7 Tanaman Pencegah Kanker yang Ada di Indonesia

125
Kunyit, Tanaman Pencegah Kanker
Kunyit, Tanaman Pencegah Kanker (© Pinkomelet | Dreamstime.com)

Diedit:

Kita semua tahu bahwa kanker adalah penyakit yang ganas dan sulit diobati, pasti kita tidak mau terkena penyakit ini. Oleh sebab itu ada yang perlu kita lakukan agar tidak sampai terkena kanker, apa itu? Salah satu yang dapat diupayakan adalah mengonsumsi tanaman yang terbukti sebagai pencegah kanker. Di Indonesia tersedia beragam tumbuh-tumbuhan pencegah kanker yang bisa dengan mudah kita peroleh.

Dalam artikel ini akan diulas sejumlah jenis tanaman yang punya kemampuan untuk kemoprevensi kanker. Kemoprevensi kanker ialah upaya penggunaan bahan sintetik maupun alami, baik tunggal ataupun campuran, untuk mencegah, menghambat, menunda, atau menyembuhkan kanker. Tumbuh-tumbuhan yang diulas di artikel ini terbukti memiliki kandungan bioaktif dengan manfaat kemoprevensi kanker.

Tanaman Pencegah Kanker 1: Kunyit

Kunyit atau kunir (Curcuma longa) memiliki kandungan senyawa utama bernama curcumin. Manfaat anti kanker dari curcumin terlihat dari kemampuannya untuk menginduksi apoptosis (kematian terprogram) pada sel-sel kanker, tanpa memengaruhi sel-sel yang masih sehat.

Curcumin juga mengendalikan pertumbuhan sel-sel tumor melalui beberapa jalur pensinyalan sel, termasuk jalur proliferasi sel, jalur kelangsungan hidup sel, jalur aktivasi caspase, jalur penekan tumor, jalur reseptor kematian, jalur mitokondria, dan jalur protein kinase.

Senyawa ini menghambat p65 dan invasi sel dengan cara menurunkan regulasi dari COX-2 dan MMP-2; melalui penekanan ekspresi gen EGFR dan modulasi pensinyalan Akt/mTOR, serta penghambatan pertumbuhan sel.

Dalam sebuah penelitian, senyawa curcumin disebut tidak beracun bagi manusia meski pada dosis oral yang tinggi hingga 12 g/hari, dan memiliki sifat anti-inflamasi, antioksidan, dan anti kanker.

Tumbuhan Pencegah Kanker 2: Jahe

Jahe, Tumbuhan Pencegah Kanker
(Image by congerdesign from Pixabay)

Jahe (Zingiber officinale) memiliki kandungan senyawa aktif bernama gingerol. Manfaat gingerol sebagai senyawa tanaman pencegah kanker berasal dari kemampuannya sebagai antioksidan, anti-inflamasi, anti tumor, pengurang ekspresi iNOS dan TNF-alfa melalui penekanan fosforilasi IκBα dan translokasi NF-κB.

Senyawa ini mampu mengobati sel-sel kanker leukemia (sel K562 dan sel MOLT4) dan menginduksi apoptosis pada sel-sel kanker tersebut melalui jalur mitokondria. Pada sel-sel kanker hati (hepatokarsinoma) manusia, gingerol bersama dengan 6-shogaol didapati mampu mengerahkan aktivitas anti-invasif terhadap sel-sel hepatoma melalui regulasi MMP-9 dan TMP-1, dan lebih lanjut lagi 6-shogaol mengendalikan aktivitas plasminogen tipe urokinase.

6-shogaol adalah kandungan aktif lain yang ada dalam jahe. Penggunaan 6-shogaol sebagai obat luar didapati lebih efektif daripada 6-gingerol dan curcumin dalam menghambat 12-O-tetradecanoylphorbol 13-acetate (TPA) transkipsi yang diinduksi oleh ekspresi iNOS dan COX-2 mRNA pada kulit tikus percobaan, yang dapat meneguhkan lebih lanjut kemampuan dari kandungan aktif dalam jahe tersebut.

Tanaman Pencegah Kanker 3: Anggur

(Image by Pexels from Pixabay)

Anggur memiliki senyawa alami bernama cyanidin. Senyawa ini memiliki kemampuan antioksidan dan penangkap radikal bebas yang dapat mengurangi risiko kanker. Dilaporkan bahwa senyawa cyanidin mampu menghambat proliferasi sel, serta ekspresi gen iNOS dan COX-2 pada sel-sel kanker usus besar.

Penelitian lain menunjukkan bahwa cyanidin-3-glucoside (C3G) melemahkan benzo[a]pyrene-7,8-diol-9,10-epoxide yang diinduksi aktivasi dari AP-1 dan NF-κB dan fosforilasi MEK, Akt, dan MAPKs, menghalangi aktivasi jalur pensinyalan Fyn kinase, yang turut menyumbangkan manfaat kemoprevensi kanker yang dimilikinya. C3G menghalangi aktivasi jalur ErbB2/cSrc/FAK pada sel-sel kanker payudara dan mampu mencegah/menekan metastasis kanker payudara yang diinduksi etanol.

Cyanidin secara jelas menghambat ekspresi COX-2 yang diinduksi UVB dan sekresi PGE2 pada garis sel-sel kulit epidermis dengan cara menekan NF-κB dan Ap-1 yang dikendalikan oleh MAPK. Dalam penelitian tersebut, MKK-4, MEK1, dan Raf-1 adalah target dari cyanidin untuk menekan ekspresi COX-2 yang diinduksi oleh UVB.

Baca juga:  Penting! Inilah 15 Gejala Kanker pada Pria yang Sering Disepelekan

Tumbuhan Pencegah Kanker 4: Kubis-kubisan

Brokoli, Tumbuhan Pencegah Kanker
(Photo by Reinaldo Kevin on Unsplash)

Sayuran kubis-kubisan (Brassica), seperti brokoli, kembang kol, dan sawi hijau, memiliki kandungan indole-3-carbinol (I3C). I3C memiliki senyawa turunan pertama bernama diindolylmethane (DIM) yang terbentuk melalui kondensasi pada lingkungan asam lambung. Kedua kandungan tersebut telah dipelajari untuk efek anti kanker mereka.

Senyawa IC3 dari tanaman kubis-kubisan telah diteliti manfaat pencegah dan pengobatan kanker yang dimilikinya selama bertahun-tahun. Terutama manfaatnya pada adenokarsinoma paru-paru yang diinduksi karsinogen asap rokok pada tikus percobaan. Didapati bahwa efek pencegahan kanker paru-paru tersebut dimediasi melalui pengaturan reseptor tirosin kinase/PI3K/jalur pensinyalan Akt.

IC3 dan DIM menunjukkan efek anti kanker yang luar biasa terhadap penyakit kanker yang responsif dengan hormon, seperti kanker payudara, prostat, dan ovarium. Dalam sebuah penelitian, disimpulkan bahwa DIM, daripada I3C, merupakan agen aktif dalam sebuah penelitian kultur sel.

DIM didapati memiliki sifat anti kanker dan saat ini sedang terus diuji secara klinis untuk berbagai jenis kanker. DIM mentransduksi pensinyalan melalui reseptor aril hidrokarbon (Ah), jalur NF-κB/Wnt/Akt/mTOR, menimpa penangkapan siklus sel, mengubah enzim CYP kunci, mengubah angiogenesis, invasi, metastasis, dan perilaku epigenetik sel-sel kanker.

Sebuah penelitian menemukan bahwa IC3 bertindak sebagai agonis AhR pada kanker payudara, sementara DIM tidak. Dan DIM tidak sama cara kerjanya dengan I3C dalam mengerahkan efek antikarsinogensis mereka. DIM dan IC3 dapat bertindak lebih efektif pada tahap awal karsinogenesis prostat dan kemungkinan melalui kombinasi efek pada hormon steroid dan/atau jalur metabolisme xenobiotik.

Tanaman Pencegah Kanker 5: Kacang Kedelai

Kedelai, Tanaman Pencegah Kanker
(Image by Jing from Pixabay)

Kacang kedelai (Glycine max) memiliki kandungan isoflavon bernama genistein. Kandungan genistein bermanfaat sebagai antioksidan dan memiliki efek antiangiogenik (menghalangi pembentukan pembuluh darah baru), serta dapat menghalangi pertumbuhan sel yang tak terkendali yang terkait dengan kanker.

Kemungkinan besar cara kerjanya adalah dengan menghambat enzim yang mengatur pembelahan sel dan kelangsungan hidup sel (faktor pertumbuhan). Aktivitas genistein terutama berfungsi sebagai penghambat tirosin kinase dengan cara menghambat DNA topoisomerase II.

Reseptor estrogen diekspresikan secara berlebihan pada sekitar 70% kasus kanker payudara (ER-positif. Mengikat estrogen ke ER akan merangsang proliferasi sel-sel kelenjar susu, menghasilkan peningkatan pembelahan sel dan replikasi DNA. Metabolisme estrogen menghasilkan limbah genotoksik, yang menyebabkan gangguan siklus sel, apoptosis, perbaikan DNA, dan membentuk tumor.

Genistein dapat bersaing dengan 17β-estradiol (estrogen) untuk berkaitan dengan estrogen reseptor dan menunjukkan afinitas yang lebih tinggi terhadap estrogen reseptro β daripada terhadap estrogen reseptor α, dimana reseptor estrogen berfungsi sebagai faktor transkipsi pengikat DNA yang mengatur ekspresi gen.

Genistein dibuktikan dapat meningkatan pertumbuhan sebagian estrogen reseptor pada kanker payudara dan tingkat pertumbuhan proliferasi dari kanker payudara yang tergantung pada estrogen jika tidak diobati bersama dengan antagonis estrogen.

Pada kanker usus besar, genistein diduga dapat mengurangi peradangan usus besar pada 2,4,6-trinitrobenzenesulfonic acid (TNBS) yang diinduksi kolitis. Pengujian laboratorium menunjukkan bahwa genistein mungkin terlibat dalam jalur JNK untuk menginduksi aktivitas AP-1.

Tumbuhan Pencegah Kanker 6: Tomat

Tomat, Tumbuhan Pencegah Kanker
(Photo by Vince Lee on Unsplash)

Tomat (Solanum lycopersicum) memiliki kandungan fitokimia bernama lycopene. Kandungan fitokimia dari tanaman tomat ini menunjukkan aktivitas antioksidan dan kemopreventif dalam berbagai penelitian, terutama untuk pencegah dan terapi kanker prostat. Kemampuan anti kankernya dikaitkan dengan cara kerjanya dalam mengaktifkan enzim pencegahan kanker, seperti enzim detoksifikasi fase II.

Baca juga:  Kanker Stadium 4, Mungkinkah Disembuhkan?

Lycopene didapati mampu menghambat proliferasi sel kanker manusia, dan dapat menekan pertumbuhan yang menyerupari faktor pertumbuhan yang merangsang insulin. Ini menunjukkan potensinya untuk pencegahan dan pengobatan kanker endometrium maupun jenis-jenis kanker lainnya.

Kandungan fitokimia ini juga mempunyai efek penghambatan pada sel kanker payudara dan endometrium, sel kanker prostat, dan sel kanker usus. Tetapi pada sebuah penelitian didapati bahwa tumor prostat dapat tumbuh lebih lambat pada tikus percobaan yang diberikan bubuk tomat kering, tetapi tidak pada tikus yang hanya diberi lycopene.

Ini menunjukkan bahwa mungkin lycopene hanya salah satu kandungan penting dalam tomat, tetapi bukan satu-satunya kandungan dalam tomat yang secara aktif menekan pertumbuhan kanker prostat.

Tanaman Pencegah Kanker 7: Sarang Semut

(Credit: Trek-Papua)

Sarang Semut (Myrmecodia pendans) memiliki beberapa senyawa aktif yang punya kemampuan anti kanker, yang paling terkenal adalah flavonoid. Flavonoid mempunyai mekanisme kerja khusus untuk melawan pertumbuhan kanker, yaitu induksi apoptosis, inhibisi angiogenesis, inaktivasi karsinogen, anti-proliferasi, serta penangkapan siklus sel.

Penelitian secara in vitro memperlihatkan bahwa ekstrak etanol Sarang Semut pada konsentrasi 100 μg/ml saja sudah mampu mengurangi garis sel karsinoma skuamosa pada lidah (Sp-C1). Pengurangannya terus meningkat seraya konsentrasi ekstraknya ditingkatkan hingga 1000 μg/ml. Tingkat penghambatan tertinggi (74,6%) terjadi pada konsentrasi 1000 μg/ml pada 24 jam pemberiannya.

Penelitian in vitro lainnya menunjukkan bahwa ekstrak dari tumbuhan Sarang Semut mampu menghambat proliferasi karsinoma sel skuamosa melalui induksi protein p27Kip1 dan penekanan cyclin E. Protein p27Kip1 adalah gen yang menginduksi penangkapan siklus sel kanker dan apoptosis, serta pengurangan pertumbuhan, invasi, dan metastasis sel kanker. Ekspresi cyclin E berlebihan yang umum terjadi pada kanker manusia berhasil ditekan oleh ekstrak Sarang Semut.

Bukan hanya bermanfaat sebagai pencegah kanker, tumbuhan Sarang Semut juga dapat digunakan untuk pembunuh kanker yang sudah terlanjur terbentuk dan berkembang di dalam tubuh. Bahkan tumbuhan ini punya reaksi cepat dalam menumpas kanker, dimana para penggunanya umumnya mengaku sudah mulai merasakan tanda-tanda pemulihan dalam waktu 3 bulan atau kurang.

Jangan Sia-siakan Kekayaan Alam Indonesia!

Artikel ini hanya mengulas tujuh dari sekian banyak tumbuhan pencegah kanker yang ada di Indonesia. Alam sudah menyediakan tumbuh-tumbuhan yang punya khasiat luar biasa. Sekarang tergantung Anda, apakah Anda mau menggunakannya? Manakah yang kira-kira dapat dengan mudah Anda peroleh dan manfaatkan?

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang tujuh jenis tumbuhan pencegah kanker yang ada di sekitar kita. Semoga informasi ini dapat berguna khususnya bagi Anda yang punya kecenderungan lebih besar untuk mengidap kanker, mungkin karena salah satu anggota keluarga Anda sudah terkena kanker. Nantikan juga ulasan-ulasan menarik lainnya seputar penyakit kanker hanya di Deherba.com.


Referensi Tanaman Pencegah Kanker:

Wang, Hu, dkk. (2012). Plants Against Cancer: A Review on Natural Phytochemicals in Preventing and Treating Cancers and Their Druggability. Anti-Cancer Agents in Medicinal Chemistry. 12(10): 1281–1305

Sudiono, Janti, dkk. (2015). The Scientific Base of Myrmecodia pendans as Herbal Remedies. British Journal of Medicine & Medical Research. 8(3): 230-237. DOI:10.9734/BJMMR/2015/17465


Advertisement
Alinesia