Pengobatan Sakit Jantung dengan Operasi Angioplasti


By Cindy Wijaya

Kebanyakan kasus jantung koroner disebabkan oleh kasus penyempitan pembuluh darah arteri jantung. Biasanya penyebab penyempitan pembuluh darah ini adalah kasus aterosklerosis atau pembentukan plak kolesterol pada pembuluh darah yang menjadi sumbatan aliran darah. Dan salah satu prosedur pengobatan sakit jantung koroner semacam ini adalah operasi angioplasti.

Prosedur ini biasa ditempuh pada kasus aterosklerosis yang ringan dimana penyumbatan belum berat dan tingkat elastisitas dari dinding pembuluh darah masih memungkinkan untuk dipertahankan. Dan itu sebabnya penanganan ini termasuk prosedur operasi yang paling umum dijalankan sebagai pengobatan sakit jantung.

Tindakan angioplasti juga bisa diterapkan pada kondisi pasien yang tengah mengalami serangan jantung. Prosedur ini akan secara langsung melapangkan aliran darah menuju jantung dan meredakan rasa nyeri dan sesak pada dada karena otot jantung kembali pulih.

Bagaimana Sebenarnya Prosedur Angioplasti?

Prosedur angioplasti dijalankan dengan cara memasukan sejenis balon pada saluran pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Setelah itu, balon akan ditiup hingga menggembung. Efek gembungan ini akan mendorong dinding pembuluh darah untuk kembali mengembang dan melapangkan kembali pembuluh darah.

Prosedur operasi angioplasti biasanya juga diterapkan bersama dengan pemasangan ring atau stent. Ring ini akan membantu menahan pembuluh darah yang sudah mengembang tadi dan mencegahnya kembali menyempit.

Untuk menjalankan prosedur angioplasti ini, pasien akan mendapatkan sayatan pada area kulit lengan, kaki, atau pergelangan tangan untuk memasukkan sejenis kateter atau selang kecil. Selang ini akan didorong menuju area pembuluh darah yang mengalami penyempitan. Pada ujung kateter dipasangkan sejenis balon khusus untuk dipasangkan pada pembuluh darah.

Secara umum prosedur ini menyerupai tindakan angioskopi, karena demi memandu proses untuk kateter mencapai pembuluh darah bersangkutan dan pemasangan balon dan ring, pada ujung kateter juga dipasangkan alat sensor dan kamera mikro.

Setelah balon terpasang pada pembuluh darah yang menyempit, kateter tadi akan ditiupkan udara untuk menggembungkan balon. Udara akan ditarik dan dimasukan kembali beberapa kali, sampai pembuluh darah kembali mengembang dan diperkirakan akan mengembang permanen. Setelahnya baru stent dipasangkan untuk menahan pembuluh darah tetap mengembang dan balon ditarik keluar dari pembuluh darah.

Selama proses angioplasti ini berlangsung, pasien akan dibius. Ini dilakukan karena pasien biasanya akan mengalami rasa nyeri hebat pada jantung selama proses berlangsung. Rasa nyeri datang dari efek pemasangan balon yang otomatis akan menyumbat aliran darah dan memberi efek otot yang tegang pada jantung.

Prosedur ini harus dijalankan dengan berbagai pertimbangan terutama karena adanya risiko reaksi tubuh terhadap pengembangan pembuluh darah dan pemasangan stent. Adapun beberapa risiko pengobatan sakit jantung dengan angioplasti ini antara lain:

Perdarahan pada Dinding Pembuluh Darah

Kebanyakan kasus aterosklerosis menyebabkan pembuluh darah kehilangan elastisitasnya. Dan kadang kala prosedur angioplasti membuat dinding ini mengalami luka atau robekan yang menimbulkan perdarahan. Dalam skala ringan bisa menimbulkan efek pembekukan darah yang juga bisa menyebabkan sumbatan baru. Dalam skala berat bisa menyebabkan kerusakan permanen pada pembuluh darah.

Iritasi pada Pembuluh Darah

Berbeda dengan perdarahan yang berakibat serius, maka banyak kasus muncul iritasi seperti kemerahan dan lecet kecil pada dinding pembuluh darah disepanjang jalur yang dilalui oleh kateter. Kateter memang bisa mengiritasi dinding pembuluh darah.

Serangan Jantung pada Saat Prosedur

Sebagaimana disampaikan selama prosedur angioplasti jantung akan mengalami tekanan karena aliran darah otomatis berhenti sesaat tertutupi oleh balon. Dan pada kondisi jantung yang sudah lemah, prosedur ini malah bisa menjadi berbahaya, menyebabkan jantung berdebar berlebihan atau malah berhenti berdetak.

Reaksi Alergi

Beberapa pasien menunjukan reaksi alergi, auto imun atau reaksi keracunan oleh masuknya balon dan stent dalam pembuluh darah. Kadang ini berkaitan dengan pasien yang memang sudah mengalami penurunan kondisi atau masalah dengan ginjal.

Serangan Stroke

Kasus penyumbatan baru bisa muncul setelah angioplasti. Ada beberapa kondisi antara lain:

  • Lepasnya plak yang larut pada pembuluh darah dan akhirnya membentuk sumbatan baru pada pembuluh darah menuju otak.
  • Perdarahan dinding pembuluh darah yang kemudian membeku dan membentuk sumbatan pada pembuluh darah menuju otak.
  • Terjadi iritasi dinding pembuluh darah karena pergesekan kateter namun tidak terdiagnosa. Dua sisi dinding yang teriritasi ini lama-lama akan melekat satu sama lain dan membentuk sumbatan baru menuju otak.

Itu sebabnya prosedur angioplasti hanya bisa dilakukan pada pasien yang memenuhi persyaratan seperti kondisi otot jantung yang masih cukup baik, elastisitas pembuluh darah yang masih relatif baik, bebas dari keluhan hipertensi dan diabetes, bebas keluhan ginjal dan hati, serta tidak memiliki keluhan pembuluh darah lain.

Prosedur angioplasti juga bukan metode pengobatan sakit jantung yang tuntas. Kebanyakan prosedur angioplasti hanya ampuh menurunkan intensitas serangan jantung dan membantu meredakan gejala. Untuk itu, sebaiknya pasien tetap menjalankan pola hidup sehat untuk mencegah terjadinya restenosis atau aterosklerosis berulang. Namun pengobatan sakit jantung ini dianggap lebih mudah dijalankan ketimbang prosedur bypass yang lebih rumit, mahal, dan memakan waktu penyembuhan lebih lama.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}