Biopsi: Jenis, Prosedur, dan Hasilnya

728
biopsi
Shutterstock

Diedit:

Biopsi adalah prosedur untuk mengambil sebagian jaringan (sampel) dari dalam tubuh agar jaringan tersebut dapat diperiksa lebih saksama. Dokter akan meminta pasiennya melakukan tes ini jika hasil-hasil tes awal menunjukkan adanya kelainan pada jaringan dalam tubuh yang mencurigakan.

Dokter mungkin menyebut kelainan tersebut sebagai lesi, tumor, atau massa. Ini adalah istilah-istilah umum yang digunakan untuk menekankan bahwa sifat dari jaringan tersebut masih belum diketahui. Area yang mencurigakan itu dapat terlihat sewaktu pasien menjalani pemeriksaan fisik atau internal selama tes pencitraan (imaging).

Apa Tujuan dari Biopsi?

Tes ini paling sering dilakukan untuk mendeteksi kanker. Tetapi prosedur ini juga bisa membantu dokter untuk mengidentifikasi banyak jenis masalah kesehatan lainnya.

Prosedur tes ini dapat disarankan kapan pun ada keraguan pada pihak dokter dalam mengenali suatu jenis penyakit. Berikut adalah beberapa contoh kasusnya:

  • Tes mammogram memperlihatkan adanya benjolan atau massa, yang menunjukkan bahwa ada kemungkinan itu adalah pertumbuhan kanker payudara.
  • Sebuah tahi lalat di kulit berubah bentuknya dan ada kemungkinan itu adalah pertumbuhan melanoma (sejenis kanker kulit).
  • Seorang pasien menderita hepatitis kronis dan harus diketahui apakah di hatinya terjadi sirosis.

Dalam beberapa kasus, tes ini pada jaringan yang tampak normal dapat dilakukan. Ini untuk membantu mengecek apakah kanker telah menyebar atau untuk mengecek jika ada reaksi penolakan terhadap organ cangkokan.

Tetapi pada umumnya, tujuannya adalah untuk mendiagnosis suatu masalah kesehatan atau untuk membantu menentukan pilihan terapi atau pengobatan yang terbaik.

Apa Saja Jenis-Jenis Biopsi?

Terdapat banyak jenis prosedur yang berbeda, bergantung pada kegunaan atau tujuannya. Berikut adalah beberapa jenis prosedur yang umumnya disarankan oleh para dokter:

  • Biopsi jarum—kebanyakan prosedur ini adalah jenis biopsi jarum. Artinya, prosedurnya menggunakan jarum untuk mencapai jaringan yang dicurigai.
  • Biopsi dipandu CT—pasien berbaring di dalam alat CT scan. Gambaran yang dihasilkan CT membantu dokter menentukan lokasi pasti dari jarum yang akan diarahkan ke jaringan yang dituju.
  • Biopsi dipandu ultrasound—alat scan ultrasound membantu dokter untuk mengarahkan jarum menuju ke area yang dituju.
  • Biopsi sumsum tulang—sebuah jarum besar digunakan untuk memasuki tulang panggul guna mengambil sumsum tulang darinya. Ini untuk mendeteksi gangguan darah, misalnya leukemia atau limfoma.
  • Biopsi liver—sebuah jarum dimasukkan ke dalam liver melalui kulit di perut, untuk mengambil jaringan dari liver.
  • Biopsi ginjal—mirip dengan biopsi liver, sebuah jarum dimasukkan melalui kulit di punggung, menuju ke ginjal.
  • Biopsi aspirasi—sebuah jarum menarik sebagian dari sebuah massa di dalam tubuh. Prosedur sederhana ini juga disebut aspirasi jarum halus.
  • Biopsi prostat—beberapa jarum digunakan bersamaan untuk mengambil jaringan dari kelenjar prostat. Untuk mencapai prostat, sebuah probe dimasukkan ke dalam rektum.
  • Biopsi kulit—metode utamanya adalah menggunakan punch biopsy. Ini menggunakan pisau silinder untuk memperoleh sampel silinder dari jaringan kulit.
  • Biopsi operasi—operasi terbuka atau operasi laparoskopi mungkin dibutuhkan untuk mendapatkan sampel dari jaringan yang sulit dijangkau. Sebagian kecil dari jaringan atau seluruh jaringan dapat diambil dengan prosedur ini.
Baca juga:  Operasi Plastik Hidung? Baca Ini Sebelum Menjalankannya

Hampir semuanya menggunakan sebuah alat tajam untuk mengambil sejumlah kecil jaringan tubuh. Jika tes akan dilakukan pada kulit atau area sensitif lain, maka dokter mungkin akan terlebih dulu membius pasien.

Bagaimana Cara Dilakukannya Biopsi?

Cara atau prosedur pelaksanaan tes sangatlah bergantung pada seberapa sulit jaringan itu dicapai. Istilah medis untuk hal itu adalah “invasiveness”.

Biopsi minimal invasif (contohnya pada sebagian besar biopsi kulit) mungkin dilaksanakan di sebuah klinik langsung setelah dokter mendapati adanya sebuah lesi. Obat bius mungkin sedikit disuntikkan agar prosedurnya tidak terasa sakit.

Metode yang lebih invasif mungkin perlu dilaksanakan di rumah sakit, pusat operasi, atau klinik dokter spesialis. Anda mungkin akan dibuatkan jadwal untuk menjalankan prosedur tersebut. Dalam beberapa kasus, dokter memberikan obat bius dan pereda rasa sakit untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Anda mungkin akan dilarang menyetir setelah menerima obat-obatan itu.

Area dilakukannya prosedur ini dapat terasa sakit hingga beberapa hari setelahnya. Dokter dapat memberikan resep obat pereda rasa sakit jika Anda sangat merasa sakit akibatnya.

Bagaimana dengan Hasil Biopsi?

Setelah suatu sampel jaringan diambil dan diawetkan, sampel itu akan dikirim untuk diperiksa seorang ahli patologi. Ahli patologi adalah dokter yang mengkhususkan untuk mendiagnosis masalah-masalah kesehatan berdasarkan pada sampel jaringan maupun tes-tes lain. (Kadang, dokter yang sama dengan yang mengambil sampel jaringan juga bisa melakukan diagnosis.)

Seorang ahli patologi akan memeriksa jaringan hasil tes menggunakan mikroskop pada sebuah laboratorium. Dengan meninjau jenis sel-sel, bentuk, dan aktivitas internal dari jaringan itu, biasanya beliau sudah dapat memberikan diagnosis.

Kapan waktunya hasil tes dapat diperoleh bisa berbeda-beda. Selama pasien menjalankan operasi, seorang ahli patologi mungkin akan memeriksa sebuah sampel yang diambil lalu melaporkannya ke dokter bedah hanya dalam beberapa menit kemudian.

Baca juga:  Mengenal Operasi Caesar dan Perawatan Pasca Operasi

Akan tetapi, hasil-hasil biopsi yang benar-benar akurat sering kali membutuhkan waktu hingga berminggu-minggu atau lebih lama. Anda mungkin akan diminta oleh dokter untuk kembali kepadanya untuk membicarakan hasil-hasil tersebut.

Advertisement
Alinesia