Perlukah Kita Waspada terhadap Virus Zika?

396

Diedit:

Belakangan ini, penyakit Zika yang sering dianggap sebagai kerabat dari penyakit Demam Berdarah memang sedang naik daun. Bahkan tidak sedikit pakar kesehatan dunia menyatakan bahwa virus Zika dan serangan penyakit yang ditimbulkannya masuk dalam daftar siaga satu di berbagai negara. Indonesia sendiri termasuk dalam daftar negara yang mengumukan agar warganya waspada jika bepergian ke negara-negara dengan wabah Zika.

Namun ada beberapa pernyataan menarik yang membuat kebanyakan dari kita tidak merasa aman lagi. Terlepas dari fakta bahwa memang telah ditemukan kasus Zika di Indonesia pada pertengahan 2015 lalu di Jambi.

Pernyataan tersebut diungkap dalam laman National Geographic Indonenesia berdasarkan informasi dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI) mengenai kemungkinan penyakit Zika ini sebenarnya sudah ada di Indonesia jauh sebelum isu penyebarannya muncul baru-baru ini.

Namun karena ada beberapa faktor, penyakit Zika tidak mewabah sebagaimana pada kasus yang terjadi di kawasan Amerika Latin. Sementara itu saat ini secara resmi WHO melalui Center for Disease Control and Prevention (CDC) mengatakan bahwa virus Zika sudah menyebar ke 27 negara dan mayoritas berada di Amerika Latin.

Di Indonesia sendiri, muncul pula kecurigaan kalau selama ini beberapa kasus DBD yang muncul sebenarnya kesalahan diagnosa terhadap Zika, mengingat pada masa lalu belum banyak sosialisasi penyakit Zika dan masalah serangan virus Zika di Indonesia.

Memang kasus Zika kerap menunjukkan gejala hampir serupa dengan Demam Berdarah dan Chikungunya. Keluhan seperti demam, rasa linu di persendian dan otot, sakit kepala, serta mual memang muncul pada pasien dengan serangan virus Zika. Dan keluhan yang sama juga muncul pada penderita DBD stadium awal.

Tetapi keluhan spesifik akan muncul ketika pasien mulai menampakkan mata merah disertai rasa perih dan pedas. Di sisi lain juga muncul ruam merah pada kulit dan kadang juga muncul menyerupai efek ruam gatal. Ini jelas berbeda dengan keluhan kulit pada penderita Demam Berdarah yang lebih berupa bintik merah kecil tidak timbul.

Penderita Demam Berdarah juga akan menampakkan gejala perdarahan pada stadium yang lebih serius, dan hal ini jelas tidak pernah dijumpai pada penderita Zika pada stadium apapun. Dan terakhir ditemukan perbedaan paling jelas adalah kondisi trombosit pada pasien virus Zika stabil dan tidak menurun sebagaimana pada penderita DBD.

Baca juga:  Ada 4 Hal yang Harus Anda Ketahui dari Bahaya Virus Zika

Lalu, seberapa besar risiko kita terserang Zika?

Secara umum, terdapat dua kemiripan antara Indonesia dengan beberapa negara dimana virus Zika saat ini mewabah. Yang pertama adalah iklim dimana Indonesia dan sebagian besar kawasan Amerika latin sama-sama berada di kawasan Tropis. Dan yang kedua, di Indonesia dan di negara-negara Amerika Latin masih banyak ditemukan kawasan kumuh dengan kesadaran kesehatan dan kebersihan lingkungan yang rendah.

Saat ini kawasan tropis, tak terkecuali Indonesia dan area Amerika Latin, tengah mengalami kondisi cuaca yang berubah-ubah sehingga udara dengan mudah berganti dari udara panas dan terik menjadi dingin dengan intensitas hujan yang tinggi. Perubahan cuaca yang tidak teduga ini sedikit banyak berperan pada kondisi tubuh seseorang sehingga memungkinkan seseorang mengalami penurunan daya tahan tubuh.

Ditambah dengan fakta di Indonesia masih dengan mudah kita jumpai kawasan kumuh dengan kondisi kebersihan yang buruk, sanitasi yang tidak terjaga, dan masalah kesadaran kesehatan yang rendah. Maka sebenarnya bila dilihat dari sudut pandang kesamaan faktor tadi, Indonesia memiliki peluang besar mengalami wabah serupa.

Itu sudah tercermin dengan munculnya wabah DBD yang meledak dalam 2 bulan terakhir ini. Meski saat ini ribuan sampel dari negara-negara Asia telah diteliti oleh National Institute of Virology di Pune dan dinyatakan negatif Zika. Ada kemungkinan persebaran Zika akan mencapai Asia, mengingat salah satu negara Asia, yakni India sudah mengalami serangan Zika yang buruk beberapa tahun lalu.

Tapi, kabar baiknya: ada sejumlah faktor yang membantu kita menekan risiko wabah virus Zika di Indonesia atau mencegahnya menyebar cepat sebagaimana pada kasus Zika di Amerika Latin. Faktor-faktor tersebut antara lain:

1. Tindakan pencegahan yang sudah dikenal luas

Masyarakat Indonesia umumnya sudah paham teknik-teknik pencegahan wabah Demam Berdarah bahkan sejak puluhan tahun lalu. Meski diakui dalam tahap pelaksanaan memang belum optimal dan masih ditemukan banyak kawasan yang belum sesuai dengan standar pencegahan.

Baca juga:  Ayo Hentikan Penyebaran Virus Zika Sekarang!

Dengan pengetahuan tentang cara pencegahan penyebaran nyamuk DBD, sebenarnya masyarakat sudah cukup dibekali cara terbaik pencegahan serangan virus Zika. Dan ini adalah langkah terbaik yang bisa masyarakat lakukan untuk mencegah serangan virus Zika, sekaligus langkah pencegahan serangan Demam Berdarah dan Cikungunya.

2. Dugaan virus Zika Indonesia berbeda dengan virus Zika Amerika Latin

Beberapa pakar mikrobiologi dari UGM meyakini virus Zika di Indonesia memiliki kemampuan penyebaran yang serupa dengan Demam Berdarah dan Cikungunya. Namun ada fakta berbeda yang ditemukan pada persebaran virus Zika di Amerika Latin. Karena virus Zika juga bisa hidup dalam air liur, darah yang tidak mengalir, dan mani.

Ini membuat virus Zika di Amerika Latin tidak hanya menular melalui perantara nyamuk, tetapi juga melalui tranfusi darah, berciuman, minum dari gelas yang sama, serta hubungan seksual. Perbedaan ini menimbulkan dugaan bahwa Zika di Amerika Latin berbeda dengan Zika di Indonesia.

3. Kebiasaan seksual

Beberapa pakar menemukan bahwa ada kemungkinan virus Zika dapat bertahan dalam mani sehingga memungkinkannya menular melalui hubungan seksual. Dugaan ini sebenarnya belum sepenuhnya diyakini karena masih membutuhkan penelitian lebih mendalam. Menariknya, budaya seks bebas di kawasan Amerika Latin dianggap sebagai salah satu faktor yang mempercepat penularan. Dan beruntung, budaya Indonesia yang masih sangat menentang seks bebas bisa sedikit banyak menekan risiko penularan.

Sampai saat ini sederet riset masih dikembangkan di Indonesia dan di berbagai negara untuk memastikan tindakan pencegahan paling tepat untuk menekan serangan virus Zika. Indonesia sendiri sudah melakukan beberapa langkah pencegahan cepat masuknya virus Zika dari berbagai negara Amerika Latin ke Indonesia.

Langkah-langkah seperti peringatan bahaya bepergian ke negara-negara yang terserang wabah Zika dan beberapa pemeriksaan bagi pengunjung dari luar negeri. Termasuk pula sejumlah edukasi kepada pihak medis mengenai gejala dan karakter Zika—langkah tersebu sangat membantu untuk mendeteksi cepat apabila muncul serangan Zika di daerah-daerah.

Advertisement
Alinesia