Karakteristik Sistem Pencernaan: Asia versus Eropa


By Fery Irawan

Sama seperti tinggi badan ataupun mimik wajah yang terlihat berbeda, demikian pula usus penduduk Eropa dan Asia. Dimana letak perbedaannya? Bagaimana ini dapat terjadi?

Perhatikan keterangan berikut yang diambil berdasarkan pengalaman Dr. Hiromi Shinya selama menjadi dokter di dua benua ini, khususnya pada penduduk Amerika dan Jepang. Secara garis besar, faktor utama yang menentukkan perbedaan ini ialah kebiasaan makan.

Sistem Pencernaan Penduduk Asia versus Eropa

Mari kita lihat kisah perjalanan sang dokter berikut; Berawal di New York 1963, pada saat itu peralatan belum begitu lengkap. Metode standar yang digunakan untuk memeriksa usus besar masih menggunakan barium enema melalui proses injeksi, lalu diperiksa dengan bantuan sinar-X. Tujuannya adalah melihat keberadaan polip besar, sayangnya metode ini tidak dapat mendeteksi keberadaan polip kecil ataupun kondisi di dalam usus besar. Untuk menyingkirkan keberadaan polip besar diperlukan prosedur laparotomy atau membuat irisan besar di perut.

Sayangnya metode ini tidak dapat menentukan sifat polip yang berbahaya atau tidak, sehingga ahli bedah harus melihat langsung kondisi usus besar selama proses pembedahan. Adapun alat bantu sejenis endoskop yang berbentuk tabung logam lurus hanya mampu melihat kondisi usus sejauh 20 cm dari anus. Saat itu belum ada kolonoskop yang digunakan untuk memeriksa kondisi usus besar, sampai beberapa waktu setelah tahun 1967.

Kebiasaan Makan Sebagai Faktor Penentu

Dr. Hiromi Shinya kemudian menggunakan kolonoskop yang panjangnya hingga 185 cm untuk memeriksa pasiennya, saat melihat kondisi usus warga Amerika dokter pun terkejut. Ternyata usus besar warga Amerika lebih pendek dan lebih kaku daripada warga Jepang. Selain itu, lumen atau rongga dalam usus juga semakin sempit, banyak terbentuk lipatan cincin pada usus serta divertikula, begitu pula dengan penumpukan kotoran stagnan.

Baca Juga:  Kenapa Perut Bunyi? Bagaimana Cara Menghentikannya?

Kondisi ini tidak hanya meningkatkan resiko penyakit kanker usus besar, polip usus besar, ataupun divertikulosis. Beberapa penyakit yang tampaknya tidak berpengaruh langsung terhadap usus juga ikut terlibat yaitu; tumor fibroid, hipertensi, arteriosclerosis, penyakit jantung, obesitas, diabetes, kanker payudara dan kanker prostat. Bagaimana mungkin? Kondisi usus yang semakin lemah turut melemahkan sistem pertahanan dari dalam tubuh, sehingga Anda lebih mudah terserang penyakit – memang usus bukan sistem pertahanan tubuh tapi ini berkaitan.

Bagaimana dengan kondisi usus warga Jepang? Dahulu usus warga Jepang memang terlihat bersih dan sehat, namun sejak tahun 1960an ada banyak perubahan tren soal pola makan sehingga warga Jepang mulai menyukai pola makan ala negeri Eropa. Sayuran dan ikan yang semula mereka konsumsi sebagai makanan utama, mulai tergantikan dengan hamburger, bistik dan ayam goreng. Konsumsi protein yang tinggi lemak mengubah segalanya. Namun, sejak 1977 setelah dipublikasikannya laporan McGovern mengenai pola makan dan kondisi usus, barulah terjadi perubahan gaya hidup. Hasilnya, sejak 1990 jumlah warga Amerika yang mengalami polip menurun.

Karakteristik Sistem Pencernaan: Amerika versus Jepang

Sumber

Hiromi Shinya, MD. The Miracle of Enzyme. March 2012. Page 66-70

Tentang Penulis 

Fery Irawan

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Fery Irawan seorang editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}