Obat Hipertensi: Harus Berdasarkan Resep Dokter

189
Kinerja ataupun Efek Samping Obat Hipertensi Resep Dokter
Sumber Gambar: Shutterstock

Diedit:

Penasaran dengan kinerja ataupun efek samping obat hipertensi resep dokter? Sebenarnya selama Anda mengonsumsinya dalam dosis yang sesuai dengan anjuran dan tidak mengalami komplikasi penyakit lainnya. Obat hipertensi yang diberikan dokter tergolong aman, mengingat proses pembuatannya tentu sudah melalui beragam proses yang ketat.

Dalam artikel ini, Anda akan melihat apa yang sebenarnya dilakukan obat hipertensi dalam tubuh Anda. Namun, perlu diingat bahwa informasi dalam artikel ini bukanlah saran medis yang seharusnya diberikan dokter saat berkonsultasi dengan pasien. Informasi ini bertujuan untuk mengedukasi Anda terkait dengan penggunaan obat yang Anda konsumsi.

Pengingat—Gunakan Obat Hipertensi Sesuai Resep Dokter

Menurut pedoman The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7). Penggunaan obat ditentukan oleh tekanan darah penderita, misalnya; apabila tekanan darah sistolik 140-159 mmHg atau tekanan darah diastolik 90-99 mmHg. Jika ini terjadi, maka perlu diberikan obat hipertensi monoterapi. Sedangkan, apabila tekanan darah sistolik ≥160 mmHg atau tekanan darah diastolik ≥100 mmHg, maka perlu diberikan kombinasi 2 macam obat.

Pemberian obat hipertensi yang dilakukan oleh dokter meliputi beberapa kriteria, yaitu; tepat indikasi, tepat obat, tepat pasien dan tepat dosis (Kemenkes RI, 2011)—yaitu:

  • Tepat indikasi merupakan kesesuaian pemberian obat antara indikasi dengan diagnosa dokter. Jika tidak sesuai maka tidak akan memberi efek yang diinginkan.
  • Tepat obat merupakan kesesuaian pemberian obat yang ditimbang dari ketepatan kelas lini terapi, jenis dan kombinasi obat bagi pasien hipertensi.
  • Tepat pasien merupakan kesesuaian pemilihan obat yang mempertimbangkan keadaan pasien, sehingga tidak menimbulkan kontraindikasi secara individu atau risiko efek samping obat.
  • Tepat dosis merupakan kesesuaian pemberian dosis obat dengan rentang dosis terapi yang ditinjau dari dosis penggunaan per hari berdasarkan kondisi khusus pasien. Bila pemberian resep obat berada pada rentang dosis minimal dan dosis per hari yang dianjurkan, maka pemberian resep dikatakan tepat dosis.

Dikatakan dosis kurang atau dosis terlalu rendah apabila dosis yang diterima pasien berada dibawah rentang dosis terapi yang seharusnya diterima pasien. Dosis yang terlalu rendah dapat menyebabkan kadar obat dalam darah berada dibawah kisaran terapi. Sehingga tidak dapat memberikan respon penurunan tekanan darah. Sebaliknya dosis obat yang terlalu tinggi dapat menyebabkan kadar obat dalam darah melebihi kisaran terapi. Sehingga potensi munculnya komplikasi hipertensi berupa hipotensi dan kemungkinan efek toksisitas lainnya dapat terjadi.

Jenis, Kinerja, dan Efek Samping Obat Hipertensi Resep Dokter

Secara umum obat yang digunakan untuk terapi hipertensi terdiri dari delapan golongan obat antihipertensi. Setiap golongan tersebut memiliki beragam jenis obat yang berlainan baik secara sifat farmakologi ataupun farmakodinamika.

Berdasarkan pedoman The Seventh Report of the Joint National Committee on Prevention, Detection, Evaluation, and Treatment of High Blood Pressure (JNC 7). Penggunaan obat hipertensi tunggal umumnya diberikan kepada pasien hipertensi derajat 1. Sedangkan, penggunaan obat hipertensi kombinasi biasanya diberikan kepada pasien hipertensi derajat 2.

Baca juga:  Herbal Anti Hipertensi: Kendalikan Tekanan Darah

Kombinasi 2 obat antihipertensi dianjurkan bagi pasien yang memiliki hipertensi tinggi dimana nilai tekanan darah jauh melebihi kadar normal. Ketika tekanan darah lebih dari 20/10 mmHg di atas tekanan darah normal, maka perlu mempertimbangkan pemberian terapi dengan dua kelas obat. Penambahan obat kedua dari kelas yang berbeda hanya dilakukan saat penggunaan obat tunggal dengan dosis adekuat gagal menurunkan hipertensi penggunanya (Chobaniam et al., 2003).

Angiotensin Converting Enzyme (ACE) Inhibitor

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara menurunkan “produksi hormon angiotensin” yang ada dalam tubuh Anda. Hormon angiotensin merupakan penyebab terjadinya penyempitan pembuluh darah. Konsumsi ACE inhibitor, akan membantu tubuh untuk mengendurkan pembuluh darah yang mengalami penyempitan, sehingga hipertensi bisa dikendalikan. Walaupun tergolong aman untuk dikonsumsi, ada efek samping yang perlu diwaspadai. Misalnya; batuk, pusing, kantuk, sakit kepala, insomnia, kehilangan fungsi indera perasa dan nafsu makan.

Angiotensin II Receptor Blocker (ARB)

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara menghalangi “kinerja hormon angiotensin” yang ada dalam tubuh Anda. Konsumsi ARB, akan membantu tubuh untuk mencegah terjadinya ikatan antara hormon angiotensin dengan reseptor pembuluh darah, sehingga hipertensi bisa dikendalikan. Sayangnya obat ini juga tak lepas dari efek samping yang perlu diwaspadai penggunanya. Misalnya; sensasi ringan pada kepala yang terasa seperti mau pingsan, nyeri dada, kesulitan buang air kecil, pembengkakan, kenaikan berat badan dan efek kalium tinggi.

Alpha Blockers

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara memperlebar pembuluh darah dan menurunkan pengaruh hormon norepinefrin yang ada dalam tubuh Anda. Hormon norepinefrin merupakan penyebab terjadinya penegangan otot pembuluh darah. Konsumsi alpha blockers, akan membantu tubuh untuk mengendurkan otot tertentu sehingga pembuluh darah kecil tetap terbuka. Obat ini juga tak terlepas dari efek sampig penggunaan. Misalnya; sakit kepala, pusing, kantuk, hipotensi, lemas, jantung berdebar, atau kenaikan berat badan.

Beta Blockers

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara menghalangi pengaruh hormon epinefrin yang ada dalam tubuh Anda. Hormon epinefrin (adrenalin) merupakan penyebab terjadinya peningkatan denyut jantung. Konsumsi beta blockers, akan membantu tubuh untuk memperlambat jantung dalam memompa darah, sehingga volume dan tekanan darah terkendali. Efek samping dari obat ini juga ada. Misalnya; nyeri dada, jantung berdebar, pusing, sesak napas, pembengkakan, mual, nyeri perut, gatal, kehilangan nafsu makan, urin dan tinja tampak gelap, hingga sakit kuning.

Calcium Channel Blocker (CCB)

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara mencegah kalsium masuk ke dalam jantung dan pembuluh darah otot. Kalium merupakan penyebab terjadinya peningkatan kontraksi pada pembuluh darah dan jantung. Konsumsi calcium channel blocker, akan membantu tubuh untuk mengendurkan pembuluh darah otot, sehingga tidak terjadi peningkatan kontraksi pada pembuluh darah dan jantung. Efek samping tak dapat dihindari. Misalnya; kulit memerah, ruam, melepuh, pembengkakan, sesak napas, pusing, pingsan, dan detak jantung tak beraturan.

Baca juga:  Waspadai Dampak Hipertensi Pada Kehamilan

Central Acting Agents

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara mencegah otak untuk mengirimkan sinyal yang memicu percepatan detak jantung maupun penyempitan pembuluh darah oleh sistem saraf. Konsumsi central acting agents, akan membantu tubuh untuk mencegah jantung agar tidak memompa darah terlalu kuat, sehingga aliran darah dapat mengalir normal. Efek samping bagi pengguna yang perlu diwaspadai. Misalnya; kelelahan, kantuk, pusing, impotensi, sembelit, mulut kering, sakit kepala, demam, dan detak jantung tak beraturan.

Diuretik

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara menghilangkan kelebihan natrium dan kelebihan air dalam tubuh. Mineral natrium (sodium) merupakan penyebab terjadinya kerusakan dinding pembuluh darah dan peningkatan tekanan darah. Konsumsi diuretik, akan membantu tubuh untuk menurunkan hipertensi dengan membuang cairan berisi natrium berlebih dari tubuh Anda. Anda juga perlu mengetahui efek samping yang bisa timbul. Misalnya; sering buang air kecil, kelelahan, kram kaki, hingga gangguan fungsi jantung.

Vesodilator

Obat hipertensi jenis ini bekerja dengan cara mengendurkan otot pada dinding pembuluh darah. Konsumsi vesodilator, akan membantu tubuh untuk mencegah penyempitan pembuluh darah, sehingga aliran darah dapat mengalir lancar tanpa hambatan. Jika ini terjadi maka, hipertensi dapat dikendalikan. Namun, obat ini juga tak luput dari efek samping. Misalnya; peningkatan denyut nadi, dada berdebar, retensi cairan (edema), mual, muntah, sakit kepala, nyeri sendi dan dada, hingga pertumbuhan rambut yang berlebihan.

Itu dia 8 kelompok obat hipertensi yang seringkali diresepkan oleh dokter bagi penderitanya. Sekarang, Anda telah mengetahui kinerja dan efek samping obat hipertensi resep dokter. Maka dari itu, ada baiknya untuk menanyakan dampaknya bagi Anda kepada dokter yang merawat. Hal ini termasuk kombinasi penggunaan herbal hipertensi dengan obat medis, guna menghindari efek samping yang tidak diinginkan.

Demikianlah info lengkap seputar resep obat hipertensi yang bantu Anda turunkan tekanan darah. Namun ingatlah konsumsi obat tidak cukup untuk mengendalikan peningkatan hipertensi. Anda perlu melakukan perubahan gaya hidup, mulai dari konsumsi makanan sehat hingga olahraga teratur. Budayakan hidup sehat dari sekarang sebelum bertambah parah.


Eka Kartika Untari, Alvani Renata Agilina, dan Ressi Susanti. Evaluasi Rasionalitas Penggunaan Obat Antihipertensi. 2015. URL: http://psr.ui.ac.id/index.php/journal/article/download/3870/663.