Benarkah Diet Bebas Garam Itu Baik?

482

Diedit:

Dalam banyak ulasan dan beberapa riset dewasa ini, muncul informasi mengenai bahaya garam bagi kesehatan. Hal ini memicu munculnya berbagai ide diet bebas garam yang diklaim bukan hanya baik untuk mengurangi berat badan, tapi juga membantu memperbaiki sekaligus mencegah berbagai keluhan kesehatan terkait degeneratif atau penurunan kondisi.

Bahaya garam sering disamakan dengan efek pemberian taburan garam dalam sewadah darah segar sapi. Setelah beberapa waktu darah segar sapi yang baru saja ditaburi garam akan mengental. Tidak hanya mengental, tetapi juga menggumpal dan menyerupai gel.

Tak dipungkiri garam memang memiliki efek serupa bila ditaburkan pada darah manusia secara langsung. Itu karena dalam garam terkandung sifat pembekuan darah yang kuat sebagai efek dari kandungan iodium didalamnya. Anda sendiri tentu pernah mendengar bagaimana seseorang yang terluka sering diberi tetesan “obat merah” yang sebenarnya tak lain adalah iodium—luka segera mengering dan perdarahan segera berhenti.

Tetapi ketika Anda mengonsumsi makanan bergaram, sebenarnya tidak seluruhnya dari garam ini masuk dalam darah. Sebagian besar garam diserap oleh tubuh untuk membantu berbagai proses dalam tubuh. Itu sebabnya garam beserta kandungan senyawa di dalamnya sebenarnya tetap sangat diperlukan tubuh.

Menurut WHO, manusia dewasa membutuhkan setidaknya 1500 sampai 2300 miligram garam setiap harinya. Garam dibutuhkan untuk membantu melancarkan fungsi dari kelenjar tiroid, membantu fungsi kardiovaskular, dan membantu proses penyembuhan luka serta pembekuan darah.

Selain Iodium, ada juga senyawa Sodium dalam garam yang juga berperan besar dalam menjaga keseimbangan hormonal dan membantu mengendalikan adrenalin. Ini membantu mencegah serangan jantung, selama dalam porsi konsumsi garam yang wajar.

Garam sendiri adalah salah satu sumber ion seperti natrium dan klorida yang membantu tubuh tetap segar selama Anda berkeringat. Garam memang membuat haus, tetapi campuran sejumput garam dan gula atau madu yang dilarutkan dalam air dapat menutupi efek keringat berlebihan yang menyebabkan tubuh kekurangan cairan. Itu pula sebabnya penting menambahkan asupan yang dikenal sebagai larutan oralit ini untuk membantu mengatasi efek dehidrasi pada pasien diare.

Jadi tidak selamanya bijak mengatakan diet bebas garam adalah metode diet yang sehat. Perlu pertimbangan matang untuk benar-benar memilih diet ini. Terutama bila selama ini Anda termasuk penggemar makanan berkadar garam dan sodium tinggi melebihi 2300 miligram sehari.

Bahkan dalam sebuah riset yang pernah diulas oleh web empowersustenance disampaikan bahwa pentingnya garam bagi tubuh sehingga ketika Anda mengonsumsi garam di bawah 1500 miligram selama 1 minggu malah bisa menyebabkan terjadinya masalah penurunan fungsi akut yang bisa membawa kematian. Beberapa kasus serangan jantung justru terjadi ketika pasien menjalankan diet bebas garam berlebihan dalam jangka panjang.

Garam mengandung beberapa mineral yang menguatkan ikatan antar sel darah. Ketika darah mengalami kekurangan garam, maka ikatan antar sel menjadi kurang kuat, akibatnya darah menjadi sulit dipompa oleh jantung dan membuat jantung bekerja ekstra.

Jadi bila Anda tertarik dengan diet bebas garam, sebaiknya pastikan dulu kondisi tubuh Anda apakah memang membutuhkan pola diet tersebut. Jangan sampai diet Anda malah menciptakan masalah baru untuk kesehatan.

Baca juga:  Diet Tepat Untuk Menyeimbangkan Hormon

Alihkan kebutuhan sumber mineral dan ion dengan makanan alternatif sehingga Anda tidak mengalami keluhan karena kekurangan kadar garam dalam tubuh. Lakukan diet bebas garam dalam periode yang pendek, maksimal 2 minggu, karena bagaimanapun tubuh Anda tidak akan bertahan tanpa garam terlalu lama. Atau pilihlah menu dengan kadar garam terbatas ketimbang sepenuhnya mengonsumsi makanan bebas garam.

Advertisement
Alinesia