Sindrom Iritasi Usus Besar: Ciri-Ciri, Penyebab, dan Cara Mengatasinya


By Cindy Wijaya

Masalah pencernaan setelah makan dianggap sudah biasa, sehingga orang-orang jarang menanggapinya dengan serius. Padahal bisa jadi itu merupakan pertanda adanya gangguan pada fungsi pencernaan. Salah satunya adalah sindrom iritasi usus besar yang ternyata cukup banyak dialami orang-orang.

Sindrom iritasi usus besar atau irritable bowel syndrome (disingkat IBS) adalah gangguan fungsi pencernaan yang memengaruhi usus besar. Gangguan ini dicirikan oleh sakit perut kram, kembung, sembelit, dan/atau diare. Seberapa parah gejala-gejalanya itu dapat bervariasi, mulai dari sedikit mengganggu sampai sudah melemahkan penderitanya.

Pada tubuh penderita IBS, otot-otot di usus besar yang menggerakkan makanan yang dicerna sangat sensitif terhadap rangsangan atau pemicu tertentu. Dokter mendiagnosis seseorang menderita IBS berdasarkan gejala-gejala (terutama sakit perut kronis dan perubahan kebiasaan BAB) dan pemeriksaan saluran pencernaan.

Penyebab sindrom iritasi usus besar masih belum dipahami dengan jelas. Sering kali cara mengatasi sindrom iritasi usus besar adalah dengan perubahan pola makan dan gaya hidup serta pengobatan medis.

Apa Saja Ciri-Ciri Sindrom Iritasi Usus?

Ciri-ciri sindrom iritasi usus dapat bervariasi dari orang ke orang, namun biasanya ada dalam waktu lama. Ciri-ciri paling umum dari sindrom iritasi usus antara lain:

  • Sakit perut atau kram—biasanya memburuk setelah makan dan membaik setelah BAB.
  • Kembung—perut mungkin terasa penuh dan bengkak.
  • Diare—mungkin kotoran yang keluar encer dan kadang harus tiba-tiba BAB.
  • Sembelit—mungkin mengejan saat BAB dan merasa tidak bisa mengosongkan isi perut sepenuhnya.

Ada hari-hari dimana gejala-gejala IBS tersebut membaik dan hari-hari dimana mereka memburuk (kambuh). Gejala-gejala IBS tersebut mungkin dipicu oleh konsumsi makanan atau minuman tertentu.

Sindrom iritasi usus besar apakah berbahaya? IBS tidaklah berbahaya. Kebanyakan penderitanya hanya mengalami gejala-gejala ringan yang dapat mereka atasi dengan baik meski tanpa pengobatan. Tetapi sebagian orang mengalami gejala-gejala berat yang dapat mengganggu kehidupan sehari-hari sehingga harus mendapat pengobatan.

Sebaiknya segera ke dokter jika Anda mengalami tanda-tanda bahaya berikut: berat badan turun drastis tanpa sebab, keluar darah dari dubur atau diare berdarah, benjolan atau bengkak keras di perut, serta sesak napas, jantung berdebar, dan kulit pucat. Meski IBS tidaklah berbahaya, namun tanda-tanda bahaya ini mungkin menunjukkan ada masalah lebih serius yang terjadi.

Apa Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar?

Penyebab sindrom iritasi usus besar masih belum diketahui secara jelas. Namun para pakar mendapati bahwa ada beberapa faktor yang kemungkinan berperan menyebabkan sindrom iritasi usus, antara lain:

Kontraksi otot di usus—Dinding usus dilapisi dengan lapisan otot yang berkontraksi saat mereka memindahkan makanan melalui saluran pencernaan. Kontraksi yang lebih kuat dan lebih lama dari biasanya dapat menyebabkan gas, kembung, dan diare. Kontraksi yang lemah dapat memperlambat perjalanan makanan dan menyebabkan kotoran yang keras dan kering.

Sistem saraf—Kelainan pada saraf di sistem pencernaan dapat menyebabkan ketidaknyamanan lebih dari biasanya ketika perut meregang karena gas atau kotoran (tinja). Sinyal yang tidak terkoordinasi dengan baik antara otak dan usus dapat menyebabkan tubuh bereaksi berlebihan terhadap perubahan yang biasa terjadi dalam proses pencernaan, yang mengakibatkan rasa sakit, diare, atau sembelit.

Infeksi parah—Serangan diare yang parah (gastroenteritis) akibat bakteri atau virus tampaknya dapat menjadi penyebab sindrom iritasi usus besar. Sindrom iritasi usus juga terkait dengan kelebihan bakteri di usus (pertumbuhan bakteri yang berlebihan).

Stres di usia dini—Orang-orang yang mengalami stres, terutama di masa kanak-kanak, cenderung memiliki lebih banyak gejala IBS.

Perubahan mikroba usus—Contohnya perubahan pada bakteri, jamur, dan virus, yang biasa berada di usus dan berperan penting dalam kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa mikroba pada penderita IBS mungkin berbeda dari orang sehat.

Makanan dan Stres Dapat Memicu Gejala-Gejala IBS

Gejala-gejala IBS seperti sakit perut atau kram, kembung, diare, atau sembelit dapat kambuh akibat konsumsi makanan atau karena sedang stres.

Makanan yang dapat menyebabkan kambuh atau memburuknya gejala sindrom iritasi usus antara lain produk gandum, produk susu, buah-buahan jeruk, kacang-kacangan, kubis, susu, dan minuman berkarbonasi. Kebanyakan penderita IBS juga mengalami gejala-gejala yang lebih buruk atau lebih sering kambuh selama masa-masa stres mereka meningkat.

Namun perlu diperhatikan bahwa meski dapat memperburuk atau membuat kambuh gejala-gejala, stres dan makanan bukanlah penyebab sindrom iritasi usus besar.

Ilustrasi Makanan Penyebab Sindrom Iritasi Usus Besar Kambuh
Makanan Tertentu Dapat Memperburuk Gejala (Credit Photo: PosiNote – Shutterstock)

Cara Mengatasi Sindrom Iritasi Usus Besar

Sindrom iritasi usus besar apakah bisa sembuh? Sayangnya belum ada cara untuk menyembuhkan IBS. Tetapi seiring waktu, banyak penderita dapat menemukan cara terbaik untuk mengendalikan IBS mereka serta ada beragam cara untuk meringankan gejala-gejala mereka.

Karena tidak dapat disembuhkan, cara mengatasi sindrom iritasi usus besar berfokus pada mengendalikan gejala-gejalanya sehingga penderitanya dapat hidup senormal mungkin.

Gejala-gejala IBS seringkali dapat dikendalikan dengan mengelola stres dan membuat perubahan dalam pola makan dan gaya hidup. Penderita IBS mungkin disarankan dokter untuk:

  • Menghindari makanan yang memicu gejala-gejala IBS
  • Mengonsumsi makanan berserat tinggi
  • Minum banyak cairan
  • Berolahraga secara teratur
  • Tidur yang cukup

Apa saja makanan yang dapat menyebabkan perburukan gejala-gejala sindrom iritasi usus? Berikut adalah jenis makanan yang sering disarankan dokter untuk dihindari oleh para penderita IBS:

  • Makanan atau minuman bergas—Kalau Anda mengalami kembung atau gas, mungkin harus menghindari minuman berkarbonasi dan alkohol juga makanan-makanan yang memicu meningkatnya gas di perut.
  • Gluten—Penelitian menunjukkan bahwa sebagian penderita IBS mengalami perbaikan gejala diare mereka setelah berhenti mengonsumsi gluten (roti, mie, pasta, kue, biskuit, dan semua jenis makanan yang menggunakan tepung terigu atau gandum).
  • FODMAPBeberapa orang sensitif terhadap jenis karbohidrat tertentu seperti fruktosa, fruktan, laktosan, dsb, yang dikenal sebagai FODMAP (Fermentable Oligosakarida, Disakarida, Monosakarida, dan Poliol). FODMAP terdapat dalam jenis-jenis tertentu dari biji-bijian, sayuran, buah-buahan, dan produk susu.

Anda dapat membuat catatan harian mengenai jenis-jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi, untuk mengetahui apa saja yang aman atau tidak aman untuk Anda konsumsi. Anda juga dapat berkonsultasi dengan seorang ahli gizi untuk membantu membuat perubahan pola makan sesuai kondisi IBS Anda.

Ilustrasi Cara Mengatasi Sindrom Iritasi Usus Besar
Buat Catatan Harian Makanan & Minuman yang Dikonsumsi (Credit Photo: lostinbids – Getty Images)

Obat untuk Cara Mengatasi Sindrom Iritasi Usus Besar

Sebagai pengobatan tambahan, dokter mungkin akan merekomendasikan obat-obatan tertentu untuk membantu mengendalikan gejala-gejala IBS Anda.

  • Suplemen serat—Konsumsi suplemen seperti psyllium bersama cairan dapat mengendalikan gejala sembelit.
  • Laksatif—Jika serat tidak membantu mengatasi sembelit, dokter dapat merekomendasikan obat laksatif seperti magnesium hidroksida oral atau polietilen glikol (macrogol).
  • Obat anti-diare—Obat-obatan yang dapat dibeli bebas, seperti loperamide, dapat mengendalikan diare. Dokter juga dapat meresepkan obat pengikat asam empedu, seperti cholesytramine, colestipol, atau colesevelam. Pengikat asam empedu dapat menyebabkan kembung.
  • Obat antikolinergik—Obat-obatan seperti dicyclomine dapat membantu meredakan kejang usus yang menyakitkan. Kadang obat ini diresepkan untuk mengatasi diare. Obat-obatan ini umumnya aman tetapi dapat menyebabkan sembelit, mulut kering, dan penglihatan kabur.
  • Antidepresan trisiklik—Jenis obat-obatan ini dapat membantu mengatasi depresi serta menghambat aktivitas neuron yang mengontrol usus untuk mengurangi rasa sakit. Jika Anda mengalami diare dan sakit perut tanpa depresi, dokter mungkin merekomendasikan obat imipramine, desipramine, atau nortriptyline dengan dosis lebih rendah. Efek sampingnya antara lain kantuk, penglihatan kabur, pusing, dan mulut kering.
  • Antidepresan SSRI—Obat-obatan seperti fluoxetine atau paroxetine dapat membantu jika Anda mengalami depresi dan mengalami nyeri serta sembelit.
  • Obat pereda nyeri—Obat seperti pregabalin atau gabapentin dapat membantu meringankan rasa nyeri atau kembung yang parah.

Anda perlu berdiskusi dengan dokter agar menemukan obat yang tepat untuk cara mengatasi sindrom iritasi usus besar Anda. Dan karena obat-obatan dapat menyebabkan efek samping, sebaiknya pertimbangkan baik-baik manfaat dan risiko dari penggunaan jenis obat tersebut.

Demikianlah artikel ini yang membahas mengenai ciri-ciri, penyebab, dan cara mengatasi sindrom iritasi usus besar. Semoga informasi ini membantu Anda untuk membuat keputusan yang bijaksana sehubungan kesehatan Anda. Temukan juga artikel-artikel bermanfaat lain mengenai solusi kesehatan hanya di Deherba.com.

Sumber

Verywell Health. Irritable Bowel Syndrome. https://www.verywellhealth.com/ibs-overview-4581946

Mayo Clinic. Irritable bowel syndrome. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/irritable-bowel-syndrome/symptoms-causes/syc-20360016

NHS. Irritable bowel syndrome (IBS). https://www.nhs.uk/conditions/irritable-bowel-syndrome-ibs/symptoms/

InformedHealth.org [Internet]. Cologne, Germany: Institute for Quality and Efficiency in Health Care (IQWiG); 2006-. Irritable bowel syndrome: Overview. 2013 Sep 10 [Updated 2019 Oct 10]. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK279416/

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}
>