Ternyata Diet Rendah Garam Juga Ada Efek Sampingnya?

211

Diedit:

Selama ini Anda sengaja mengurangi atau bahkan sama sekali tidak konsumsi garam karena takut tensi kembali naik. Rupanya menderita hipertensi bukan berarti harus berhenti mengonsumsi garam. Meskipun diminta untuk menghindari sama sekali, tetapi itu dalam jangka sangat pendek hanya untuk penanganan hipertensi secara cepat.

Karena bagaimanapun juga tubuh membutuhkan garam. Komponen utama garam, yakni natrium, memang menjadi salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya tekanan darah. Tetapi bila kekurangan natrium, justru tubuh akan mengalami gangguan-gangguan yang bukan mustahil dapat berakibat fatal.

Yang jelas, pembatasan asupan garam demi kestabilan tekanan darah sudah terbukti berdasarkan sejumlah studi. Misalnya pada studi yang dijurnalkan The New England Journal of Medicine tahun 2001 dengan judul ‘Effects on blood pressure of reduced dietary sodium and the Dietary Approaches to Stop Hypertension (DASH) diet. DASH-Sodium Collaborative Research Group.’

Menurut sumber National Institutes of Health tahun 2011 yang bertajuk ‘The importance of population-wide sodium reduction as a means to prevent cardiovascular disease and stroke: a call to action from the American Heart Association’, orang dewasa dalam kondisi normal sebaiknya mengonsumsi garam (natrium) hanya pada dosis maksimal 2300 mg per hari. Sedangkan mereka yang memiliki masalah dengan tekanan darah hanya boleh maksimal sekitar 1500 mg per hari.

Sejumlah pandangan lain mengatakan tubuh orang dewasa sehat usia produktif yang aktif secara fisik bisa membutuhkan asupan natrium hingga 3.500 mg per hari, bahkan olahragawan mungkin butuh 5000 mg per hari. Ini mencapai angka kisaran 7.5 – 12.5 gram dari porsi garam meja yang biasa digunakan sebagai sumber natrium.

Dalam penjelasan itu dikatakan bahwa berhenti konsumsi garam bukan langkah yang disarankan. Karena rupanya ketika tubuh kekurangan natrium, maka kondisi elektrolit dalam tubuh juga akan mengalami gangguan keseimbangan. Hal ini dapat memicu berbagai keluhan kesehatan.

Termasuk yang terburuk adalah hiponatremia yakni ketika kadar natrium dalam darah pada level sangat rendah. Kondisi ini terjadi akibat kombinasi dari kebanyakan minum air, diet tanpa garam, dan ekskresi natrium berlebihan melalui keringat (misalnya setelah olahraga berat).

Kondisi hiponatremia bisa menyebabkan efek kejang, kehilangan kesadaran, pembengkakan pada jantung serta otak, serangan jantung, koma, bahkan yang terburuk bisa menyebabkan kematian. Anda bisa mendapatkan informasi lengkap seputar Hiponatremia pada Indian Journal of Endocrinology and Metabolism tahun 2014 dalam jurnal bertajuk ‘Hyponatremia: A practical approach.’

Baca juga:  Mengenal Lebih Baik Apa Itu Glikogen

Sementara itu, selain hiponatremia, sejumlah keluhan kesehatan serius lain bisa saja menghampiri apabila natrium tubuh berada dalam kadar yang terlalu rendah. Di antaranya adalah:

Kerusakan pada Fungsi Saraf

Tubuh membutuhkan elektrolit yang seimbang demi menjaga fungsi saraf, baik saraf pusat maupun saraf tepi. Karenanya peran natrium sebagai salah satu komponen elektrolit tubuh akan sangat penting untuk menjaga kesehatan fungsi saraf.

Dan bila keseimbangan cairan tubuh terganggu lalu kadar elektrolit kehilangan keseimbangannya, maka akan muncul gangguan pada fungsi saraf. Dalam jangka pendek gangguan yang terjadi bisa berupa masalah dalam konsetrasi, kepala terasa pening, dan rasa mual.

Namun dalam jangka panjang kondisi ini bisa menyebabkan seseorang mulai mengalami efek halusinasi, kesulitan berkomunikasi, sampai kehilangan kesadaran. Kadang masalah elektrolit ini juga memengaruhi emosi dan mood karena juga bekerja pada fungsi kinerja hormonal pada tubuh.

Ketidakseimbangan elektrolit juga akan mengganggu sirkulasi darah dari dan menuju otak. Adakalanya ini mengakibatkan terbentuknya endapan air pada otak—kondisi ini bisa mengacu pada kerusakan otak yang lebih serius.

Memengaruhi Kadar Glukosa

Menurunnya level natrium dalam darah terbukti dalam sejumlah riset berpengaruh meningkatkan resistensi terhadap insulin. Ini dijelaskan dalam jurnal Metabolism; Clinical and Experimental tahun 2011 pada jurnal ‘Low-salt diet increases insulin resistance in healthy subjects.’

Pada dasarnya ada mekanisme berkesinambungan ketika sel membutuhkan energi atau sewaktu kadar glukosa meningkat, maka pankreas akan menghasilkan insulin yang berfungsi menghasilkan sinyal bagi sel untuk menarik glukosa dari darah. Glukosa sendiri adalah komponen utama bagi sel untuk menghasilkan energi.

Bila tubuh mengalami resistensi terhadal sinyal insulin, maka sel akan mengalami krisis energi dan kadar glukosa akan meningkat yang keduanya mengacu pada kondisi diabetes dan serangan jantung. Itu sebabnya penting menjaga kadar natrium pada batas moderat.

Karena natrium akan mengaktifkan senyawa renin-angiotensin-aldosteron dan memengaruhi kinerja sistem saraf simpatik pada tubuh. Keduanya bekerja mengurangi kemampuan sel merespon sinyal dari insulin.

Namun para pasien diabetes juga disarankan mengendalikan asupan garam. Karena dikhawatirkan naiknya kadar natrium akan memicu terjadinya hipertensi, yang akan memperburuk kondisi kesehatan pasien.

Berdampak Buruk Bagi Kesehatan Jantung

Dikatakan bahwa mereka yang hipertensi dan punya masalah jantung disarankan mengendalikan asupan garam. Diet rendah garam memang penting untuk menurunkan tekanan darah, tetapi sebenarnya pengaruhnya akan berbeda terhadap fungsi jantung.

Baca juga:  Tips Diet Sehat: Atasi Hormon Lapar Anda

Justru mereka yang punya masalah jantung tidak disarankan memiliki kadar natrium rendah. Karena gangguan keseimbangan elektrolit akan menganggu komposisi darah dan menyebabkan fungsi jantung juga akan terganggu. Lebih buruk lagi, bisa menyebabkan kematian mendadak dari serangan jantung dengan peningkatan risiko yang mencapai 160 persen.

Penjelasan ini sebagaimana dijabarkan dalam American Journal of Hypertension tahun 2011 dengan tajuk jurnal ‘Reduced dietary salt for the prevention of cardiovascular disease: a meta-analysis of randomized controlled trials (Cochrane review).’

Agak rumit memang, sebab harus melakukan pola diet terukur, dimana Anda perlu memastikan kadar natrium dalam tubuh tetap pada batas wajar. Jika terlalu tinggi akan berbahaya dan sama berbahayanya bila terlalu rendah.

Meningkatkan Kadar Kolesterol LDL dan Trigliserida

Mengonsumsi makanan kaya lemak jenuh seperti gorengan, susu berlemak, daging-dagingan merah, serta jeroan adalah penyebab utama naiknya kadar kolesterol LDL dan trigliserida (cadangan lemak) dalam tubuh. Mungkin kalau yang satu ini Anda sudah cukup memahaminya.

Tapi siapa yang sangka sesuatu yang kerap dipandang musuh seperti natrium justru bisa memicu naiknya kadar LDL dan trigliserida? Ini terjadi bila kadar natrium dalam tubuh menjadi relatif terlalu rendah.

Ketika kadar natrium dalam tubuh terlalu rendah, maka seseorang bisa mengalami risiko kenaikan level kolesterol LDL hingga 4.6 persen dan kenaikan trigliserida mencapai 5.9 persen. Ini dijelaskan dalam jurnal The Cochrane Database of Sysmatics Review tahun 2003 dengan judul ‘Effects of low sodium diet versus high sodium diet on blood pressure, renin, aldosterone, catecholamines, cholesterols, and triglyceride.’ Pada riset lanjutannya tahun 2011 bahkan dikatakan bahwa kadar kenaikan trigliserida mencapai 7 persen.

Bagi mereka yang gampang mengalami hipertensi, memang disarankan mengendalikan asupan garam hingga sampai kadar moderat-rendah. Tetapi bagi Anda yang kondisinya normal, biasanya hanya disarankan untuk membatasi garam secukupnya.

Sesuaikanlah asupan garam harian dengan pola aktivitas fisik Anda setiap hari. Semakin aktif Anda secara fisik, maka semakin besar juga kebutuhan tubuh akan garam. Diet rendah garam dalam jangka pendek masih memberi manfaat baik, tetapi tidak boleh lebih dari 2 minggu. Dengan catatan Anda tidak diet tanpa garam sama sekali, hanya diet rendah garam.