Kanker kelenjar getah beningEmpat bulan lamanya kaki Glent Pranoto (38 Th, Sumatera) membengkak ibarat kaki gajah. Tak hanya itu, pembengkakan juga terjadi pada skrotum miliknya. Meski pun tidak merasakan rasa sakit, tentu saja gejala tersebut membuat Glent penasaran pada kondisi tubuhnya.

Beberapa dokter pun dikunjunginya, namun, Glent mendapatkan beragam asumsi yang berbeda-beda mengenai apa sebenarnya penyakit yang dialaminya. Belakangan, ditemukan benjolan-benjolan di tubuh Glent pada area lipatan paha, lemak perut, ketiak kanan dan kiri serta leher.

Dua bulan setelah pemeriksaan awal, hasil biopsi menyatakan bahwa Glent terkena kanker kelenjar getah bening. Untuk pengobatan, ia disarankan menjalani kemoterapi sebanyak 6 siklus.

Dengan terpaksa, dirinya menjalani kemoterapi yang pertama. Seperti penderita kanker lainnya, ia harus mengeluarkan dana yang cukup besar dan ia juga mengalami efek samping yang tidak menyenangkan dari pengobatan tersebut.

Sekujur tubuhnya terasa sakit, rambut rontok, mual, muntah-muntah, pusing yang sangat hebat, badan lemah, dan menghitam. Mulanya, efek menyakitkan tersebut hanya berlangsung selama 1 minggu saja.

Namun, pada kemoterapi yang kedua, efek tersebut diakuinya amat sangat menyakitkan sehingga ia memutuskan untuk berhenti melakukan kemoterapi.

Empat bulan setelah kemoterapi yang kedua itu, kaki dan skrotum Glent kembali membengkak. Kali ini, dengan kondisi yang lebih serius. Perutnya juga membengkak, berat badan semakin menurun, dan tubuh terasa lemas. Seringkali, ia merasakan sesak nafas yang sebelumnya tidak pernah dialami.

Akibatnya, ia harus sering keluar-masuk rumah sakit. Ia juga mulai mencoba pengobatan herbal namun tidak kunjung membuahkan hasil, seperti halnya pengobatan medis yang dijalaninya. Dalam kepasrahan, sepupu Glent di Malang menyarankan dirinya untuk mencoba produk herbal Sarang Semut Papua yang informasinya didapat dari situs deherba.com.

Baca juga  Kebocoran Katup Jantung Atasi Dengan Kombinasi Herbal

Awalnya, keraguan sempat menghampiri pikirannya. Ketika ditanya alasannya, ia mengaku bahwa sebelumnya, ia sudah mencoba mengonsumsi rebusan Sarang Semut asal Kalimantan selama 3 bulan. Hasilnya sama sekali tidak memuaskan. Tidak ada perubahan berarti yang dirasakannya pada berbagai dampak yang ditimbulkan oleh kanker kelenjar getah bening yang ia derita.

Namun, “tidak ada salahnya mencoba”, ujar Glent dalam hatinya. Apalagi ketika mengetahui bahwa jenis Sarang Semut yang direkomendasikan Deherba berasal dari Papua (Myrmecodia pendans), yang memang sudah terbukti berkhasiat sebagai anti-kanker dalam berbagai penelitian.

Karena meskipun ada beragam jenis Sarang Semut, tidak semua jenis diketahui berkhasiat dalam pengobatan kanker. Inilah yang tidak diketahui oleh banyak orang.

Glent kemudian memesan paket penggunaan satu bulan sebanyak 4 botol. Setelah mengonsumsinya selama satu setengah bulan saja, berangsur-angsur terlihat perubahan yang signifikan. Pembengkakan pada tubuh diketahui berkurang, perut yang semula besar dan keras pun mulai melunak.

“Badan saya fit, ketika saya kembali bekerja setelah 2 bulan lamanya meninggalkan pekerjaan, teman-teman saya terkejut pada perubahan kesehatan saya yang begitu cepat”, ujar Bapak Glent.

Walaupun sudah merasa fit kembali, sampai saat ini, Glent terus mengonsumsi kapsul ekstrak Sarang Semut Papua. Dengan tekad dan semangat yang kuat serta bantuan herbal Sarang Semut Papua, Glent optimis bahwa dirinya dapat terus menang melawan kanker kelenjar getah bening.

Disclaimer: Hasil yang diperoleh bisa berbeda-beda tergantung kondisi tubuh masing-masing pengguna.