Cuci Darah: Cara Kerja dan Efek Sampingnya

352
Penyakit yang Harus Cuci Darah
© Pramote Polyamate | Dreamstime.com

Apa itu cuci darah? Apa penyakit yang membuat seseorang harus cuci darah? Apa saja efek samping cuci darah? Bisakah berhenti cuci darah? Ini adalah pertanyaan-pertanyaan umum mengenai perawatan cuci darah. Dapatkan jawabannya dengan membaca artikel ini sampai habis.

Artikel ini merangkum informasi dari berbagai sumber yang dapat dipercaya, silakan lihat bagian “sumber referensi” di akhir artikel untuk melihat sumber-sumbernya.

Apa Itu Cuci Darah?

Cuci darah dalam bahasa medis disebut “dialisis”. Cuci darah adalah metode perawatan yang mengambil alih fungsi ginjal karena organ itu telah berhenti melakukan tugasnya akibat kerusakan yang dialaminya. Ada dua jenis dialisis:

Hemodialisis: Darah dialirkan ke mesin filter (dialyzer) di luar tubuh, dibersihkan, dan kemudian dikembalikan ke dalam tubuh. Jenis cuci darah ini dapat dilakukan di rumah sakit yang memiliki fasilitas cuci darah, di klink cuci darah, atau di rumah.

Dialisis Peritoneal: Darah dibersihkan di dalam tubuh. Cairan khusus dimasukkan ke dalam perut untuk menyerap limbah dari darah yang melewati pembuluh-pembuluh kecil di rongga perut. Cairan tersebut kemudian dikeringkan. Jenis dialisis ini biasanya dilakukan di rumah.

Apa Penyakit yang Membuat Seseorang Harus Cuci Darah?

Apabila ginjal Anda mengalami kerusakan yang sangat parah sehingga tidak lagi sanggup menjalankan fungsinya untuk menjaga kondisi tubuh, maka kemungkinan Anda membutuhkan perawatan cuci darah.

Ini biasanya terjadi apabila fungsi ginjal Anda hanya tersisa 10 – 15 persen saja. Saat itu terjadi, Anda mungkin akan mengalami gejala-gejala seperti mual, muntah, pembengkakan, dan kelelahan. Namun meskipun belum muncul gejala-gejala semacam itu, Anda masih dapat memiliki kadar limbah yang tinggi di dalam darah yang bisa beracun bagi tubuh. Jadi hanya dokter yang dapat menentukan apakah cuci darah harus dilakukan.

Apa penyakit yang mengakibatkan kerusakan ginjal separah itu sehingga harus cuci darah? Biasanya pasien yang mengalami penyakit gagal ginjal stadium akhir harus menjalani perawatan cuci darah. Ada beberapa masalah kesehatan yang umumnya dapat menyebabkan gagal ginjal, yaitu diabetes, darah tinggi, dan penyakit pembuluh darah.

Bagaimana Cara Kerja Cuci Darah Hemodialisis?

Pertama, Anda harus menjalani operasi kecil untuk membuat jalan masuk langsung ke aliran darah. Ini dapat dilakukan dalam beberapa cara:

Fistula: Salah satu pembuluh arteri dan pembuluh vena disambungkan bersama di bawah kulit tangan Anda. Sering kali, ini dilakukan pada lengan yang tidak dipakai untuk menulis. Fistula membutuhkan waktu 6 minggu atau lebih untuk sembuh sebelum dapat digunakan untuk cuci darah hemodialisis. Kemudian, fistula dapat digunakan hingga bertahun-tahun.

Kateter: Metode ini adalah pilihan bagi pasien yang punya penyakit yang harus cepat mendapat cuci darah. Sebuah pipa kecil yang lentur (kateter) dimasukkan ke dalam pembuluh vena di leher, di bawah tulang selangka, atau di sebelah selangkangan. Kateter ini hanya digunakan untuk waktu yang singkat.

Hemodialisis (Credit Photo: PicsFive / depositphotos)

Selama hemodialisis, Anda akan duduk atau berbaring di kursi. Teknisi akan menempatkan dua jarum di lengan yang sudah dipasang fistula atau graft. Sebuah pompa di mesin hemodialisis secara perlahan mengeluarkan darah Anda, kemudian mengirimkannya melalui mesin lain yang disebut dialyzer. Mesin ini berfungsi seperti ginjal dan menyaring garam, limbah, dan cairan yang tidak diperlukan.

Darah yang sudah dibersihkan lalu dikirim kembali ke dalam tubuh melalui jarum kedua di lengan Anda. Atau, jika ada kateter, darah akan keluar dari satu port dan kemudian dikembalikan melalui port kedua.

Anda bisa melakukan hemodialisis di rumah sakit yang punya fasilitas cuci darah, di pusat cuci darah, atau di rumah. Jika dilakukan di pusat cuci darah, sesi-sesinya berlangsung 3 – 5 jam, dan mungkin dijadwalkan tiga kali seminggu. Jika dilakukan di rumah, Anda perlu perawatan 6 – 7 hari yang setiap sesi berlangsung selama 2 – 3 jam.

Bagaimana Cara Kerja Cuci Darah Dialisis Peritoneal?

Teknik ini menggunakan dinding di perut Anda untuk menyaring darah. Beberapa minggu sebelum perawatan dimulai, sebuah kateter akan dipasang di dekat pusar. Setelah area itu sembuh, Anda akan dilatih tentang cara melakukan dialisis peritoneal karena Anda akan melakukannya sendiri.

Dialisis Peritoneal (Credit Photo: chpua / iStock)

Anda akan menggunakan kateter untuk mentransfer larutan dialisis dari tas ke dalam perut. Cairan khusus ini mengandung air dengan garam dan zat-zat tambahan lainnya. Cairan ini akan menyerap limbah dan cairan berlebihan lain di dalam tubuh Anda. Setelah beberapa jam, Anda harus mengalirkannya ke kantong terpisah. Proses ini disebut “pertukaran”.

Ada dua jenis dialisis peritoneal. Pertama, continuous cycling peritoneal dialysis (CCPD) yang menggunakan mesin untuk melakukan proses pertukaran. Kedua, continuous ambulatory peritoneal dialysis (CAPD) yang proses pertukarannya dilakukan dengan tangan.

Anda mungkin akan melakukan 4 – 6 pertukaran setiap hari. Dokter Anda dapat membantu memutuskan jenis dialisis peritoneal mana yang sesuai dengan gaya hidup Anda. Beberapa orang melakukan keduanya.

Apa Efek Samping Cuci Darah?

Perawatan cuci darah sering kali harus dijalani oleh para penderita penyakit gagal ginjal, khususnya yang sudah mencapai stadium akhir. Akan tetapi ada risiko dan efek samping yang menyertai perawatan cuci darah. Efek samping cuci darah yang paling umum ialah rasa letih. Ada juga efek-efek samping lainnya, apa saja efek samping cuci darah itu?

Efek Samping Cuci Darah Hemodialisis


  • Tekanan darah rendah (hipotensi): karena tubuh kehilangan cairan sementara selama perawatan. Jika tekanan darah turun selama perawatan, Anda mungkin merasa pusing, mual, kulit lembap, dan penglihatan kabur.
  • Kram otot: karena perubahan keseimbangan cairan atau mineral. Kadar yang rendah dari natrium, magnesium, kalsium, dan kalium semuanya dapat memicu terjadinya kram otot.
  • Kulit gatal: karena di antara sesi cuci darah, limbah dapat mulai menumpuk di dalam darah. Bagi sebagian pasien, ini dapat menyebabkan kulit gatal. Jika rasa gatal terutama ada di kaki, bisa jadi itu juga disebabkan oleh sindrom kaki gelisah.
  • Penggumpalan darah: karena kadang kala pemasangan titik-titik akses masuk untuk cuci darah menyebabkan penyempitan pembuluh darah. Jika tidak diatasi, ini dapat menyebabkan pembengkakan di bagian atas tubuh atau bahkan penggumpalan darah.
  • Infeksi: karena jarum atau kateter sering dipasang selama cuci darah, ini dapat meningkatkan paparan bakteri. Jika bakteri masuk ke aliran darah, pasien rentan terinfeksi atau bahkan mengalami sepsis. Jika tidak segera diobati, sepsis dapat berakibat fatal.
  • Efek samping lainnya: risiko dan efek samping lain dari cuci darah hemodialisis antara lain anemia, susah tidur, gangguan jantung, atau henti jantung (cardiac arrest). Banyak dari efek samping ini disebabkan oleh ketidakseimbangan cairan dan mineral akibat cuci darah.

Efek Samping Cuci Darah Peritoneal Dialisis


  • Infeksi peritonitis: karena bakteri memasuki peritoneum selama pemasangan atau penggunaan kateter. Gejala-gejala peritonitis yaitu sakit perut, nyeri saat ditekan, kembung, mual, dan diare.
  • Hernia: karena cairan khusus yang digunakan untuk dialisis (dialisat) menimbulkan tekanan ekstra pada dinding perut. Gejala hernia yang paling umum ialah benjolan kecil di perut.
  • Kadar gula darah tinggi: karena cairan dialisis (dialisat) mengandung gula bernama dextrose, yang juga umum digunakan untuk cairan infus. Gula ini dapat menaikkan kadar gula darah, yang dapat berbahaya bagi orang yang mengidap diabetes.
  • Kadar kalium tinggi: sebenarnya ini adalah efek samping umum dari gagal ginjal, penyakit yang membuat pasien harus cuci darah. Di antara sesi dialisis, kadar kalium dapat menumpuk akibat tidak disaring.
  • Berat badan naik: karena kalori tambahan yang didapat dari cairan dialisis (dialisat). Tetapi ada juga penyebab lain dari efek samping ini, misalnya karena pasien tidak bisa banyak bergerak atau kurangnya nutrisi selama menjalani perawatan dialisis.
  • Efek samping lainnya: beberapa orang mengalami stres dan kecemasan karena terus menjalani perawatan medis, yang dapat mengarah pada depresi. Penelitian juga menunjukkan adanya kaitan antara dialisis dan penyakit demensia di kemudian hari.

Waspadai Tanda-Tanda Efek Samping Serius Ini!

Efek samping sangatlah wajar terjadi selama cuci darah. Meski begitu Anda harus berhati-hati saat mengalami tanda-tanda efek samping yang serius selama atau setelah menjalani perawatan ini. Apa saja tanda-tanda efek samping cuci darah yang perlu diwaspadai itu?

  • Sesak napas
  • Kebingungan atau sulit berkonsentrasi
  • Rasa sakit, kemerahan, atau pembengkakan di anggota-anggota tubuh
  • Demam di atas 38 derajat C
  • Hilang kesadaran atau pingsan

Tanda-tanda di atas mungkin ada kaitannya dengan efek samping cuci darah seperti tekanan darah rendah, kadar gula darah tinggi, penggumpalan darah, atau penyakit infeksi serius yang harus segera mendapat penanganan medis.

Bisakah Berhenti Cuci Darah?

Seseorang harus melakukan cuci darah karena memiliki penyakit serius, yang sering kali adalah gagal ginjal. Dalam beberapa kasus gagal ginjal yang akut (yang terjadi secara mendadak), perawatan cuci darah mungkin hanya diperlukan untuk waktu yang singkat dan pasien dapat berhenti saat kondisi ginjal sudah membaik.

Apa sama halnya dengan cuci darah pada penyakit gagal ginjal yang kronis? Bisakah berhenti cuci darah? Pada gagal ginjal kronis, kondisi ginjal kemungkinan tidak menjadi lebih baik dan pasien harus melakukan cuci darah seumur hidup. Jika itu yang dialami, satu-satunya cara aman untuk berhenti cuci darah adalah dengan mendapat transplantasi ginjal.

Meski begitu, Anda punya kebebasan memilih apakah akan terus melanjutkan atau berhenti melakukan cuci darah. Jika Anda ingin berhenti cuci darah, karena satu dan lain hal, pastikan untuk berbicara dulu dengan dokter Anda dan bertanyalah apakah ada perawatan lain yang dapat membantu. Adakalanya kondisi kesehatan dapat dibantu dijaga dengan mengupayakan pola makan atau gaya hidup tertentu.

Jika Anda ingin berhenti cuci darah karena merasa depresi atau malu, dokter mungkin akan menganjurkan Anda untuk berbicara dulu dengan seorang konselor atau terapis.

Kesimpulan tentang Cuci Darah

Apa itu cuci darah? Cuci darah (dialisis) adalah metode perawatan untuk menggantikan fungsi ginjal karena organ tersebut mengalami kerusakan parah dan tidak mampu melakukan fungsinya.

Apa penyakit yang mengakibatkan kerusakan ginjal separah itu sehingga harus cuci darah? Sering kali pasien yang menjalani cuci darah adalah penderita gagal ginjal, khususnya yang sudah mencapai stadium akhir.

Apa saja efek samping cuci darah? Beberapa efek samping dari cuci darah hemodialisis yaitu: tekanan darah rendah, kram otot, kulit gatal, penggumpalan darah, dan infeksi. Beberapa efek samping dari cuci darah peritoneal dialisis yaitu: infeksi peritonitis, hernia, kadar gula darah tinggi, kadar kalium tinggi, dan berat badan naik.

Bisakah berhenti cuci darah? Pada beberapa kasus gagal ginjal yang akut, pasien mungkin bisa berhenti cuci darah setelah kondisi ginjal membaik. Bisakah berhenti cuci darah pada gagal ginjal kronis? Pada penyakit gagal ginjal yang kronis, biasanya pasien harus terus melakukan cuci darah seumur hidupnya, kecuali pasien mendapatkan transplantasi ginjal.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang perawatan cuci darah. Semoga informasi ini dapat berguna khususnya bagi Anda yang sedang akan menjalani perawatan ini. Temukan juga ulasan-ulasan menarik lain seputar masalah kesehatan hanya di Deherba.com.

Sumber

Sumber Referensi:

WebMD. When Do I Need Dialysis?. Reviewed: 2018-12-21. URL: https://www.webmd.com/a-to-z-guides/kidney-dialysis. Accessed: 2020-01-13

National Kidney Foundation. Hemodialysis. URL: https://www.kidney.org/atoz/content/hemodialysis. Accessed: 2020-01-13

Lockett, Eleesha. What You Need to Know About Dialysis Side Effects. Reviewed: 2019-12-19. URL: https://www.healthline.com/health/kidney-health/dialysis-side-effects. Accessed: 2020-01-13