Share:

Terakhir Diedit:

Penyebab kanker payudara tidak berasal dari satu penyebab tunggal, melainkan akibat beragam faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan kanker ini. Artikel ini akan membantu Anda mengerti bagaimana penyebab kanker payudara bisa sampai berkembang dan apa saja yang memicu perkembangannya.

Penyebab Kanker Payudara

Hal apa pun yang bisa memperbesar risiko untuk menderita penyakit ini disebut sebagai faktor risiko kanker payudara. Faktor-faktor ini mencakup faktor gaya hidup, kadar hormon, dan sejumlah masalah kesehatan tertentu.

Usia

Sebagian besar kanker payudara muncul di usia setelah 50 tahun dan jarang sekali diderita wanita di bawah 40. Untuk mendeteksi dini kanker payudara, disarankan untuk secara teratur melakukan pemeriksaan mammogram, terutama jika sudah berusia 50 tahun.

Alkohol

Konsumsi alkohol sedikit meningkatkan risiko kanker payudara. Risiko ini meningkat pada setiap kelebihan konsumsi unit alkohol setiap hari. Satu unit seukuran setengah liter bir, segelas anggur kecil, atau satu ukuran spirit.

Kegemukan atau Obesitas

Wanita yang kegemukan setelah masa menopause mempunyai risiko lebih besar daripada yang berat badannya normal. Pria yang kegemukan atau obesitas juga memiliki risiko menderita penyakit ini. Ukuran kegemukan bisa dilihat dari Indeks Massa Tubuh (IMT) yang nilainya antara 25 – 30, sedangkan obesitas berarti nilai IMT adalah 30 atau lebih.

Punya Keluarga Penderita Kanker

Punya ibu, saudara, atau anak yang didiagnosis kanker payudara dapat memperbesar risiko kanker ini kira-kira dua kali lipat. Ini karena gen-gen BRCA 1 dan BRCA 2 yang meningkatkan risiko kanker payudara bisa diturunkan dalam keluarga. Gen lain yang turut memperbesar risiko adalah gen TP53.

Pernah Menderita Kanker

Pernah mengidap kanker payudara sebelumnya akan membuat Anda rentan mengembangkannya lagi di masa depan. Mungkin akan terjadi di payudara yang sama atau di satu lagi.

Selain itu, Anda juga perlu waspada kalau pernah menderita kanker jenis lain. Misalnya orang yang pernah menjalani radioterapi ke dada untuk pengobatan limfoma Hodgkin saat masih muda mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengidap kanker payudara.

Risiko kanker payudara juga lebih besar pada orang-orang yang pernah menderita: kanker kulit melanoma, paru-paru, usus, rahim, dan leukemia limfositik kronis.

Etnik

Ada banyak laporan bahwa risiko kanker payudara lebih besar pada orang-orang berkulit putih (kaukasoid), dibandingkan dengan etnik lainnya. Ini kemungkinan sebagian disebabkan oleh gaya hidup mereka.

Hormon Seks dan Hormon Lain

Kadar hormon seks wanita, estrogen, serta hormon pria, testosteron, dapat menjadi faktor penyebab kanker payudara. Wanita normalnya hanya memiliki sedikit kadar hormon pria testosteron di dalam tubuhnya.

Setelah menopause, wanita yang memiliki kadar estrogen dan testosteron lebih tinggi dalam darah mereka diketahui lebih rentan mengidap kanker payudara. Wanita yang kadar testosteronnya tinggi sebelum menopause juga berisiko kanker payudara.

Terjadi peningkatan risiko pada wanita yang memiliki kadar hormon IGF-1 (insulin like growth factor 1) lebih tinggi. Masih belum jelas apa yang mengatur kadar hormon ini di airan darah, tapi mungkin berkaitan dengan gen-gen, berat badan, dan seberapa sering seseorang berolahraga.

Baca juga  Kanker Payudara

Usia Awal Menstruasi dan Menopause

Anda menjadi lebih rentan menderita kanker payudara jika mulai menstruasi lebih awal (sebelum usia 12). Dan kalau Anda lebih terlambat menopause (setelah usia 55), ini juga memperbesar kemungkinan Anda untuk mengidap kanker payudara dibandingkan dengan wanita yang lebih dulu menopause. Kemungkinan faktor ini berkaitan dengan kadar hormon seseorang.

Terapi Penggantian Hormon

Banyak wanita menjalani terapi penggantian hormon (hormone replacement therapy, disingkat HRT) untuk mengurangi gejala-gejala menopause mereka. Ada 2 jenis utama HRT: HRT kombinasi (estrogen dan progesteron) dan HRT hanya estrogen.

HRT meningkatkan risiko kanker payudara pada saat seorang wanita menjalaninya dan hingga 5 tahun ke depan. HRT kombinasi lebih mungkin menjadi penyebab kanker payudara daripada HRT hanya estrogen.

Tetapi HRT sebenarnya dapat bermanfaat bagi kesehatan, dan jika Anda khawatir mengenai ini, bicarakanlah dengan dokter mengenai apa saja manfaat dan risikonya jika Anda menjalaninya.

Pil KB

Ada sedikit peningkatan risiko ketika Anda mengonsumsi pil KB. Risiko tersebut baru akan kembali normal setelah 10 tahun berhenti mengonsumsinya. Ingatlah bahwa kanker payudara jarang diderita wanita muda. Sebagian besar wanita minum pil KB di usia belasan akhir, 20-an, dan 30-an akhir. Jadi peningkatan risiko yang kecil di masa seorang wanita minum pil KB hanya akan mengakibatkan sangat sedikit kasus kanker payudara.

DCIS atau LCIS

DCIS atau LCIS adalah perubahan di dalam jaringan payudara yang bisa berkembang menjadi kanker payudara pada beberapa wanita. DCIS singkatan dari ductal carcinoma in situ, dan LCIS adalah lobular carcinoma in situ.

Wanita yang didiagnosa DCIS atau LCIS mempunyai risiko dua kali lipat dari biasanya untuk mengalami kanker payudara jenis invasif pada payudara yang terpengaruh atau yang satu lagi. Namun perlu diingat bahwa kebanyakan penderita DCIS atau LCIS tidak akan mengembangkan kanker invasif.

Penyakit Payudara yang Jinak (Non-Kanker)

Penyakit payudara yang non-kanker ada 3 jenis: non-proliferatif, proliferatif tanpa atipia, dan proliferatif dengan atipia (atipikal hiperplasia).

Penyakit payudara yang tidak bertumbuh dan dimana sel-sel tidak membelah disebut non-proliferatif, dan biasanya bukan penyebab kanker payudara. Tapi jika Anda punya riwayat keluarga penderita kanker payudara, kemungkinan risiko Anda akan sedikit meninggi.

Benjolan payudara yang bersifat proliferatif (sel-sel bertumbuh cepat), tetapi tidak ada sel-sel yang abnormal (atipia), akan memperbesar risiko kanker payudara lebih dari biasanya.

Sekitar 1 dari 20 benjolan payudara (5%) memperlihatkan gejala atipikal hiperplasia. Ini artinya sel-sel itu tidak bersifat kanker, tetapi bertumbuh secara tidak normal. Atipikal hiperplasia meningkatkan risiko Anda sekitar 3 kali dari biasanya.

Atipikal hiperplasia tidak umum terjadi dan jika benjolan di payudara Anda tidak menunjukkan perubahan apa-apa, kemungkinan itu bukan atipikal hiperplasia. Tapi sebaiknya periksa ke dokter untuk memastikannya.

Baca juga  7 Ciri-Ciri Kanker Payudara yang Paling Mudah Dikenali

Jaringan Payudara yang Padat

Risiko kanker payudara lebih besar pada wanita yang punya jaringan payudara padat, dibandingkan yang kurang padat. Mereka yang jaringan payudaranya padat punya lebih sedikit lemak dan lebih banyak sel-sel payudara serta jaringan ikat di payudaranya. Yang menentukan seberapa padat jaringan tersebut adalah faktor genetik seseorang.

Sinar X dan Radioterapi

Terkena radiasi adalah salah satu faktor penyebab kanker payudara maupun banyak jenis kanker lainnya. Kebanyakan dari kita tidak pernah terkena radiasi yang cukup besar sehingga berdampak pada risiko kanker.

Sekarang, dokter juga meminimalkan paparan radiasi dalam pengobatan sekecil mungkin. Mereka tidak melakukan pemeriksaan sinar X atau CT scan jika tidak benar-benar butuh. Dan jumlah radiasi dari pemeriksaan tersebut sangatlah kecil. Banyak wanita khawatir untuk melakukan mammogram untuk skrining payudara karena takut dengan radiasi sinar X. Namun sebenarnya jumlah radiasinya sangat kecil.

Selain itu, pengobatan radioterapi untuk kanker payudara hanya sedikit memperbesar risiko kanker Anda. Tetapi risiko kecil ini tidak sebanding dengan kebutuhan seseorang untuk menjalani radioterapi.

Kalau Anda pernah menjalani radioterapi ke dada untuk kanker limfoma Hodgkin, Anda kemungkinan lebih rentan terhadap kanker payudara. Jika Anda disarankan untuk melakukan pengobatan ini, bicarakanlah dulu dengan dokter mengenai risikonya.

Masalah Kesehatan Tertentu

Wanita penderita diabetes punya risiko sedikit lebih besar untuk mengidap kanker payudara, tapi masih belum jelas kenapa.

Risiko kanker payudara meningkat 3 kali lipat pada wanita yang menderita tiroiditis autoimun (penyakit yang menyebabkan kerusakan pada kelenjar tiroid). Tetapi kondisi hipertiroid atau hipotiroid bukanlah faktor penyebab kanker payudara.

Kepadatan mineral tulang yang tinggi juga dikaitkan dengan peningkatan risiko kanker payudara pada wanita setelah mereka menopause. Ini mungkin karena kadar tinggi estrogen pada orang dengan kepadatan mineral tulang yang tinggi.

Merokok

Walaupun belum dibuktikan jelas, namun ada kemungkinan merokok juga membuat Anda rentan kanker. Jadi sebaiknya segera berhenti merokok sebelum terlambat.

Bekerja Shift Malam

Beberapa penelitian memperlihatkan bahwa bekerja shift malam bisa sedikit memperbesar risiko. Ini bisa jadi karena kualitas tidur yang kurang baik atau kurang tidur sehingga menurunkan kadar hormon melatonin dalam tubuh.

Mencegah Kanker Payudara dengan Herbal

Herbal yang dapat diandalkan untuk membantu pencegahan kanker payudara adalah Sarang Semut Papua. Herbal ini mengandung sejumlah antioksidan bermanfaat untuk melawan dampak buruk radikal bebas sebagai penyebab timbulnya kanker.

Sarang Semut juga mengandung multi-mineral yang dapat menjaga stamina tubuh secara keseluruhan. Sistem imun tubuh yang kuat akan membantu tubuh terhindari dari berbagai serangan penyakit.

Bahkan dengan beragam kandungan bermanfaat yang dimilikinya, herbal ini pun sering dimanfaatkan sebagai obat kanker payudara.

Walaupun Anda memiliki satu atau beberapa faktor penyebab kanker payudara di atas, bukan berarti Anda pasti akan menderita penyakit ini. Sebab banyak juga orang yang memiliki faktor-faktor di atas tetapi tidak pernah mengidap kanker ini, sedangkan ada orang yang tidak punya faktor di atas tetapi mengembangkan kanker.

Namun informasi mengenai sejumlah penyebab kanker payudara dapat membantu Anda untuk lebih waspada dan mengupayakan cara-cara mencegah kanker payudara. Waspadailah faktor-faktor yang tak terhindarkan, dan hindarilah yang bisa dicegah.

Fery Irawan

Editor sekaligus penulis yang antusias dan sadar untuk memberikan informasi kesehatan yang tidak berat sebelah. Aktif menulis beragam artikel kesehatan selama beberapa tahun terakhir. Ia selalu berupaya menyampaikan informasi yang aktual dan terpercaya, sesuai dengan ketentuan dan prinsip jurnalistik yang ada.


Artikel di-posting oleh Fery Irawan dan di-review oleh tim penulisan deherba.com.