Hubungan Hipertensi dengan Riwayat Keluarga

588
Hubungan Hipertensi dengan Riwayat Keluarga
Sumber Gambar: Shutterstock

Diedit:

Ketahuilah bahwa Anda berisiko mengalami hipertensi jika orangtua mengalami penyakit tersebut. Lalu, seberapa besar dampak hubungan hipertensi dengan riwayat keluarga? Apa kaitan ataupun ikatan antara hipertensi dengan riwayat keluarga? Mungkinkah pengaruh hipertensi dengan riwayat keluarga dihindari?

Berikut merupakan beberapa hasil penelitian berdasarkan pengamatan pada para partisipan yang memiliki riwayat keluarga pengidap hipertensi. Ketahuilah, sekalipun Anda berisiko mengalami hipertensi, bukan berarti Anda positif mengalami hipertensi berdasarkan riwayat keluarga. Maka cobalah untuk memerhatikan kondisi kesehatan Anda sejak dini.

Hubungan Hipertensi dengan Riwayat Keluarga

Penyakit kardiovaskular adalah penyakit yang paling banyak merenggut nyawa penduduk Indonesia, salah satunya ialah hipertensi. Hipertensi terjadi manakala tekanan darah sistolik mencapai batas 140 mm Hg lebih, sedangkan tekanan darah diastolik melebihi 90 mm Hg. Sebuah penelitian dilakukan untuk mengetahui pengaruh hipertensi setelah melakukan olahraga isotonik yang dilakukan oleh orang dewasa muda normotensif dengan riwayat keluarga penderita hipertensi.

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode semi experimental mixed design. Awalnya dikumpulkan sejumlah partisipan sebanyak 45 orang yang kemudian dibagi menjadi dua kelompok, yaitu; kelompok pertama sebanyak 23 orang dengan riwayat keluarga pengidap hipertensi. Sedangkan, kelompok dua sebanyak 22 orang tidak memiliki riwayat keluarga hipertensi. Semua partisipan diharuskan melakukan olahraga isotonik dengan menggunakan sepeda ergometer selama 6 menit.

Kemudian pengukuran tekanan darah sistolik, diastolik, dan frekuensi denyut nadi dilakukan. Hal ini dilakukan sebelum, saat, bahkan setelah berolahraga. Hasilnya, Didapati adanya perbedaan yang signifikan antara kedua kelompok terhadap “frekuensi denyut nadi”, yaitu; sebelum (p=0,004), saat (p=0,005), dan setelah berolahraga (0,002). Serta adanya peningkatan “tekanan darah sistolik” (p=0,030). Namun tidak ditemukan perbedaan yang signifikan sehubungan dengan “tekanan darah sistolik” maupun “tekanan darah diastolik.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hubungan hipertensi dengan riwayat keluarga mempengaruhi frekuensi denyut nadi serta peningkatan tekanan darah sistolik terhadap orang dewasa muda. Semakin dekat riwayat keluarga, misalnya; kerabat tingkat pertama—seperti orang tua atau saudara kandung, maka akan semakin besar risikonya. Namun, riwayat hipertensi pada kerabat yang bahkan lebih jauh—seperti bibi, paman, atau kakek-nenek, juga dapat meningkatkan risiko Anda.

Hipertensi: Penyakit Turunan Dengan Risiko Serangan 150%

Sebuah penelitian yang dipublikasikan di Archives of Internal Medicine berhasil menunjukkan hubungan antara hipertensi dengan riwayat keluarga. Hal ini dilandasi dengan adanya teori yang mengatakan bahwa jika Anda terlahir dari kedua orangtua yang mengidap hipertensi, maka kemungkinan besar Anda akan dapat mengidap hipertensi. Kemungkinan komplikasi hipertensi 2 kali lebih besar dibandingkan mereka yang orangtuanya tidak memiliki riwayat hipertensi ataupun hanya salah satu saja.

Baca juga:  Waspadai Dampak Hipertensi Pada Kehamilan

Teori tersebut menyulut perhatian para peneliti untuk membuktikannya, maka beberapa peneliti dari Universitas John Hopkins melakukan pengamatan terhadap 1000 partisipan pria selama kira-kira 54 tahun lamanya. Penelitian dimulai sejak partisipan berusia remaja, sepanjang hidup mereka. Hasil penelitian memperlihatkan risiko hipertensi yang sama besar terhadap mereka yang memiliki riwayat kedua orangtua ataupun salah satu sebagai penderita hipertensi.

Hasil pengamatan tetap memperlihatkan adanya keterkaitan antara hipertensi dengan riwayat keluarga, sekalipun partisipan mengalami peningkatan aktivitas, frekuensi merokok, hingga berat badan. Hal yang menarik dari hasil pengamatan ini ialah persentase risiko hipertensi yang didapat dari ibu pengidap hipertensi ialah 50%, sedangkan ayah pengidap hipertensi mencapai 80%. Artinya, seorang pria yang mengalami hipertensi cenderung memiliki keturunan sebagai pengidap hipertensi—fakta ini menjadi kejutan bagi para peneliti.

Para peneliti menyimpulkan apabila kedua orangtua mengidap hipertensi, maka ada sebesar 130% bagi sang Anak untuk mengidap hipertensi. Kesimpulan ini tanpaknya membenarkan topik yang menyebutkan bahwa riwayat keluarga merupakan salah satu faktor hipertensi yang tidak bisa dikendalikan.

Hipertensi—Keterkaitan Antara Gen dan Etnis

Studi kohort terhadap partisipan yang berasal dari Belanda, Suriname Asia Selatan, Suriname Afrika, Ghana, Turki, dan Maroko yang berusia 70 tahun ke bawah dilakukan. Para partisipan hipertensi (n = 6467), dinilai menggunakan regresi logistik guna mengetahui hubungan hipertensi dengan riwayat keluarga penyakit kardiovaskular ataupun stroke. Untuk mendeteksi perbedaan etnis, maka dilakukanlah interaksi analisis terhadap sejumlah etnis dan riwayat keluarga.

Riwayat keluarga diduga berkaitan erat terhadap prevalensi yang lebih tinggi terhadap kasus penyakit kardiovaskular non-stroke dan stroke. Hubungan yang paling kuat sehubungan dengan riwayat keluarga dengan penyakit kardiovaskular non-stroke sering ditemukan di antara orang-orang Belanda. Sedangkan, risiko serangan stroke terkait dengan hipertensi lebih sering terjadi pada orang Surinam Afrika.

Baca juga:  Waspadai Dampak Hipertensi Pada Jantung

Pada populasi multietnis pasien hipertensi, riwayat keluarga yang positif dari penyakit kardiovaskular dapat digunakan secara klinis untuk mengidentifikasi individu-individu yang berisiko tinggi terhadap penyakit kardiovaskular non-stroke tanpa memandang asal etnis. Itulah salah satu kaitan atau ikatan hubungan hipertensi dengan riwayat keluarga terkait dengan etnis.

Hipertensi—Keterkaitan Antara Gen dan Perilaku

Selain itu, terdapat teori menarik lainnya yang menyebutkan bahwa stres berkaitan erat dengan kasus hipertensi. Misalnya ada pendapat yang mengatakan bahwa penderita hipertensi tidak boleh mengalami stres yang dapat memperburuk kondisi hipertensi yang dialaminya dan akan memengaruhi kesehatan jantung. Berdasarkan pengamatan peneliti dari Universitas North Carolina, Karen M. Grewen, Ph.D, menjelaskan penyebab adanya keterkaitan tersebut ialah kombinasi antara gen, perilaku yang diajarkan, lingkungan, dan faktor sosial di keluarga tersebut.

Disimpulkan bahwa hipertensi dan depresi atau stres saling terkait hanya pada orang dengan riwayat keluarga hipertensi. Orang-orang yang tidak memiliki orang tua dengan riwayat hipertensi tidak menunjukkan keterkaitan antara hipertensi dan depresi. Hasil penelitian ini kemudian dipublikasikan di sebuah jurnal bernama Psychomatic Medicine. Meskipun fakta menunjukkan bahwa memang benar ada keterkaitan antara riwayat keluarga dengan tingginya resiko hipertensi, namun ini merupakan sesuatu yang tak bisa dikontrol.

Walau demikian tak perlu panik jika mengetahui bahwa orangtua atau salah satu keluarga besar Anda mengidap hipertensi. Anda mungkin tidak bisa mengontrol gen, tetapi Anda bisa mengontrol aktivitas Anda untuk terhindar dari hipertensi. Cara terbaik untuk melindungi diri Anda dari hipertensi ialah tidak merokok, berolahraga rutin, dan menjaga berat badan. Lengkapi asupan nutrisi harian Anda dengan herbal hipertensi.

Maka, saatnya bagi Anda untuk bertindak dan hentikan dampak hubungan hipertensi dengan riwayat keluarga. Mengingat kaitan ataupun ikatan antara hipertensi dengan riwayat keluarga cukup kuat, mulailah untuk melakukan tindakan pencegahan hipertensi. Sehingga, dampak pengaruh hipertensi dengan riwayat keluarga dihindari.


Luca Valerio, Ron J. Peters, Aeilko H. Zwinderman  dan Sara‐Joan Pinto‐Sietsma. Association of Family History With Cardiovascular Disease in Hypertensive Individuals in a Multiethnic Population. 21 December 2016. URL: https://www.ahajournals.org/doi/10.1161/JAHA.116.004260.


Advertisement
Alinesia