• Home
  • Blog
  • Hamil
  • Mengonsumsi Parasetamol untuk Ibu Hamil Diduga Memicu Anak Hiperaktif!

Mengonsumsi Parasetamol untuk Ibu Hamil Diduga Memicu Anak Hiperaktif!


By Cindy Wijaya

Parasetamol dinyatakan sebagai salah satu obat analgesik dan antipiretik teraman bagi anak, dewasa hingga ibu hamil. Selama ini demikian yang dipercaya dan diketahui kebanyakan orang sehingga di Indonesia sendiri kita terbiasa memberikan terapi parasetamol untuk mengatasi demam, gejala flu, sakit kepala sampai sakit gigi. Tetapi ternyata beberapa riset membuktikan adanya bahaya parasetamol untuk ibu hamil.

Dr. Evie Stergiakouli, pakar genetik epidemiologi dan genetik statistik dari the University of Bristol in England membuktikan adanya kaitan antara pola konsumsi ibu hamil terhadap parasetamol justru bisa memicu bayi lahir dengan karakter hiperaktif.

Riset yang dirilis dalam JAMA Pedriatics dengan jurnal bertajuk Association of Acetaminophen Use During Pregnancy With Behavioral Problems in Childhood pada 15 Agustus 2016 ini mengungkap bahwa parasetamol yang diasup dengan tidak bijak oleh ibu hamil ternyata memberi efek negatif pada perkembangan otak dan perilaku bayi.

Riset sendiri melibatkan sekitar 8000 sampel wanita hamil yang terdaftar dalam the Avon Longitudinal Study of Parents and Children. Dalam riset para wanita hamil ini mendapatkan pertanyaan seputar pola konsumsi mereka terhadap pengobatan parasetamol. Terutama pada masa minggu ke 18 dan pada minggu ke 32. Kemudian kelompok wanita yang sama kembali mendapatkan questioner ketika anak mereka menginjak usia 5 tahun dan usia 7 tahun sebagai pembanding.

Dalam riset ditemukan fakta bahwa sekitar 53% wanita hamil mengonsumsi parasetamol pada saat usia kehamilan 18 minggu dan 42 % ketika mereka memasuki usia kehamilan 32 minggu. Sementara itu, mereka menjadi lebih progesif dalam mengonsumsi parasetamol pasca persalinan hingga mencapai kisaran 86%.

Yang menarik, dari data ditemukan bahwa 31% wanita hamil ini memiliki anak dengan kondisi hiperaktif dan keluhan emosional. Dari angka ini, setidaknya lebih dari 2/3 terjadi pada wanita yang telah mengonsumsi parasetamol selama masa kehamilan mereka. Terutama pada masa kehamilan 18 minggu dan pada saat memasuki pekan ke 32. .

Baca Juga:  Penyebab Mual dan Eneg saat Hamil serta Cara Mengatasinya

Pelaku riset sendiri memilih periode 18 minggu dan 32 minggu karena pada masa ini, sejumlah pakar menyepakati bahwa janin dalam kandungan sedang dalam maksimal pertumbuhan jaringan otak. Pada usia 18 minggu, janin membentuk jaringan dasar dari otak sedang pada pekan ke 32, janin mulai mengembangkan sejumlah besar sistem saraf utamanya sistem neutrotransmitter dan beberapa jaringan yang nantinya bekerja mengatur kendali kelenjar.

Menurut Dr. Evie Stergiakouli, diduga bahwa terjadi proses penyerapan parasetamol pada uterus dan kemudian menembus masuk ke dalam sistem plasenta, yang tentu saja terhubung langsung dengan janin.

Sementara perlu Anda pahami bahwa ada sifat parasetamol yang bekerja untuk mengkamuflase beberapa sinyal pada tubuh sehingga sistem saraf pusat tidak membaca kondisi kondisi tertentu yang memicu munculnya reaksi demam. Parasetamol juga memblokir sistem sinyal nyeri dan menekan reaksi otak terhadap sinyal sakit.

Menurut Livescience, kondisi ini ditengarai berasal dari sifat parasetamol yang memanipulasi kinerja otak dengan menekan beberapa enzim dan hormon. Kemampuan ini justru menjadi racun dalam proses pembentukan jaringan otak pada janin yang tentu saja masih sangat rentan.

Sebuah riset lain yang dikembangkan di Denmark sepanjang tahun 1996 hingga 2002 dengan melibatkan sekitar 65 ribu wanita hamil selama masa periode juga membuktikan fakta yang senada dengan riset Dr. Evie Stergiakouli.

Dalam riset diungkap adanya peningkatan risiko anak mengalami keluhan ADHD atau Attention-Deficit Hyperactivity Disorder mencapai angka 37% pada wanita yang mengonsumsi parasetamol selama masa kehamilan terutama pada periode emas pertumbuhan otak anak. Dalam riset dipastikan bahwa semakin banyak kadar parasetamol yang dikonsumsi semakin buruk risiko yang mungkin akan terjadi pada anak.

Baca Juga:  Mewaspadai Komplikasi pada Ibu Hamil

Biasanya kondisi anak ADHD baru bisa terdiagnosa dengan pasti pasca anak berusia di atas 5 tahun. Ketika seharusnya perkembangan kognitif mereka sudah berkembang dengan sangat baik. Itu sebabnya beberapa pakar akui sulitnya menerapkan riset ini hingga harus melibatkan setidaknya ribuan kasus.

Sebenarnya bukan hanya menyebabkan kerusakan pertumbuhan sistem kinerja otak, daya pikir dan mood anak, karena dalam livescience diungkap adanya riset yang di kembangkan tahun 2011 mengenai kaitan kadar lithenol atau senyawa aktif dalam parasetamol pada ibu hamil meningkatkan risiko bayi lahir dengan masalah asma, sejumlah kasus alergi dan masalah motorik.

Sementara itu, sampai hari ini, secara medis parasetamol masih diberikan pada ibu hamil ketika mereka mengeluhkan kondisi demam, sakit kepala, pusing dan nyeri lainnya. Keluhan sakit kepala memang kerap dikeluhkan ibu terkait dengan perubahan hormonal yang muncul bersamaan dengan perkembangan kehamilan.

Sedang demam biasa muncul sebagaimana ibu hamil kerap merasakan mual selama kehamilan. Sindrom mual dan efek seperti “masuk angin” atau mabuk kendaraan memang sangat kerap dikeluhkan ibu hamil yang lagi-lagi berkaitan erat dengan kondisi hormonal tubuh.

Namun seiring dengan sejumlah penemuan ini, akan lebih bijak bila Anda memilih menghindari atau setidaknya mengonsumsi dalam taraf seminimal mungkin parasetamol. Anda bisa atasi keluhan pusing, demam dan mual Anda dengan mengonsumsi sejumlah herbal seperti jahe atau noni yang sangat membantu mengatasi keluhan dengan cara alami dan aman.

Meski demikian, sampai hari ini parasetamol justru masih diklaim sebagai salah satu obat medis anti piretik dan analgesik teraman untuk bayi dan anak. Tidak ada riset yang menemukan adanya bahaya berarti pada terapi parasetamol untuk anak kecuali anak mengonsumsi pada takaran di atas moderat. Yang artinya peringatan hanya diberikan untuk penggunaan parasetamol untuk ibu hamil.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}