisa dijelaskan karena penyakit usus buntu juga disertai beberapa gejala lain sebagai berikut:

  • mual dan muntah
  • diare
  • konstipasi
  • kram di perut
  • adanya pembengkakan pada perut
  • tidak bisa buang gas
  • sakit saat buang air kecil
  • demam
  • hilangnya nafsu makan
Baca juga:  Apa Sebenarnya Fungsi Usus Buntu?

Karena adanya kemiripan gejala itulah diagnosis usus buntu sering dikira bukan penyakit usus buntu. Untuk itu, sebelum melakukan operasi usus buntu biasanya para dokter akan melakukan serangkaian tes guna memastikan kondisi pasien. Beberapa tes yang sering dilakukan untuk mendeteksi penyakit usus buntu diantaranya:

  • Pemeriksaan fisik dengan cara menekan secara perlahan beberapa bagian di sekitar usus.
  • Tes darah guna mengetahui jumlah sel darah putih sebagai indikator terjadinya infeksi.
  • Tes urin guna menghapus kemungkinan gejala penyakit lain seperti batu ginjal atau infeksi saluran kemih.
  • USG atau CT scan guna mengetahui telah terjadi pembengkakan pada usus buntu atau tidak.
  • Pada wanita seringkali dilakukan pula tes kehamilan dan pemeriksaan organ intim untuk mengetahui adanya kemungkinan penyakit yang berhubungan dengan vagina atau tidak.

Apa yang Jadi Penyebab Usus Buntu?

Dari sejumlah kasus dan operasi usus buntu yang sudah pernah dilakukan diketahui penyakit ini bisa disebabkan karena tersumbatnya akses masuk menuju usus buntu. Penyumbatan tersebut bisa dikarenakan makanan yang sulit dicerna seperti biji cabai, biji buah jambu biji, kelenjar getah bening yang membengkak di dalam dinding usus karena infeksi saluran pernapasan atas, atau karena tinja. Adanya penyumbatan tersebut memicu peradangan dan pembengkakan pada usus buntu. Tekanan yang dihasilkan dari pembengkakan secara pelan tapi pasti menyebabkan usus buntu pecah.

Bagaimana Cara Pengobatan Usus Buntu?

Cara pengobatan paling utama yang sering dilakukan yaitu lewat operasi usus buntu. Menjalani operasi pengangkatan usus buntu atau apendektomi dirasa lebih aman dibanding menunggu kejelasan adanya inflamasi yang berisiko pada pecahnya usus buntu. Sampai saat ini belum diketahui secara pasti fungsi dari usus buntu. Pengangkatan usus buntu dari tubuh pun tidak menyebabkan gangguan kesehatan serius dalam jangka panjang. Anda tidak perlu khawatir karena dibanding dengan jenis operasi lain, apendiktomi memiliki persentase keberhasilan yang cukup besar.

Baca juga:  Terapi Rumahan Untuk Meredakan Infeksi Usus Buntu

Akan tetapi, pengobatan alternatif bisa pula menjadi solusi. Misalnya dengan mengonsumsi ramuan buah noni (mengkudu) dan madu. Noni dan madu kaya akan khasiat kesehatan. Anda bisa mencampurkan sari buah noni dengan 1 sdm madu asli. Ramuan herbal tradisional ini baik diminum rutin 2 kali sehari.

Sementara bila inflamasi usus buntu dibiarkan berlarut ada risiko akan pecah. Risiko pecahnya usus buntu cukup mengancam jiwa. Bila usus buntu pecah ada pula risiko komplikasi seperti abses dan peritonitis. Abses adalah kantong kumpulan nanah yang muncul karena bentuk perlindungan alami tubuh akibat pecahnya usus buntu. Upaya penanganan dilakukan dengan menyedot nanah dari abses. Bila ditemukan saat operasi usus buntu, biasanya abses dan area sekitarnya dibersihan perlahan dan diberi antibiotik.

Sementara peritonitis merupakan infeksi karena bakteri sudah menyebar sampai peritoneum. Gejala yang menyertainya yaitu mual, muntah, demam, detak jantung lebih cepat, napas pendek, sakit perut luar biasa, dan perut bengkak. Komplikasi dapat diatasi dengan operasi usus buntu dan pemberian antibiotik.

Demikian ulasan seputar penyakit usus buntu, gejala, penyebab, hingga cara pengobatan dengan jalan operasi usus buntu. Operasi pengangkatan usus buntu memiliki persentase keberhasilan yang besar. Tidak ada efek samping jangka panjang yang mesti ditakuti karena usus buntu pun belum diketahui benar fungsinya. Hanya saja setelah menjalani operasi biasanya pasien dianjurkan untuk mengonsumsi makanan lunak dan mudah dicerna terlebih dulu. Hal ini agar tidak memicu rasa mual dan ingin muntah. Semoga ulasan kali ini bermanfaat dan menambah wawasan Anda.

Advertisement
Alinesia