Kopi atau Teh, Apa yang Terbaik dan Pengaruhnya bagi Penderita GERD?

567

Diedit:

Boleh jadi Anda sudah terbiasa memulai hari Anda dengan secangkir kopi atau bersantai di malam hari sambil meniup segelas teh panas. Bisakah kedua minuman ini, kopi atau teh, menyebabkan heartburn atau gejala lain dari naiknya asam lambung? Dapatkah itu mengarah ke gangguan yang lebih kronis dari penyakit gastroesophageal refluks (GERD)? Jika demikian, seberapa besar pengaruhnya bagi penderita GERD?

Salah satu faktor yang memicu asam lambung naik adalah jenis makanan dan minuman yang Anda konsumsi. Ini dikarenakan adanya zat tertentu yang mengiritasi esofagus atau melemahkan esophageal sfingter bagian bawah, sehingga mencegah makanan turun ke lambung dan menyebabkan refluks (naik kembali).

Bagi penderita GERD, Anda sebaiknya membatasi konsumsi kopi maupun teh, sebab keduanya berpengaruh pada esophageal sfingter bagian bawah. Namun, beberapa penelitian menemukan adanya perbedaan efek antara kopi dengan teh. Berikut akan dijelaskan pengaruh kopi dan teh bagi penderita GERD.

Pengaruh Kafein bagi Penderita GERD

Kafein—kandungan utama dalam banyak varietas kopi dan teh—sudah dikenal sebagai pemicu umum heartburn. Akan tetapi, sejumlah penelitian memperlihatkan bahwa kafein tidak serta merta memicu heartburn. Para periset menemukan adanya beragam pengaruh kafein pada penderita GERD.

Sebuah studi yang dirilis pada Alimentary Pharmacology & Therapeutics menyebutkan bahwa efek kopi atau teh terhadap asam lambung sebenarnya belum dapat dipastikan. Studi tersebut bertujuan untuk meneliti kembali peristiwa refluk sebelum dan sesudah proses dekafeinasi (penetralan kafein) dari dalam tubuh. Para peneliti kemudian membandingkan hasilnya dengan menggunakan air dan air berkafein.

Mereka menemukan bahwa rutin minum kopi lebih berat pengaruhnya dibandingkan dengan teh yang berkafein. Di sisi lain, minum teh berkafein efek refluksnya sebanding dengan efek minum air putih. Kopi yang sudah didekafeinasi secara signifikan mengurangi gejala pada penderita GERD, sementara teh yang didekafeinasi tidak memberi perubahan serupa.

Baca juga:  Pengobatan GERD Yang Tersedia

Penulis dari studi di atas berkesimpulan bahwa kopi jauh lebih meningkatkan gejala refluks daripada teh—meskipun kedua minuman ini sama-sama berkafein. Studi tersebut menduga kafein tidak bertanggung jawab atas terjadinya refluks, zat lain yang terkandung dalam kopi lah pelaku sebenarnya.

Perlukah Penderita GERD Menghindari Kopi dan Teh?

Sulit menentukan apakah penderita GERD harus menghindari kopi atau teh. Ada bukti menunjukkan bahwa kopi tanpa kafein dapat membantu meminimalkan gejala refluks. Demikian juga halnya dengan teh, kaitan antara teh dan GERD kerap diperdebatkan.

Meskipun sejumlah ahli kesehatan menyarankan untuk menghindari teh supaya tidak mengalami gejala GERD, ada pula cukup banyak bukti yang menunjukkan teh tidak memicu refluks. Misalnya sebuah studi yang muncul dalam World Journal of Gastroenterology menemukan bahwa teh tidak memengaruhi refluks dan minum kopi hanya menimbulkan gejala refluks ringan.

Sebagai kesimpulannya Anda, terutama penderita GERD, tetap harus membatasi konsumsi kopi atau teh. Dengan begitu banyak perbedaan pendapat dalam studi, riset, atau penelitian ilmiah tentang pengaruh kopi dan teh bagi penderita GERD, ini artinya Anda lah yang bertanggung jawab dalam menentukan apakah perlu menghindari dua jenis minuman ini. Sebelumnya, ada baiknya berkonsultasi dengan dokter untuk mengidentifikasi apa pemicu spesifik gejala GERD yang Anda alami.