10 Jenis Gangguan Terkait Sistem Pencernaan

158
Sumber Gambar: Shutterstock

Diedit:

Tahukah Anda bahwa dari sejumlah gejala yang kerap Anda pandang serupa itu setidaknya ada 9 jenis penyakit yang mengancam Anda? Apa saja jenis gangguan terkait sistem pencernaan yang lazim menyerang kebanyakan orang?

Berikut informasi selengkapnya mengenai jenis gangguan terkait sistem pencernaan. Simak juga ulasan indikasi gangguan terkait sistem pencernaan dalam kesempatan lainnya.

Waspadai 10 Jenis Gangguan Terkait Sistem Pencernaan

Gangguan pencernaan merupakan salah satu jenis gangguan kesehatan yang cukup sering menyerang. Yang kerap kali menyulitkan, hampir semua jenis gangguan terkait sistem pencernaan punya gejala-gejala yang hampir serupa. Bukan hanya itu, kebanyakan orang malah memilih mengabaikannya dan memandang sepele masalah pencernaan mereka.

Kebanyakan hanya memandangnya sebagai keluhan biasa yang kemudian dianggap sebagai masalah “masuk angin” biasa. Mendiamkannya jelas bukan solusi yang tepat. Anda perlu segera mengambil langkah pemeriksaan medis ketika keluhan pencernaan tak segera hilang. Terlebih setelah dilakukan upaya-upaya sederhana, seperti menghangatkan tubuh dengan minyak hangat atau dengan minuman jahe.

1. Batu Empedu

Kebanyakan orang mengira batu hanya bisa terbentuk di ginjal, padahal juga bisa terbentuk di empedu. Dan keluhan yang muncul akibatnya akan menyerupai kebanyakan jenis gangguan terkait sistem pencernaan lain.

Empedu adalah organ kecil dekat hati yang bekerja sekaligus sebagai kelenjar enzim pencernaan dan membantu kerja organ hati, baik dalam fungsi penetral toksin maupun dalam metabolisme lemak.

Sejumlah besar penyakit batu empedu terjadi akibat proses kristalisasi kolesterol yang mengendap dalam kantung empedu. Beberapa kasus lain, seperti pengerasan bilirubin, juga kadang dapat menciptakan batu dalam empedu.

Gejala batu empedu yang kerap kali muncul biasanya rasa nyeri yang kadang menusuk pada area ulu hati bagian tengah ke kanan. Rasa nyerinya bisa menyerang hingga punggung, dan kadang pada kondisi berat, penderitanya akan mengalami serangan kolik, yakni semacam kram perut yang menusuk.

Cara Mengatasi Batu Empedu

Secara umum, untuk mengatasi batu empedu penderitanya akan ditangani dokter melalui proses pembedahan atau penembakan batu ginjal menggunakan laser. Beberapa jenis obat penghancur batu empedu juga tersedia untuk penyakit batu empedu yang ringan.

2. Celiac

Satu lagi jenis gangguan terkait sistem pencernaan yang perlu diwaspadai, karena kebanyakan penderitanya tidak menyadari bahwa mereka mengidap penyakit celiac. Bahkan kadang beberapa orang salah terdiagnosis sehingga mendapatkan pengobatan yang tidak tepat.

Pada dasarnya penyakit celiac adalah gangguan autoimun atau alergi. Para penderitanya akan mengalami sensitivitas tinggi terhadap gluten, yakni kandungan protein khusus dari gandum.

Jika mengidapnya, Anda perlu sepenuhnya menghindari asupan berbahan gandum atau yang mengandung gluten. Jika tetap mengonsumsinya, Anda akan mengalami reaksi autoimun. Sistem imun bukan hanya akan menyerang gluten yang masuk dalam pencernaan, tetapi juga akan menyerang dinding usus sehingga akhirnya memicu peradangan serius.

Cara Mengatasi Penyakit Celiac

Penderita celiac harus melakukan adaptasi terhadap kondisi autoimun dalam tubuhnya secara permanen. Adaptasi meliputi gaya hidup, pola makan, hingga menjalankan sejumlah vaksinasi tambahan. Khusus yang terakhir, vaksin diberikan karena penderitanya cenderung mengalami penurunan sistem imun akibat penyakit celiac ini.

3. Crohn

Meski kerap menunjukkan gejala yang mirip, keluhan penyakit crohn ini berbeda dengan penyakit celiac. Meski begitu, penyakit crohn juga ditandai dengan peradangan yang berkembang pada usus.

Baca juga:  Karakteristik Sistem Pencernaan: Lambung dan Usus

Pada penyakit crohn, peradangan bisa berkembang sangat masif, mulai dari mulut hingga anus. Peradangan yang berat itu bisa menimbulkan gejala berupa rasa nyeri yang hebat, diare berdarah, mual, dan muntah hebat.

Kerusakan usus dapat berkembang serius dan mematikan bila diabaikan. Sementara itu, sejumlah kasus penyakit crohn di masyarakat tidak terdeteksi sejak awal karena baru menampakan gejala-gejalanya ketika sudah cukup parah.

Cara Mengatasi Penyakit Crohn

Pengobatan untuk penyakit crohn ini sangat rumit. Penderitanya akan menjalankan sejumlah pengobatan sekaligus, mulai dari anti inflamasi, antibiotik. hingga immunosupresan, yang bekerja berkesinambungan untuk mengatasi peradangan masif di dalam usus.

4. Diare

Diare seringkali terjadi karena kontaminasi virus, bakteri, ataupun parasit pada makanan dan minuman. Saat Anda mengonsumsinya tentu Anda akan mengalami kondisi berupa seringnya buang air besar disertai dengan penampakan tinja yang terlihat encer.

Umumnya kondisi ini hanya berlangsung selama beberapa hari saja, namun adakalanya pada beberapa orang bisa berlangsung selama berminggu-minggu. Walau tergolong penyakit yang tidak fatal, dampak diare berupa dehidrasi cukup mengkhawatirkan.

Penderita diare tak hanya mengalami dehidrasi, mereka juga mengalami rasa mulas di area perut, pusing, lemas, dan kulit kering. Jika tidak ditangani dengan baik diare dapat berubah menjadi peradangan yang cukup membahayakan nyawa.

Cara Mengatasi Diare

Konsumsi cairan elektrolit dapat membantu penderita diare agar tidak kehilangan cairan tubuh. Pengobatan dapat dilakukan dengan konsumsi antibiotik, pereda nyeri, dan obat yang mampu memperlambat gerakan usus. Tentu ini harus diperoleh sesuai dengan petunjuk dokter. Seraya menjalani pengobatan, cobalah mengonsumsi makanan lunak.

5. Divertikulitis

Penyakit divertikulitis adalah masalah peradangan yang terjadi pada kantung kantong kecil divertikula yang berada di sepanjang dinding usus. Gejala divertikulitis yang paling khas ialah terbentuknya benjolan-benjolan kecil pada dinding usus.

Jenis gangguan terkait sistem pencernaan ini diduga disebabkan oleh kelebihan toksin pada usus karena penderitanya kerap mengalami sembelit. Selain itu, penyakit divertikulitis juga diduga berkaitan dengan melambatnya fungsi usus karena faktor usia.

Gejala divertikulitis cukup sulit dikenali, karena samar dan mirip dengan kebanyakan masalah pencernaan lainnya. Pengidapnya akan mengalami sejumlah keluhan seperti kembung, nyeri perut bawah, diare atau justru sembelit, disertai dengan rasa mual yang kuat. Kadang muncul juga gejala demam.

Cara Mengatasi Penyakit Divertikulitis

Pengobatan divertikulitis cukup rumit. Penderitanya perlu menjalani pengobatan antibiotik, anti inflamasi, hingga pengurasan usus. Sejumlah perubahan pola makan yang ketat harus dijalani pasien sampai sepenuhnya dinyatakan sehat.

6. Gastritis

Kebanyakan orang menyamakan penyakit gastritis dengan penyakit GERD, lalu menyebutnya dengan istilah umum ‘sakit maag’. Padahal sebenarnya GERD dan gastritis adalah dua jenis gangguan terkait sistem pencernaan yang berbeda.

Baca juga:  Herbal Noni Juice untuk Gangguan Pencernaan

Kesamaan dari keduanya adalah terlibatnya asam lambung berlebih pada kedua penyakit ini. Hanya bedanya pada gastritis, asam lambung akan memenuhi lambung dan menyebabkan korosi pada dinding lambung.

Meski demikian, masalah peradangan juga bisa disebabkan oleh konsumsi alkohol, infeksi bakteri H. pylori, gangguan autoimun, reaksi obat-obatan, dan masalah-masalah lain yang menyebabkan korosi pada dinding lambung.

Penyakit gastritis timbul akibat peradangan pada lambung. Penderitanya tidak hanya akan mengalami peradanga, tetapi juga pengikisan dinding lambung yang tentu saja akan menimbulkan rasa nyeri yang cukup dalam pada perut kiri. Sering kali juga muncul rasa kembung dan mual, dengan masalah diare atau sembelit yang datang silih berganti.

Cara Mengatasi Penyakit Gastritis

Untuk mengatasi penyakit gastritis, pasien perlu melakukan sejumlah pengobatan, termasuk pengendalian asam lambung dengan antasida, antibiotik (bila dibutuhkan), anti inflamasi, juga pengobatan histamin bila penyakit ini disebabkan oleh autoimun.

7. Gastroesophageal Reflux

Beberapa orang menyebut penyakit GERD sebagai acid reflux, sebagai gambaran akan naiknya zat asam dari lambung ke area diafragma dan batang kerongkongan.

Zat asam dari lambung yang naik ke atas menuju area esofagus, diafragma, dan kerongkongan akan menyisakan efek iritasi. Ini karena zat asam itu bersifat korotif, yang dapat memicu terbentuknya inflamasi, termasuk radang tenggorokan, peradangan pada diafragma, dan sariawan.

Gejala GERD yang khas adalah rasa panas seperti terbakar di dada dan area leher bawah (heartburn). Biasanya rasa terbakar ini muncul setelah makan atau di malam hari. Bisa pula muncul pagi-pagi setelah bangun tidur. Gejala khas lainnya yaitu rasa mual, mulut terasa asam, bau mulut, perut kembung, dan gampang mengalami sariawan serta radang tenggorokan.

Cara Mengatasi GERD

Mengatasi GERD melibatkan sejumlah langkah, termasuk pengobatan anti inflamasi dan pengendalian produksi asam lambung. Penderitanya juga disarankan menghindari makanan yang memicu naiknya asam lambung.

Setiap pasien memiliki pemicu masing-masing yang perlu dipahami. Tetapi pada dasarnya, makanan dengan kadar asam tinggi, pedas, bergetah dan mengandung santan kerap menjadi makanan pemicu utama naiknya kadar asam lambung.

8. Iritasi Usus

Sindrom iritasi usus (Irritable Bowel Syndrome) adalah penyakit peradangan yang berkembang pada pencernaan. Biasanya serangan muncul pada usus, terutama pada usus besar. Penyakit ini akan muncul secara berulang-ulang dan kadang sewaktu-waktu.

Biasanya keluhan akan muncul karena sejumlah pemicu, baik itu karena makanan, stres, kelelahan, hingga efek dari perubahan hormon. Gejala sindrom iritasi usus yang acapkali muncul biasanya masalah perut kembung, sembelit, diare, mual, nyeri perut bawah, tinja berlendir, serta rasa panas di perut dan dada.

Keluhan pada sindrom iritasi usus sendiri melibatkan banyak sistem dalam tubuh, termasuk fungsi saraf, kinerja usus besar, sejumlah kondisi hormon, dan masalah bakteri dalam usus. Bahkan dalam masa pengobatannya, pengidapnya kerap mendapatkan obat antidepresan dan terapi hormon sebagai pendamping.

Cara Mengatasi Sindrom Iritasi Usus

Sindrom iritasi usus dapat diatasi dengan mengatur pola makan serta pengobatan secara teratur. Sayangya banyak orang sulit menyadari keberadaan penyakit ini, karena gejalanya yang samar dan sulit dikenali. Bila terus dibiarkan, penyakit ini akan menyebabkan infeksi lebih serius pada usus besar, seperti peritonitis. Jadi segeralah periksa ke dokter bila mulai merasakan masalah pencernaan yang tidak biasa.

9. Kolitis Ulseratif

Pada dasarnya, jenis gangguan terkait sistem pencernaan ini ada kaitannya dengan peradangan pada usus besar. Akibat peradangan itu, akan terbentuk tukak atau abses (luka) dalam usus besar yang menyebabkan perdarahan, rasa nyeri yang menekan, hingga tinja berdarah.

Gejala awal penyakit kolitis ulseratif biasanya termasuk masalah kembung, diare, atau sembelit. Gejala-gejala awal itu sulit dikenali sampai ketika penyakit berkembang hingga menimbulkan darah pada tinja dan serangan kolik (kram perut) yang berpusat pada perut bawah.

Cara Mengatasi Penyakit Kolitis Ulseratif

Pada dasarnya, penyakit kolitis ulseratif diatasi dengan pengobatan anti inflamasi dan antibiotik. Penderitanya juga kerap mendapatkan pengobatan immunosupresan untuk mengendalikan reaksi imun berlebihan agar inflamasi dapat ditekan.

Adakalanya kerusakan sudah mencapai kondisi yang serius, dimana usus pengidapnya mengalami kerusakan berat bahkan hingga perlekatan usus. Jika sudah begitu, maka penderitanya akan menjalani pembedahan untuk mengangkat usus yang rusak.

10. Wasir

Salah satu gejala wasir yang mudah dikenali adalah munculnya daging kecil di area sekitar anus. Daging kecil itu mudah sekali membengkak dan mengeras ketika BAB, terutama bila BAB keras, atau saat sedang mengalami sembelit.

Wasir adalah masalah peradangan yang terjadi di area pembuluh darah sekitar anus. Peradangan ini melibatkan dinding usus terakhir yang akan menyemburat keluar ke area anus.

Jenis gangguan terkait sistem pencernaan ini menyebabkan Anda mudah sekali mengalami perdarahan saat BAB. Juga akan memicu terjadinya sembelit dan diare. Penderitanya juga kerap mengeluhkan perih dan gatal pada area anus.

Cara Mengatasi Wasir

Pada umumnya, pengobatan wasir tujuannya untuk mengurangi pembengkakan dan ukuran benjolan wasir. Penderita wasir juga diharuskan mengonsumsi makanan kaya serat yang mengandung laksatif seperti buah nanas dan plum (prem). Pengobatan laksatif akan membantu memudahkan keluarnya BAB.

Dalam kasus yang lebih serius, penderita wasir harus menjalani tindakan pembedahan untuk mengangkat dinding usus yang menyemburat keluar. Tindakan ini secara medis disebut dengan istilah hemoroidektomi.

Itulah sejumlah masalah pencernaan yang paling lazim dialami orang-orang. Penyakit pencernaan sebenarnya bisa dicegah apabila kita terus mengupayakan pola makan sehat yang mengandung serat, juga dengan cukup minum. Semakin lancar fungsi pencernaan kita dan semakin berimbang pola makan sehari-hari kita, semakin rendah juga risiko kita untuk terkena berbagai jenis gangguan pencernaan seperti di atas.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang 9 jenis gangguan terkait sistem pencernaan. Semoga kita semua jadi lebih peduli terhadap kesehatan pencernaan kita dan keluarga kita. Dapatkan juga ulasan-ulasan menarik lain seputar info kesehatan, tips kesehatan, dan pengobatan alami hanya di Deherba.com.


Beth W. Orenstein and Kareem Sassi, MD. 9 Common Digestive Conditions From Top to Bottom. June 07, 2017. URL: https://www.everydayhealth.com/digestive-health/common-digestive-conditions-from-top-bottom/.