Protein Hewani Tetap Berotot dengan Konsumsi Daging Benarkah

422

Diedit:

Ada banyak pendapat mengenai manfaat dalam mengonsumsi daging, salah satunya dan paling populer ialah kondisi tubuh yang tetap berotot. Hal ini mengembangkan suatu pandangan umum bahwa jika Anda tidak mengonsumsi daging, tentu otot Anda tidak akan berkembang, benarkah demikian? Sebagai pembanding perhatikanlah singa yang merupakan hewan karnivora, Anda mungkin terkesan dengan otot-otot yang dimilikinya. Namun, singa bukanlah satu-satunya hewan berotot yang mengagumkan. Ada hewan lainnya yang juga berotot, seperti kuda dan rusa, keduanya herbivora bukan?

Soal stamina, mana yang lebih bertahan lama rusa atau singa? Sebuah riset memperlihatkan bahwa rusa sama cepatnya dengan singa yaitu 80 Km/jam, begitu pula dengan antelop dan wildebeest yang berada di Afrika. Baik singa maupun harimau seringkali menyerang mangsanya secara mendadak, jarang sekali yang berlagak heroik dihadapan musuhnya yang lebih lincah. Dari sini Anda dapat melihat bagaimana hewan pemakan tanaman pun dapat memiliki stamina yang tinggi dibandingkan dengan pemakan daging. Otot hewan herbivora bisa lebih berkembang dibanding hewan karnivora.

Anda bisa jadi mengatakan, itukan hewan – struktur jaringan tubuhnya tentu berbeda dengan manusia! Itu pemikiran yang cerdas, bagaimana dengan manusia? Memang banyak kejadian memperlihatkan bahwa anak yang mengonsumsi daging lebih cepat berkembang – bertumbuh secara dewasa, bisa jadi ini benar (karena adanya asupan protein hewani). Sayangnya, fenomena menakjubkan ini akan usai dan berganti menjadi proses penuaan. Bagaimana mungkin ini dapat terjadi? Mari kita lihat kilas balik sejarah di tahun 1977-an, berdasarkan laporan mengenai makanan oleh McGovern.

Pada tahun itu terjadi fenomena yang aneh, ada banyak orang yang terkena dampak dari penyakit jantung dan kanker, padahal kemajuan di bidang kedokteran sudah mulai berkembang. Hal ini memengaruhi biaya dana kesehatan Amerika, sehingga dibentuklah suatu komite khusus yang diketuai oleh Senator George S. McGovern, bersama dengan beberapa spesialis kedokteran dan nutrisi ternama kala itu. Komite ini dibentuk untuk menyelidiki penyebab peningkatan penyakit. Hasil data yang berhasil dikumpulkan mencapai 5000 lembar dengan kesimpulan kebiasaan makan sebagai penyebabnya.

Baca juga:  Benarkah Mengonsumsi Udang Dan Vitamin C Bisa Berakibat Fatal?

Pola makan yang keliru berupa konsumsi protein hewani yang tinggi sudah popular saat itu, daging bistik yang tebal dan daging ham berlemak tinggi menjadi makan malam yang umum bagi kebanyakan populasi penduduk di Amerika. Maka dari itu berbagai upaya pengurangan konsumsi protein hewani mulai diterapkan. Menurut laporan tersebut, pola makan yang baik adalah menu makanan yang dikonsumsi penduduk Jepang pada zaman Genroku (1688-1703) yang menjadikan biji-bijian sebagai bahan pokok, sayuran dan ikan laut menjadi selingan pada musim-musim tertentu. Ya, ini semua sudah terbukti dengan keberadaan penduduk ‘centenarian’ di kepulauan Okinawa yang berumur lebih dari 100 tahun!

Advertisement
Alinesia