Jengkol Obat Kanker: Alternatif Pengobatan Kanker

209
Jengkol Obat Kanker
Sumber Gambar: Shutterstock

Diedit:

Benarkah jengkol punya manfaat untuk obat kanker? Menurut Institute of Health Sciences, 819 Sweden Riset Biosains. L.L.C. Cause Street, jengkol merupakan buah ajaib yang mampu membunuh sel kanker dan 10.000 kali lebih kuat dari obat kanker, benarkah demikian?

Siapa sangka biji tanaman yang dapat menimbulkan bau mulut ini memiliki potensi untuk memusnahkan keberadaan kanker. Namun, ada baiknya untuk mencari tahu lebih banyak informasi sebelum Anda menerapkan informasi yang Anda dapatkan. Inilah saatnya untuk mengupas tuntas seputar manfaat jengkol untuk tanaman obat kanker.

Tanaman Jengkol sebagai Obat Kanker

Pernahkah Anda makan jengkol? Ini adalah spesies pohon berbunga dari keluarga kacang polong, Fabaceae dan berasal dari Asia Tenggara, di mana bijinya merupakan hidangan yang populer di Indonesia. Selain Indonesia, ternyata tanaman yang satu ini juga dikonsumsi oleh sebagian besar penduduk Filipina, Thailand, Malaysia, dan Myanmar. Pengolahannya dapat dilakukan dengan menggoreng, merebus, atau memanggang dan juga dijadikan “lalapan” yang disantap mentah.

Sekarang, pernahkah terpikir sehubungan dengan manfaat apa yang bisa Anda dapatkan setelah mengonsumsinya? Ternyata, jengkol kaya akan kandungan protein dan antioksidan yang memiliki potensi dalam mengobati kanker. Namun, hasil penelitian ini belum dapat dipastikan secara medis. Sehingga penelitian lanjutan perlu dilakukan untuk menyelidiki tingkat keamanan dan efektivitas penggunaannya dalam membantu atasi serangan kanker. Adakah efek samping konsumsi jengkol obat kanker?

Beberapa penelitian di masa lalu melaporkan kondisi “djenkolisme” semacam “keracunan” yang disebabkan oleh jengkol. Karena jengkol mengandung senyawa nitrogen, sedangkan kondisi “djenkolisme” sering dikaitkan dengan tingginya senyawa nitrogen yang menyebabkan terjadinya “azotemia”. Sehingga Anda mengalami nyeri spasmodik obstruksi urin dan gagal ginjal akut. Studi kasus “djenkolism” baru-baru ini dilakukan oleh “Jin” yang melaporkan efek konsumsi kacang pada pasien berusia 45 tahun setelah konsumsi jengkol.

Studi tersebut menyoroti kondisi “djenkolism” sebagai penyebab gagal ginjal anurik akut di mana pasien memiliki gejala keracunan dalam waktu 48 jam setelah konsumsi biji jengkol. Adanya kristal seperti jarum dalam urin menyebabkan pembentukan lumpur urin yang tebal di tubuh pasien. Jengkol juga dilaporkan memiliki toksisitas yang sangat kuat (LC: <100 ppm) terhadap hewan percobaan. Sebaliknya, tes toksisitas akut baru-baru ini terhadap hewan lainnya tidak menunjukkan tanda-tanda toksisitas dan mortalitas hingga 5 g/kg.

Khasiat Tanaman Jengkol untuk Kanker

Tumbuhan ini dalam bahasa Inggris disebut “Dogfruit” atau “Ngapi Nut”. Sedangkan dalam bahasa Latin (nama ilmiah) dinamai tanaman “Archidendron pauciflorum” yang memiliki keluarga dengan nama jenis Archidendron jiringa, Pithecellobium jiringa, dan Pithecellobium lobatum. Tanaman ini dapat tumbuh mencapai 10-26 meter. Buahnya tampak berbentuk polong berbelit-belit. Warna buah jengkol ialah ungu tua kecokelatan, setelah gelap bentuknya menjadi cembung dan biji jengkol bertambah ukurannya. Bijinya berkulit tipis dan berwarna cokelat mengkilap.

Studi farmakologis modern telah menunjukkan bahwa jengkol obat kanker memiliki efek antimikroba, antioksidan, anti-lambung, antinematodal, dan antidiabetik. Informasi terperinci dalam ulasan ini menunjukkan bahwa jengkol memiliki potensi tinggi untuk dieksploitasi sehubungan dengan pengembangan obat. Sayangnya tidak ada informasi yang cukup tentang fitokimia jengkol dan bahan kimia yang bertanggung jawab terhadap penggunaannya. Namun, berikut beberapa informasi khasiat atau manfaat jengkol bagi kesehatan, termasuk untuk obat kanker.

Penangkal Peradangan

Ternyata daun jengkol bermanfaat untuk meningkatkan penyembuhan luka. Dalam hal ini, Anda dapat menggunakan bubuk daun muda yang dibakar untuk mempercepat proses penyembuhan luka. Tidak hanya untuk itu, tetapi daun muda juga digunakan untuk mengobati masalah kulit sementara daun tua yang terbakar dapat menghilangkan perasaan gatal. Hanya saja, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan, mengingat belum ada laporan medis yang meneguhkan penggunaan jengkol obat kanker tersebut.

Penangkal Radikal Bebas

Manfaat jengkol untuk membantu mencegah kanker terkait dengan keberadaan vitamin di dalamnya. Pada titik ini, jengkol memiliki vitamin A, vitamin B1, vitamin B2, dan vitamin C yang bertindak sebagai antioksidan. Sehingga, mampu mencegah kerusakan akibat radikal bebas seperti kanker. Selain itu, antioksidan berkontribusi untuk menghilangkan racun dalam tubuh. Sebuah jurnal penelitian menyebutkan bahwa tunas jengkol memiliki kandungan polifenol yang tinggi dan aktivitas antioksidan bila diukur menggunakan ferric reduction antioksidanant power (FRAP).

Analisis awal dari ekstrak etanol dan 50% hidro-etanol dari jengkol obat kanker mengungkapkan adanya fenolat, flavonoid, terpenoid dan alkaloid pada kedua ekstrak. Keduanya juga dilaporkan memiliki aktivitas scavenging DPPH (1,1-difenil-2-pikril-hidrazil) yang kuat. Sekitar 50% ekstrak hidro-etanol dengan IC50 18,48 ± 1,60 μg / ml lebih efektif dibandingkan dengan ekstrak etanol yang ditunjukkan. IC50 sebesar 33,52 ± 2,05 μg / ml.

Pencegah Infeksi

Sebuah laporan penelitian jengkol obat kanker memperlihatkan adanya aktivitas antimikroba dari ekstrak metanol dari daun, polong dan biji jengkol. Uji difusi cakram digunakan untuk mengevaluasi sensitivitas sampel dan metode pengenceran cairan digunakan untuk pengamatan konsentrasi penghambatan minimal (MIC). Studi ini menunjukkan bahwa semua ekstrak jengkol memiliki aktivitas antibakteri dan antijamur terhadap organisme yang diuji.

Konsentrasi penghambatan minimal menunjukkan bahwa ekstrak daun jengkol sebagian besar aktif terhadap bakteri Staphylococcus aureus, Staphylococcus epidermidis dan Microsporum gypsum (100 mg / ml). Penelitian sebelumnya, melaporkan adanya aktivitas antibakteri dan antijamur “lektin” dari biji jengkol. Lektin diketahui memiliki aktivitas hemaglutinasi terhadap darah manusia. Menariknya, lektin jengkol diamati memiliki aktivitas antijamur pada konsentrasi rendah terhadap Exserohilum turcicum, Fusarium oxysporum dan Colletotrichum cassiicola.

Penghancur Sel Kanker

Aktivitas anti-tumor in-vitro dilaporkan dari biji jengkol. Uji penghambatan virus Epstein-Barr (EBV) dalam “sel Raji” digunakan untuk tujuan ini dan sel diinduksi oleh 12-O-hexadecanoylphorbol-13-asetat. Ekstrak metanol jengkol pada konsentrasi Ekstrak metanol 200mg / mL dianggap mampu menghambat aktivasi EBV sebesar 30% atau lebih. Virus Epstein-Barr merupakan virus herpes yang diketahui berkontribusi terhadap kira-kira 2% kasus kanker.

Sedangkan sel Raji merupakan sel yang berasal dari kultur cell line lymphoblastoid turunan dari lymphoma Burkitt. Burkitt adalah jenis kanker pada sistem limpa tepatnya limfosit B. Sel raji pertama kali ditemukan pada tahun 1963 yang berada di rahang kiri anak lelaki asal Afrika yang saat itu mengidap limfoma Burkitt. Selain itu, pada penderita kanker seringkali ditemukan adanya kasus anemia yang menyertainya. Jengkol diduga mengandung zat besi yang mempu meningkatkan produksi sel darah merah, sehingga memenuhi pasokan oksigen dan nutrisi yang dibutuhkan.

Seperti yang telah Anda baca di atas, Anda mungkin tidak pernah tahu atau tidak pernah makan jengkol. Anda bisa memasaknya dengan merebus makanan ini sampai aroma tidak sedap hilang, kemudian dikonsumsi dengan bumbu. Tidak hanya untuk itu, tetapi bisa juga diolah menjadi keripik atau emping. Pada titik ini, Anda perlu memasak biji jengkol dan meratakannya dengan cara menumbuk sebelum dikeringkan dan kemudian diolah.

Semoga informasi tentang manfaat jengkol untuk obat kanker dapat berguna bagi Anda. Pastikan untuk menjaga kesehatan tubuh Anda dengan cara apa pun sembari memperhatikan asupan gizi Anda dan berolahraga secara teratur. Jika tidak yakin dengan kondisi Anda, segera lakukan konsultasi medis sebelum menjalani pengobatan apapun untuk memastikan kondisi penyakit agar lebih akurat. Sehingga pengobatan yang tepat dapat dilakukan dengan baik.


Hamidun Bunawan, Lukas Dusik, Siti Noraini Bunawan and Noriha Mat Amin. Botany, Traditional Uses, Phytochemistry and Pharmacology of Archidendron jiringa: A Review. 2013. URL: https://pdfs.semanticscholar.org/213d/9a0aadfb42126e236cb83302cb96be7a18b2.pdf.