Kenapa Koronavirus Cepat Menyebar? Pahami Alasannya di Sini


By Nurul Kuntarti

Ketika artikel ini ditulis, korban dari koronavirus mencapai hampir 6000 orang dengan jumlah kematian mencapai 132 orang lebih di seluruh dunia. Ini belum menghitung terduga pasien yang tersebar di seluruh dunia. Pertanyaannya, kenapa koronavirus demikian cepat menyebar? Dan kenapa pula koronavirus dapat demikian mematikan?

Bahkan dalam informasi yang beredar juga diberitakan bahwa dokter yang ditugaskan merawat pasien yang terinfeksi koronavirus juga memiliki resiko sangat tinggi untuk tertular koronavirus.

Tidak hanya itu, sampai saat ini sejumlah kota di Cina juga diisolasi demi dapat menghambat persebaran virus lebih jauh. Terhitung lebih dari 40 juta orang kini tidak dapat keluar dari Cina.  Termasuk menutup aktivitas pendidikan dan menggagalkan perayaan imlek. Persebaran penderita koronavirus sendiri juga sudah mencapai 13 negara.

Sekilas tentang Koronavirus

Koronavirus sejatinya bukan jenis virus baru. Jenis pathogen ini sudah dikenal lama di dunia. Jenis virus yang terbilang ganas ini diketahui dapat menyerang saluran pernafasan, pencernaan, fungsi hati dan sistem saraf. Dipahami pula virus ini dapat menyerang manusia dan hewan termasuk burung, tikus, hingga kelelawar serta sejumlah jenis hewan liar.

Koronavirus mulai diketahui secara publik sejak tahun 2002 ketika penyakit Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS) menyebar dan pada tahun 2012 pada saat penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS). Dari kedua penyakit ini terbukti bahwa koronavirus merupakan pathogen yang dapat menular dari hewan ke manusia atau disebut dengan zoonosis.

Kemunculan berikutnya terjadi pada penghujung 2019, ketika ditemukan sejumlah kecil pasien pneumonia yang berkarakter unik di kawasan Wuhan. Berdasar riset yang dikembangkan secara lokal ditemukan bahwa pneumonia ini disebabkan oleh sebaran baru virus korona yang telah bermutasi.

Pada 12 Januari 2020, WHO menyatakan pneumonia ini disebabkan oleh 2019-nCoV, penamaan temporer untuk hasil mutasi Koronavirus ini. Yang kemudian diiringi dengan fakta baru bahwa virus baru ini dapat menular dengan cepat. Catatan terakhir menunjukan korban hampir mencapai 6000 pasien di seluruh dunia dan lebih dari 132 orang dinyatakan meninggal karena virus ini. Semua itu terjadi hanya dalam hitungan pekan.

2019-nCoV (2019-novel Coronavirus) ini termasuk jenis betakoronavirus yang diketahui lebih aktif menyerang mamalia. Itu sebabnya mudah beradaptasi untuk menginvasi tubuh manusia. Jenis ini juga diketahui lebih aktif untuk menyerang sistem pernafasan, tetapi menunjukan efek yang lebih ringan dibandingkan pada SARS dan MERS.

Dalam data lain diduga, mereka yang meninggal karena jenis virus baru ini juga memiliki jenis penyakit lain yang turut memperburuk kondisi pasien. Sehingga pasien menunjukan gejala yang lebih berat dan mengalami resiko kematian lebih tinggi.

Untuk mengantisipasi penyebaran virus corona di Indonesia, ada baiknya Anda membaca panduan pencegahan virus corona di artikel ini: “Pencegahan Penularan Virus Corona Menurut WHO & Kemenkes

Kenapa Koronavirus Cepat Menyebar?

Ini adalah pertanyaan penting yang belakangan dipertanyakan, kenapa koronavirus demikian cepat menyebar. Apakah ada kondisi khusus dari koronavirus ini sehingga lebih menular dan berbahaya dari virus sejenis lainnya? Mengingat proses persebaran demikian besar untuk waktu singkat hanya beberapa pekan.

Menurut keterangan pihak medis lokal dan pemerintah RRC, koronavirus ini diduga kuat menular melalui hewan seperti ular dan kelelawar. Proses penularan tidak karena hewan liar ini dikonsumsi dalam keadaan matang seperti sajian sup kelelawar sebagaimana banyak diasumsikan orang. Tetapi karena sentuhan antara pembeli di pasar dengan daging mentah hewan liar yang diperdagangkan.

Di kota Wuhan sendiri memang terdapat kebiasaan mengonsumsi hewan liar menjadi hidangan tradisional. Hewan liar ini dapat dengan mudah ditemukan di pasar Seafood Huanan. Pasar ini cukup populer dengan pengunjung harian yang cukup banyak.

Ketika koronavirus menjangkit hewan liar yang kebetulan diperdagangkan, maka interaksi orang dengan  daging mentahnya dikhawatirkan menyebabkan penularan. Maka saat itu koronavirus menular ke manusia. Itulah awal dari kenapa koronavirus cepat menyebar. Karena di masyarakat Wuhan, mengonsumsi hewan liar cukup lazim dilakukan.

Tetapi bila demikian, kenapa koronavirus juga cepat menyebar antar manusia. Bagaimana penyakit ini dengan cepat menular dari manusia ke manusia hanya dengan kontak fisik ringan atau temu muka. Bahkan dikatakan potensi penularannya cukup tinggi meski hanya dengan kontak fisik satu kali.

Credit Photo: Thomas Faull / iStock

Bagaimana Mengenali Gejala dari Penularan Koronavirus?


Secara umum, sulit untuk membedakan gejala dari koronavirus dengan gejala dari penyakit pernafasan pada umumnya. Karena gejala yang muncul pada umumnya serupa dengan gejala flu biasa. Termasuk di antaranya gejala demam, batuk, tenggorokan nyeri, sakit kepala disertai rasa sesak.

Sementara itu, penularan dari virus 2019-nCoV ini terbilang mudah, layaknya jenis virus flu pada umumnya. Penularan dapat terjadi dengan cara sederhana seperti dengan media udara, cairan tubuh yang berkaitan dengan pernafasan seperti cairan lendir pernafasan dan air liur.

Dalam sebuah riset prelimenari yang dilaporkan pada The Print Server for Biology tahun 2020 dijelaskan bahwa virus 2019-nCoV mungkin dapat menular dengan lebih cepat. Satu orang penderita infeksi 2019-nCoV mungkin dapat menyebabkan penularan ke 3 sampai 5 orang lainnya.

Yang tidak kalah menarik sebagai catatan di sini adalah kecepatan penularan dan persebaran dari virus 2019-nCoV ini menyebar lebih cepat dari SARS. Hanya dalam tempo sekitar 3 pekan, penderita dari infeksi 2019-nCoV ini mencapai angka fantastis mendekati 3000 orang di Cina, bahkan diperkirakan sekitar hampir 6000 orang untuk seluruh dunia.

Ini melebihi kecepatan persebaran penyakit SARS yang mencapai 8000 orang dalam tempo beberapa bulan di tahun 2003.

Untuk Lebih tepatnya berikut sejumlah gambaran kenapa koronavirus cepat menyebar.

  • Kemampuan menular yang agresif

    Pada data yang disampaikan sebelumnya, dijelaskan bahwa satu penderita infeksi 2019-nCoV dapat menular hingga 3 – 5 orang. Dalam pandangan lain dijelaskan bahwa virus ini mampu bertahan di udara bebas lebih lama dari virus korona pada umumnya.

    Ini menyebabkan kenapa koronavirus 2019-nCoV lebih cepat menyebar. Seorang yang tertular virus ini bersin dan membiarkan cipratan air liur dan lendirnya tersebar begitu saja di udara dan benda sekitarnya mungkin akan membuat 10 hingga 20 orang yang ada di dekatnya  menyentuh benda tersebut dan mungkin untuk turut tertular.

  • Karena gejala dan penularan serupa dengan flu

    Sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, virus korona baru ini menyebabkan penyakit pneumonia yang berkarakter berbeda. Lebih berbahaya dari pneumonia biasa, tetapi lebih ringan dari SARS dan MERS.

    Berkaitan dengan fakta ini, penyakit yang disebabkan oleh 2019-nCoV ini memiliki sejumlah gejala awal yang serupa dengan gejala flu biasa. Kenapa koronavirus cepat menyebar salah satunya dapat dikaitkan dengan gejalanya yang serupa dengan flu.

    Karena gejala flu acapkali diremehkan sehingga pasien tetap beraktivitas normal bahkan berinteraksi dengan banyak orang secara bebas. Penderita flu juga pada umumnya tidak memproteksi diri untuk tidak menulari orang lain, penderita flu biasanya tidak membatasi penularan seperti dengan menggunakan masker.

    Ini memudahkan orang sehat untuk berinteraksi bebas dengan orang yang sudah terserang virus korona. Proses penularan yang secara umum juga serupa dengan flu membuatnya juga sulit untuk dikendalikan. Orang sehat dapat tertular hanya karena kontak fisik singkat atau terkena cipratan dari cairan liur dan lender dari penderita yang bersin atau batuk tanpa ditutup.

  • Kemampuan mutasi dan invasi koronavirus yang cepat

    Sejumlah isu bermunculan seputar koronavirus yang menyebar dari Wuhan ini. Jenis 2019-nCoV ini dikatakan merupakan produk rekayasa genetika virus yang dikembangkan dari salah satu pabrikan di Wuhan. Yang kemudian tidak sengaja lepas dan menyerang manusia.

    Abaikan soal isu tersebut, karena tentu saja isu tersebut tidak disertai bukti nyata yang menguatkannya. Tetapi satu fakta diuraikan oleh seorang pakar LIPI, Sugiyono Saputra yang mengungkap bahwa coronavirus, terutama jenis 2019-nCoV ini memiliki kemampuan mutasi dan invasi yang agresif. Diduga kuat ini yang menyebabkan kenapa virus ini mudah dan cepat menyebar.

    Menurut Journal of Medical Virology tahun 2020, dijelaskan bahwa ada kode-kode protein dan material genetik dari koronavirus baru ini dengan material genetik dari ular. Kode protein ini diduga adalah efek mutasi dari proses penularan virus pada ular. Kode Protein ini berubah menjadi selubung virus yang membuatnya lebih efektif menginvasi sistem respirasi atau pernafasan.

  • Koronavirus dapat menular sebelum gejala muncul

    Berdasar keterangan the US Centers for Disease Control and Prevention (CDC) ada kemungkinan besar bahwa koronavirus dapat menular bahkan sebelum pasien menunjukan gejala sakit. Ini artinya penularan sudah terjadi sejak masa inkubasi.

    Meski CDC sendiri masih memerlukan sejumlah data untuk memastikan fakta tersebut. Tetapi dugaan kuat ini juga diyakini oleh pihak pemerintahan dan medis dari RRC. Itu menyebabkan mereka memutuskan sistem karantina dan isolasi pada daerah endemik.

    Bila data ini benar, maka artinya sistem pengawasan yang dilakukan di seluruh dunia juga perlu diperbaiki. Karena pemeriksaan ketat diberikan pada mereka yang datang dari Cina dan menunjukan gejala. Sedang mereka yang tidak menunjukan gejala tidak dijadikan suspek.

    Dalam data lain dijelaskan adanya sejumlah kasus dimana pasien tidak menunjukan gejala yang lengkap dan jelas bahkan hingga inkubasi sudah berakhir. Pasien tidak mengalami demam tinggi dan hanya menunjukan gejala batuk ringan.

    Bila menilik dari gambaran ini, besar kemungkinan persebaran dari koronavirus akan lebih sulit untuk dikendalikan. Dan itu sebabnya kenapa penyakit karena koronavirus lebih cepat untuk menyebar.

    Namun di sisi lain, berbagai lembaga di Eropa dan Amerika belum sepenuhnya sepaham dengan anggapan ini. Karena diperlukan data lebih lengkap untuk memastikannya. Sementara, data yang diterbitkan oleh RRC masih terbilang terbatas.

  • Penanggulangan yang cenderung lambat

    Sejumlah pakar melihat bahwa tindakan preventif yang dilakukan pemerintah Cina untuk mencegah penyebaran penyakit ini cenderung terlambat. Tindakan nyata isolasi dan lockdown dilakukan setelah penularan berkembang masif.

    Padahal sejak ditemukannya penyakit ini hingga masa isolasi, setidaknya sudah ada 5000 orang yang keluar dari kota Wuhan. Tidak heran karena sebenarnya, kota Wuhan adalah kota persimpangan yang menjadi jalur transportasi utama di kawasan Cina Tengah.

    Sulit diprediksi apakah dari 5000 orang tersebut sudah sepenuhnya bebas dari infeksi koronavirus. Dan sulit diprediksi sejauh mana persebaran dari 5000 orang ini di seluruh dunia. Mengingat pasien mungkin dapat menular meski belum menunjukan gejala. Ini bisa menjadi jawaban kenapa koronavirus cepat menyebar.

  • Penularan terjadi pada usia lanjut

    Sejauh perkembangan data yang ada, kebanyakan serangan infeksi dari koronavirus baru ini terjadi pada mereka berusia lanjut. Virus ini jarang menyerang anak-anak dan remaja. Meski bukan berarti sama sekali tidak ada kasus anak dan remaja.

    Dugaan sementara kenapa koronavirus ini cepat menyebar karena virus menyerang usia lanjut yang notabene memiliki daya tahan tubuh lebih buruk dari anak. Dugaan lain melihat adanya pengaruh vaksin campak yang mendorong imunitas tubuh anak sehingga lebih efektif melawan penularan koronavirus dari kalangan dewasa dan manula. Tentu saja dipahami bahwa secara mendunia vaksin campak lazim diberikan pada anak-anak sebagai pencegahan penyakit campak.

Ilustrasi Kenapa Koronavirus Mematikan
Foto yang diunggah ke media sosial pada 25 Januari 2020 oleh Rumah Sakit Pusat Wuhan menunjukkan staf medis sedang merawat seorang pasien, di Wuhan, China. (Credit Photo: THE CENTRAL HOSPITAL OF WUHAN VIA WEIBO / via REUTERS)

Kenapa Koronavirus Bisa Mematikan?

Dari angka kisaran 6000 orang, terdata lebih dari 132 orang dinyatakan meninggal. Angka yang cukup fantastis karena dalam 3 pekan lebih penyakit ini sudah memakan korban nyawa di atas 100 orang.

Kenapa koronavirus mematikan? Sejatinya, koronavirus memang termasuk jenis virus ganas dengan ukuran besar dan cenderung agresif. Ini membuat penyakit ini cenderung mematikan. Mungkin itu bisa menjadi jawaban awal kenapa koronavirus mematikan.

Tetapi sebenarnya, ada yang perlu diluruskan dalam hal ini. Bahwa sebenarnya ketika dibandingkan dengan jenis koronavirus lain, jenis virus 2019-nCoV tidak begitu mematikan. Ketika koronavirus menyebabkan SARS di tahun 2003, jumlah kematiannya relatif tinggi hingga di atas 40%. Sedang pada kasus MERS di tahun 2012, tingkat kematian di seluruh dunia mencapai 10%. Namun pada tahun 2020 ini, kasus kematian dari pneumonia karena 2019-nCoV hanya sebesar 3%.

Artinya ketika dibandingkan dengan SARS dan MERS, kasus kematian karena koronavirus kali ini lebih ringan. Tetapi kenapa koronavirus mematikan dalam tempo singkat?

Untuk Anda pahami bahwa angka 132 kasus kematian disertai dengan data lain bahwa koronavirus kali ini menyebar lebih cepat. Mencapai hampir 6000 dalam 3 pekan, berkali lipat lebih cepat dari SARS dan MERS.

Selain itu, kebanyakan kasus kematian dari pneumonia karena 2019-nCoV terjadi pada usia diatas 60 tahun. Atau pada mereka yang pada dasarnya memang sudah sakit karena kondisi kesehatan tertentu. Komplikasi yang terbentuk karena infeksi koronavirus dan penyakit lama menjadi alasan kenapa koronavirus mematikan.

Sejumlah pakar juga melihat bahwa pada dasarnya koronavirus juga lazim menyerang pencernaan dan sistem saraf. Ini kenapa koronavirus dapat mematikan, karena serangan pada pencernaan dan sistem saraf dapat menyebabkan efek fatal.

Koronavirus yang tidak segera ditanggulangi juga dapat menyebabkan kerusakan paru-paru yang mematikan. Kondisi tersebut biasanya ini terjadi pada infeksi serius yang penanganannya terlambat.

Koronavirus termasuk jenis virus ganas dan agresif. Tidak semua antiviral dapat bekerja efektif mengatasi virus ini. Ketika kondisi pasien sudah sangat memburuk dan terlambat ditangani, efektivitas antiviral akan menurun. Itu dapat meningkatkan resiko kematian pada pasien.

Itulah gambaran lebih mendalam kenapa koronavirus dapat mematikan dan kenapa koronavirus cepat menyebar dan menular. Ini membantu kita memahami lebih jauh apa resiko dari penyakit ini. Mari kita berharap persebaran dari koronavirus ini tidak semakin meluas.

Sumber

Referensi tentang Kenapa Koronavirus Cepat Menyebar:

Yuchen. Journal of Medical Virology. Published: 2020-01-22. Coronaviruses: genome structure, replication, and pathogenesis. https://onlinelibrary.wiley.com/doi/epdf/10.1002/jmv.25681

WebMD. Updated: 2020-01-24. Coronavirus 2020 Outbreak: Latest Updates. https://www.webmd.com/lung/news/20200124/coronavirus-2020-outbreak-latest-updates

Center for Disease Control and Prevention. Updated: 2020-01-27. How 2019-nCoV Spreads. https://www.cdc.gov/coronavirus/2019-ncov/about/transmission.html

Elizabeth Corden, CNN, Updated: 2020-01-26. China says coronavirus can spread before symptoms show — calling into question US containment strategy. https://edition.cnn.com/2020/01/26/health/coronavirus-spread-symptoms-chinese-officials/index.html

Tentang Penulis 

Nurul Kuntarti

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting dan di-review oleh Nurul Kuntarti seorang seorang sarjana ekonomi yang menemukan hasratnya dalam bidang kesehatan sejak memiliki putri pertamanya. Keinginan untuk terus memahami dunia kesehatan dilanjutkan dengan mengabdikan diri dalam dunia tulis-menulis di bidang kesehatan, untuk terus menghasilkan artikel-artikel kesehatan yang akurat, kredibel, dan bermanfaat.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}