Cara Melindungi Janin dari Serangan Virus Zika

498

Diedit:

Belakangan ini virus zika semakin populer, Anda juga mungkin sudah paham efeknya terhadap tubuh yang terinfeksi termasuk risikonya pada janin pada saat virus ini menyerang ibu hamil. Meski dikatakan secara umum bukan jenis penyakit berat dan berbahaya, tetapi sejumlah temuan menguatkan keyakinan adanya kaitan erat kasus mikrosefali dengan virus zika. Dan membuat semakin banyak ibu hamil khawatir akan keselamatan janin mereka.

Mikrosefali sendiri adalah terbentuknya jaringan otak yang lebih kecil dari seharusnya. Mengecilnya ukuran otak menyebabkan janin bertumbuh dengan sejumlah kekurangan dan ketidakmampuan dalam segi kognitif, motorik, maupun emosional.

Bayi dengan kondisi mikrosefali bisa dikenali dengan bentuk tengkorak kepalanya yang mengecil, dahi yang pendek dan puncak kepala yang seolah mengerucut atau menyempit. Ini karena pada proses pembentukannya, tengkorak dibuat setelah otak terbentuk sehingga bentuknya cenderung menyesuaikan diri dengan ukuran otak yang kecil.

Hubungan yang Sebenarnya Antara Virus Zika dan Mikrosefali

Sebenarnya selama ini banyak pakar masih memperdebatkan benarkah ada efek samping sedemikian berat akibat virus zika terhadap perkembangan otak janin sehingga menyebabkan terjadinya mikrosefali.

Sampai sebuah riset yang dikembangkan di Yale University pada tahun 2015 lalu memaparkan fakta tentang bagaimana sebenarnya efek dari virus zika terhadap perkembangan jaringan otak janin dalam kandungan. Sumber: YaleNews.

Berdasarkan publikasi dari Cell Reports pada tahun 2016 ini diungkap bahwa virus zika yang menginfeksi ibu hamil akan menyebabkan terjadinya kelainan pada proses pembentukan jaringan kepala dan otak.

Dikatakan, dalam proses pembentukan jaringan otak, janin menggunakan sejenis protein tertentu yang menjadi kunci dari proses tersebut. Dan keberadaan virus zika melepaskan sejenis senyawa yang menyebabkan kelainan pada fungsi protein tersebut. Sehingga sel-sel induk pembentukan jaringan otak kekurangan suplai protein tersebut dan mengalami hambatan dalam proses pembentukan.

Baca juga:  Simak 15 Fakta Penting seputar Virus Zika Berikut Ini!

Dalam riset juga ditemukan sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa virus zika selain mengganggu pembentukan jaringan otak juga akan membunuh sel-sel induk yang menjadi pusat pertumbuhan jaringan dalam otak. Diperkirakan, bagi virus mungkin sel-sel induk ini menjadi ruang aman dan makanan yang baik untuk pertumbuhan dan pembiakkannya.

Riset juga menemukan bahwa virus akan mengalihkan protein TBK1 yang memiliki tugas utama mengatur pembelahan sel ke mitokondria. Protein akan merespon serangan virus dan memaksimalkan perannya pada sistem imunitas janin. Ini menyebabkan fungsi utama tersebut teralihkan dan menyebabkan gangguan pada pembentukan otak.

Virus Zika memang dapat mengganggu perkembangan jaringan otak dengan membunuh sel-sel induk yang menjadi pusat pertumbuhan otak serta mengalihkan fungsi protein TBK1 pengatur pembelahan sel pada otak.

Seluruh fakta ini menjelaskan bahwa memang benar ada kaitan erat antara virus zika dengan kerusakan otak permanen semacam mikrosefali. Temuan-temuan diatas menjawab dengan jelas sejumlah keraguan terkait kaitan keduanya.

Pertolongan Untuk Melindungi Janin dari Virus Zika

Kabar baiknya dalam riset yang sama juga ditemukan sejumlah terapi yang dikatakan bisa secara efektif meminimalisir efek samping serangan virus zika terhadap janin dan perkembangan jaringan otak mereka. Terapi ini akan bekerja dengan dua cara yang sekaligus memberi manfaat pada ibu hamil yang terserang virus zika.

Terapi ini terdiri dari pemberian dua jenis anti viral methyladenosine dan sofosbuvir. Keduanya akan bekerja menerjang proses infeksi virus zika dengan cara menghentikan proses replikasi sel virus. Selain itu juga menghambat pelepasan sejumlah senyawa dari virus yang akan bekerja sebagai semacam toksin pada tubuh.

Dengan terapi tahap pertama ini ibu hamil akan lebih mampu bertahan dalam proses inkubasi, mencegah infeksi berkembang masif dan menyebabkan penurunan kondisi ibu hamil yang lebih serius. Pada umumnya, di luar aspek serangannya pada jaringan otak janin, penurunan kondisi yang masif akan menyebabkan penurunan kondisi pada janin juga.

Baca juga:  Perlukah Kita Waspada terhadap Virus Zika?

Sedangkan langkah terapi berikutnya adalah dengan pemberian asupan protein TBK1. Protein yang sudah didisfungsikan dan dialihkan fungsinya oleh virus zika dapat digantikan dengan yang baru melalui injeksi. Ini membantu sel-sel induk tetap mampu melakukan replikasi dan pertumbuhan sebagaimana mestinya.

Efek merusak dari virus Zika dapat ditekan secara efektif dengan pemberian anti viral methyladenosine dan sofosbuvir, serta dengan pemberian asupan protein TBK1.

Selain itu, dalam riset juga ditemukan adanya fakta bahwa terapi dengan anti viral methyladenosine dan sofosbuvir bukan hanya menurunkan intensitas perkembangan dan pertumbuhan sel virus, tetapi juga efektif membantu memandulkan kemampuan virus dalam mematikan sel- sel induk pembentuk jaringan otak.

Sejauh ini, pihak FDA menganggap wacana ini sebagai solusi aman, mengingat dalam laporan yang dihimpun oleh FDA belum ada kasus yang perlu menjadikan jenis antiviral methyladenosine dan sofosbuvir masuk dalam daftar hitam atau daftar yang perlu Anda waspadai.

Meski sejauh ini terapi yang dirujuk oleh lembaga riset medis di bawah Yale University ini belum dijadikan standar terapi bagi ibu hamil dengan kasus infeksi virus zika. Sejumlah riset masih akan dikembangkan untuk memastikan metode ini sepenuhnya aman.

Tetapi menurut sumber National Geographic dikatakan, bahwa terapi ini sebenarnya sudah bisa dijalankan tanpa perlu menunggu regulasi berkaitan dengan standarisasi prosedur. Ini karena dari pihak FDA terapi-terapi yang digunakan terhadap infeksi virus zika terhadap ibu hamil ini termasuk dalam jenis terapi bisa dijalani dengan aman. Sebuah fakta baru yang cukup mengurangi ketakutan Anda, bukan?