Last Updated on

Tak banyak dari kita mengenal istilah kontraktur dupuytren. Bahkan istilah ini sepenuhnya terdengar asing di telinga kita. Padahal ini merupakan keluhan yang berkaitan dengan otot tangan dan gangguan fungsi telapak tangan yang lazim terjadi pada lansia.

Sebenarnya, keluhan kontraktur dupuytren tidak sedikit menyerang. Akan tetapi, kebanyakan tidak benar-benar menyadari akan keluhan yang muncul dan tidak menindak lanjuti keluhan sama sekali.

Penyakit Kontraktur Dupuytren

Menurut mayoclinic, kontraktur dupuytren adalah keluhan yang berkaitan dengan disfungsi pada jari dan fungsi telapak tangan. Keluhan ini terjadi karena terbentuk jaringan otot yang mengeras tepat di bawah kulit telapak tangan dan menyebabkan otot pada jari-jari tertarik ke dalam. Pada umumnya, keluhan muncul pada usia 50 tahun ke atas.

Pengerasan otot ini menyebabkan jari akan tertekuk ke arah dalam dan kerap kali menyebabkan fungsi jari dan telapak tangan menurun.  Biasanya jari yang terpengaruh kondisi tersebut adalah jari kelingking dan jari manis. Sedang gangguan sejenis pada jari tengah cenderung jarang terjadi. Dan lebih jarang lagi bila terjadi pada jari telunjuk dan ibu jari.

Jaringan otot yang menggumpal dan mengeras akan muncul di permukaan, sehingga sangat mudah dikenali. Sebenarnya dokter akan dengan mudah mendiagnosa kondisi gangguan otot tangan ini dengan hanya diagnosa sederhana.

Mengenali Gejala Kontraktur Dupuytren

Karena penyakit ini muncul pada telapak tangan, maka sebenarnya lebih mudah mengenali gangguan otot tangan ini. Anda dapat mengenali sejak awal  gangguan ini muncul.

Masalah kontraktur dupuytren ini merupakan kondisi yang berkembang secara bertahap dan menahun. Diperlukan waktu yang panjang untuk membuat kondisi gangguan otot tangan ini berkembang menjadi sangat berat.

Pada awal kemunculan penyakit ini, pasien akan menunjukan gejala pengerasan otot yang tipis pada telapak tangan. Kadang pengerasan ini justru disertai dengan cekungan atau lipatan kecil yang membuat kulit terasa tertarik.

Biasanya keluhan pengerasan ini tidak menimbulkan sakit di awal. Hanya terasa sensitif untuk disentuh. Seiring perkembangan penyakit, pengerasan otot semakin kentara dan menebal. Sekilas akan menyerupai keloid pada permukaan kulit telapak tangan.

Gangguan akan semakin terasa ketika pasien mulai kesulitan untuk melebarkan telapak tangan dan meluruskan jemarinya. Karena kontraktur dupuytren ini akan membuat otot jemari tertarik hingga jari akan sulit untuk diluruskan.

Memaksakan jemari untuk diluruskan akan memberi efek nyeri dan linu yang sedikit dalam. Secara umum, pasien sendiri tidak terlalu merasakan nyeri atau sakit, kecuali ada pemaksaan pada otot yang tertahan. Tetapi sejumlah pasien kadang mengeluhkan rasa linu di saat-saat tertentu, seperti ketika bekerja dengan jemari macam menulis atau memijat terlalu panjang.

Apakah Kontraktur Dupuytren Mengganggu kinerja tangan?

Karena gangguan otot tangan ini menyebabkan jari-jari tidak dapat melebar atau diluruskan dengan leluasa. Kadang ini tentu saja menyebabkan sejumlah fungsi dari jemari tangan dan telapak tangan akan menurun.

Dalam beberapa temuan pasien juga mengalami penurunan kekuatan jari tertentu yang terserang efek gangguan otot tangan ini. Akibatnya jari tidak cukup kuat menahan beban sebagaimana mestinya dan sulit bekerja secara motorik halus dengan efektif.

Penyebab Gangguan Otot Tangan  Dupuytren

Dokter dan para medis secara umum sebenarnya belum menemukan kesepakatan mengenai apa penyebab kontraktur dupuytren ini. Ada banyak varian yang mungkin meningkatkan resiko, tetapi penyebab utama dari keluhan telapak tangan ini belum sepenuhnya dipahami.

Baca juga  Tips Aman Olahraga dan Fitness Untuk Orang Tua

Sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengidap kontraktur dupuytren antara lain sebagaimana dijelaskan dalam Medicinet adalah sebagai berikut.

Aspek genetik


Salah satu faktor utama yang dapat meningkatkan resiko seseorang mengidap keluhan kontraktur dupuytren adalah unsur genetik. unsur genetik untuk keluhan ini cukup dominan dan tidak dipengaruhi oleh unsur bawaan dari turunan ayah atau ibu. Unsur ras juga berpengaruh di sini, karena sebagian besar pasien keluhan telapak tangan ini adalah mereka dengan garis keturunan ras kaukasoid atau Eropa.

Aspek gender


Sebagian besar kasus dupuytren menyerang kalangan pria dibandingkan dengan wanita. Secara khusus faktor penyebab kecenderungan ini belum dipahami. Hanya saja, keluhan serupa dengan kontraktur dupuytren pada pria ini juga dapat terjadi pada bagian lain pada tubuh. Seperti pada penis yang juga disebut dengan peynorie.

Aspek usia


Mereka dengan usia 50 tahunan dengan unsur genetik yang kuat memiliki tingkat resiko mengidap masalah kontraktur dupuytren dengan lebih tinggi. karenanya mereka dengan unsur resiko tinggi juga disarankan berhati-hati dari kemungkinan cedera dalam pada telapak tangan.

Diabetes melitus


Rentannya kerusakan jaringan pada pasien diabetes disertai tingginya kemungkinan terjadinya peradangan pada kondisi hiperglikemia diduga menjadi penyebab peningkatan resiko gangguan otot tangan ini pada pasien diabetes melitus. Dalam banyak kasus diabetes sendiri, pasien akan cenderung mudah memiliki jaringan parut dari sisa luka, termasuk jaringan parut pada otot yang menyebabkan keluhan kontraktur dupuytren. sementara itu sejumlah pengobatan diabetes juga dapat memicu pembentukan masalah pada otot.

Gangguan saraf


Mereka yang memiliki masalah kecanduan alkohol atau masalah saraf lain termasuk masalah epilepsi juga cenderung memiliki resiko tinggi mengalami gangguan pada jaringan otot telapak tangan semacam ini. karena efek kejang dan gangguan saraf yang terjadi dapat memicu terbentuknya peradangan pada otot yang menyisakan jaringan parut yang mengeras seperti dupuytren ini.

Peradangan


Dalam kasus terbatas, ditemukan adanya kaitan antara kotraktur dupuytren dengan peradangan yang berawal dari efek tekanan atau pekerjaan berulang pada titik tulang dan otot yang sama. Peradangan ini menyebabkan sejumlah kerusakan pada jaringan ikat telapak tangan dan akhirnya menyisakan jaringan parut yang menonjol dan menarik otot di sekitarnya, termasuk jari tangan. peradangan semacam penyakit ledderhose yang berkaitan dengan radang otot dapat memicu kontraktur dupuytren

telapak tangan dengan dupuytren

Sumber: dupuytrens.org

Jenis Kontraktur Dupuytren

Menurut sumber Dupuytren Research Group (Dupuytren Foundation), dijelaskan ada tiga macam keluhan gangguan otot tangan yang mungkin menyerang. Dan tiga macam keluhan kontraktur dupuytren tersebut adalah.

  • Dupuytren tipe 1

    Jenis gangguan otot tangan ini lebih agresif dan dapat terbentuk dini pada usia dibawah 50 tahun. Jenis gangguan otot tangan ini cenderung berat dan akan berulang meski kontraktur sudah diurai berkali-kali. Pada umumnya, jenis ini memiliki bentuk kontraktur atau simpul yang besar, keras dan berakibat relatif berat terhadap kondisi jari.

    3% kasus dupuytren berkaitan dengan jenis tipe 1. Jenis ini memiliki pengaruh genetik yang sangat kuat. Tetapi juga akan disertai oleh unsur peradangan lain seperti peradangan pada jari dan masalah ledderhose atau peradangan pada otot.

  • Dupuytren tipe 2

    Jenis kontraktur dupuytren ini juga cukup agresif, meski tidak seburuk tipe 1. Dan cenderung akan muncul pada usia lanjut dengan progress lambat. Ada kecenderungan dari efek genetik, tetapi juga akan dikaitkan dengan  efek kegiatan berulang yang bertitik pada tendon tertentu pada telapak tangan.

    Dapat pula muncul akibat efek efek pengobatan diabetes atau hipertensi, efek tingginya kadar kolesterol dalam darah dan faktor-faktor diluar inflamasi serius. Karenanya bila diterapi dengan cepat sebenarnya lebih mudah untuk diatasi dan cenderung lebih lambat untuk kembali kambuh.

  • Dupuytren tipe 3

    Jenis dupuytren ringan ini kadang dominan disebabkan oleh unsur ketiga seperti efek pengobatan atau efek dari kegiatan berulang pada tendon tertentu. Kerusakan tendon atau otot tidak terlalu berat dan kadang tidak terlalu banyak mengganggu fungsi motorik dari telapak tangan.

    Pasien dapat terserang kontraktur dupuytren tanpa efek dari unsur genetik, sehingga perkembangan simpul dan gangguan otot tangan berjalan sangat lambat dan bahkan cenderung tidak berkembang.

Baca juga  Pahamilah Bahwa Kebutuhan Nutrisi Lansia Berubah Seraya Usia Menua!

Terapi untuk Telapak Tangan dengan Dupuytren

Beberapa pakar cenderung akan memilih melewatkan kasus ini dan memandangnya sebagai kondisi bawaan yang tidak serius. Tetapi sebenarnya, kontraktur dupuytren akan menyebabkan gangguan motorik yang cukup signifikan.

Pasien tidak hanya akan mengalami gangguan kesulitan membuka telapak tangan, tetapi gangguan motorik halus macam menulis dan menjahit. Bahkan kadang keluhan gangguan otot tangan ini menyebabkan efek nyeri.

Dan beberapa jenis terapi yang lazim diberikan untuk membantu mengatasi keluhan dupuytren antara lain adalah sebagai berikut.

Terapi jarum


Terapi jarum untuk penderita kontraktur dupuytren bukan dilakukan sebagaimana terapi akupuntur. Karena terapi ini dilakukan lebih untuk melepas jaringan ikat yang mengeras dan menyimpul.

Terapi dilakukan dengan memasukan jarum kecil tepat di bawah permukaan kulit telapak tangan menuju arah simpul jaringan terbentuk. Jarum akan bekerja membuka dan memisahkan ikatan otot yang terbentuk.

Terapi ini banyak dipilih karena merupakan jenis tindakan ringan tanpa sayatan di permukaan kulit dan tanpa memerlukan perawatan pasca operasi yang rumit. Tindakan dapat dilakukan berulang pada pasien dan cenderung pula mudah untuk diterapkan.

Hanya saja, kebanyakan pasien akan mengalami gangguan serupa yang berulang, karena otot yang mengeras sebenarnya tidak hilang, hanya simpulnya saja yang terlepas dan tetap mungkin untuk kembali menyimpul. Pada beberapa titik tendon, terapi ini justru akan menyebabkan gangguan otot tangan memburuk.

Injeksi steroid


Steroid atau dikenal pula dengan kortikosteroid adalah sejenis enzim  yang bekerja mengendalikan sistem tubuh terhadap inflamasi. Steroid akan bekerja sebagai anti inflamasi atau mencegah dan mengatasi terbentuknya peradangan.

Tindakan suntikan steroid sebenarnya hanya akan efektif pada kondisi kontraktur dupuytren stadium awal ketika simpul dan pengerasan otot tangan masih berukuran kecil.

Baca juga  Ingin Tetap Aktif Sampai Tua? Ayo Jaga Kesehatan Sendi Anda!

Ketika gangguan otot tangan ini membesar, steroid tidak akan memberi manfaat signifikan. Karenanya, kerap kali tindakan terapi berupa suntikan steroid ini diberikan pada tahap awal sebelum kondisi kontraktur dupuytren meluas dan semakin berat.

Kinerja enzim ini adalah dengan mencegah terbentuknya peradangan yang memungkinkan terjadinya pembengkakan dan terbentuknya jaringan parut pada otot yang nantinya memicu pengerasan dan pembentukan simpul yang berat.

Injeksi enzim


Terapi ini juga termasuk banyak disarankan oleh kalangan medis mengingat mudahnya terapi ini untuk diterapkan pada keluhan telapak tangan ini. Terapi akan dilakukan dengan menyuntikan sejenis enzim pada titik simpul otot untuk melemahkannya.

Pada umumnya jenis enzim yang diberikan memiliki komponen kolagen di dalamnya, yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan collagenase Clostridium histolyticum (Xiaflex). Komponen colagen akan membantu juga memperbaiki kerusakan jaringan ikat akibat gangguan otot tangan ini.

Dengan melemahkan otot dan tendon pada telapak tangan yang terganggu, maka dokter akan lebih mudah untuk melepas simpul dan menahannya supaya tidak kembali lagi. Kadang terapi ini dilakukan dengan dipadukan bersama terapi lain yang secara teknis akan lebih langsung bekerja melepas simpul dan pengerasan otot.

Pembedahan telapak tangan


Ini kerap menjadi pilihan terakhir yang harus dilakukan secara medis untuk membantu mengatasi masalah kontraktur dupuytren. Biasanya pilihan pembedahan dilakukan ketika kondisi simpul atau pengerasan sudah relatif berat dan melebar, sehingga sulit untuk diurai dengan cara tanpa pembedahan.

Tindakan pembedahan kerap kali didahului dengan terapi untuk melunakan dan melemaskan otot sehingga memudahkan proses pembukaan simpul. Sekaligus membantu mengembalikan ruang gerak jari pada kondisi normal.

Namun, kerap kali pembedahan dilakukan bukan untuk mengurai simpul otot, melainkan untuk memotong jaringan yang mengeras dan menggelung. Karena pada kondisi tertentu, jaringan yang mengeras akan cukup mustahil untuk diurai.

Pada beberapa kondisi, tindakan pembedahan dapat menyebabkan pasien mengalami masalah pasca operasi. Beberapa masalah yang mungkin muncul adalah efek kebas karena sejumlah titik saraf terpaksa turut diambil karena terikat bersama dengan otot yang tersimpul.

Atau kadang dalam kondisi lebih berat, pasien akan kesulitan mengendalikan gerak motorik halus dari jemari tangannya. Juga karena sejumlah jaringan saraf motorik turut hilang bersama dengan otot yang diangkat.

Penarikan


Tindakan penarikan atau peregangan adalah cara yang lazim dilakukan pasca operasi pembedahan atau pasca terapi jarum. Peregangan akan membantu mempertahankan jari-jari untuk tetap dapat terbuka dan mencegah simpul yang sudah berhasil dibuka supaya tidak kembali terbentuk.

Biasanya terapi penarikan ini harus dilakukan pasca tindakan yang tidak memotong jaringan simpul tetapi sekedar mengurai. Karena ketika jaringan terurai, sebenarnya bagian yang memelintir dan mengeras tidak hilang, sehingga sangat mungkin untuk kembali menyimpul. Dengan menahan dan meregangkan otot maka pembentukan simpul baru dapat dicegah.

Untuk proses ini telapak tangan akan dijalinkan pada penahan dalam kondisi terbuka dan lurus. Proses peregangan akan dipertahankan sampai luka pasca operasi dinyatakan sembuh.

Beberapa dokter dapat memberikan terapi peregangan ini tanpa operasi. Hanya saja, tindakan peregangan pada kondisi semacam ini dapat beresiko menyebabkan efek tendon yang sobek bila dilakukan tanpa perhitungan yang tepat.

kontratur dupuytren

Sumber: 123rf

Penyakit kontraktur dupuytren belum dipahami betul penyebabnya dan karenanya masih belum dipahami pula bagaimana pencegahannya. Aspek genetik memiliki peran besar dalam masalah gangguan otot tangan ini. Perhatikan dengan baik setiap perubahan pada permukaan telapak tangan Anda untuk mengenali keluhan sedini mungkin. Karena penanganan pada tahap dini akan lebih mudah.