3 Cara Berhenti Merokok yang Efektif Menurut Mantan Perokok


By Cindy Wijaya

Puluhan tahun yang lalu, mungkin rokok belum diidentifikasikan sebagai racun yang amat berbahaya. Baru sekitar tahun 1960-an diperingatkan secara luas mengenai bahaya dari mengisap tembakau, bahkan dapat mengakibatkan kanker paru-paru. Sejak saat itu hingga sekarang, bukti-bukti bahaya merokok terus diungkap sehingga menjadi alasan bagi banyak orang untuk berhenti merokok.

Kini, kita betul-betul sadar bahwa merokok dapat memicu penyakit jantung, stroke, disfungsi ereksi, dan bukan hanya kanker paru-paru, tetapi juga kanker tenggorokan, pankreas, lambung, usus, dan kanker lainnya.

Namun mengetahui bahaya-bahaya merokok tidak serta-merta membuat para perokok aktif langsung berhenti merokok. Sebagaimana yang diakui oleh mantan perokok atau yang masih aktif merokok, berhenti merokok tidak semudah teori—karena Anda harus berjuang melawan kecanduan yang berat.

Akan tetapi bukan berarti itu tidak mungkin dilakukan. Sama seperti bagaimana setiap orang punya alasan sendiri mengapa mereka merokok dan apa yang memicu mereka untuk menyalakan rokok, maka keefektivan cara berhenti merokok berbeda-beda bagi masing-masing orang. Jadi jika suatu cara tidak efektif buat Anda, jangan pernah berpikir untuk pasrah saja—Anda mungkin akan berhasil jika menggunakan cara berhenti merokok yang lain.

Mari kita perhatikan pengalaman 3 pria—mantan perokok yang pernah menghabiskan sebanyak 2 bungkus sehari—untuk mencari tahu teknin dan strategi apa yang berhasil bagi mereka. Bisa jadi pengalaman mereka menginspirasi Anda untuk mencoba cara berhenti merokok sendiri.

Jay R—Merokok Selama 13 Tahun—Berhenti dengan Bantuan Obat

Setelah Jay bergabung dengan suatu perkumpulan sewaktu kuliah, ia mulai ikut pesta minuman keras dan inilah kali pertama Jay mengisap rokok. Awalnya Jay hanya merokok ketika sedang minum alkohol, tapi lama-kelamaan ia juga merokok saat sedang stres karena belajar atau setelah makan. Setelah lulus, dia sudah punya kebiasaan merokok 1 bungkus per hari sehingga menghabiskan sekitar 2.500.000 per bulan untuk membiayai kebiasaan yang mendatangkan maut ini.

Aktivitas sederhana seperti membawa cucian naik tangga saja sudah bikin ngos-ngosan. Dia juga sering batuk dengan dahak berwarna hitam setiap pagi. Jay terbiasa keluar ruangan setiap 2 jam sekali untuk sekadar merokok. Dia sudah tahu bahwa rokok-lah yang membuat kesehatannya buruk, tapi dia baru sadar pentingnya berhenti merokok ketika membuka usaha menjual makanan sehat.

“Kamu harus jalani hidupmu,” katanya. “Kamu tidak bisa antarkan makanan sehat ke orang lain, tapi di saat bersamaan di dalam mobilmu ada sebungkus junk food.”Jadi Jay memutuskan berhenti merokok seketika itu juga. Dan itu hanya bertahan selama 5 jam.

Bagi banyak orang, berhenti merokok secara mendadak bukan cara yang efektif, seperti diakui oleh Bill Blatt, M.P.H., direktur Tobacco Programs untuk American Lung Association. Ini karena cara berhenti merokok ini dimotivasi hanya oleh kemauan yang kuat—jadi jika Anda punya tekad yang kuat untuk berhenti, Anda bisa langsung berhenti saat itu juga.

Sayangnya, teknik ini mengabaikan faktor fisik yang terlibat. Nikotin tembakau sifatnya mencandu, dan kalau tubuh tiba-tiba berhenti mendapatkannya, Anda bisa merasakan efek-efek berhenti merokok seperti sakit kepala, depresi, cemas, sensitif, dan gangguan tidur.

Itu sebabnya dicitpakan “obat berhenti merokok” untuk mengatasi efek-efek semacam itu. Obat ini adalah pengganti nikotin—berupa permen karet, semprotan hidung, inhaler, dan permen lozenge—mengandung sedikit nikotin untuk membantu meredakan efek berhenti merokok.

Tetapi ada juga obat-obat lain yang bisa membantu Anda mengatasi efek tersebut tanpa kandungan nikotin sama sekali. Contohnya obat Chantix yang bekerja dengan cara menghambat reseptor nikotin pada otak sekaligus memberikan efek serupa dengan rokok untuk memudahkan tubuh menghapuskan kecanduan nikotin.

Bagi Jay, obat berhenti merokok inilah yang berhasil membuatnya berhasil, meskipun selama 20 hari masa-masa peralihan sangatlah tidak menyenangkan baginya. “Mengonsumsi Chantix adalah salah satu pengalaman paling tidak mengenakkan dalam hidup saya.”

Jay terus merasa ingin muntah. Dia juga jadi kekurangan energi dan bermimpi aneh setiap malam. Kemudian setelah 2 minggu berlalu, Jay malah minum-minum lagi dengan teman-temannya dan mulai merokok lagi. Besoknya, Jay harus mulai dari awal lagi untuk berhenti merokok.

Itu bukan hal yang aneh: “Biasanya butuh berkali-kali percobaan untuk berhenti merokok,” ujar Bill Blatt. Kadang-kadang malah dibutuhkan sampai 30 kali percobaan sampai berhasil berhenti merokok.

Bagi Jay, ia berhenti minum alkohol sampai selesai masa 30 hari bebas-rokok. Dan sekarang, dia sudah 12 minggu tanpa sekalipun menyalakan tembakau. Memang Jay masih terus ingin merokok dan menyukai aroma rokok, tapi itu tidak melunturkan tekadnya.

“Saya mengubah pekerjaan saya, aktivitas malah hari (tidak lagi merokok dan minum-minum). Saya mengubah banyak sekali hal, jadi berhenti merokok hanya terasa seperti bagian kecil dari perubahan besar-besaran dalam hidup saya.”

Dan sebagai hasilnya, kehidupan tanpa rokok sangat memuaskan bagginya. “Saya bisa melakukan lebih banyak hal. Tidur saya enak. Dan saya bisa menggunakan lebih banyak uang saya untuk hal-hal yang saya sukai.”

Nick G—Merokok Selama 8 Tahun—Berhenti dengan Pengalih Perhatian

Di tengah musim dingin 9 tahun yang lalu, Nick—yang saat itu menghabiskan sebungkus rokok per hari—menderita batuk parah selama seminggu. Nick merasa dia akan mati jadi ia memutuskan untuk berhenti merokok.

Nick mengira kalau cara berhenti merokok secara bertahap akan efektif baginya, jadi ia mencoba untuk mengurangi 1-2 batang rokok setiap hari. Tapi ternyata cara ini tidak ampuh—dia tetap saja merokok lagi dan lagi. Jadi Nick berpikir bahwa dia harus benar-benar berhenti sekali untuk selamanya.

Ia kemudian menggantikan waktunya untuk merokok dengan berolahraga di fitness dan berjalan-jalan bersama dengan anjingnya di malam hari. Memang olahraga adalah teknik yang bagus untuk mengurangi keinginan merokok, khususnya jika Anda berusaha mengatasi efek berhenti merokok bagi mental.

“Olahraga benar-benar pengalih perhatian yang bagus buat saya dan sekaligus meredam stres dan keinginan yang kuat untuk merokok.”

Tentu saja perubahan ini tidak gampang pada awalnya. Nick sempat merasa benar-benar tidak baik dan sering batuk-batuk. Tapi seraya waktu berlalu, Nick mulai merasa lebih baik dan lebih bertenaga.

Blatt mengatakan bahwa ketika berhenti merokok, beberapa minggu pertama—khususnya 2 hari pertama—sangatlah sulit dilewati. Itu saat Anda merasakan dorongan yang sangat kuat untuk merokok.

Itulah sebabnya Nick berpesan: “Jangan cuman mencoba berhenti merokok lalu melanjutkan kehidupan seperti biasa. Carilah pengganti rokok. Bagi saya pengganti yang efektif yaitu dengan treadmill dan berjalan kaki bersama anjing saya di malam hari.” Kegiatan ini efektif buatnya sehingga Nick sama sekali tidak merokok selama 8 tahun terakhir.

Jonathan S—Merokok Selama 23 Tahun—Berhenti secara Perlahan

Ayah Jonathan adalah seorang ahli bedah jantung dan paru-paru yang adalah perokok aktif selama bertahun-tahun. Kebiasaan merokok ayahnya menular ke Jonathan: Selama 23 tahun—dari usia 14 sampai 37 tahun—ia merokok, bahkan pernah sampai 2 bungkus per hari.

“Saya berkali-kali memikirkan untuk berhenti merokok karena saya tidak merasa puas padahal sudah mengisap 9 rokok,” ujarnya. Bagi Jonathan, merokok adalah respon otomatis tubuhnya. Minum kopi? Ditemani rokok. Minum cocktail? Nyalakan rokok. Mengendarai mobil? Pasti harus sambil merokok.

Jadi ia mulai mengurangi rokok secara bertahap dan berhasil sampai hanya menghabiskan 1-2 batang per hari. “Lalu suatu hari saya memutuskan berhenti merokok dan tidak pernah kembali lagi. Saya juga tidak pernah punya keinginan merokok lagi.“

Cara berhenti merokok secara bertahap ini terbukti ampuh bagi Jonathan. Tapi bagi orang lain mungkin malah menjadi bumerang—mereka justru kembali pada kebiasaan merokok mereka sepertu semula. Ini karena tubuh mereka terbiasa mendapatkan sejumlah nikotin.

Dan karena Anda tidak benar-benar memutuskan untuk berhenti, jadi lebih mudah secara mental membenarkan diri untuk meraih rokok ekstra. Ditambah lagi, tidak ada batas aman konsumsi tembakau.

Namun dalam kasus Jonathan, cara berhenti merokok secara bertahap sudah cukup baik untuk membuatnya sadar bahwa merokok sangat merugikannya. Dan kesadaran itulah yang memotivasinya untuk berhenti sama sekali.

Tentang Penulis 

Cindy Wijaya

Artikel dibuat oleh tim penulisan deherba.com kemudian disunting oleh Cindy Wijaya seorang editor dan penulis beragam artikel kesehatan. Ia senang meriset dan berbagi topik-topik kesehatan dan pemanfaatan herbal. Tinggal di “kota hujan” sehingga mencintai suasana hujan dan sering mendapat inspirasi ketika hujan.

{"email":"Email address invalid","url":"Website address invalid","required":"Required field missing"}