Bagikan Artikel Ini:

Terakhir Diedit:

Ada berbagai macam makanan yang dapat menyebabkan turunnya libido dan performa seksual. Salah satu yang sebenarnya bisa dihindari adalah konsumsi gula berlebihan. Ini tentu jadi peringatan bagi Anda yang suka manis-manis. Tetapi mengapa gula menurunkan gairah seksual?

Di artikel ini kita akan melihat bagaimana gula dapat menyebabkan gangguan pada fungsi seksual seseorang. Setidaknya terdapat 6 alasan yang membuat Anda harus memperhatikan asupan gula setiap hari jika ingin menjaga kesehatan fungsi seksual.

Bagaimana Gula Menurunkan Gairah Seksual?

Pada dasarnya gula adalah salah satu pemicu kuat gangguan hormon. Ketika kadar gula dalam darah meningkat dalam waktu lama, maka tubuh akan mengalami gangguan keseimbangan hormonal. Semua bermuara dari pengaruh tingginya glukosa dalam darah terhadap insulin, salah satu hormon yang berperan dalam proses metabolisme gula.

Yang menarik,kita tidak bisa hanya bicara soal gula. Tetapi juga termasuk karbohidrat dan pemanis buatan. Ini karena dalam tubuh, karbohidrat akan diubah menjadi glukosa.

Bahkan pemanis buatan, yang digadang-gadang sebagai pilihan lebih aman dari sukrosa, rupanya tidak lebih baik dari gula kebanyakan. Karena pemanis buatan justru menyebabkan sejumlah gangguan pada fungsi liver, gula, dan kinerja hormon yang pastinya akan memengaruhi keseimbangan hormon.

Untuk lebih jelasnya, berikut adalah 6 cara bagaimana gula, dalam segala bentuknya, dapat berpengaruh buruk pada fungsi seksual kita.

1. Gula Menurunkan Kadar Testosteron Pria

Ketika kadar gula dalam darah naik, tubuh akan secara otomatis memproduksi lebih banyak insulin. Ini adalah hormon yang diproduksi pankreas untuk merangsang sel agar menyerap gula dalam darah.

Bila ini terjadi terus-menerus, maka akan terjadi resistensi insulin, ketika sel tak dapat merespon sinyal dari insulin. Kondisi ini mendorong pankreas lebih agresif dalam memproduksi insulin. Kadar insulin dalam tubuh akan naik dengan cepat.

Ini kabar buruk bagi pria, karena peningkatan insulin ini menyebabkan tubuh memproduksi lebih sedikit testosteron. Efek dari kinerja ini relatif sangat cepat, bahkan sebelum Anda membiasakan diri untuk mengonsumsi gula secara rutin.

Sebagaimana dijelaskan dalam Clinical Endocrinology Journal tahun 2013 yang menunjukkan fakta bahwa pria yang mengonsumsi gula sebanyak 75 gram sekaligus akan mengalami penurunan kadar testosteron dalam tempo 2 jam.

2. Gula Mengurangi Lubrikasi/Pelumasan

Kinerja gula sedikit berbeda pada wanita. Insulin dan hiperglikemia pada wanita justru bisa beriringan dengan masalah hiperandrogen. Androgen adalah hormon pembawa faktor maskulin pada wanita.

Baca juga  Gangguan Seksual pada Wanita

Androgen, sebagaimana testosteron, juga berperan mendorong libido pada wanita. Tetapi uniknya, tubuh tidak selalu merespon positif naiknya kadar androgen. Ini karena terdapat mekanisme unik pada tubuh wanita yang mengubah androgen yang berlebihan ini menjadi estrogen.

Di sisi lain, kenaikan kadar androgen justru menyebabkan lubrikasi/pelumasan pada vagina menurun. Vagina yang kering akan membuat aktivitas seks terasa lebih menyakitkan dan akhirnya menurunkan gairah seksual.

3. Gula Memicu Stres

Meningkatnya asupan gula dan pemanis buatan akan meningkatkan risiko seseorang mengalami tekanan, termasuk stres dan depresi. Dan stres memiliki peran sangat besar dalam menurunkan gairah seksual seseorang.

Menurut data dalam jurnal Frontier of Psychology tahun 2014 dijelaskan bahwa kelebihan gula dalam darah akan mendorong produksi hormon dopamin. Hormon ini akan membuat Anda merasa lebih waspada dan fokus. Tetapi juga menambah tekanan pada otak. Bila kadar hormon dopamin dalam tubuh terlalu tinggi, Anda akan merasakan stres dan depresi.

Dalam laporan lain pada Japanese Journal of Pharmacology tahun 1990 diungkap bahwa tingginya kadar insulin pada tubuh akan menurunkan level serotonin. Hormon ini bekerja untuk membantu Anda merasa rileks dan nyaman. Semakin minim kadar serotonin dalam tubuh, semakin sulit tubuh mengoptimalkan performa seksual.

Yang tidak banyak disadari, ketika seseorang mengalami masalah hiperglikemia, otak akan merespon dengan menurunkan level serotonin. Tubuh kemudian menanggapi kondisi ini dengan mendorong selera makan. Karena makan adalah salah satu cara untuk meningkatkan kadar serotonin.

4. Gula Mengganggu Fungsi Saraf

Anda yang terbiasa mengonsumsi banyak gula dan ditambah cenderung lebih banyak mengonsumsi karbohidrat, akan memiliki risiko tinggi mengalami diabetes. Jika sudah diabetes, tubuh mengalami efek resistensi insulin yang cukup serius, sehingga diperlukan obat-obatan untuk membantu tubuh memproduksi insulin dengan tepat dan merespon insulin secara optimal.

Pada titik ini, sejumlah masalah bisa mengancam tubuh Anda, termasuk kerusakan fungsi saraf. Ini yang kemudian dapat menyebabkan gangguan pada fungsi ereksi dan merusak libido.

Menurut National Institutes of Diabetes and Digestive and Kidney Disease dijelaskan bahwa setidaknya 60% sampai 70% dari penderita diabetes berpotensi mengalami kasus diabetes neuropati, yakni kerusakan saraf akibat diabetes.

Turunnya kadar oksigen dalam darah akibat tingginya komposisi gula darah menyebabkan sejumlah saraf mengalami kerusakan. Oksigen adalah komponen penting untuk menjaga keberlangsungan fungsi saraf.

Kerusakan sel saraf bisa terjadi di mana saja di bagian tubuh. Dan salah satu yang rentan mengalami kerusakan adalah jaringan saraf pada organ genital. Ini akan menyebabkan pasien kehilangan kepekaan terhadap stimulasi seksual. Pasien akan kesulitan merespon rangsangan dan tidak sanggup bergairah.

Baca juga  Apa Kaitan Antara Aktivitas Seksual Dengan Kesehatan Anda Secara Keseluruhan?

5. Gula Mengganggu Sirkulasi Darah

Kadar gula darah yang tinggi membuat darah cenderung mengental dan memperlambat laju sirkulasi darah. Sirkulasi darah yang melambat akan memperlambat juga proses ereksi.

Itu sebabnya, setelah menghabiskan semangkuk makanan manis, Anda justru malas untuk beraktivitas seksual. Perlambatan sirkulasi darah menurunkan laju kerja tubuh dan membuat Anda merasa lebih lemas dan kekurangan stamina.

Bila kondisi ini diabaikan, dan hiperglikemia terus terjadi, perlambatan sirkulasi darah dapat meningkatkan risiko terbentuknya endapan kolesterol dalam darah. Kolesterol kemudian memicu arterosklerosis. Hal ini dijelaskan dalam International Journal of Vascular Medicine tahun 2012.

Bila sudah terbentuk penyumbatan dalam pembuluh darah, semakin sulit bagi seseorang mengalami ereksi. Karena sulit bagi testis menarik darah dengan optimal untuk membentuk reaksi ereksi. Inilah kenapa gula menurunkan gairah seksual.

6. Gula Mengganggu Fungsi Prostat

Dalam jangka pendek kelebihan gula dalam darah memang tak banyak berdampak pada prostat. Namun bila hiperglikemia ini terus berlangsung, seorang pria dapat mengalami gangguan pada fungsi prostatnya.

Dalam ulasan Current Urology Reports tahun 2014, dijelaskan bahwa mereka dengan kondisi diabetes berisiko mengalami BPH (Benign Prostatic Hyperplasia) atau pembengkakan prostat.

Selain itu mereka dengan kasus hiperglikemia dan hiperinsulin juga cenderung mudah mengalami infeksi. Salah satu organ yang paling sering infeksi adalah prostat, kondisi yang juga dikenal dengan prostatitis.

Prostat sendiri memiliki peran penting dalam memproduksi semen dan sperma. Kondisi hiperglikemia berkelanjutan dapat menyebabkan pasien mengalami penurunan kualitas & kuantitas sperma dan semen. Hal ini pernah dilaporkan dalam riset yang dimuat dalam Theriogenecology Journal tahun 2007.

Itulah sejumlah alasan mendasar mengapa gula menurunkan gairah seksual. Mengonsumsi gula dalam kadar berlebihan, yakni melebihi dari 9 sendok teh per hari, akan memicu terjadinya masalah hiperglikemia. Bahkan dalam hitungan jam, kondisi hiperglikemia akan memicu terjadinya gangguan pada fungsi seksual Anda. Dan kondisi ini akan terus memburuk dari waktu ke waktu.

Cindy Wijaya

Cindy sudah menulis beragam artikel kesehatan sejak tahun 2014. Senang meriset serta berbagi tentang berbagai topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Saat ini bekerja sebagai penulis dan editor untuk Deherba.com. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.