2 Pilihan Pengobatan Batu Ginjal yang Masih Kecil Tanpa Operasi


By Cindy Wijaya

Takut saat memikirkan harus operasi batu ginjal? Ada kabar baik buat Anda—ada pilihan pengobatan batu ginjal tanpa operasi yang bantu Anda bebas dari penyakit yang menyakitkan itu. Kemajuan dalam ilmu kedokteran telah membuka jalan bagi perawatan non-bedah yang efektif untuk mengeluarkan batu dari ginjal.

Dalam artikel ini kita akan melihat apa saja metode pengobatan batu ginjal yang masih kecil tanpa operasi yang bisa Anda pertimbangkan bersama dokter Anda. Juga akan dibahas rekomendasi tanaman obat penghancur batu ginjal yang bisa dikonsumsi untuk membantu membersihkan sisa-sisa penyakit ini.

Pengobatan Batu Ginjal yang Masih Kecil

Pengobatan batu ginjal tanpa operasi dapat dilakukan pada batu yang ukurannya masih cukup kecil. Malah kadang-kadang batu yang masih kecil bisa keluar sendiri melalui saluran kemih tanpa pengobatan apapun.

Pengobatan non-operasi juga bisa dilakukan untuk memperkecil ukuran batu ginjal yang sudah cukup besar agar bisa dikeluarkan secara alami melalui saluran kemih. Berikut adalah sejumlah pengobatan batu ginjal tanpa operasi.

Litotripsi

Litotripsi adalah prosedur non-invasif (tanpa operasi bedah) yang digunakan untuk mengobati batu ginjal yang ukurannya masih tidak terlalu besar, tapi sudah sulit untuk secara alami keluar lewat saluran kemih.

Prosedur dilakukan dengan mengirimkan energi ultrasonik terfokus atau gelombang kejut langsung ke lokasi batu menggunakan fluoroskopi (sejenis sinar X) atau ultrasound. Gelombang kejut memecah batu besar menjadi batu-batu kecil yang bisa keluar melewati saluran kemih. (Sumber: Lithotripsy – Johns Hopkins Medicine)

Litotripsi memungkinkan pasien untuk menghindari prosedur bedah. Namun untuk mengarahkan gelombangnya ke lokasi batu, dokter tetap perlu melihat batu tersebut melalui prosedur sinar-X atau ultrasound.

Ureteroskopi

Jika batu ginjal tidak bisa ditangani dengan litotripsi, pilihan non-invasif lainnya adalah ureteroskopi. Ini adalah pengobatan batu ginjal tanpa operasi lain yang dilakukan tanpa sayatan, tapi dengan memasukkan alat teleskop kecil melalui saluran kemih dan kandung kemih, lalu naik ke ureter hingga mencapai lokasi batu ginjal. Prosedur ini biasanya dilakukan dengan anestesi umum (bius total).

Jika batunya kecil, itu bisa dijerat dengan alat keranjang dan dikeluarkan utuh dari ureter. Jika batunya besar, atau jika diameter ureternya sempit, batu itu perlu dipecah, yang biasanya dilakukan dengan laser. Setelah dipecah jadi potongan-potongan kecil, mereka akan lebih mudah dikeluarkan. (Sumber: Ureteroscopy – John Hopkins Medicine)

Pembuangan batu melalui ureteroskop dapat menyebabkan pembengkakan pada ureter. Karena itu mungkin dokter untuk sementara membiarkan tabung kecil (stent ureter) di dalam ureter untuk memastikan ginjal tetap mengalirkan urin dengan baik.

Ureteroskopi biasanya dapat dilakukan sebagai prosedur rawat jalan. Namun ada saatnya pasien harus menjalani rawat inap semalam jika prosedurnya lebih lama atau sulit dilakukan.

Tanaman Obat Penghancur Batu Ginjal

Prosedur-prosedur medis seperti di atas mungkin dibutuhkan untuk menghancurkan batu yang meski tidak besar tapi sulit untuk keluar sendiri melalui saluran kemih.

Di samping prosedur medis, ada pengobatan batu ginjal yang masih kecil yang membantu memperkecil ukuran batu atau untuk mencegahnya bertambah besar. Yaitu dengan memanfaatkan sejumlah tanaman obat penghancur batu ginjal berikut ini.

Delima

Seluruh bagian tanaman delima (Punica granatum) dapat digunakan untuk pengobatan tradisional. Efek anti-hiperkalsiuria dan anti-urolitiasis dari tanaman ini dapat digunakan dalam pencegahan pembentukan batu ginjal. Kandungan fitokimianya dapat merelaksasi otot di saluran kemih dan saluran empedu, sehingga batu dapat lebih mudah dikeluarkan dari ginjal. (Sumber: Journal of Ethnopharmacology Vol. 140 No. 2)

Telah dilakukan juga penelitian pada manusia (usia 18-70 tahun) untuk mengamati efek perlindungan ginjal dari ekstrak buah delima pada pembentukan batu berulang yang mengandung kalsium. Konsumsi suplemen ekstrak delima harian menyebabkan penurunan regulasi aktivitas arylesterase serum paraoxonase1 (PON1) secara signifikan, disertai penurunan supersaturasi kalsium oksalat.

Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak buah delima dapat mengendalikan risiko pembentukan batu ginjal. (Sumber: Urolithiasis Vol. 42 No. 5)

Jelatang

Tanaman jelatang (Urtica dioica) daunnya punya bulu-bulus halus yang bisa menyebabkan gatal jika disentuh. Namun jika tahu cara tepat mengolahnya, jelatang bisa dijadikan tanaman obat penghancur batu ginjal.

Tanaman obat ini punya sejarah panjang digunakan untuk berbagai masalah buang air kecil, khususnya pada saluran kemih dan batu ginjal. Kandungan fitokimia aktif utamanya termasuk flavonoid, antosianin, dan saponin. Kandungan-kandungan itu memungkinkan manfaat penghambatan pengendapan kalsium dan oksalat serta pertumbuhan kristal yang memicu terbentuknya batu ginjal.

Pemberian ekstrak jelatang dalam penelitian pada hewan percobaan dengan batu ginjal didapati dapat menurunkan kadar kreatinin urin dan pengurangan supersaturasi zat peningkat litogenik. Ekstrak ini berpotensi melarutkan litiasis dan mengatasi hiperoksaluria dan kristaluria yang disebabkan oleh etilen glikol. (Sumber: Molecular Medicine Reports Vol. 10 No. 6)

Jintan Hitam

Jintan hitam (Nigella sativa) telah digunakan secara tradisional untuk pengobatan batu ginjal yang masih kecil. Ekstrak biji jintan hitam didapati bisa mengurangi jumlah pengendapan kalsium oksalat dan konsentrasi kalsium oksalat pada urin dalam penelitian pada hewan percobaan. (Sumber: Urology Journal Vol. 4 No. 2)

Kandungan utama dalam biji jintan hitam, thymoquinone, menunjukkan efek pencegahan dan pengobatan pada batu ginjal pada hewan percobaan. Senyawa fitokimia ini didapati mengurangi ukuran dan jumlah endapan kalsium oksalat di tubulus ginjal. (Sumber: Urology Journal Vol. 5 No. 3)

Rosella

Rosella (Hibiscus sabdariffa) merupakan tanaman obat penghancur batu ginjal yang mengandung polifenol, antosianin, serta asam askorbat, quercetin, dan asam protocatechuic. Ekstrak rosella didapati memiliki aktivitas antiurolitik karena dapat menurunkan pengendapan konstituen pembentuk batu ginjal pada uji hewan percobaan. (Sumber: Urological Research Vol. 40 No. 3)

Selain itu, ekstrak Rosella memiliki efek antilitik dengan menurunkan waktu retensi oksalat di ginjal dan meningkatkan ekskresi ke dalam urin. (Sumber: The Journal of Urology Vol 185 No. 1) Sebuah uji klinis—yang menguji secangkir teh dari 1,5 gram rosella kering diminum 2 kali sehari pada 18 pasien selama 15 hari—didapati efek urikosurik dan peningkatan ekskresi dan pembersihan asam urat yang signifikan. (Sumber: Journal of Ethnopharmacology Vol. 117 No. 3)

Demikianlah artikel ini yang membahas tentang pengobatan batu ginjal yang masih kecil tanpa operasi, baik dengan prosedur medis maupun dengan tanaman obat penghancur batu ginjal.

Semoga informasi ini dapat bermanfaat bagi Anda dan keluarga. Temukan juga artikel-artikel menarik lain seputar pemanfaatan tanaman obat hanya di Deherba.com.

*Credit gambar utama: Image by jcomp on Freepik

Tentang Penulis

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di Bogor “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan. Silakan klik di sini untuk kontak penulis via WhatsApp.

Anda mendapat manfaat dari artikel-artikel kami? Mohon berikan ulasan untuk terus menyemangati kami menulis > Google Review

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}