Kopi, Dapatkah Meningkatkan Kadar Kolesterol?

689
Shutterstock

Diedit:

Setelah air, kopi merupakan salah satu jenis minuman yang paling banyak di konsumsi oleh banyak orang di seluruh dunia. Faktanya, lebih dari 1,4 milyar gelas kopi diminum setiap harinya di dunia dan kebanyakan dikonsumsi saat sarapan. Ya, Di seluruh dunia, minum kopi seolah telah menjadi budaya tersendiri.

Semua penggemar minuman yang konon berasal dari Etiopia ini, pasti setuju bahwa rasanya, kurang lengkap bila tak menyeruput secangkir kopi di pagi hari, di tengah cuaca dingin, atau ketika mengantuk dan stress di tempat kerja.

Apakah Anda termasuk pecinta kopi? Jika demikian, beberapa pengingat berikut patut Anda perhatikan bila Anda ingin berumur panjang, khususnya sehubungan dengan kaitannya pada peningkatan kolesterol jahat/LDL dalam tubuh.

Bukan Kafein, Tapi Saringan Kopi—Kunci Nikmati Kopi Bebas Kolesterol

Meski termasuk jenis minuman yang populer, tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya, bukan kandungan kafein di dalam kopi yang memicu penyakit kardiovaskular yang umum terjadi pada para pecandu kopi.

Ini selaras dengan hasil penelitian yang dilakukan US National Institute of Health pada tahun 2005, dimana peminum kopi tanpa kafein yang rata-rata mengonsumsi 6 cangkir kopi sehari selama 3 bulan, terbukti memiliki kadar kolesterol jahat/LDL yang tak berbeda jauh dengan orang yang jarang atau bahkan yang tidak minum kopi.

Jadi, tidak ada pengaruh yang dihasilkan dengan beralih ke kopi bebas kafein karena kafein dalam kopi tidak berpengaruh pada kadar kolesterol dalam tubuh.

Lalu, apa yang membuat kadar kolesterol LDL dalam tubuh meningkat pada para penggemar kopi? Para peneliti dari Universitas Pertanian Wageningen di Belanda mengungkapkan bahwa minum kopi tubruk—kopi yang tidak disaring—akan meningkatkan kadar kolesterol LDL secara signifikan. Ya, rupanya, bahaya kolesterol akibat minum kopi terletak pada kata ‘tidak disaring’. Bisa tebak apa alasannya?

Baca juga:  Urgensi dan Penyebab Turunnya Vitamin C Dalam Tubuh

Penelitian ilmiah yang dilakukan oleh sebuah lembaga riset ternama di Belanda menyatakan bahwa biji kopi mengandung senyawa peningkat kolesterol, yang dikenal sebagai kafestol.

Senyawa ini akan keluar ketika air panas dituangkan langsung pada kopi bubuk, atau ketika kopi bubuk direbus dalam air mendidih beberapa kali (boiled coffee).

Secangkir kopi tubruk diperkirakan mengandung sekitar empat milligram lebih kafestol, yang dapat menyebabkan peningkatan kadar kolesterol LDL dalam tubuh sebesar satu persen.

Bayangkan berapa persen kenaikan kolesterol LDL dalam tubuh para penggemar kopi, yang rata-rata mengonsumsi minuman ini lebih dari 3 cangkir sehari. Apalagi bila ini terus dilakukan dalam jangka panjang.

Namun, tak perlu khawatir, Anda tak harus berhenti minum kopi. Untuk menyiasatinya, Anda dapat menggunakan penyaring kertas (paper filter) sewaktu menyeduh kopi.

Cara ini akan membuat kandungan kafestol dalam kopi tertinggal dalam saringan tersebut. Atau, gunakan metode penyaringan, seperti ketika Anda menggunakan mesin pembuat kopi tetes (drip coffee maker).

Selain itu, waspadai penambahan bahan-bahan tertentu dalam kopi yang dapat meningkatkan kadar kolesterol LDL dalam tubuh, seperti krim (creamer), atau makanan berlemak dan berkalori tinggi yang disajikan bersama kopi sebagai kudapan ringan. 

Pengingat lainnya, jangan pernah menggunakan lagi bubuk kopi yang telah diseduh sebelumnya; cuci teko kopi, saringan, dan peralatan lainnya segera setelah digunakan. Dan, bersahajalah. Umumnya, para dokter setuju bahwa minum kopi sebaiknya dibatasi, tidak lebih dari 3 cangkir per hari.

Tentu saja, mereka yang memiliki problem sehubungan dengan jantung, ginjal, dan darah tinggi, sebaiknya minum kurang dari jumlah tersebut. Jadi, nikmati kopi Anda! Hati senang, tubuh tetap sehat.

Advertisement
Alinesia