Pemakaian Obat Psikotropika pada Lansia

505

Diedit:

Dalam penelitian yang dilakukan di Amerika Serikat, diketahui hasil yang cukup mencengangkan bahwa sebanyak 25% obat-obatan yang digunakan pada usia lanjut termasuk golongan psikotropika.

Dalam penggunaan obat-obatan, para lansia ini seringkali menghadapi problem yang disebabkan oleh kecenderungan memakai obat secara berbarengan akibat banyaknya jenis penyakit yang diderita.

Kondisi fisiologik mereka yang sudah berusia lanjut telah banyak mengalami kemunduran sehingga berakibat pada farmakokinetik dan juga farmakodinamik (efek obat) yang mengalami perubahan. Artinya, para lansia memiliki resiko dua kali lebih tinggi untuk mendapatkan efek samping dari interaksi obat.

Perubahan Fisiologis dan Farmakokinesis

Farmakokinetik adalah perjalanan dan nasib obat di dalam tubuh termasuk proses mulai masuknya obat ke dalam tubuh sampai dikeluarkan kembali. Seiring dengan pertambahan usia, terjadi perubahan fungsi fisiologis yang juga berpengaruh terhadap adanya perubahan farmakokinetik obat baik itu distribusi, absorpsi maupun juga eliminasi obat. Mari kita cermati masing-masing.

Absorpsi

Absorbsi merupakan proses penyerapan obat dari tempat pemberian obat sampai sirkulasi sistemik. Pada umumnya obat membutuhkan absorbsi kecuali pada pemberian intravena.

Perubahan dalam hal absorpsi obat pada usia lanjut belum diketahui secara jelas, tetapi tampaknya tidak berubah untuk sebagian besar obat. Keadaan yang mungkin dapat mempengaruhi absorpsi ini antara lain perubahan kebiasaan makan, tingginya konsumsi obat-obat non resep (misalnya antasida, laksansia) dan lebih lambatnya kecepatan pengosongan lambung.

Distribusi

Sesudah diabsorbsi, obat akan didistribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi darah. Para usia lanjut mengalami perubahan distribusi obat. Selain oleh sifat fisiko-kimiawi molekul obat, distribusi dipengaruhi juga oleh komposisi tubuh, ikatan protein plasma, dan aliran darah organ.

Dengan bertambahnya usia, persentase air total dan massa tubuh yang tidak mengandung lemak (lean body mass) menjadi lebih sedikit. Obat yang mempunyai sifat lipofilik (larut dalam lemak namun kurang larut dalam air) yang kecil, misalnya digoksin dan propranolol, menjadi lebih tinggi kadarnya dalam darah, walaupun pada dosis yang lazim untuk dewasa.

Baca juga:  Mengapa Wanita Hidup Lebih Lama Dari Pria?

Biasanya pada lansia juga terjadi perubahan rasio albumin globulin. Penurunan albumin secara mencolok pada usia lanjut umumnya disebabkan oleh menurunnya aktivitas fisik dan dapat juga memberi petunjuk beratnya penyakit sistemik yang diderita, seperti miokard infark akut, penyakit-penyakit inflamasi, dan infeksi berat sehingga obat-obat yang terutama terikat pada albumin akan lebih banyak berada dalam bentuk bebas.

Dengan kata lain, kadar obat-obat tersebut akan meningkat dalam plasma. Molekul obat yang terikat pada albumin adalah yang bersifat asam lemah.

Eliminasi

Terjadinya biotransformasi obat psikotropika berlangsung terutama di hati. Pada usia lanjut, berat dan aliran darah di hati telah mengalami penurunan sebesar 40-45% yang berpengaruh pada obat-obat yang kecepatan biotransformasinya bergantung pada aliran darah hati seperti imipramin, amitriptilin, desipramin dan juga nortiptilin.

Hati berperan penting dalam metabolisme obat. Tidak hanya mengaktifkan obat ataupun mengakhiri aksi obat tetapi juga membantu terbentuknya metabolit terionisasi yang lebih polar yang memungkinkan berlangsungnya mekanisme ekskresi ginjal.

Kapasitas hati dalam metabolisme obat tidak terbukti berubah dengan bertambahnya umur, tetapi jelas terdapat penurunan aliran darah hati yang diduga sangat memengaruhi kemampuan metabolisme obat.

Selain itu, ginjal yang merupakan tempat ekskresi sebagian besar obat, baik dalam bentuk aktif maupun hasil metabolitnya, juga mengalami perubahan fisiologis dan anatomis dengan bertambahnya umur.

Dengan menurunnya kapasitas fungsi ginjal karena usia lanjut, maka eliminasi sebagian besar obat juga akan terpengaruh. Obat-obat yang dimetabolisme ke bentuk aktif, seperti: metildopa, triamteren, spironolakton, oksifenbutazon, levodopa, dan acetoheksamid mungkin akan terakumulasi karena memburuknya fungsi ginjal pada usia lanjut.

Petunjuk Penggunaan Obat

Berbagai studi menunjukkan bahwa terdapat kaitan yang erat antara jumlah obat yang diminum dengan terjadinya efek samping obat. Semakin banyak jenis obat yang diresepkan pada lansia, makin tinggi pula kemungkinan terjadinya efek samping.

Baca juga:  Tips Aman Olahraga dan Fitness Untuk Orang Tua

Secara epidemiologis, 1 dari 10 orang (10%) akan mengalami efek samping setelah pemberian 1 jenis obat. Resiko ini diketahui meningkat sampai 100% jika jumlah obat yang diberikan mencapai 10 jenis atau lebih.

Oleh sebab itu, penggunaan obat-obatan pada lansia patut diperhatikan dengan cermat. Obat-obat yang sering menimbulkan efek samping pada usia lanjut antara lain analgetika, anti-hipertensi, anti-parkinsion, anti-psikotik, sedatif, dan obat-obat gastrointestinal.

Penting untuk mengetahui informasi mengenai pemakaian obat yang sebelumnya perlu ditanyakan, mengingat sebelum datang ke dokter umumnya penderita sudah melakukan upaya pengobatan sendiri. Informasi ini diperlukan untuk mengetahui apakah keluhan/penyakitnya ada kaitannya dengan pemakaian obat (efek samping).

Obat sebaiknya diberikan sesuai diagnosa dan diawasi penggunaannya secara ketat. Penyesuaian dosis secara individual juga perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan efek yang buruk. 

Sebisa mungkin jangan memberikan lebih dari 2 jenis obat. Jika terpaksa memberikan lebih dari 1 macam obat, pertimbangkan cara pemberian yang bisa dilakukan pada saat yang bersamaan.

Perubahan farmakokinetik obat yang dialami para lansia perlu diperhatikan, terutama dalam hal penggunaan psikotropika mengingat adanya kaitan yang sangat erat dengan resiko terjadinya efek samping maupun interaksi obat.

Advertisement
Alinesia