Gagal Move On, Anda Rentan Kena Sindrom Patah Hati


By Cindy Wijaya

Sindrom patah hati. Kebanyakan orang pasti berpikir itu adalah perasaan mendalam yang membuat menangis dan meninggalkan seseorang dalam keadaan lemah dan terbuang, seperti kertas koran yang dibuang ke tempat sampah. Mungkin agak berlebihan, tapi yang pasti patah hati sangat tidak menyenangkan. Khususnya apabila dia sudah berkorban banyak demi kisah cintanya dengan sang mantan kekasih.

Namun sindrom patah hati dilihat dari segi sains ternyata jauh lebih fatal daripada perasaan terbuang akibat putus cinta. Jadi, dalam sains terdapat suatu penyakit yang dinamakan “Sindrom Patah Hati”.

Apa Kata Sains tentang Sindrom Patah Hati?

Takotsubo cardiomyopathy (TC) adalah istilah medis untuk sindrom patah hati. TC merupakan kondisi melemahnya bagian otot jantung yang dipicu oleh stres emosional, misalnya akibat putus cinta. Hal ini dapat menyebabkan gagal jantung dan bahkan kematian.

Penyakit TC dinamai “Takotsubo” yang merupakan perangkap gurita buatan Jepang, yang kebetulan berbentuk mirip ventrikel apex kiri jantung (bagian ini bisa membengkak akibat stres berat).

Meskipun gejala-gejalanya ada kemiripan, namun sindrom patah hati bukanlah serangan jantung. “Biasanya pasien sindrom patah hati mengalami gejala yang mirip serangan jantung: nyeri dada, sesak napas, dan berkeringat berlebihan,” ungkap kardiologis Dr. Lawrence Weinstein, seorang Direktur Medis di Bethesda Memorial Hospital.

“Perbedaan utamanya adalah pasien sindrom ini masih memiliki pembuluh arteri yang bersih, tidak ada penyumbatan apapun seperti pada pasien serangan jantung.”

Yang Rentan Mengalami Sindrom Patah Hati

Jika Anda menduga kalau kaum remaja-lah yang paling rentan terkena sindrom patah hati, maka Anda salah. Justru yang paling rentan adalah kaum wanita yang sudah mengalami menopause. Mengapa? “Tidak ada yang tahu,” kata Dr. Richard Krasuki, seorang ahli jantung di Cleveland Clinic.

Baca Juga:  Gejala Penyakit Jantung
Kabar Baik:

“Sekitar 2 persen pasien yang berpikir mereka mengalami serangan jantung ternyata mengalami sindrom patah hati,” kata Dr. Weinstein. Dengan kata lain, peluang Anda sangat rendah untuk mengalami sindrom patah hati. Kabar baiknya lagi, mereka yang mengalami sindrom ini sangat mungkin untuk pulih total.

“Pasien yang mendapatkan dukungan emosi dan perawatan medis yang serupa dengan pengobatan jantung lemah, dalam seminggu fungsi jantungnya mulai membaik dan dalam 6 minggu biasanya sudah kembali normal.”

Kabar Buruk:

Meskipun Anda tidak secara teknis menderita sindrom patah hati, namun kehilangan emosional yang dialami masih mengancam nyawa Anda. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam Circulation mengungkapkan bahwa seseorang—terutama pasangan lansia yang sudah memiliki masalah jantung—yang berduka atas kematian orang yang dicintainya, sangat rentan mengalami kematian akibat serangan jantung.

Dan jika Anda berada di negeri yang sedang musim dingin, waspadalah. “Kita tahu bahwa liburan musim dingin meningkatkan risiko serangan jantung,” kata Dr. Krasuki. “Jadi masuk akal bahwa dampak stres putus cinta jadi lebih berat jika terjadi bulan-bulan musim dingin.”

Cara Terbaik untuk Mencegah Sindrom Patah Hati

Lakukan ini:

  • Relaksasi dan olahraga untuk mengurangi stres.
  • Bicara dengan orang-orang yang Anda percayai.
  • Curhat dengan ibu, ayah, teman, kucing, kelinci, atau dengan siapapun yang bisa dipercayai.
  • Tontonlah acara-acara yang menghibur dan menenangkan.
  • Jalan-jalan dengan teman yang masih lajang.
  • Pelihara hewan yang menggemaskan.

Jangan lakukan ini:

  • Menonton acara-acara yang menegangkan atau bikin emosional.
  • Berusaha lari dari kenyataan dengan minum alkohol.
  • Berpura-pura seolah tidak merasakan patah hati sehingga menutupi perasaan Anda.
  • Putus asa, tidak mau beraktivitas apapun, dan memilih berdiam diri di rumah.
Baca Juga:  Kenali 4 Gejala Penyakit Jantung Bawaan pada Anak!

Dr. Christoper Magovern, seorang ahli jantung di Morristown Medical Center, New Jersey, menyatakan bahwa cara terbaik ialah dengan menghindari situasi-situasi emosional. Namun beliau mengakui bahwa ini mungkin mustahil dilakukan, karena situasi-situasi emosional biasa kita semua alami, misalnya perdebatan sengit, kesulitan keuangan, atau kehilangan yang tidak terduga, itu semua bisa menyebabkan sindrom patah hati.

Cara lain yang mungkin efektif menurutnya adalah dengan berbuat semaksimal mungkin untuk meluapkan kesedihan, misalnya dengan menyantap makanan favorit dan curhat habis-habisan dengan ibu Anda atau seorang sahabat.

Akan tetapi, Dr. Christoper kembali menambahkan pernyataannya, “Apakah cara ini memiliki dampak dalam mencegah sindrom patah hati atau tidak, kami tidak tahu.” Namun daripada Anda putus asa meratapi keadaan, jauh lebih baik untuk berusaha keras untuk mencegah sindrom patah hati.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}