Daun Pepaya Jepang Penyebab Kanker, Benarkah?

605
daun pepaya jepang bukan penyebab kanker
Daun Pepaya Jepang (Credit: Maderla / Shutterstock)

Diedit:

Beberapa tahun belakangan ini kasus kanker tampaknya semakin menjadi-jadi. Beragam kabar mengenai jenis makanan penyebab kanker juga ramai terdengar. Memang ada sejumlah jenis makanan yang terbukti dapat memicu kanker, tapi yang lainnya masih dipertanyakan kebenarannya. Salah satunya adalah daun pepaya jepang yang diisukan bisa menyebabkan kanker. Apa benar daun pepaya jepang penyebab kanker?

Untuk memastikan apakah daun pepaya jepang memang bisa menyebabkan kanker, kita perlu mencari tahu dulu apa sebenarnya efek dari mengonsumsi daun ini. Efek tersebut mencakup efek negatif dan efek positifnya bagi tubuh. Sekarang mari kita lihat apa saja efek negatif atau efek samping dari daun pepaya jepang, apakah termasuk pemicu kanker?

Efek Samping Mengonsumsi Daun Pepaya Jepang

Bagian daun dari tanaman pepaya jepang (Cnidoscolus aconitifolius atau Cnidoscolus chayamansa) sebenarnya punya kandungan yang cukup bernutrisi. Dalam 100 gram daun ini terdapat kandungan protein (5,8%), serat kasar (1,9%), kalsium (199,4mg), kalium (217,2mg), zat besi (911,4mg), vitamin C (164,7mg), dan karoten (0,085mg).

Kandungan nutrisi yang dimilikinya bahkan dua-tiga kali lipat lebih besar dari kebanyakan sayuran hijau lainnya yang bisa dimakan. Namun seperti beberapa tanaman dan daun hijau lainnya, daun pepaya jepang juga mengandung sianogen glikosida (cyanogen glycoside) yang adalah senyawa beracun (toksik). Senyawa ini dapat melepaskan racun hidrogen sianida (hydrogen cyanide, disingkat HCN).

Apa saja efek berbahaya dari mengonsumsi senyawa beracun ini? Apakah senyawa beracun di dalam daun pepaya jepang dapat menjadi penyebab kanker? Mari kita perhatikan penjelasan di bawah ini mengenai efek samping dari mengonsumsi HCN.

Apakah HCN dalam Daun Pepaya Jepang Penyebab Kanker?

WHO Food Additives Series 30 menuliskan dosis oral akut yang mematikan dari HCN yang dilaporkan pada manusia ialah 0,5 – 3,5 mg/kg berat badan. Tanda-tanda klinis bahwa seseorang sudah mengonsumsi hingga dosis mematikan tersebut antara lain: sakit kepala, pusing, kebingungan mental, pingsan, sianosis (kebiru-biruan pada kulit & selaput lendir) dengan kedutan dan kejang, diikuti oleh koma.

Efek-efeknya memang cukup menakutkan. Tapi ingatlah bahwa efek itu baru muncul jika mengonsumsi HCN dalam dosis tertentu dan bergantung pada reaksi tubuh setiap orang. Katakanlah seseorang punya berat badan 55 kg, itu berarti dia harus mengonsumsi paling tidak 27.5 mg HCN sebelum mengalami tanda-tanda klinis di atas.

Menurut laporan Ross-Ibarra dan Molina-Cruz, 100 gram daun pepaya jepang yang mentah/segar memiliki kandungan HCN sekitar 27 – 42 mg. Jika dikonsumsi dalam kondisi mentah/segar, 100 gram daun ini saja sudah cukup berbahaya bagi seseorang yang punya berat badan 55 kg, terlebih lagi yang beratnya kurang dari itu.

Baca juga:  Menghadapi Kanker: Bagaimana jika Orang yang Anda Sayangi Terdiagnosis Kanker?

Tetapi kadar HCN bisa dengan mudah diminimalkan jika daun pepaya jepang dimasak. Laporan dari Ross-Ibarra dan Molina-Cruz juga menyebutkan waktu yang dibutuhkan untuk menurunkan HCN ke kadar aman yaitu dengan merebusnya selama sedikitnya 15 menit.

Karena itu di tempat asalnya (Meksiko), daun pepaya jepang secara tradisional biasa diolah dengan cara direndam dan dididihkan selama 20 menit, lalu disajikan dengan minyak atau mentega. Kaldu atau kuah dari daun yang dimasak juga aman dikonsumsi karena HCN mudah menguap selama dimasak.

Rebus Daun Pepaya Jepang Minimal 15 Menit Agar Aman Dimakan (Credit: stock xchng)

HCN dalam Daun Pepaya Jepang Tidak Menyebabkan Kanker

Dari penjelasan di atas kita dapat menyimpulkan bahwa bahaya dari daun pepaya jepang berasal dari senyawa beracun sianogen glikosida di dalamnya, yang dapat melepaskan racun HCN. Bila dikonsumsi dalam dosis yang mematikan (sekitar 0,5 – 3,5 mg/kg berat badan), racun HCN bisa menyebabkan efek keracunan dari sakit kepala, pingsan, sianosis (kebiru-biruan pada kulit & selaput lendir), hingga koma.

Efek paling parah yang dilaporkan dari kelebihan dosis HCN adalah koma, dan tidak termasuk kanker. Itu berarti HCN dalam daun pepaya jepang bukan penyebab kanker. Setidaknya itulah yang sampai saat ini bisa kita ketahui dari efek samping mengonsumsi daun ini.

Badan Perlindungan Lingkungan Amerika Serikat (EPA) juga mengatakan hal serupa. Dikatakan tidak ada laporan bahwa sianida dapat menyebabkan kanker pada manusia atau hewan. EPA telah menentukan bahwa sianida tidak dapat diklasifikasikan sebagai karsinogen (zat penyebab kanker) pada manusia.

Laporan ilmiah yang sudah ada menyebutkan bahwa bahaya dari daun ini hanya berasal dari HCN di dalamnya. Dan itu pun bisa dengan mudah diatasi jika memasak atau merebusnya selama minimal 15 menit. Tidak ada catatan ilmiah yang menyinggung tentang daun pepaya jepang menyebabkan kanker.

Justru sebaliknya yang benar, ada sejumlah artikel ilmiah yang menunjukkan potensi daun pepaya jepang sebagai anti-kanker. Ya, bukannya menjadi penyebab kanker, daun pepaya jepang malah berpotensi menjadi makanan pencegah kanker. Untuk lebih jelasnya, mari kita perhatikan bagian selanjutnya dari pembahasan ini; apa efek positif daun pepaya jepang terhadap kanker?

Efek Positif Daun Pepaya Jepang terhadap Kanker

Laporan ilmiah oleh Kuri-Garcia, Guzmán-Maldonado, dan Chávez-Servín menyebutkan bahwa daun pepaya jepang mengandung berbagai kelompok senyawa fenolik, seperti kumarin, flavonoid, fenol, tanin, antrakuinon, dan flobotanin. Senyawa fenolik dilaporkan memiliki kemampuan antioksidan. Kandungan fenolik dan kemampuan antioksidannya membuat tanaman ini berpotensi untuk dimanfaatkan sebagai tanaman obat.

Baca juga:  Menghadapi Kanker: Legalitas dan Advokasi untuk Pasien Kanker

Senyawa fenolik dan kemampuan antioksidannya juga diketahui berguna untuk membantu pencegahan kanker. Antioksidan dapat mengurangi tingkat kerusakan pada sel-sel & jaringan tubuh yang disebabkan oleh radikal bebas. Kerusakan akibat radikal bebas dikaitkan sebagai salah satu pemicu utama kanker.

Senyawa fenolik juga bisa bekerja sama dengan berbagai kandungan lain di dalam tanaman untuk melindungi kesehatan tubuh, seperti vitamin C, karoten, serat, kalsium, kalium, dan zat besi. Senyawa fenolik dapat bekerja bersama atau sendirian sebagai agen anti-karsinogenik melalui beragam mekanisme kerja. Anti-karsinogenik artinya mampu melawan karsinogen pemicu kanker atau menghambat pertumbuhan kanker.

Hingga saat ini belum ada cukup banyak penelitian yang menjelaskan kemampuan tanaman ini dalam menangkal kanker. Mengingat adanya potensi yang dimiliki daun pepaya jepang, semoga ke depannya akan ditemukan lebih banyak bukti kuat untuk meneguhkan manfaat anti-kankernya. Namun yang pasti daun pepaya jepang tidak menyebabkan kanker, sebaliknya justru membantu mencegah kanker.

tanaman pepaya jepang tidak menyebabkan kanker
Tanaman Pepaya Jepang (Credit: Bonneterrehaiti.org)

Kesimpulan: Daun Pepaya Jepang Bukan Penyebab Kanker

Kembali pada pertanyaan utama dalam artikel ini; apa benar daun pepaya jepang pemicu kanker? Kini jawabannya jelas, daun pepaya jepang tidak menyebabkan kanker. Catatan ilmiah yang ada hanya melaporkan efek samping dari kandungan HCN di dalam daun ini, dan itu tidak termasuk memicu kanker atau kerusakan sel-sel tubuh. Efek samping juga dapat dihindari jika kita terlebih dulu memasak atau merebus daun ini selama minimal 15 menit.

Dan justru sebaliknya, daun pepaya jepang dilaporkan memiliki potensi anti-kanker. Di dalam daun ini terdapat kandungan senyawa fenolik yang memiliki kemampuan antioksidan. Antioksidan mampu mengurangi kerusakan pada sel-sel dan jaringan tubuh yang diakibatkan oleh radikal bebas. Senyawa fenolik juga berguna untuk melawan karsinogen pemicu kanker atau menghambat pertumbuhan kanker.

Demikianlah artikel ini yang mengulas tentang apakah daun pepaya penyebab kanker. Semoga informasi ini dapat meluruskan isu tidak benar yang beredar di masyarakat. Nantikan juga artikel menarik lain seputar penyakit kanker dan masalah kesehatan lain hanya di Deherba.com.


Sumber Referensi:

Ross-Ibarra, Jeffrey & Molina-Cruz, Alvaro. (2002). The Ethnobotany of Chaya (Cnidoscolus Aconitifolius ssp. Aconitifolius Breckon): A Nutritious Maya Vegetable. Economic Botany. 56(4): 350-365

Kuri-Garcia, Aarón & Chávez-Servín, Jorge & Guzmán-Maldonado, Salvador. (2017). Phenolic Profile and Antioxidant Capacity of Cnidoscolus Chayamansa and Cnidoscolus Aconitifolius: A Review. Journal of Medicinal Plants Research. 11(45):  713-727

WHO Food Additives  Series 30. URL: http://www.inchem.org/documents/jecfa/jecmono/v30je18.htm. Accessed: 2019-05-14

Agency for Toxic Substances and Disease Registry. (2006). Cyanide. URL: https://www.atsdr.cdc.gov/toxfaqs/tf.asp?id=71&tid=19. Accessed: 2019-05-14


Advertisement
Alinesia