Benarkah Isu Mengenai Bahaya Imunisasi Anak?


By Cindy Wijaya

Banyak orang tua muda yang dibuat bingung ketika sudah berhadapan dengan masalah imunisasi. Gencarnya pemberitaan yang bertebaran di dunia maya, bahkan juga dimuat dalam beberapa tabloid mengenai bahaya imunisasi kerap membuat orang tua ragu untuk memberikan imunisasi untuk anak mereka. Sedang hingga kini para dokter terus memberikan saran untuk rutin menjalankan imunisasi sesuai jadwal. Manakah yang benar?

Sebenarnya isu mengenai bahaya imunisasi ini adalah sebuah gerakan yang sudah lama muncul, sekitar 1 – 2 dekade terakhir dengan berbagai dalih. Tetapi sebagian besar sebenarnya adalah bentuk pemasaran hitam dari beberapa produk herbal dan teknik politik internasional yang melemparkan kesalahan dan permusuhan pada kelompok-kelompok tertentu.

Demikian penjelasan dari Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Dr. Badriul Hegar, Sp.A (K) tahun 2012. Beliau mengatakan bahwa kebanyakan sumber informasi yang digunakan sebagai referensi sebenarnya sudah tidak kuat dan terbantahkan oleh penelitian terbaru.

Menurut data yang dapat Anda akses langsung dari WHO, dikatakan bahwa justru berkat program imunisasi, kini banyak negara di dunia yang bisa menyatakan resmi bebas dari berbagai penyakit berbahaya. Beberapa jenis penyakit yang pada tahun 60-an sampai 70-an masih mewabah merata di dunia (seperti pertusis dan kolera), kini hanya ditemukan dalam kasus yang terbatas tak lebih dari 10% populasi dunia.

Justru dalam satu data yang diperoleh dari catatan Departemen Kesehatan RI pada kasus wabah polio pada tahun 2003 – 2006 di kawasan Sukabumi akibat efek gerakan anti-imunisasi yang sempat merebak di kota ini saat itu. Efeknya justru terjadi peningkatan kasus polio hingga 40% dan sekitar 300-an pasien anak terpaksa mengalami cacat permanen.

Bagaimana Vaksin Dibuat?

Menarik memang, menurut Dr. Badriul kebanyakan penulisan yang menyampaikan mengenai bahaya imunisasi menggunakan rujukan penulisan yang sebenarnya sudah tidak update. Termasuk mengenai isu pembuatan vaksin dengan media hewan hidup yang dijadikan bernanah sebagai materi utama vaksin.

Cara itu diakui kebenarannya oleh Dr. Badriul, tetapi sebagai metode awal pembuatan vaksin pada awal tahun 60an. Namun kini metode ini sudah jauh disempurnakan dan tidak ada lagi metode lama dengan bahan-bahan yang kemurnian kandungan dan kondensitasnya tidak bisa dipastikan termasuk nanah.

Beberapa memang masih menggunakan bahan hewani sebagai media pembentukan, tetapi tidak lagi dengan teknik yang sama, karena demi keamanan dan efektifitas diperlukan vaksin dengan kandungan yang tetap sama untuk setiap mililiternya.

Perlu dipastikan imunisasi tidak rentan kontaminasi materi atau senyawa lain yang dikhawatirnya mempengaruhi kemampuan kerja vaksin. Sehingga materi hewani yang digunakan kini hanya berupa senyawa protein khusus dari hewan-hewan yang dinyatakan aman dan halal.

Imunisasi Tidak Menyebabkan Cacat Otak Dan Autisme

Beberapa pendapat mengatakan adanya kaitan asupan vaksin dengan peningkatan kasus cacat otak pada anak dan kasus autisme. Sebenarnya riset utama yang menjadi dasar pendapat ini juga sudah tidak kuat lagi karena sudah dibatalkan.

Baca Juga:  Cara Merawat Gigi Lunak Sang Buah Hati

Riset yang dikembangkan oleh seorang ahli bedah bernama dr Wakefield pada tahun 1998 mengenai efek vaksin MMR terhadap kemunculan gejala autisme sudah digagalkan oleh badan Vaccine Research Center Austria dan juga dinyatakan batal oleh British Medical Journal Februari 2011.

Selain itu, Dr. Baidrul juga mengakui mengenai adanya beberapa bahan vaksin yang mengandung jenis merkuri. Merkuri ini sifatnya untuk mempertahankan sifat dan karakter dari vaksin. Tetapi bila kemudian merkuri dalam vaksin menjadi kambing hitam dalam beberapa kasus kecacatan otak pada anak, maka itu tidak bisa dibenarkan. Menurut Dr. Baidrul jumlah merkuri dalam vaksin bahkan hanya sekitar 2 mcg, sedangkan menurut WHO batas bahaya asupan merkuri bagi tubuh ialah 159 mcg.

Imunisasi Bebas Bahan Kimia Berbahaya

Isu soal keberadaan senyawa kimia dalam imunisasi rupanya tidak hanya tentang kandungan merkuri belaka. Tetapi juga berbagai jenis senyawa lain seperti alumunium, fenol dan lain sebagainya. Benarkah sebuah itu sedemikian berbahaya sehingga merusak tubuh.

Dalam kadar ringan, rupanya bahkan senyawa logam seperti alumunium dibutuhkan tubuh dan ditoleransi tubuh tanpa akan memberi efek negatif terhadap tubuh. Beberapa jenis bahan kimia pengikat yang berasal dari bahan nabati dan hewani juga dianggap cukup aman untuk masuk dalam darah dengan efek samping sangat minimal.

Tidak benar kalau vaksin juga dikatakan menyebabkan beberapa kasus kematian. Karena data yang banyak digunakan seperti dari Vaccine Adverse Event Reporting System (VAERS) FDA Amerika tahun 1991-1994, tidak dibaca dengan cara yang tepat sehingga memberi kesan FDA mengabaikan fakta kematian karena imunisasi.

Data diatas bukan data kematian, tetapi data reaksi seperti alergi, muntah, dan demam. Angka tersebut juga hanya berada di bawah 1 % dari total penerapan vaksin pada anak. Sementara hingga kini asupan vaksin masih menjadi program wajib kesehatan Amerika.

Baca Juga:  Tindakan Tepat Saat Anak Demam!

Jadi jangan dengan mudah termakan oleh isu-isu seputar bahaya imunisasi. Karena sebenarnya dibalik pemberitaan negatif ini justru tersimpan sederet manfaat penting untuk kesehatan buah hati dalam jangka panjang.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}